Bahasa | English


PARIWISATA

Kota Bunga Tomohon dan Serba Tujuhnya

12 December 2019, 08:46 WIB

Banyak orang sepakat bahwa Tomohon adalah salah satu destinasi wisata yang memikat. Wisatawan datang ke sana tidak hanya karena indahnya bunga dan alamnya, tapi juga keragaman budaya dan toleransi yang menyertainya.


Kota Bunga Tomohon dan Serba Tujuhnya Kota Bunga Tomohon. Foto: Pesona Indonesia

Jangan ke Manado, jika tak singgah ke Tomohon. Begitulah kira-kira ucapan setiap pemandu wisata yang mengantar dari bandara Sam Ratulangi ke penginapan. Dan saat segala urusan di Manado sudah lewat, kita pasti akan tergoda ke Tomohon untuk membuktikan cerita pemandu tersebut. Jarak yang tak terlalu jauh dibuktikan dengan waktu tempuh yaitu sekitar satu jam perjalanan saja.

Kondisi alam Tomohon yang berada pada 900- 1100 mdpl (permukaan laut) juga menyebabkan kota ini sejuk dengan cuaca berkisar 18-20 derajat celcius. Seperti kota-kota berhawa sejuk semisal Batu (Malang), Lembang (Bandung), Puncak (Bogor), dan Brastagi (Medan), bunga-bunga tumbuh subur di hawa sejuk itu. Tomohon juga dikenal sebagai kota bunga karena produksi bunga melimpah di daerah itu.

Jika ke sana pada bulan Julia atau Agustus, kita beruntung karena sekitar bulan itulah dilaksanakan parade bunga dunia bertajuk Tomohon International Flower Festival (TIFF). Festival skala internasional yang diadakan sejak tahun 2010 ini menampilkan kendaraan berhias bunga dan aromatik megah yang akan melewati jalan-jalan utama kota ini. Pesertanya berasal dari beberapa kabupaten di Sulawesi Utara, instansi dan perusahaan besar di Indonesia. Negara seperti Singapura, Australia, dan Jepang juga pernah ikut festival yang mampu menyerap wisatawan sebanyak 200 ribu orang per-event ini.

Meski sebagian peserta berasal dari luar Tomohon, tapi kreasi yang ditampilkan pada parade tetap menggunakan bunga hasil bumi Tomohon. Kota ini memang dianugerahi Tuhan dengan bunga yang berlimpah, dari krisan kuning dan putih cerah, dahlia merah dan ungu, lili, mawar dan berbagai bunga lainnya. Sepanjang jalan di kota itu penuh dengan bunga yang mekar.

Selain bunga, alam Tomohon juga dianugerahi hal serba tujuh. Di Tomohon terdapat tujuh gunung, tujuh air terjun dan tujuh danau. Tujuh gunung yang mengelilingi kota itu adalah Gunung Api Lokon, Gunung Empung, Gunung Mahawu, Gunung Tatawiran, Gunung Masarang, Gunung Tampusu, dan Gunung Kasuratan. Dari semua gunung itu, yang paling terkenal adalah Gunung Lokon yang merupakan gunung api aktif dan menjadi ikon kota ini.

Sedangkan gunung api Mahawu, kini tidak erupsi lagi. Bahkan gunung ini bisa didaki dalam 10 menit karena pemerintah membangun anak tangga untuk naik dengan gardu pandang di puncaknya. Dari gardu itu, kita bisa melihat Gunung Lokon, Gunung Manado Tua, Pulau Bunaken, Kota Manado dan teluknya, Gunung Klabat, Kota dan Danau Tondano serta kota Tomohon itu sendiri.

Keberadaan gunung-gunung yang dulu sebagian pernah meletus itu membuat lahan di sekitar Tomohon sangat subur. Masyarakat banyak menanam tanaman holtikultura seperti wortel, seledri, bawang, kentang, juga bunga dan buah-buahan. Sekitar 65 % masyarakat Tomohon adalah petani. 

Air Terjun yang dimiliki Tomohon juga ada tujuh yaitu Air Terjun Tumimperas, Air Terjun Ranowawa, Air Terjun Tapahan Telu, Air Terjun Kandera Watu, Air Terjun Kinapesutan,Air Terjun Mahlimbukar dan Air Terjun Sariouw.

Kota ini juga punya tujuh danau yaitu Danau Linow, Danau Limaney Pangolombian, Danau Tampusu, Danau Zano Zemden, Danau Linow Oki, Danau Masarang Oki dan Danau Sineleyen. Yang terkenal adalah Danau Linow yang bisa berubah tiga warna yaitu hijau toska, biru dan coklat susu. Danau yang berasal dari kata Lilinowan yang berarti tempat berkumpulnya air, adalah danau vulkanik yang terbentuk dari endapan belerang.

Jika kesana, hal ternikmat yang bisa kita lakukan adalah menikmati keindahan danau dengan minum kopi, makan pisang goroho dengan cocolan sambal roa yang terkenal itu. Santapan ini sering menjadi sarapan wajib bagi wisatawan yang ke wilayah itu.

Selain tempat-tempat yang sudah disebutkan di atas, jika mau kita juga bisa berkunjung ke pasar tradisional yang sering disebut pasar ekstrem. Jangan terkejut jika yang ditawarkan pasar ini adalah tikus ekor putih, anjing, daging kelelawar, ular atau terkadang ada yang menjual biawak. Beberapa warung makan menyediakan masakan siap santap.

