Bahasa | English


PARIWISATA

Kampoeng Mataraman, Wisata dengan Suasana Desa di Bantul, DIY

21 June 2019, 02:28 WIB

Berwisata ke Yogyakarta, sudah pasti atau kemungkinan  besar, kita akan berwisata ke lokasi yang cenderung sama. Misalnya ke  Keraton, atau misalnya ke Malioboro atau sejumlah lokasi wisata alam  seperti Pasir Gumuk atau pantai Parangtritis dan Kali Biruyang berada di Jogja.


Kampoeng Mataraman, Wisata dengan Suasana Desa di Bantul, DIY Kampung Mataraman. Foto: IndonesiaGOID/Tommy Bernadus

Namun, semenjak tahun 2017 lalu, Kini, ada sebuah lokasi wisata baru dan unik yang baru hadir di  Yogyakarta. Lokasi wisata ini berada di Desa Panggungharjo, Kecamatan  Sewon, Kabupaten Bantul, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.

Nama lokasi wisata ini adalah Kampung Mataraman.

Mungkin kita akan bertanya, lokasi wisata seperti apakah Kampung Mataraman ini. Okei, mari kita memulai ceritanya ya!

Kampung Mataraman ini, merupakan lokasi wisata dengan nuansa Desa.  Itu sudah jelas dari namanya yang ada "Kampung" atau "Kampoeng".

Konsep dari Kampung Mataraman ini, sebenarnya merupakan tempat makan. Iya  tempat makan. Tapi jangan berharap ini konsep tempat makan berupa  restoran mewah meskipun tradisional. Jelas tidak!

Memasuki Kampung Mataraman ini kita akan melewati sebuah jembatan.  Jembatan dengan nuansa "ndeso" atau pedesaan. Ada sebuah saluran air  kecil dengan air nan jernih.

Eits, saya lupa. Di bagian depan dari Kampung Mataraman ini ada  semacam gapura dan gerbang masuk yang unik. Terbuat dari Bambu.

Usai meniti jembatan, ada semacam jalan masuk unik yang  juga seperti beratap bambu. Instagrammable atau lokasinfoto yang bagus  untuk postingan di instagran lah pokoknya.

Ketika kita sampai di lokasi utama dari Kampung Mataraman, kita akan  bertemu dengan seuumlah bangunan. Apa saja bangunan utama ini?

Ada yang namanya "limasan" atau semacam hall dengan nuansa tempo  dulu, rumah joglo yang masih berbentuk asli, tanpa modifikasi. Limasan  ini bisa menjadi tempat kita menggelar pertemuan semisal arisan atau  reunian. Duduknya? Lesehan.

Di sebelah limasan ada tiga bangunan berjejer. Bangunannya masih asli  Jawa juga. Yang paling depan adalah warung makan. Tempat kita membeli  atau memesan makanan. Nah, di sebelahnya lagi atau yang berada di  tengah-tengah adalah dapur tempat memasak.

Di dapur ini tempat menyimpan sayuran, bahan masak dan juga tempat  para ibu-ibu dan warga desa lainnya menyiapkan masakan. Cara menyiapkan  masih tradisional. Masih menggunakan arang, dan kalau darurat ya tetap  pakai kompor juga sih sebenarnya.

DI bagian sebelahnya lagi, adalah tempat yang akan dipakai sebagai kantor atau tempat untuk mengelola kantor ini.

Semakin kita masuk ke dalam, nuansa desanya akan semakin terasa. Ada  kolam ikan dengan jembatan bambunya. Tidak hanya itu, jalan di bagian  dalam Kampung Mataraman ini, masih terbuat dari batu alam. Keren sekali  memang tempatnya. Nuansa desanya sangat terasa dengan lingkungan asri.

Apa yang menjadi daya tarik dari Kampung Mataraman ini selain lokasinya yang masih benar-benar bercirikan desa yang asli? Yang menarik perhatian saya dari Kampung Mataraman ini adalah  pembangunannya yang menggunakan dana desa melalui Badan Usaha Milik Desa  atau Bumdes Panggung Lestari.

Semenjak tahun 2014 lalu, atau sudah tiga tahun, Undang-undang Desa  mulai diberlakukan. Salah satu guna dari Undang-undang Desa ini adalah  untuk memajukan pedesaan.

