Bahasa | English


PARIWISATA

Berfoto di Bukit Panguk, Bantul DIY, Lokasi Wisata dengan Pemandangan Indah Berbukit

20 June 2019, 09:20 WIB

Yogyakarta atau tepatnya Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta hingga saat ini menjadi destinasi wisata favorit di Indonesia setelah Bali. Bahkan, DIY menjadi tujuan favorit ke-2 di Indonesia.


Berfoto di Bukit Panguk, Bantul DIY, Lokasi Wisata dengan Pemandangan Indah Berbukit Pesona Bukit Panguk. Foto: IndonesiaGOID/Tommy Bernadus

Provinsi yang bertetangga dengan Jawa Tengah ini, memang menawarkan beragam atraksi wisata. Mulai dari wisata bersejarah ke Keraton dan benteng yang berada di Jalan Malioboro,  wisata belanja di pasar Beringharjo, destinasi kuliner hingga wisata alam.

Siapa yang tidak tahu dengan Gumum Pasir dan juga Pantai Parangtritis atau Kalibiru. Itu wisata alam yang sangat dikenal di Yogyakarta. Tapi ada lokasi wisata alam lainnya yang tidak kalah keren.

Kalau berkunjung ke Daerah Istimewa Yogyakarta, dan ingin berfoto dengan latar belakang Perbukitan atau alam yang indah, ternyata bukan hanya di Kali Biru saja. Ada wilayah lain yang menjadi spot foto yang tak kalah indah dan instagrammable banget.

Lokasi wisata ini berada di Kabupaten Bantul. Namanya Kawasan Dlingo. Melalui media sosial nstagram kita mengenai lokasi wisata di kawasan ini. Ternyata lokasinya sangat bagus.

Untuk menuju ke lokasi wisata ini, disarankan sebaiknya mengendarai kendaraan sewaan. Kenapa? Karena kendaraan umum ke daerah ini masih belum banyak dan bahkan belum ada.

Perjalanan yang  ditempuh ke Kawasan Dlingo ini ini kurang lebih satu jam dari pusat Kota Yogyakarta atau Malioboro. Bagi yang belum tahu mengenai lokasi ini, disarankan menggunakan aplikasi peta di ponsel, walaupun  bakal  tetap saja ada sedikit nyasar.

Ketika sampai di Kawasan Dlingo ini, kita bisa bertanya  kepada warga sekitar. Di Kawasan Dlingo ini kita segera menuju ke Bukit Panguk. Untuk sampai ke tempat wisata ini. Jalan yang kami dilalui memang sempit dan berkelok-kelok. Namun, hamparan pedesaan yang masih asri dengan rumah joglo khas Jawa akan memanjakan mata kita.

Setelah melewati rute menanjak akhirnya kawasan wisata bukit Panguk ini bisa dicapaii. Biaya masuk di lokasi ini hanya dipungut 3.000 rupiah saja. Sangat murah bukan?. Sampai di lokasi, langsung terlihat hamparan hutan pohon Jati. Kawasan sudah tertata rapi meskipun jalanan masih dari bebatuan.

Sampai di lokasi kita  kemudian menuruni perbukitan untuk langsung menuju ke lokasi berupa panggung untuk berfoto. Yang memiliki takut akan ketinggian, tentunya deg-degan dan kaki bisa gemetaran ketika naik ke panggung. Maklum latar belakangnya sudah jurang.

Untuk berfoto di panggung ini, biaya yang dikenakan per orang adalah Rp 3.000. AMungkin biaya ini untuk mengganti biaya pembangunan dan untuk merawat. da berbagai jenis panggung dengan latar belakang pemandangan indah perbukitan yang indah. 

Ada 5 panggung berbeda model. Ada yang berbentuk hati, perahu, hingga kereta kuda. Ada juga panggung untuk berfoto bersama-sama. Sekali lagi, untuk satu panggung ini dikenakan biaya Rp 3.000 per orang.

Selain berfoto di panggung yang sudah disediakan, kita juga bisa bersantai di bawah pepohonan jati. Ada bangku dan kursi serta gazebo untuk bersantai menikmati suasana alam yang masih asri.

Kita juga bisa menikmati panganan khas Yogyakarta atau makanan instan. Tidak usah khawatir kalau tidak membawa makanan. Ada warung milik warga yang berada di lokasi wisata Bukit Panguk ini.

Dijamin kalau berwisata di sini, kita akan sangat puas untuk berfoto. Kalau datang di pagi hari kita bisa mengambil foto matahari terbit. Bahkan kesannya berada di atas awan. Kalau sedang berkunjung ke Yogyakarta, tidak ada salahnya mampir ke sini. (K-TB)

Wisata
Ragam Terpopuler
Bibit Pesepakbola Indonesia itu dari Lembah Cycloop
Kabupaten Jayapura boleh berbangga, dari lima pesepak bola mudanya yang masuk Timnas U-15 di Portugal. Dan salah satu dari lima pemain itu jadi top scorer dalam ajang bergengsi dunia,  IBER Cup 2...
Desa Adat Trunyan, antara Kubur Angin dan Kubur Tanah
Masyarakat Trunyan tak hanya mengenal satu upacara dan satu model penguburan. Selain kubur angin (exposure), mereka juga mengenal kubur tanah (inhumation). Bicara upacara kematian, selain Ngutang Mayi...
Kubur Batu Bagi Marapu
Tidak semua orang bisa menjadi Marapu setelah mati. Itu sangat bergantung pada apa yang telah dia lakukan selama hidupnya dan apa yang dilakukan oleh para keturunannya untuk membuatkan upacara pengubu...
Pluralitas Hindu di Bali
Ratu Sakti Pancering Jagat oleh masyarakat Trunyan ditempatkan pada posisi tertinggi sekaligus dianggap manifestasi Sang Hyang Widhi. Dalam konteks inilah, keberadaan dewa-dewa utama dari Hindu yaitu ...
Munggah Kaji, Perjalanan Mencapai Keutamaan
Mekah dalam imajinasi orang Jawa hanyalah salah satu kota yang berada di tempat yang sangat jauh. Kota para leluhur dalam sejarah manusia. ...
Lokalisasi Hindu-Bali menjadi Hindu-Trunyan
Di Trunyan terdapat sebuah patung batu raksasa, peninggalan zaman Megalitikum. Konon, patung ini bukanlah karya manusia, melainkan piturun, yang artinya diturunkan dari langit oleh Dewa. Dan menarikny...
Jalan Dagang Orang Bugis dan Terjadinya Singapura
Monopoli Belanda di Riau kepulauan adalah salah satu yang membuat Raffles memutuskan untuk membangun pangkalan di Tumasik. Raffles tentu tidak mau kehilangan perdagangan yang saling menguntungkan deng...
Teka-Teki Keraton Majapahit
Penjelasan Prapanca mulai dari halaman-halaman yang ada di dalam keraton, nama-nama tempat penting, jalan-jalan penghubung, makam-makam pembesar dan pemuka agama, barak dan alun-alun, hingga gerbang-g...
Sopi, Sake ala Indonesia dan Masa Depan Tuak
Sopi sebagai minuman khas Nusa Tenggara Timur, kini resmi dilegalkan. Pelegalan ini disambut baik oleh sebagian besar masyarakat NTT. Salah satu alasannya, karena minuman keras ini bersangkut paut den...
Bisbul, Buah Lemak Berbulu yang Penuh Manfaat
Buah beludru atau yang lebih sering dikenal dengan buah bisbul (Diospyros discolor) merupakan salah satu buah khas yang identik dengan Kota Bogor, Indonesia. ...