Bahasa | English


PARIWISATA

Bhumi Merapi: Konsep Wisata Berwawasan Lingkungan

23 April 2019, 11:12 WIB

Indonesia memiliki kekayaan alam yang luar biasa. Terbentang pemandangan dan keanekaragaman hayati dari ujung Sabang sampai Merauke. Tentunya melalui kekayaan alamnya ini diharapkan dapat dinikmati sebagai wahana wisata.


Bhumi Merapi: Konsep Wisata Berwawasan Lingkungan Bhumi Merapi. Sumber foto: K/Abdul Rasyid

Sektor pariwisata merupakan sektor yang sangat berdampak positif bagi perekonomian dalam negeri, karena melalui sektor wisata ini dapat menghasilkan devisa bagi negara. Juga mampu menggerakkan ekonomi masyarakat.

Dalam laporannya pada tahun 2016, World Travel and Tourism Council (WTTC ) mencoba menghitung dampak sektor pariwisata terhadap ekonomi global. Secara global, dampak total dari sektor pariwisata terhadap PDB dan penciptaan lapangan kerja, adalah sebesar US$7,6 triliun, dan dampak langsungnya adalah sebesar US$2,3 triliun.

Adanya sektor wisata mampu menggerakkan sektor perekonomian yang lebih luas lagi. Sebab sektor wisata mampu menciptakan multiplier effect. Dengan adanya wisata, maka di sekitar tempat wisata tersebut akan ada orang yang berjualan, menyediakan jasa transportasi, penginapan, oleh-oleh khas daerah setempat dan lain sebagainya.

Ekonomi dapat tumbuh melalui sektor wisata dan sektor non wisata. Salah satu yang dijadikan sebagai supplier wisata adalah sumberdaya alam. Bahkan hampir seluruh wisata alam yang ada di Indonesia atau negara lain tidak lepas dari sumberdaya alam. Misal wisata gunung, wisata air seperti arung jeram, wisata terumbu karang, wisata bertani dan lain sebagainya yang memasukkan unsur sumberdaya alam di dalamnya.

Yogyakarta merupakan salah satu daerah yang menarik dan lekat dengan nuansa kebudayaan. Salah satu ikonik yang cukup menarik dan dikenal banyak masyarakat adalah Gunung Merapi. Gunung Merapi terkenal sebagai gunung yang aktif dan pernah meletus dengan letusan yang cukup dahsyat, sehingga peristiwa itu dikenang oleh masyarakat Indonesia bahkan mancanegara.

Bhumi Merapi merupakan tempat wisata dengan konsep agrowisata dan edukasi bagi para pengunjungnya. Jadi tempat wisata ini tidak menawarkan wisata napak tilas meletusnya Gunung Merapi dengan fenomena “Wedhus Gembel” . Agrowisata ini menyediakan berbagai wahana wisata seperti area hewan piaraan (budidaya kambing etawa, kelinci hias, reptil, musang, ikan), kebun hidroponik, area camping, area outbond training, wisata goa panggolo serta tempat untuk sekadar istirahat dan rihlah (joglo, kantin, dan area untuk menunggang kuda)

Tempat wisata ini sudah ada sejak 20 Desember 2015 lalu. Tempat wisata ini terletak di seputaran kaki dan lereng Gunung Merapi. Sehingga wisatawan atau pengunjung bisa merasakan nuansa daerah pegunungan yang sejuk dan rindang penuh dengan tumbuhan yang hijau.

Konsep agrowisata ini sangatlah unik dan menarik, karena konsep wisata ini agak jarang dijumpai di berbagai daerah di Indonesia. Menggabungkan wisata dengan pertanian itu bukanlah sesuatu yang mudah. Apalagi mengemas dua tujuan sekaligus, berwisata juga belajar atau istilah kerennya edutourism.

Bukan sekadar wisata untuk jalan-jalan, bukan hanya untuk melepas kepenatan saja. Lebih dari itu wisatawan atau pengunjung mendapatkan informasi yang menarik dan bermanfaat dari berbagai wahana yang disediakan dalam konsp agrowisata dan edukasi.

Bagi wisatawan atau pengunjung yang berencana memulai bisnis, atau hanya sekedar ingin mengetahui ide-ide bisnis terkait pertanian dalam arti luas seperti budidaya tanaman melalui hidroponik atau ternak kelinci, Bhumi Merapi menyediakan paket pelatihan sekaligus pendampingan untuk bidang usaha yang dalam agrowisata ini.

Di tempat ini wisatawan atau pengunjung bisa belajar budidaya peternakan kambing. Kambing-kambing yang dibudidayakan di sini adalah jenis kambing peranakan Ettawa. Pengunjung akan diberikan kesempatan untuk praktik memberi pakan ternak, memerah susu kambing dan memberi minum susu dot pada anakan kambing ettawa.

