Bahasa | English


PARIWISATA

Batu Suli, Situs Kokoh dengan Sejuta Legenda

7 April 2019, 00:00 WIB

Siapa bilang bukit bebatuan tidak akan dapat menawarkan sejuta pesona keindahan? Bila anggapan itu diberikan ke Batu Suli di Kalimantan Tengah, maka amat tidak tepat.


Batu Suli, Situs Kokoh dengan Sejuta Legenda Batu Suli Gunung Mas. Sumber foto: Istimewa

Justru sebaliknya, dari Batu Suli yang kokoh menjulang tinggi memberikan sejuta daya pikat. Batu Suli selain merupakan situs sejarah dengan berbagai riwayat melatarinya, juga menjadi lokasi destinasi unggulan di Kalimantan Tengah.

Situs Batu Suli berada di antara Desa Tumbang Manange dan Desa Upon Batu, Kabupaten Gunung Mas, Kalimantan Tengah. Lokasi situs Batu Suli juga unik sebab berada di Sungai Kahayan.

Jika wisatawan menatap situs sejarah tersebut dari Sungai Kahayan, maka terkesan Batu Suli seolah dalam keadaan posisi jatuh ke air. Padahal nyatanya, Batu Suli adalah bukit bebatuan yang kokoh menjulang.

Situs Batu Suli memberikan dua cara untuk dinikmati eksotikanya. Pertama, dengan menaiki bukit bebatuan itu dengan menempuh waktu antara 20-30 menit. Ketika telah tiba di puncak bukit bebatuan, maka mata pengunjung akan dimanjakan panorama indah Sungai Kahayan serta alam Kalimantan Tengah yang segar dan hijau.

Jangan khawatir, ketika kaki sudah menapak di puncak situs Batu Suli, banyak terhampar spot untuk berfoto dan tempat beristirahat. Di puncak bukit situs Batu Suli juga ada makam Amai Rawang.

Amai Rawang seorang tokoh legenda yang diyakini masyarakat di sekitar wilayah Kabupaten Gunung Mas dan berjasa besar terhadap keberadaan situs Batu Suli saat ini.

Kemudian cara kedua, bagi wisatawan yang tidak punya keberanian menanjak kokohnya Batu Suli, sudah cukup memandang keindahan Batu Suli dari bawah. Dijamin, rasa kagum akan membuncah melihat bukit bebatuan bak raksasa yang tinggi berdiri di antara hijaunya alam.

Situs Batu Suli memiliki tinggi sekitar 476 MDPL dan perkiraan jarak 200 kilometer dari Kota Palangka Raya. Bentuk situs Batu Suli juga tergolong unik, seperti roti yang dibelah pisau dan dibagi dua.

Kalau dari Palangka Raya, rute menuju situs Batu Suli dapat dikategorikan aman dan nyaman. Tidak melalui lalu lintas yang macet, deretan perkebunan kelapa sawit maupun pepohonan dan rumah masyarakat serta pabrik yang ramai sehingga bukanlah areal lokasi menakutkan.

Berdasarkan riwayat masyarakat sekitarnya, nama Batu Suli diambil dari buah yang banyak tumbuh di lokasi hutan dekat dengan keberadaan bukit bebatuan tersebut. Kulit buahnya berwana krem dan daging buah warna bening. Sedangkan bijinya berwarna hitam.

Rasa buahnya amat manis. Ukurannya sekitar 10 centimeter dengan bentuk bulat lonjong sebesar kelingking remaja. Masyarakat sekitarnya menyebutnya sebagai buah suli. Dari situlah situs Batu Suli memiliki riwayat nama. Buah Suli sendiri saat ini sudah langka dapat ditemukan lagi.

Ada hal menarik dari keberadaan situs Batu Suli, yaitu mengenai cerita legenda masyarakat sekitar. Menurut masyarakat sekitarnya, dulu Batu Suli adalah bukit bebatuan yang tingginya hingga mencapai langit.

Namun tiba-tiba terjadi pertarungan antara Amai Rawang dengan seekor naga besar. Si naga besar itu ingin menguasai dan mengambil Batu Suli menjadi miliknya.

