Bahasa | English


DESTINASI

Menikmati Keindahan Alam Pantai dan Budaya Nias

23 August 2019, 04:03 WIB

Bila Anda masih bingung menentukan tempat mana untuk berlibur dan berwisata pada September nanti, Nias bisa jadikan sebagai pilihan utama. Pasalnya, pada 14 September akan ada puncak acara Sail Nias.


Menikmati Keindahan Alam Pantai dan Budaya Nias Keindahan Pantai Sorake di Kepulauan Nias. Foto: Istimewa

Tari Fataele (tari perang) dan Hombo Batu (lompat batu) yang merupakan kesenian tradisional Nias akan meramaikan penyelenggaraan acara puncak Sail Nias 2019, 14 September nanti. Selain itu akan ada 600 penari yang unjuk gigi menampilkan tari perang kolosal untuk menghibur para wisatawan. Tempatnya di Teluk Dalam, Kabupaten Nias Selatan.

Awalnya, panitia hendak memecahkan rekor dengan menghadirkan 1.000 penari. Namun karena keterbatasan tempat, tarian perang kolosal ini hanya akan menampilkan 600 penari yang merupakan putra putri asli Nias.

Sementara itu juga disiapkan 100 pelompat batu. Kegiatan ini akan dipusatkan di desa  di Bawomatuluo dan Motohili karena batu asli yang biasa digunakan untuk lompat batu hanya ada di  daerah itu. Sementara itu di beberapa tempat panitia hanya akan menyediakan batu replika saja tapi atraksi dipastikan tak akan jauh berbeda dengan atraksi aslinya di Desa Bawomataluo.

Desa Bawomataluo menjadi salah satu wisata Nias yang banyak dikunjungi wisatawan nusantara maupun internasional. Selain menjadi salah satu situs wisata sejarah, Bawomataluo juga menjdi salah satu tujuan untuk wisata alam terutama pantainya. Di desa ini terdapat bangunan yang usianya lebih dari ratusan tahun dan masih kokoh hingga saat ini. Untuk mencapai desa ini wisatawan harus naik ke atas bukit dengan menaiki 88 buah anak tangga.

Desa Bawomataluo saat ini sudah dimasukkan dalam tentative list sebagai warisan dunia (World Herotage) UNESCO. Di Desa Bawomataluo wisatawan juga bisa menyaksikan salah satu kebudayaan lokal Nias, yaitu lompat batu atau hombo batu.

Seri sail kali ini memang berbeda dengan sail pada umumnya yang didominasi pelayar atau yachter. Khusus Sail Nias, kegiatannya disandingkan dengan event peselancar internasional.

Puncak acara Sail Nias tidak melibatkan para yachter, yaitu karena kondisi ombak pada September yang tidak memungkinkan bagi kapal layar (yacht) untuk berlayar.

Meski demikian, para pelayar telah mendapat kesempatan untuk ikut menikmati Nias dalam Nias Yacht Rally yang diadakan Mei lalu. Kegiatan tersebut juga masuk dalam rangkaian kegiatan Sail Nias 2019.

Umumnya ombak yang kondusif untuk yachter itu sekitar Maret-Juli. Sekitar September di Nias tidak memungkinkan yachter datang.

Kejuaraan selancar dunia itu akan melibatkan sekitar 120-150 peselancar dunia karena seri yang dimainkan yakni QS3.000. Dengan hitungan kasar jumlah peserta yang datang, perhelatan kejuaraan selancar internasional itu diharapkan dapat memberikan dampak ekonomi terhadap kegiatan ekonomi dan pariwisata setempat.

Sementara itu Pemerintah Kota Gunungsitoli, Sumatra Utara, pada ajang Sail NIas 2019. Juga mempromosikan sejumlah objek wisata budaya yang ada di daerah itu. Pemkot Gunungsitoli menggelar Seminar Warisan Budaya yang akan dilaksanakan di kompleks Museum Pusaka Nias, pada 11 - 12 September 2019. Selain seminar mereka juga mengadakan tur budaya.

Pada tur budaya, para peserta seminar yang diperkirakan 150 peserta yang sebagian besar diharapkan dari kedutaan dan konsulat jenderal negara negara sahabat  akan diajak mengunjungi lokasi budaya yang ada di Kota Gunungsitoli.

Lokasi budaya yang akan dikunjungi adalah Museum Pusaka Nias, Desa Adat di Desa Tumori, Kecamatan Gunungsitoli Barat dan Gua Togindrawa di Desa Kolowonu Niko,otano, Kecamatan Gunungsitoli. Selain seminar dan tur budaya, Pemkot Gunungsitoli juga mengdakan festival kopi dan kuliner nusantara.

