Bahasa | English


DESTINASI WISATA

Menjelajah Tembok Besar di Indonesia

16 December 2018, 10:41 WIB

Indonesia nyatanya memiliki tembok besar tak ubahnya Cina. Di sebuah kawasan pegunungan berpanorama memukau, Janjang Saribu berada di sudut kemiringan 90 derajat.


Menjelajah Tembok Besar di Indonesia Janjang Saribu merupakan salah satu destinasi wisata. Sumber foto: Foto Istimewa/Infominang

Janjang Saribu merupakan salah satu destinasi wisata yang ramai pengunjung. Terletak di Bukit Apit Puhun, Guguk Panjang, Bukittinggi, Sumatra Barat, Janjang Saribu juga dikenal dengan sebutan The Great Wall of Koto Gadang.

Sebutan itu diberikan karena memang tampilan Janjang Saribu mirip dengan tembok besar yang berada di Cina. Yakni berupa barisan tembok nan panjang, yang berada di rangkaian pegunungan, yaitu di wilayah Pegunungan Bukit Barisan.

Pada zaman kolonial, Janjang Saribu dikenal dengan sebutan Janjang Bantuang karena masih terbuat dari tanah dengan alat penopang batuang atau bambu. Oleh masyarakat tradisional yang mendiami pemukiman di puncak Bukit Apit, Janjang Saribu digunakan sebagai akses saat hendak mengambil air dan pasir di dasar ngarai.

Kini, tembok beton panjang di Bukittinggi itu telah apik tertata. Sejak diresmikan Pemerintah Kabupaten Agam pada 27 Januari 2013, sejumlah renovasi dilakukan terhadap akses menuju kawasan wisata Janjang Saribu.

Sebuah jembatan gantung bernama Jembatan Merah pun telah melengkapi sisi tengah rute wisata itu. Di puncak ngarai Janjang Saribu juga terdapat pondok untuk istirahat. Bangunan di Taman Panorama yang berukuran tidak terlalu besar itu berlatarkan Gunung Singgalang.

Persiapan Matang

Dalam bahasa Minang, ‘janjang’ memiliki arti ‘tangga’, dan saribu berarti ‘seribu’. Meski begitu, sebenarnya anak tangga di Janjang Saribu tidak mencapai 1.000, melainkan hanya ratusan. Pun begitu, meniti ratusan anak tangga di kawasan wisata itu tentu tetap akan menguras tenagamu. Belum lagi medan curam itu memiliki sudut kemiringan hingga 90 derajat.

Secara keseluruhan, panjang rute wisata di Janjang Saribu mencapai sekira 780 meter. Dan untuk mencapai ujung tembok, wisatawan lazimnya membutuhkan waktu kurang lebih 15 menit hingga 30 menit, dengan menyusuri ruas jalan selebar dua meter.

Di sana, terdapat dua jalur pendakian yang dapat dipilih wisatawan untuk menjelajahi destinasi tersebut. Yaitu jalur dari Goa Jepang atau dari Ngarai Sianok. Kedua rute itu memiliki kondisi alam yang berbeda.

Melalui Jalur Goa Jepang, wisatawan akan diajak menapaki kontur jalan yang relatif lebih banyak turunan ketimbang tanjakan. Sehingga tentunya, wisatawan akan lebih mudah untuk menyusuri jalur tersebut.

Tidak demikian halnya jika wisatawan memilih untuk menyusuri medan di jalur wisata Ngarai Sianok. Kondisi alam yang lebih menantang, serta-merta akan menyergap. Pasalnya, akses yang dilalui cenderung lebih sempit dan mengandung banyak kelokan.

Tapi tenang, semua upaya meniti ratusan bilah anak tangga itu akan segera terbayarkan saat menyaksikan panorama yang hijau nan rimbun, ditambah dengan hawa yang sejuknya.

