Bahasa | English


PARIWISATA

Mengintip Keindahan Danau Lau Kawar Di balik Kegarangan Gunung Sinabung

27 August 2019, 03:53 WIB

Cantik dan memiliki pesona yang tak kalah dengan Danau Toba, membuat siapapun mudah jatuh cinta pada keindahan Danau Lau Kawar. Letak danau ini memang cukup tersembunyi dan rawan, karena berada di zona merah Gunung Sinabung.


Mengintip Keindahan Danau Lau Kawar  Di balik Kegarangan Gunung Sinabung Pesona Danau Lau Kawar. Foto: Pesona Indonesia

Butuh jarak tempuh 70 KM dengan waktu tiga jam dari Kota Medan untuk mencapai danau nan indah ini. Danau ini terletak dibawah kaki Gunung Sinabung, di desa Kutagugung, Kecamatan Namanteran, Kabupaten Karo, Sumatera Utara. Seperti kita ketahui, gunung yang memiliki ketinggian hingga 2.451M dpl ini, sempat jeda sebentar dari aktivitasnya. Setelah  meletus di tahun 2010 dan mengalami letusan freatik hingga 2011, gunung ini masih menyisakan batuk-batuk yang tak kunjung usai.

Otomatis obyek wisata Danau Lau Kawar belum didekati oleh pengunjung untuk melihat kecantikannya. Dalam jarak radius tiga kilometer masyarakat dan wisatawan dilarang melakukan kegiatan di sektor Utara-Barat, empat kilometer untuk sektor Selatan-Barat, tujuh kilometer untuk sektor Selatan-Tenggara, enam kilometer untuk sektor Tenggara-Timur, dan empat kilometer untuk sektor Utara-Timur.

Danau ini berada di Kawasan Ekosistem Leuser (KEL), berada di ketinggian 2.451 meter diatas permukaan laut. Bila situasi normal banyak suguhan keindahan kawasan Berastagi dan Dataran Tinggi Karo yang juga berada di kaki Gunung Sinabung. Melewati jalur berliku jalan pegunungan, perkampungan, kebun sayur dan hutan pinus, terasa makin nikmat. Tak hanya pemandangan alam, kita juga bisa mengagumi kemegahan rumah adat Karo yang berusia ratusan tahun di sekitar jalur menuju Danau Lau Kawar, tepatnya di Desa Lingga.

Tapi kegiatan penduduk asli di sekitar Danau Lau Kawar dari memancing dan berkebun masih dilakukan, meski tidak seramai dahulu. Danau ini memang tidak sepopuler dan seluas Danau Toba, tapi berbicara mengenai pemandangan yang disuguhkan tidak kalah. Diapit alam pegunungan yang ditumbuhi oleh kayu-kayuan hutan tropis yang membuat teduh dan sejuk. Pinggiran danau terbentang lahan seluas 3 Ha yang sangat cocok untuk  berkemah dan bermalam. Selain itu kita dapat memancing, menyewa perahu atau kapal boat, dan panjat tebing.

Tak perlu budget besar untuk menikmati keindahan yang ditawarkan oleh Danau Lau Kawar. Pengunjung hanya dikenakan biaya retribusi dan parkir yang tidak sampai 20 ribu. Tapi sayang, semenjak letusan kawasan ini menjadi gersang dan kering. Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Karo pun langsung melakukan penutupan demi keselamatan pengunjung.

Sunyi dan Sendu

Perbukitan hijau, udara sejuk, cuaca yang sering tiba-tiba mendung membuat suasana danau sunyi dan sendu. Danau Lau Kawar terletak di dataran tinggi, sehingga kabupaten ini dijuluki Taneh Karo Simalem. Iklim sejuk dan suhu berkisar 16 sampai 17 derajat celcius, membuat tanah di daerah ini subur untuk ditanami. Air tenang dan bening, sebelum letusan gunung sekeliling danau ditumbuhi anggrek yang membuat pemandangannya sangat mengagumkan.

Selain keindahan yang disuguhkan oleh pemandangan danau, ternyata banyak pula versi tentang terbentuknya danau. Dari cerita mistis hingga legenda yang sudah menjamur di masyarakat.  Ada yang bilang, kalau Danau Lau Tawar terbentuk dari air mata kesedihan seorang ibu yang melihat anak-anaknya berkelahi. Dua orang anaknya Sinabung dan Sibayak tidak mau dipisahkan, meski sang ibu berteriak-teriak dan menangis. Rasa sedih sang ibu membuat dirinya menyumpahi kedua orang anaknya, sehingga terjadi bencana besar yang menenggelamkan desa tersebut.

Versi lain dari terbentuknya Danau Lau Kawar menurut masyarakat setempat adalah nama sebuah desa. Desa Kawar terkenal sebagai desa yang subur dan masyarakatnya yang memiliki mata pencarian bercocok tanam, sehingga hasil panen desa ini selalu melimpah.

Suatu saat, di Desa Kawar panen meningkat dua kali lipat dari tahun-tahun sebelumnya. Semua persediaan padi di desa sangat berlebih-lebih. Untuk mengucapkan rasa syukur terhadap rezeki panen yang melimpah, penduduk mengadakan pesta adat yang lebih meriah dari tahun sebelumnya. Semua persiapan dilakukan, dari memasak, pakaian yang warna-warni, perhiasan hingga desa berhias. Semua penduduk bergotong royong saling bahu-membahu demi kelancaran upacara adat yang akan mereka gelar.