Setelah itu pengunjung bisa belajar teknologi pengolahan hasil susu kambing menjadi yogurt dan ice cream. Kemudian ada area untuk belajar teknologi pengolahan pakan ternak, pengolahan limbah kambing menjadi pupuk organik dan biogas serta pemanfaatan pupuk organik untuk tanaman jahe dan pisang organik. Selain budidaya kambing ternyata Bhumi Merapi mampu memproduksi produk turunan dari susu kambing yang dihasilkan dari kambing ettawa. Kemudian kotoran kambingnya pun dimanfaatkan untuk pupuk organik. Konsep wisata yang sesuai dengan prinsip sustainability (keberlanjutan).

Bagi wisatawan atau pengunjung yang ingin menikmati alam bersama keluarga di sekitar kaki Gunung Merapi juga bisa berkemah dengan keluarga di sekitar area Bhumi Merapi.

Melalui wisata dengan konsep agrowisata ini diharapkan mampu menggerakan perekonomian masyarakat sekitar kaki Gunung Merapi juga mampu menjaga kelestarian lingkungan. Pengelolaan yang baik akan meningkatkan kenyamanan wisatawan dan atau pengunjung. Karena prinsip edutourism sebagaimana prinsip SDGs yaitu ekonomi, sosial dan lingkungan.

Adapun konsep wisata berwawasan lingkungan mampu menghimpun dana untuk kelestarian lingkungan hidup dan menimbulkan pedulian terhadap kelestarian lingkungan. Dengan demikian sumberdaya alam yang digunakan sebagai objek wisata alam dapat terjamin keberlanjutannya. Harapannya Bhumi Merapi melalui konsep wisata berwawasan lingkungannya dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar dan lingkungan yang terjaga kebersihan dan keasliannya. (K-AR)

Lingkungan Hidup
Sosial
Wisata
Ragam Terpopuler
Sabung Ayam, Antara Mitos dan Sejarah
Bicara ayam, Indonesia memiliki sejarah sangat panjang. Jika selama ini hanya Sungai Kuning di Cina dan lembah Indus di India yang dianggap sebagai pusat sejarah domestikasi ayam di dunia, nyatanya bi...
Kekayaan Laut Utara, Modal Kesejahteraan Warga Pesisir
Pendapatan bersih para 'juragan' di Tegal berkisar antara satu hingga tiga miliar per bulan. Itu sudah memperhitungkan musim banyak ikan dan masa sepi karena cuaca. ...
Sawahlunto, Buah Manis Perpaduan Teknologi Barat dan Timur
Serius membuka diri menjadi destinasi pariwisata sejarah dan budaya, sejak 2002 Sawahlunto berbenah diri. Berbagai proyek revitalisasi dan konservasipun dilakukan. Keseriusan itu akhirnya berbuah mani...
Bibit Pesepakbola Indonesia itu dari Lembah Cycloop
Kabupaten Jayapura boleh berbangga, dari lima pesepak bola mudanya yang masuk Timnas U-15 di Portugal. Dan salah satu dari lima pemain itu jadi top scorer dalam ajang bergengsi dunia,  IBER Cup 2...
Desa Adat Trunyan, antara Kubur Angin dan Kubur Tanah
Masyarakat Trunyan tak hanya mengenal satu upacara dan satu model penguburan. Selain kubur angin (exposure), mereka juga mengenal kubur tanah (inhumation). Bicara upacara kematian, selain Ngutang Mayi...
Kubur Batu Bagi Marapu
Tidak semua orang bisa menjadi Marapu setelah mati. Itu sangat bergantung pada apa yang telah dia lakukan selama hidupnya dan apa yang dilakukan oleh para keturunannya untuk membuatkan upacara pengubu...
Pluralitas Hindu di Bali
Ratu Sakti Pancering Jagat oleh masyarakat Trunyan ditempatkan pada posisi tertinggi sekaligus dianggap manifestasi Sang Hyang Widhi. Dalam konteks inilah, keberadaan dewa-dewa utama dari Hindu yaitu ...
Munggah Kaji, Perjalanan Mencapai Keutamaan
Mekah dalam imajinasi orang Jawa hanyalah salah satu kota yang berada di tempat yang sangat jauh. Kota para leluhur dalam sejarah manusia. ...
Lokalisasi Hindu-Bali menjadi Hindu-Trunyan
Di Trunyan terdapat sebuah patung batu raksasa, peninggalan zaman Megalitikum. Konon, patung ini bukanlah karya manusia, melainkan piturun, yang artinya diturunkan dari langit oleh Dewa. Dan menarikny...
Jalan Dagang Orang Bugis dan Terjadinya Singapura
Monopoli Belanda di Riau kepulauan adalah salah satu yang membuat Raffles memutuskan untuk membangun pangkalan di Tumasik. Raffles tentu tidak mau kehilangan perdagangan yang saling menguntungkan deng...