Apalagi, untuk dapat menikmati keindahan panorama di Janjang Saribu tidak perlu merogoh kocek dalam-dalam, cukup dengan membayar ongkos jasa parkir kisaran 2.000 hingga 5.000 rupiah untuk kendaraan pribadi, tanpa biaya retribusi.

Kendati memang harus mempersiapkan dengan sangat baik untuk dapat menyusuri kawasan wisata ini, daripada harus jauh-jauh ke Cina untuk merasakan atmosfer berada di tembok besar nan panjang, ada baiknya menikmati terlebih dulu keindahan alam di negara sendiri. Sebab selain menghemat bujet, destinasi wisata yang ada di Tanah Air Indonesia nyatanya sangat menarik kok. Yuk, keliling Indonesia! (T-1)

Wisata
Ragam Terpopuler
Jolenan Sebuah Pesta Kecil untuk Rakyat Kecil
Setiap dua tahun sekali di bulan Sapar kalender Jawa, Jolenan digelar di Desa Somongari, Kecamatan Kaligesing, Kabupaten Purworejo. Sebuah pesta sebagai pesan kerukunan dan kebersamaan menikmati berka...
Ketika Orang Jepang Suka Ngemil Edamame
Masyarakat Jepang gemar minum sake di sela-sela rutinitasnya. Otsumami (cemilan) yang cocok sebagai teman sake adalah si polong besar yaitu edamame. Salah satu favorit mereka adalah edamame dari ...
Di NTT, Lontar Disebut Sebagai Pohon al-Hayat
Masyarakat Indonesia mungkin sudah melupakan pohon lontar, atau malah tak tahu bagaimana bentuk pohon jenis palem ini. Tapi di daerah Nusa Tenggara Timur (NTT) khususnya Pulau Sabu dan Rote, lont...
Barus, antara Bandar Tua dan Minuman Surga
Bisa ditebak, dulu air kafur merupakan minuman yang sangat eksklusif di Arab. Wajar saja air kafur jadi simbolisasi tentang balasan kenikmatan Tuhan bagi para ahli surga di akhirat nanti. ...
Menikmati Kuliner di Pasar Ceplak Sambil Nyeplak
Berwisata ke Kota Garut, Jawa Barat, tidak lengkap jika belum berkunjung ke Pasar Ceplak. Terletak di tengah kota Garut, tepatnya di Jalan Siliwangi, Pasar Ceplak konon sudah ada sejak tahun 1970...
Ke Sambas Berburu Bubbor Paddas
Berkunjung ke Sambas Kalimantan Barat, pastikan Anda tidak melewatkan mencicipi kuliner khas kota yang pernah menjadi Kota kesultanan ini yaitu bubur pedas. Makanan khas suku Melayu Sambas ini bi...
Jejak Ketauladanan Panglima Besar Soedirman
Apresiasi terhadap nilai-nilai kejuangan dan sejarah perjuangan Soedirman bahkan juga diakui oleh Jepang, selaku mantan negara penjajah. ...
Rampak Bedug, Musik dan Tari Religi dari Banten
Kesenian yang satu ini merupakan kreasi seni permainan alat musik bedug yang khas berasal dari daerah Banten, Jawa Barat. Namanya rampak bedug. Bedug atau beduk merupakan gendang besar yang asal ...
Gunongan, Peninggalan Arsitektur Pra-Islam di Banda Aceh
Catatan Joao De Barros (1552-1615) yang berumur sedikit lebih tua beberapa tahun sebelum Sultan Iskandar Muda naik tahta memberikan kepastian bahwa Gunongan tidak didirikan pada abad 17 M. ...
Silase, Cadangan Pakan Ternak Saat Kemarau
Rumput hijau hasil fermentasi atau yang lebih dikenal dengan nama silase, kini menjadi alternatif pakan ternak untuk sapi, kerbau, dan kambing di saat musim kemarau. Silase dibutuhkan, utamanya b...