Kegiatan Sail Indonesia sendiri merupakan ajang tahunan wisata bahari yang telah diselenggarakan sejak 2009. Daerah terakhir yang menjadi tuan rumah penyelenggara Sail Indonesia ini adalah Sumbawa, Nusa Tenggara Barat (NTB) pada September 2018, yaitu Sail Moyo Tambora. Kali ini, giliran Nias yang didapuk sebagai kandidat tuan rumah penyelenggara Sail Indonesia di 2019.

Salah satu atraksi tersebut berasal dari Kabupaten Nias Selatan pada acara Ya'ahowu Nias Festival 2018 yang berlangsung pada 16-20 November 2018 yang dianggap mampu menarik perhatian wisatawan, baik lokal maupun mancanegara.

Sebagai informasi, di Nias selatan terdapat banyak objek-objek wisata menarik, seperti Desa Adat Bawomataluo dan Pantai Sorake. Tak hanya itu saja, desa yang terletak di Nias Selatan tersebut juga menampilkan atraksi budaya yang diwariskan secara turun-temurun oleh para leluhur. Atraksi budaya ini pun sangat terkenal sejak dahulu, yakni atraksi budaya lompat batu atau yang disebut "Hombo Batu".

Selain itu Kepulauan Nias punya potensi wisata bahari yang baik, ombaknya dikenal dunia sebagai spot selancar terbaik. Karenanya Sail Nias kali ini mengangkat tema 'Nias Menuju Gerbang Destinasi Wisata Bahari Dunia". Kegiatan  Sail berlangsung di lima kabupaten dan kota yang ada di Kepulauan Nias selama 3 bulan, dan diisi dengan 18 rangkaian kegiatan.

Sejumlah tempat wisata Bahari di Nias ini patut dijadikan destinasi wisata Anda.

      1. Pulau Asu Nias atau  “The Paradise on Earth”

Wisata Nias yang satu ini menawarkan panorama pantai dan pemandangan bawah laut yang jauh dari polusi dan kebisingan.

Berada di Kecamatan Sirombu, Kabupaten Nias Barat, Sumatra Utara. Wisatawan yang datang ke tempat ini akan dimanjakan dengan pantai pasir putihnya yang bersih dan masih sangat alami. Untuk yang suka diving atau pun snorkeling, ada begitu banyak gugusan terumbu karang lengkap dengan ikan hias dan koral yang siap dijelajah. Untuk yang suka main surfing, tenang saja pantai di Pulau Asu juga punya ombak yang menantang.

      2. Pantai Gawu Sayo, Pantai Pink di Sumatra

Pantai Gawu Soyo yang terdapat di Desa Ombolata, Nias Utara, ini bisa dibilang menjadi salah satu wisata Nias yang unik karena memiliki warna pasir yang tak biasa. Pasirnya berwarna merah atau merah jambu mencolok. Memang sangat jarang ada pantai dengan dengan pasir berwarna pink apalagi di kawasan Sumatra.

      3. Pantai Sorake, The Paradise Island for Surfing

Pantai Sorake menjadi salah satu wisata Nias yang sudah tersohor di kalangan wisatawan mancanegara, terutama bagi penggemar surfing. Pantai dengan ombak yang bisa mencapai 30 meter ini selalu jadi surga tersendiri bagi mereka yang suka menantang diri bergumul dengan ombak. Tak heran juga kalau di Pantai Sorake Nias sempat digelar kejuaraan surfing tingkat internasional.

Tak hanya surga bagi pencinta surfing, Pantai Sorake Nias juga menyajikan pemandangan alam pantai yang luar biasa indah, bersih, dan alami.

      4. Tureloto, Laut Mati-nya Indonesia

Indonesia ternyata juga punya “Laut Mati” yang hampir serupa, tepatnya di Pantai Tureloto, Desa Balefadorotuho, Kecamatan Lahewa, Kabupaten Nias Utara, Sumatra Utara. Di pantai ini kadar garamnya juga tinggi, sehingga wisatawan yang masuk ke laut ini akan mengambang tanpa harus berenang. Uniknya di laut ini masih ada banyak kehidupan laut seperti terumbu karang dan ikan warna-warni.

Panitia sudah menyiapkan infrastruktur untuk Sail ini, Juga akomodasi telah dipastikan  bisa mendukung kegiatan. Bila hotel penuh, homestay dan rumah penduduk siap menampung.

Bagaimana cara menuju Kepulauan Nias?

Ada beberapa alternatif rute pilihan yang bisa kalian coba. Semuanya disesuaikan dengan kondisi keuangan masing-masing.

  1. Jalur Udara

Penerbangan dari Kota Medan yakni Bandara Kuala Namu atau Bandara Silangit  menuju Bandar Udara Gunungsitoli atau Bandar Udara Binaka selama 55 menit penerbangan.

