Bahasa | English


PARIWISATA

Keselarasan Keanekaragaman di Satu Kawasan

6 December 2019, 05:11 WIB

Di atas tanah seluas 25 ribu hektar, berdiri miniatur hutan Indonesia. Beraneka ragam tanaman hutan bisa ditemui di sana.


Keselarasan Keanekaragaman di Satu Kawasan Balai Taman Nasional Baluran. Foto: IndonesiaGOID/Ratna Nuraini

Taman Nasional Baluran yang membentang di perbatasan Banyuwangi-Situbondo, Jawa Timur sungguhlah sarat akan kekayaan flora. Di sana ada vegetasi savana, hutan mangrove, hutan musim, hutan pantai, hutan pegunungan bawah, dan hutan yang selalu hijau sepanjang tahun.

Setidaknya di sana tercatat sebanyak 44 jenis tumbuhan khas yang hidup subur. Di antarnya, tumbuhan widoro bukol, mimba, dan pilang. Melengkapi kekayaan flora, terdapat pula 26 jenis mamalia, seperti banteng, kerbau, ajag, kijang, rusa, macan tutul, dan kucing bakau. Selain juga, teridentifikasi 155 jenis burung.

Hutan Musim

Lima kilometer setelah melintasi pos penjagaan di taman nasional, pengunjung langsung disergap dengan pemandangan khas hutan musim. Yang dimaksud sebagai hutan musim adalah hutan yang wujudnya berubah-berubah sesuai musim.

Di sana, pada saat musim penghujan, yang tersaji adalah pesona hijaunya pepohonan. Sebaliknya, di musim kemarau, wisatawan akan dihibur dengan pemandangan batang dan ranting kering dari pepohonan di sana.

Jika ditanya pemandangan mana yang lebih mempesona, apakah di musim kemarau atau di hujan, maka tentu sulit untuk menjawabnya. Pasalnya, kedua musim ini menciptakan eksotisme dan keunikan bagi tampilan alam Taman Nasional Baluran.

Hutan Evergreen

Di Taman Nasional Baluran, vegetasi lain yang dapat dinikmati keindahannya adalah hutan abadi. Memasuki kawasan hutan abadi, pada musim kemarau, suasana yang sangat kontras dapat langsung terlihat. Betapa jika sebelumnya pengunjung disuguhi jajaran pohon yang mengering dan semak yang tumbuh di tanah kerontang, maka di hutan ini kondisinya berbalik 180 derajat.

Jajaran pepohonan hutan yang tumbuh menjulang sarat dipenuhi dedaunan hijau lebat. Dan saking lebatnya, ranting-ranting pohon merunduk, melengkung, memayungi jalan aspal selebar 8 meter yang membelah hutan.

Kerimbunan pepohonan yang menyemburatkan warna hijau itu terjadi sepanjang masa. Hal itu bisa dijelaskan secara ilmiah, bahwa di sana terdapat mata air yang membentuk aliran air sehingga mampu memberi kehidupan setiap jenis tumbuhan di sana.

Berjarak sekitar 3 kilometer dari kawasan hutan abadi yang dikenal dengan evergreen, pengunjung akan disuguhi pemandangan hutan lain di areal tersebut.

Savana Bekol

Pemandangan berbeda itu ditemui saat sampai di Savana (padang rumput) Bekol. Di titik inilah, Taman Nasional Baluran mendapat yang julukan ‘little Africa’. Kondisi padang yang memiliki luas total hingga 10.000 hektar atau lebih dari sepertiga kawasan ini memang langsung membetot memori pengunjung pada alam Afrika.

Savana Bekol sejatinya memiliki karakteristik yang hampir sama dengan hutan musim. Di saat musim penghujan, kawasan ini membiaskan pesona hijau nan menawan. Di musim itu pula, banyak berkeliaran mamalia khas padang rumput, seperti rusa, banteng, dan kerbau liar.

Selain hewan perumput, di sana ditemui juga kawanan kera ekor panjang dan ayam hutan. Kendati tidak mendapati keberadaannya secara langsung, di kawasan itu juga hidup berjenis ular. Itulah sebabnya, di Savana Bekol terdapat aturan tertulis yang melarang pengunjung memasuki kawasan padang ilalang.

Keelokan padang rumput bekol kian memikat dengan latar pemandangan alam berupa Gunung Baluran.

Pantai Bama

Di sisi kanan padang rumput yang membentang, berjarak sekitar 4 kilometer dari Savana Bekol, pengunjung bisa menemukan jenis vegetasi lain, yakni hutan manggrove yang lebat. Tanaman jenis itu tumbuh subur membingkai pantai berpasir putih yang dikenal sebagai Pantai Bama.