Tibalah saat pelaksanaan upacara adat yang dimeriahkan dengan pagelaran Gendang Guro-Guro Aron yang merupakan musik khas masyarakat Karo. Pesta yang dilaksanakan setahun sekali itu, dihadiri seluruh penduduk kecuali seorang nenek tua renta yang sedang lumpuh. Namun anak, menantu maupun cucunya turut hadir dan melupakan mengirim makanan kepada sang nenek.

Saat pesta usai, mereka baru ingat untuk mengirim makanan melalui sang cucu. Namun, di tengah perjalanan si cucu telah memakan sebagian isi bungkusan itu, sehingga yang tersisa hanyalah tulang-tulang. Si nenek tua yang tidak mengetahui kejadian yang sebenarnya, mengira anak dan menantunya telah tega melakukan hal itu. Maka, dengan perlakuan itu, ia merasa sangat sedih dan terhina. Air matanya pun tak terbendung lagi. Ia kemudian berdoa kepada Tuhan agar mengutuk anak dan menantunya itu.

Langit pun menjadi mendung, guntur menggelegar bagai memecah langit, dan tak lama kemudian hujan turun dengan lebatnya. Penduduk desa pontang-panting menyelamatkan diri, tapi semua tidak bisa diselematkan. Desa dan seluruh penduduknya tenggelam dari keganasan alam. Konon jika hari baik dan cerah akan terlihat permukaan danau yang sangat subur.

Suasana yang menyelubungi Danau Lau Kawar ini sarat dengan mitos atau legenda rakyat. Banyak versi cerita dibalik keindahan danau yang membuat orang ingin mengunjunginya. Tidak hanya itu saja, wisatawan dilarang berkata kotor dan berbuat maksiat apabila berada di lingkungan danau. Bila dilanggar, konon, penunggu danau akan marah ditandai dengan datangnya badai secara tiba-tiba. (K-GR)

Wisata
Ragam Terpopuler
Teh Slawi, Sebuah Ikon Minuman Tradisional Kabupaten Tegal
Konon, ada makna filosofis di balik cara penyajian teh itu. Kehidupan memang selalu pahit di awalnya. Namun jika kita sanggup bersabar diri, kehidupan yang awalnya terasa pahit itu maka lambat laun pa...
Harum Manis Carica Gunung Dieng
Pepaya gunung hanya dibudidayakan di Dieng, Wonosobo. Manisan atau selai carica gunung itu menjadi jajanan eksklusif yang hanya diproduksi di Wonosobo. Selain segar, carica juga punya kisah. ...
Rumah Pohon Korowai dan Tayangan Televisi Global
Booming-nya pemberitaan tentang rumah Korowai yang eksotis selama dua puluh tahun terakhir adalah bagian dari fenomena budaya global yang menginginkan tampilan bergaya "primitif" sebagai ses...
Agama, Sekolah, Bahasa Jembatan Keragaman Etnis Papua
Selain agama dan pendidikan, maka bahasa Melayu (baca: Bahasa Indonesia) juga bisa disebut memiliki dampak transformatif bagi warga Papua. Sebab, berhasil memberikan aspek keseragaman pada realitas fr...
Orang Laut Nusantara; Laut untuk Hidup, Hidup untuk Laut
Banyak sekali peristiwa dalam sejarah yang terjadi di wilayah laut Nusantara, tetapi cenderung diabaikan oleh peneliti sejarah konvensional. ...
Mengintip Wisata di Sekitar Kawasan Calon Ibu Kota Baru
Presiden Joko Widodo  baru saja memutuskan wilayah yang akan dijadikan ibu kota baru Tanah Air. Wilayah tersebut yakni sebagian wilayah Kabupaten Kutai Kartanegara dan sebagian daerah Penajam Pas...
Wisata Religius ke Pulau Mansinam
Mengenang heroisme dan dedikasi total tugas kemanusiaan yang dilakukan kedua Rasul Papua itu, kini sebuah film tengah dibuat. Tak hanya memperlihatkan jati diri peradaban Tanah Papua sebagai Tanah Inj...
9 dari 10 Bahasa Indonesia adalah Asing
"Dalam Bahasa Indonesia bukan saja tercermin kebudayaan imigran, tapi juga manifestasi bahasa Indo. Atau, dengan kata lain, Bahasa Indonesia ialah produk budaya hibrida, sehingga bukan tak mungki...
Dari Odisha hingga Jepara, Keturunan Kalingga di Nusantara
Hanya kekuatan armada laut yang besar yang bisa menjelaskan kemampuan Kerajaan Kalingga menduduki pesisir utara Pulau Jawa. ...
Jalan Hidup Anak-Anak Rohani Pram
Sekalipun Pram baru meninggal 2006, sesungguhnya ia telah meninggal saat karya-karyanya telah selesai ditulis dan diterbitkan. Ya sebagai anak rohani, karya-karya sastra Pram mempunya jalan hidupnya s...