Keramahan dan Toleransi Jadi Magnet

Selain bunga dan alam yang indah, daya tarik Tomohon adalah budaya, sikap dan toleransi yang kental masyarakatnya. Mayoritas penduduknya adalah Kristen Protestan dan Katolik tapi hidup berdampingan dengan umat Islam, Hindu, Budha, dan Kong Hu Cu. Tidak ada sejarah bentrokan karena perbedaan agama di wilayah ini.

Kota ini punya Bukit Doa dan Kapel Bunda Maria yang sangat khas bentuknya. Bukit Doa punya lorong jalan salib Mahawu yang gelap dan amphiteater setengah lingkaran yang mirip colloseum di Yunani. Ratusan wisatawan datang ke tempat ini dan memanjatkan doa setiap harinya. Banyak juga yang memanfaatkannya untuk berfoto pre-wedding karena banyak spot indah di kawasan ini.

Tak jauh dari Bukit Doa dan masih di wilayah Kakaskasen, Tomohon Utara, ada vihara yang sangat terkenal dan menjadi simbol toleransi masyarakat Tomohon yaitu Pagoda Ekayana. Masuk halamannya, kita seperti terhipnotis untuk masuk lebih jauh ke kompleks rumah ibadahnya. Vihara yang punya luas 2 hektar ini penuh dengan perlengkapan ibadah semisal 18 patung Budha yang dibangun sejak dari pintu masuk sampai bangunan inti wihara.

Bangunan inti Vihara Ekayana sendiri adalah pagoda indah dengan 9 lantai. Rumah ibadah megah ini juga menerima kunjungan ratusan wisatawan yang ingin melihat-lihat atau berbakti setiap harinya. Tak jauh dari Bukit Doa dan Pagoda Ekayana, terdapat jejak Islam di sana yaitu Masjid At-Taqwa di Kinilow.

Sebagian besar masyarakat Tomohon berasal dari Suku Tombulu, Suku Toutemboan dan beberapa suku Minahasa lainnya. Ada juga suku Bugis, Jawa dan beberapa dari Sumatera. Semuanya hidup berdampingan. Warga Tomohon umumnya punya budaya yang dijunjung tinggi yaitu budaya mapalus yang mengharuskan masyarakatnya untuk bergotong royong. Ini yang menjaga mereka supaya tetap rukun.

Toleransi ini juga menjadi perhatian wisatawan asing yang berkunjung di wilayah itu. Mereka bisa menyaksikan semua pemuka agama berjalan bersama saat pembukaan festival bunga dan hal ini tak luput dari perhatian mereka.

Setara Institute juga mengakui toleransi di Tomohon dengan memasukkan kota ini sebagai 10 kota paling toleran diantara 94 kota dan kabupaten seluruh Indonesia. Tomohon mendapat Indeks Kota Toleran (IKT) sebesar 5,833 atau ranking ke 8 kota paling toleran. (K-CD)

Destinasi
Wisata
Ragam Terpopuler
Denys Lombard dan Rekontruksi Sejarah Jawa
Sungguh tak ada satu pun tempat di dunia ini—kecuali mungkin Asia Tengah—yang, seperti halnya Nusantara, menjadi tempat kehadiran hampir semua kebudayaan besar dunia, berdampingan atau leb...
Bajau dalam Satu Tarikan Nafas
Guillaume yang berpakaian selam hasil teknologi maju seperti sesosok "alien" di antara dua pemuda yang menyelam hanya bercelana pendek tanpa baju. ...
Untung Surapati, antara Cinta dan Tragedi
Ada cinta sejati terpatri sangat kuat, juga kisah tragis mengharu biru. Selain heroisme, cinta, dan tragedi inilah tampaknya membuat kisah Untung Surapati melegenda dan sekaligus lekat di hati masyara...
Puas Nikmati Durian di Taman Botani Sukorambi
Bila kebetulan berada di Jawa Timur bagian Timur, mampirlah ke destinasi wisata favorit Taman Botani Sukorambi, Jember, Jawa Timur. Di sana selain bisa berekreasi dengan berbagai wahana edukasi, kita ...
Kawin Antarbangsa
Sekalipun seorang bumiputera yaitu Untung Surapati dijadikan sebagai pelaku utama dalam romannya, Dari Boedak Sampe Djadi Radja, sayangnya pilihan judul itu terkesan menyempitkan makna akan kisah Sura...
Rekayasa Air, Kunci Kejayaan Kahuripan
Begitu pembangunan infrastruktur fisik selesai, Airlangga melanjutkan dengan pembangunan infrastruktur kerohanian masyarakat Kahuripan. ...
Di Kaltim Ada Juga Akar Bajakah Penyembuh Kanker Payudara
Etnis Dayak di Pulau Kalimantan menyebut pohon ini dengan nama bajakah. Pohon bajakah tumbuh di seluruh hutan di Pulau Kalimantan (Kalteng, Kalbar, Kalsel, Kalut, dan Kaltim). Bajakah ternyata ju...
Kemanusiaan di dalam Gerak; Ketika Suprapto Telah Berhenti
Sepanjang karirnya yang membentang sejak paruh akhir 60-an, Suprapto menekuni jalan kemanusiaannya dengan menekuni apa yang dia suka. Seperti orang yang jatuh cinta dengan tubuhnya, Suprapto terus men...
Sejarah Rekayasa Air dalam Prasasti Tugu
Catatan paling tua dia dapatkan dalam inskripsi yang terdapat pada Prasasti Tugu. Prasasti ini menurut para arkeolog berasal dari sekitar abad ke-5 Masehi. ...
Sang Legenda Jawa
Kata ‘surapati’, baik dalam bahasa Jawa Kuno maupun Jawa Baru, memiliki makna ‘raja dewa’. Bermaksud mengabadikan nama legendaris ini, Taman Burgemeester Bisschopplein&nbs...