Kawasan wisata Pantai Bama relatif sepi. Agaknya, situasi itu pulalah yang membuat pantai tersebut tampak bersih dan alami. Untuk bisa memasuki kawasan pantai tersebut, yang di dalamnya juga terdapat areal hutan manggrove, pengunjung akan dikenakan tiket masuk seharga Rp5.000.

Serupa dengan kondisi di kawasan tetangganya, yakni Savana Bekol, di Pantai Bama pun bisa ditemui amat banyak hewan primata berekor panjang. Karena itulah, pengunjung kerap diingatkan untuk berhati-hati karena mereka cenderung mengincar makanan dan barang pernak-pernik. .

Ombak di pantai ini, sejauh pengamatan, tidak begitu tinggi. Oleh karenanya, wisatawan relatif bisa menikmati aktivitas berenang di laut dengan aman. Dari kawasan pantai ini juga tampak aktivitas transportasi kapal-kapal pengangkut yang berlalu-lalang dari Pelabukan Ketapang menuju ke Pelabuhan Gilimanuk.

Di kawasan itu, kunjungan wisatawan dibatasi hingga pukul 15.00 WIB. Aturan itu nyaris diberlakukan secara umum di berbagai spot di kawasan Taman Nasional Baluran. Pasalnya, kendati terdapat sejumlah bangunan yang sengaja disiapkan oleh pengelola untuk dijadikan sebagai tempat menginap, nyatanya kawasan wisata itu belum teraliri listrik.

Pembangkit listrik bertenaga fosil yang ada di sana pun hanya akan dioperasikan berdasarkan kesepakatan yang ada antara pengunjung dan pihak pengelola. Jadi, kenapa tidak Anda langsung merencanakan berlibur di taman nasional ini? (F-1)

Taman Nasional Baluran
Ragam Terpopuler
Denys Lombard dan Rekontruksi Sejarah Jawa
Sungguh tak ada satu pun tempat di dunia ini—kecuali mungkin Asia Tengah—yang, seperti halnya Nusantara, menjadi tempat kehadiran hampir semua kebudayaan besar dunia, berdampingan atau leb...
Bajau dalam Satu Tarikan Nafas
Guillaume yang berpakaian selam hasil teknologi maju seperti sesosok "alien" di antara dua pemuda yang menyelam hanya bercelana pendek tanpa baju. ...
Untung Surapati, antara Cinta dan Tragedi
Ada cinta sejati terpatri sangat kuat, juga kisah tragis mengharu biru. Selain heroisme, cinta, dan tragedi inilah tampaknya membuat kisah Untung Surapati melegenda dan sekaligus lekat di hati masyara...
Puas Nikmati Durian di Taman Botani Sukorambi
Bila kebetulan berada di Jawa Timur bagian Timur, mampirlah ke destinasi wisata favorit Taman Botani Sukorambi, Jember, Jawa Timur. Di sana selain bisa berekreasi dengan berbagai wahana edukasi, kita ...
Kawin Antarbangsa
Sekalipun seorang bumiputera yaitu Untung Surapati dijadikan sebagai pelaku utama dalam romannya, Dari Boedak Sampe Djadi Radja, sayangnya pilihan judul itu terkesan menyempitkan makna akan kisah Sura...
Rekayasa Air, Kunci Kejayaan Kahuripan
Begitu pembangunan infrastruktur fisik selesai, Airlangga melanjutkan dengan pembangunan infrastruktur kerohanian masyarakat Kahuripan. ...
Di Kaltim Ada Juga Akar Bajakah Penyembuh Kanker Payudara
Etnis Dayak di Pulau Kalimantan menyebut pohon ini dengan nama bajakah. Pohon bajakah tumbuh di seluruh hutan di Pulau Kalimantan (Kalteng, Kalbar, Kalsel, Kalut, dan Kaltim). Bajakah ternyata ju...
Kemanusiaan di dalam Gerak; Ketika Suprapto Telah Berhenti
Sepanjang karirnya yang membentang sejak paruh akhir 60-an, Suprapto menekuni jalan kemanusiaannya dengan menekuni apa yang dia suka. Seperti orang yang jatuh cinta dengan tubuhnya, Suprapto terus men...
Sejarah Rekayasa Air dalam Prasasti Tugu
Catatan paling tua dia dapatkan dalam inskripsi yang terdapat pada Prasasti Tugu. Prasasti ini menurut para arkeolog berasal dari sekitar abad ke-5 Masehi. ...
Sang Legenda Jawa
Kata ‘surapati’, baik dalam bahasa Jawa Kuno maupun Jawa Baru, memiliki makna ‘raja dewa’. Bermaksud mengabadikan nama legendaris ini, Taman Burgemeester Bisschopplein&nbs...