Keinginan naga yang amat besar itu ditentang oleh Amai Rawang. Kemudian Amai Rawang bertarung dengan naga besar tersebut bersenjatakan pedang penjangnya.

Amai Rawang berupaya maksimal menghalau naga besar itu pergi dan gagal mengambil Batu Suli. Lantas, Amai Rawang akhirnya membelah bukit Batu Suli menjadi bercabang dua seperti kondisi saat ini.

Usaha Amai Rawang berhasil dengan menggunakan taktik membelah dua bukit Batu Suli. Sang naga yang amat besar itu pun kemudian pergi dan tidak pernah lagi mencoba merebut Batu Suli.

Ada juga legenda menarik lainnya. Sebuah legenda yang menjadi warisan sejarah cerita dari Suku Dayak. Mengenai keberadaan Batu Antang yang berada di puncak bukit situs Batu Suli.

Batu Antang berarti lorong sempit. Sesuai dengan artinya, Batu Antang tersusun dari dua buah batu yang memang bercelah amat sempit.

Masyarakat adat di sana menganggap, jika mampu melewati celah sempit itu maka hidup si manusia tersebut akan sukses dan jauh dari masalah. Namun sebaliknya, jika tak yakin mampu melewatinya maka jangan coba-coba. Legendanya, selain hidup si manusia itu akan terus kesulitan, bahkan saat berusaha melaluinya dapat terimpit di celah batu. (K-HL)

Wisata
Ragam Terpopuler
Menjaga Kekhidmatan, Pesta Adat Erau dan TIFAF Digelar Terpisah
Pesta tradisional kesultanan Kutai ing Martadipura “Erau” dan Tenggarong Internasional Folk Art Festival digelar terpisah di bulan September. Keduanya dipisah untuk menjaga kekhidmatan tra...
Menikmati Budaya dan Burung Migrasi di Danau Limboto
Satu lagi agenda wisata di September 2019. Sebuah kegiatan festival akan diselenggarakan di Gorontalo. Kegiatan ini adalah Festival Pesona Danau Limboto 2019 yang rencananya diselenggarakan pada 21--2...
Menikmati Keindahan Alam Pantai dan Budaya Nias
Bila Anda masih bingung menentukan tempat mana untuk berlibur dan berwisata pada September nanti, Nias bisa jadikan sebagai pilihan utama. Pasalnya, pada 14 September akan ada puncak acara Sail N...
Hamzah Sang Aulia Lagi Mulia
Penemuan makam Tuan Hamzah dari Pancur jika diperbandingkan dengan catatan penjelajah Ibnu Battuta akan memperkuat beberapa hal. ...
Etika Kepemimpinan Jawa
Demikianlah, menjadi seorang raja dalam konstruksi etika kepemimpinan dalam budaya Jawa dituntut memiliki delapan laku, atau delapan sifat, atau delapan watak, yang bersifat keillahian dengan merujuk ...
Tuan Pancur di Tanah Suci
Jika salinan catatan dari nisan Hamzah Al Fansuri bisa dipastikan kebenarannya, maka bangsa Indonesia harus berterima kasih pada seseorang yang bernama Hassan Mohammed El Hawary. ...
Memilih Akhir Bersama Yang Terkasih
Konon para pengajar Mbah Moen inilah yang menjadi sosok-sosok terkasih yang dicintai Mbah Moen. Sampai-sampai setiap ada kesempatan di musim haji, Mbah Moen selalu pergi haji walaupun dalam kondisi ya...
Leluhur Nusantara di Tanah Tinggi
Siapa sangka pekuburan di tanah tinggi Mekah ternyata menyimpan sejarah ulama Nusantara, bahkan yang lebih lama. Seperti tokoh besar Hamzah Al Fansuri, yang diperkirakan hidup di abad 16, dan Mas'...
Mitos-mitos Dewi Laut di Nusantara
Sekalipun analisis sejarah Pram katakanlah “benar”, bahwa “perkawinan spiritual” Kanjeng Ratu Kidul dengan raja-raja Mataram ialah sekadar upaya membangun legitimasi kekuasaan ...
Festival Lembah Baliem sudah 30 Tahun
Usia Festival sudah termasuk tua, 30 tahun. Tapi Festival Lembah Baliem di Kabupaten Jaya Wijaya ini semakin memikat. ...