Dari Bandara Soekarno Hatta, langsung ke Bandar Udara Binaka Nias.

Maskapai yang melayani rute dari dan ke Bandara Binaka Nias adalah Maksapai Garuda Indonesia yang langsung melayani Rute Jakarta – Nias, Lion Group yang menerbangkan Wing Air dari Medan atau Silangit dan Susi air.

      2. Jalur Darat dan Laut

Selain melalui jalur udara alias menggunakan pesawat, kita juga bisa menggunakan mobil atau motor ke Nias yakni melalui jalur laut. Rutenya adalah jika dari Kota Medan (ibu kota Provinsi Sumatra Utara) perjalanan bisa ditempuh melalui Jalur Medan – Siantar – Prapat – Balige – Tarutung – Kota Sibolga.

Setibanya dipusat Kota Sibolga, kita tinggal ke pelabuhan penyebrangan feri. Jadwal keberangkatan kapal feri ke Nias biasanya malam hari sekitar pukul 21.00 dan akan tiba di Kota Gunungsitoli Nias sekitar pukul 07.30 pagi, namun terkadang bisa sampai pukul 09.00.

Banyak jenis kapal yang bisa digunakan untuk sampai ke Nias. Ada kapal cepat, kapal Pelni, kapal feri, atau kapal barang. Selain Melalui Kota Gunungsitoli, kapal feri juga melayani Kota Teluk Dalam di Kabupaten Nias Selatan. Harga tiket penyebrangan kapal dari Sibolga ke Nias atau sebaliknya adalah Rp 65.000. (E-2)

Budaya
Sail Nias
Wisata
Ragam Terpopuler
Teh Slawi, Sebuah Ikon Minuman Tradisional Kabupaten Tegal
Konon, ada makna filosofis di balik cara penyajian teh itu. Kehidupan memang selalu pahit di awalnya. Namun jika kita sanggup bersabar diri, kehidupan yang awalnya terasa pahit itu maka lambat laun pa...
Harum Manis Carica Gunung Dieng
Pepaya gunung hanya dibudidayakan di Dieng, Wonosobo. Manisan atau selai carica gunung itu menjadi jajanan eksklusif yang hanya diproduksi di Wonosobo. Selain segar, carica juga punya kisah. ...
Rumah Pohon Korowai dan Tayangan Televisi Global
Booming-nya pemberitaan tentang rumah Korowai yang eksotis selama dua puluh tahun terakhir adalah bagian dari fenomena budaya global yang menginginkan tampilan bergaya "primitif" sebagai ses...
Agama, Sekolah, Bahasa Jembatan Keragaman Etnis Papua
Selain agama dan pendidikan, maka bahasa Melayu (baca: Bahasa Indonesia) juga bisa disebut memiliki dampak transformatif bagi warga Papua. Sebab, berhasil memberikan aspek keseragaman pada realitas fr...
Orang Laut Nusantara; Laut untuk Hidup, Hidup untuk Laut
Banyak sekali peristiwa dalam sejarah yang terjadi di wilayah laut Nusantara, tetapi cenderung diabaikan oleh peneliti sejarah konvensional. ...
Mengintip Wisata di Sekitar Kawasan Calon Ibu Kota Baru
Presiden Joko Widodo  baru saja memutuskan wilayah yang akan dijadikan ibu kota baru Tanah Air. Wilayah tersebut yakni sebagian wilayah Kabupaten Kutai Kartanegara dan sebagian daerah Penajam Pas...
Wisata Religius ke Pulau Mansinam
Mengenang heroisme dan dedikasi total tugas kemanusiaan yang dilakukan kedua Rasul Papua itu, kini sebuah film tengah dibuat. Tak hanya memperlihatkan jati diri peradaban Tanah Papua sebagai Tanah Inj...
9 dari 10 Bahasa Indonesia adalah Asing
"Dalam Bahasa Indonesia bukan saja tercermin kebudayaan imigran, tapi juga manifestasi bahasa Indo. Atau, dengan kata lain, Bahasa Indonesia ialah produk budaya hibrida, sehingga bukan tak mungki...
Dari Odisha hingga Jepara, Keturunan Kalingga di Nusantara
Hanya kekuatan armada laut yang besar yang bisa menjelaskan kemampuan Kerajaan Kalingga menduduki pesisir utara Pulau Jawa. ...
Jalan Hidup Anak-Anak Rohani Pram
Sekalipun Pram baru meninggal 2006, sesungguhnya ia telah meninggal saat karya-karyanya telah selesai ditulis dan diterbitkan. Ya sebagai anak rohani, karya-karya sastra Pram mempunya jalan hidupnya s...