Bahasa | English


PARIWISATA

Meneropong Tapak Sejarah Tangga Seratus

26 April 2019, 00:00 WIB

Tangga Seratus. Peninggalan sejarah dan kini menjadi salah satu spot destinasi di Kota Sibolga, Sumatera Utara. Selain itu, Tangga Seratus juga mempunyai keunikan yang melekat.


Meneropong Tapak Sejarah Tangga Seratus Tangga seratus sibolga. Sumber foto: Istimewa

Memang, namanya Tangga Seratus. Namun bukan berarti jumlah anak tangga yang dinaiki hanya berjumlah 100. Tetapi berjumlah 298, itulah yang menjadi keunikannya.

Tangga Seratus tepatnya terletak di Kelurahan Pasar Baru, Kota Sibolga. Dengan jumlah anak tangga yang jumlahnya tidak sedikit itu, sudah pasti menaikkinya memerlukan tenaga lebih. Namun semua lelah itu akan hilang ketika sudah berada di Puncak Bukit Tangga Seratus.

Dari Puncak Bukit Tangga Seratus, pengunjung dapat menikmati panorama alam Kota Sibolga yang eksotis dengan lautannya dan hamparan kapan nelayan. Puncak Bukit Tangga Seratus juga dimanfaatkan masyarakat untuk berolahraga dan lokasi mengalirkan air bersih.

Di balik destinasi Tangga Seratus, ada sisi lain yang menjadi catatan sejarah Kota Sibolga. Masih ada goa peninggalan buatan tentara Jepang ketika menanjak Tangga Seratus.

Goa itu dulu dipakai tentara Jepang sebagai lubang pengintai. Jika tentara Jepang yang bertugas sebagai pengintai melihat adanya pergerakan membahayakan atau mencurigakan, maka mereka akan langsung melaporkannya ke puncak bukit.

Di dalam goa buatan tentara Jepang itu terdapat satu pintu masuk dan dua lajur di dalamnya yang berbentuk huruf Y.

Saat pertama kali dibangun di era kolonial Belanda, Tangga Seratus hanya berbentuk seperti bantaran rel kereta api yang menjulur ke arah puncak bukit. Bahan baku Tangga Seratus saat awal dibangunnya juga hanya dari kayu dan bambu yang diikat dengan tali tambang, tanpa penopang untuk berpegang di sisi kanan dan kiri.

Destinasi sejarah Tangga Seratus diperkirakan telah berusia 100 tahun lebih atau saat masa pendudukan Belanda. Saat masa agresi militer Belanda II, Tangga Seratus kembali digunakan tentara penjajah untuk memantau aktivitas bahari Sibolga, misalnya melihat masuk dan keluarnya kapal berlayar.

Pembangunan Tangga Seratus pun memiki catatan kelam, sama halnya dengan kisah dari daerah lain ketika masa penjajahan. Ratusan masyarakat Sibolga dipaksa bekerja oleh kolonial Belanda untuk membangun Tangga Seratus.

Konon katanya dari cerita masyarakat sekitar, akibat kerja paksa membangun Tangga Seratus juga sampai menimbulkan korban tewas. Namun tidak ada informasi pasti tentang jumlah korban tewas tersebut.

Di Puncak Bukit Tangga Seratus juga masih terdapat bangunan perusahaan air minum berdiri kokoh. Gedung perusahaan air minum itu dibangun oleh pemerintah kolonial Belanda tahun 1929.

Di dekat gedung perusahaan air minum buatan pemerintah kolonial Belanda itu, ada sirene yang energinya diambil dari dinamo tua. Saat itu digunakan untuk memanggil para pekerja perusahaan air minum.

Sekarang sirene itu dimanfaatkan sebagai penanda pemberitahuan telah masuk berbuka puasa kepada masyarakat Kota Sibolga. Bahkan bunyi sirene katanya sampai terdengar hingga se-Kabupaten Tapanuli Tengah.

Kini Tangga Seratus kondisinya tidak lagi seperti awal dibangun pemerintah kolonial Belanda. Pemerintah telah merenovasinya tanpa menghilangkan aspek nilai sejarahnya.

Tangga Seratus kini telah berganti kokohnya semen ketika dipijak. Di sisi kanan dan kirinya pun telah dipasang penopang untuk berpegangan.

Tangga Seratus sekarang juga menjadi lokasi para atlet daerah dari Kota Sibolga untuk berlatih fisik. Pengunjung wisatawan yang ingin menikmati alam Kota Sibolga juga lalu lalang melewati Tangga Seratus untuk mencapai puncak bukit.

Pemerintah Kota Sibolga telah menetapkan destinasi sejarah Tangga Seratus sebagai bagian situs cagar budaya daerahnya. (K-HL)

Wisata
Ragam Terpopuler
Menjaga Kekhidmatan, Pesta Adat Erau dan TIFAF Digelar Terpisah
Pesta tradisional kesultanan Kutai ing Martadipura “Erau” dan Tenggarong Internasional Folk Art Festival digelar terpisah di bulan September. Keduanya dipisah untuk menjaga kekhidmatan tra...
Menikmati Budaya dan Burung Migrasi di Danau Limboto
Satu lagi agenda wisata di September 2019. Sebuah kegiatan festival akan diselenggarakan di Gorontalo. Kegiatan ini adalah Festival Pesona Danau Limboto 2019 yang rencananya diselenggarakan pada 21--2...
Menikmati Keindahan Alam Pantai dan Budaya Nias
Bila Anda masih bingung menentukan tempat mana untuk berlibur dan berwisata pada September nanti, Nias bisa jadikan sebagai pilihan utama. Pasalnya, pada 14 September akan ada puncak acara Sail N...
Hamzah Sang Aulia Lagi Mulia
Penemuan makam Tuan Hamzah dari Pancur jika diperbandingkan dengan catatan penjelajah Ibnu Battuta akan memperkuat beberapa hal. ...
Etika Kepemimpinan Jawa
Demikianlah, menjadi seorang raja dalam konstruksi etika kepemimpinan dalam budaya Jawa dituntut memiliki delapan laku, atau delapan sifat, atau delapan watak, yang bersifat keillahian dengan merujuk ...
Tuan Pancur di Tanah Suci
Jika salinan catatan dari nisan Hamzah Al Fansuri bisa dipastikan kebenarannya, maka bangsa Indonesia harus berterima kasih pada seseorang yang bernama Hassan Mohammed El Hawary. ...
Memilih Akhir Bersama Yang Terkasih
Konon para pengajar Mbah Moen inilah yang menjadi sosok-sosok terkasih yang dicintai Mbah Moen. Sampai-sampai setiap ada kesempatan di musim haji, Mbah Moen selalu pergi haji walaupun dalam kondisi ya...
Leluhur Nusantara di Tanah Tinggi
Siapa sangka pekuburan di tanah tinggi Mekah ternyata menyimpan sejarah ulama Nusantara, bahkan yang lebih lama. Seperti tokoh besar Hamzah Al Fansuri, yang diperkirakan hidup di abad 16, dan Mas'...
Mitos-mitos Dewi Laut di Nusantara
Sekalipun analisis sejarah Pram katakanlah “benar”, bahwa “perkawinan spiritual” Kanjeng Ratu Kidul dengan raja-raja Mataram ialah sekadar upaya membangun legitimasi kekuasaan ...
Festival Lembah Baliem sudah 30 Tahun
Usia Festival sudah termasuk tua, 30 tahun. Tapi Festival Lembah Baliem di Kabupaten Jaya Wijaya ini semakin memikat. ...