Bahasa | English


DESTINASI

Menikmati Budaya dan Burung Migrasi di Danau Limboto

23 August 2019, 04:53 WIB

Satu lagi agenda wisata di September 2019. Sebuah kegiatan festival akan diselenggarakan di Gorontalo. Kegiatan ini adalah Festival Pesona Danau Limboto 2019 yang rencananya diselenggarakan pada 21--25 September 2019.


Menikmati Budaya dan Burung Migrasi di Danau Limboto Festival Pesona Danau Limboto. Foto: Pesona Indonesia

Festival Pesona Danau Limboto akan diadakan dengan upacara meriah di sebuah lokasi dekat danau di Kabupaten Gorontalo, Provinsi Gorontalo. Berbagai pertunjukan akan menghiasi acara untuk menghibur pengunjung Festival Pesona Danau Limboto 2019. Di antara pertunjukan yang disajikan ada tarian tradisional kolosal dan pertunjukan kembang api yang berwarna-warni. Banyak kegiatan dijadwalkan untuk festival ini, seperti pasar masakan lokal, funbike, petualangan Dulamayo, lomba lari penuh warna, pameran, kompetisi foto dan video, dan seminar tentang Danau Limboto.

Festival Pesona Danau Limboto 2019 akan diadakan di beberapa lokasi di seluruh Gorontalo, seperti di dekat danau, Pantai Taulaa, Biluhu, dan Puncak Dulamayo.

Festival ini bertujuan untuk membangun kesadaran melestarikan danau sebagai situs potensial pariwisata. Danau itu sendiri menampung berbagai jenis ikan, reptil, dan burung. Festival ini juga berfungsi sebagai platform untuk mempromosikan kearifan lokal, masakan lokal, seni, dan budaya serta pariwisata.

Bahkan jika beruntung, pengunjung Festival Pesona Danau Limboto masih bisa menyaksikan ribuan burung yang hinggap di tumbuhan yang berdiri di danau. Karena biasanya pada Agustus--September merupakan musim migrasi burung.

Kedatangan burung migran ini sudah terlihat sejak pertengahan Agustus lalu. Puncaknya masih bisa disaksikan hingga minggu terakhir September. Sejumlah trinil semal, trinil kaki hijau, kedidi leher merah, gagang bayam timur, dan lainnya sudah mulai terpantau pengamat burung di kawasan ini.

Burung-burung ini datang dari belahan bumi utara. Keberadaan burung tersebut bisa disaksikan di persawahan, pantai, danau, atau tempat lain yang tidak terhalang. Burung-burung ini berkelompok kecil hingga ribuan ekor. Mereka sibuk mencari makan dan beristirahat. Burung terlihat datang duluan adalah gagang bayam, jumlahnya mencapai lebih dari 40 ekor dalam satu kelompok. Suaranya khas riuh di pinggir Danau Limboto.

Migrasi burung ini merupakan fenomena alam yang terjadi setiap tahun. Saat musim dingin di belahan bumi utara, burung berbagai jenis mengembara ke arah selatan bumi termasuk Indonesia untuk mempertahankan hidupnya. Mereka melakukan siklus tahunannya mengelilingi kawasan jalur terbang Asia Timur-Australasia. Mulanya burung gagang bayam yang berdatangan, mereka terbang berkelompok. Padahal sudah berbulan-bulan burung ini tidak terlihat ada di Danau Limboto

Selain itu, Kabupaten Gorontalo saat ini juga sedang mengenalkan kembali kawasan Pentadio Resort untuk menarik wisatawan mancanegara (wisman) sambil menikmati keindahan Danau Limboto.

Di Danau Limboto wisatawan bisa menikmati bersampan dengan nelayan sambil melakukan pengamatan burung-burung air. Selama ini memang kebanyakan yang datang pakar lingkungan, pengamat burung, atau yang suka wisata alam. Tidak hanya itu, di Danau Limboto, juga ada sumber mata air panas (geotermal), kolam renang, dan kuliner berbagai daerah yang dapat dinikmati pengunjung.

Festival tahun lalu pada pembukaannya diawali dengan Tarian Kolosal tentang Popa-Eyato. Tarian ini dibawakan dengan sangat ciamik oleh penari gabungan dari Pemerintah Kabupaten Gorontalo untuk menyampaikan pesan kedamaian.

Tarian Popa-Eyato terinspirasi dari kisah antara dua pemimpin masa lalu, yaitu Raja Popa di Limboto dan Raja Eyato di Gorontalo di sekitar abad ke-17. Keduanya dikenal kerap terlibat perang. Namun, Raja Popa dan Raja Eyato bersepakat mengakhiri masa-masa perang. Perjanjian damai pun dilakukan di Danau Limboto.