Melalui Badan Usaha Milik Desa atau Bumdes, dana desa kemudian  dimanfaatkaan untuk pemberdayaan masyarakat desa. Salah satunya dengan  membangun kawasan wisata seperti Kampung Mataraman ini.

Kampung Mataraman ini sendiri, memanfaatkan tanah kas desa seluas  enam hektare. Sangat luas. Dan yang kerennya lagi adalah, yang bekerja  di Kampung yang mengambil konsep desa di era kerajaan Mataram ini,  adalah warga setempat atau warga Desa Panggung Harjo.

Ibu Poni dan Ibu Temu yang saya temui di Kampung Mataraman ini  bercerita kepada saya, sebelum bekerja di Kampung Mataraman, mereka  bekerja di tempat lain. Mereka kemudian beralih ke Kampung Mataraman  karena memang kampung Mataraman ini untuk memberdayakan masyarakat  setempat.

Mulai dari memasak, menyajikan makanan hingga merawat Kampung  Mataraman ini dilakukan oleh Warga Desa Panggungharjo. Tidak ada warga  lain.

Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi atau  Mendes PDTT, Eko Putro Sandjojo mengatakan, Kampung Mataraman ini  merupakan salah satu hasil kreasi masyarakat desa menjadi Produk  Unggulan Kawasan Pedesaan atau Prukades. (K-TB)

Wisata
Ragam Terpopuler
Bibit Pesepakbola Indonesia itu dari Lembah Cycloop
Kabupaten Jayapura boleh berbangga, dari lima pesepak bola mudanya yang masuk Timnas U-15 di Portugal. Dan salah satu dari lima pemain itu jadi top scorer dalam ajang bergengsi dunia,  IBER Cup 2...
Desa Adat Trunyan, antara Kubur Angin dan Kubur Tanah
Masyarakat Trunyan tak hanya mengenal satu upacara dan satu model penguburan. Selain kubur angin (exposure), mereka juga mengenal kubur tanah (inhumation). Bicara upacara kematian, selain Ngutang Mayi...
Kubur Batu Bagi Marapu
Tidak semua orang bisa menjadi Marapu setelah mati. Itu sangat bergantung pada apa yang telah dia lakukan selama hidupnya dan apa yang dilakukan oleh para keturunannya untuk membuatkan upacara pengubu...
Pluralitas Hindu di Bali
Ratu Sakti Pancering Jagat oleh masyarakat Trunyan ditempatkan pada posisi tertinggi sekaligus dianggap manifestasi Sang Hyang Widhi. Dalam konteks inilah, keberadaan dewa-dewa utama dari Hindu yaitu ...
Munggah Kaji, Perjalanan Mencapai Keutamaan
Mekah dalam imajinasi orang Jawa hanyalah salah satu kota yang berada di tempat yang sangat jauh. Kota para leluhur dalam sejarah manusia. ...
Lokalisasi Hindu-Bali menjadi Hindu-Trunyan
Di Trunyan terdapat sebuah patung batu raksasa, peninggalan zaman Megalitikum. Konon, patung ini bukanlah karya manusia, melainkan piturun, yang artinya diturunkan dari langit oleh Dewa. Dan menarikny...
Jalan Dagang Orang Bugis dan Terjadinya Singapura
Monopoli Belanda di Riau kepulauan adalah salah satu yang membuat Raffles memutuskan untuk membangun pangkalan di Tumasik. Raffles tentu tidak mau kehilangan perdagangan yang saling menguntungkan deng...
Teka-Teki Keraton Majapahit
Penjelasan Prapanca mulai dari halaman-halaman yang ada di dalam keraton, nama-nama tempat penting, jalan-jalan penghubung, makam-makam pembesar dan pemuka agama, barak dan alun-alun, hingga gerbang-g...
Sopi, Sake ala Indonesia dan Masa Depan Tuak
Sopi sebagai minuman khas Nusa Tenggara Timur, kini resmi dilegalkan. Pelegalan ini disambut baik oleh sebagian besar masyarakat NTT. Salah satu alasannya, karena minuman keras ini bersangkut paut den...
Bisbul, Buah Lemak Berbulu yang Penuh Manfaat
Buah beludru atau yang lebih sering dikenal dengan buah bisbul (Diospyros discolor) merupakan salah satu buah khas yang identik dengan Kota Bogor, Indonesia. ...