Sebagai simbol perdamaian, kedua Raja menenggelamkan dua buah cincin yang saling berkait, senjata, dan alat perang. Peristiwa tersebut dikenal sebagai perjanjian Damai Popa-Eyato.

Danau Limboto membentang di Kabupaten Gorontalo dan Kota Gorontalo. Dengan luas kurang lebih 3.000 hektar, Danau Limboto merupakan muara dari lima sungai besar di Gorontalo, yakni Bone Bolango, Alo, Bionga, Daenaa, dan Molalahu.

Danau Limboto merupakan salah satu danau yang kondisinya mulai kritis karena pendangkalan. Jika tidak ada upaya pengerukan,  diperkirakan 5-10 tahun lagi danau ini bakal hilang.

Pada 1950-an, kedalaman danau rata-rata masih berkisar 27 meter. Namun saat ini diperkirakan tinggal 7-10 meter. Bahkan data terbaru Badan Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Hutan Lindung (BPDAS-HL) Provinsi Gorontalo, kedalaman Danau Limboto kurang dari 2 meter. Bahkan saking dangkalnya speedboat tidak jalan di tengah danau.

Pendangkalan danau memang bukan semata lumpur yang menebal di dasar danau. Tapi juga karena debit air sungai yang masuk ke danau semakin berkurang. Saat ini, kondisi hulu maupun sungai di Gorontalo dalam keadaan kritis. Dari data yang dikeluarkan BPDAS-HL, ada 127 daerah aliran sungai (DAS) kondisinya kritis. Erosi aliran sungai itu berakibat terjadinya sedimentasi di Danau Limboto.

Kondisi itu diperparah dengan kebiasaan masyarakat membuang sampah di seputaran danau. Selain itu, eceng gondok yang menyebar di danau itu juga dianggap sebagai momok. Karena enceng gondok disinyalir bisa meningkatkan penguapan air dan menurunkan jumlah cahaya dalam perairan. (E-2)

Seni
Wisata
Ragam Terpopuler
Dari New York Ke Batavia, Catatan Seorang "Agen" Amerika
Bulan Mei 1948, adalah bulan ketika izin untuk berkunjung ke Hindia Belanda diberikan. Di akhir Mei, dilakukan persiapan menempuh perjalanan melintasi samudera.  ...
Trowulan adalah Ibu Kota Majapahit?
Bujangga Manik telah mengambil rute paling mudah dan juga mungkin paling lazim dilalui masyarakat saat itu sekiranya hendak ziarah ke Gunung Pawitra. Rute termudah ini mengisyaratkan lokasi Trowulan m...
Istilah Radikal Harus Diganti?
Istilah radikal sebenarnya bermakna netral. Bisa bermakna positif atau negatif. Meskipun terdapat potensi kerancuan atau bias pemaknaan terkait pemakaian istilah ini, saripati pesan pemerintah sebenar...
Jembatan Youtefa, Bukti Sumpah Membangun Papua
Jembatan Youtefa di Kota Jayapura diresmikan akhir Oktober 2019. Berbiaya Rp1,8 triliun, jembatan ini menjadi ikon baru Papua.   ...
Para Penjaga Maria di Pelosok Kapuas Hulu
Tahun 1905, Ordo Capusin memulai penjajakan untuk melakukan misi di pedalaman Kapuas Hulu. Itu juga disebut sebagai titik balik dalam perkembangan umat Katolik di Kalimantan Barat. ...
Orangutan, Taman Nasional, dan Daerah Penyangga
Selama tiga tahun riset dilakukan di sana untuk mengetahui pola migrasi orangutan dan pola buah yang jadi makanannya. ...
Pasar Karetan, Berburu Kuliner di Tengah Kebun Karet Kendal
Rindu dengan suasana pasar nan sejuk, serta jajanan tradisional tempo dulu? Jika ya, sempatkan mampir ke Pasar Karetan di akhir pekan. Dijamin kita seperti diajak naik mesin waktu mengu...
Sekolah Selam di Ujung Timur Indonesia
Sejak Februari 2019, di Kampung Tablasupa, Distrik Depapre, Kabupaten Jayapura, dibuka sekolah menyelam yang digawangi tiga pengajar bersertifikasi Scuba School Internasional. Kini, sekolah itu telah ...
Raego Paduan Suara Tertua di Nusantara
Indonesia kaya akan budaya. Tidak  hanya bela diri, karapan sapi, tarian, ritual keagamaan, benda bersejarah, hingga paduan suara. Salah satu tarian yang diiringi alunan suara tertua di Nusa...
Cabai Jawa, Harta Karun Tanaman Obat Indonesia
Yuk Tarni, tukang jamu bersepeda yang suka berkeliling kampung di kawasan Kelurahan Utan Kayu Utara bersuka cita menawarkan jamu buatannya kepada masyarakat di sana. ...