Bahasa | English


PARIWISATA

Menikmati Sensasi The Little Africa of Java

6 December 2019, 05:00 WIB

Dulu, mungkin tak pernah terpikirkan untuk merancang liburan di Banyuwangi. Sebuah kota kecil di ujung Pulau Jawa. Tapi kini, magnet wisata di Banyuwangi cukup kuat dan beragam jenisnya.


Menikmati Sensasi The Little Africa of Java Balai Taman Nasional Baluran. Foto: IndonesiaGOID/Ratna Nuraini

Sebentar lagi adalah masa liburan akhir tahun tiba. Dan kini, wilayah Jawa Timur paling ujung itu telah menyiapkan berbagai kawasan destinasi yang layak untuk dikunjungi, salah satunya adalah Taman Nasional Baluran.

Taman Nasional Baluran memiliki banyak julukan. Di antaranya, sunrise of java atau ada juga yang menyebutnya sebagai Little Africa of Java. Terlepas dari beragam julukan itu, Taman Nasional Baluran itu memang mampu memancarkan pesona alam tersendiri. Apalagi di sana bisa didapati pelbagai macam ekosistem flora dan fauna.

Tapi sebelum mengeksploitasi keindahan dari taman nasional itu, baik kiranya diketahui terlebih dulu letak lokasi wisata alam tersebut. Menuju ke taman nasional itu cukup mudah, karena pintu masuk dekat sekali dengan jalur jalan provinsi Surabaya menuju Banyuwangi.

Taman nasional itu tepatnya berada di sebelah kiri dari arah Surabaya, atau hanya berjarak 35 Km yang setara dengan 1 jam perjalanan dari kota Banyuwangi. Posisinya berada di sebelah kanan jalan provinsi. Secara administratif, taman nasional itu berada di Kecamatan Wongsorejo dari sisi Kabupaten Banyuwangi dan Kecamatan Banyuputih, Kabupaten Situbondo.

Menurut sejarahnya, taman nasional ini diambil dari nama gunung yang berada di daerah itu, yakni Gunung Baluran. Adalah AH Loedeboer, seorang pemburu asal Belanda yang melihat potensi Baluran menjadi kawasan bagi perlindungan satwa, khususnya jenis mamalia besar pada 1928.

Selanjutnya, tepatnya pada 1930 KW Dammerman, Direktur Kebun Raya Bogor, mengusulkan agar kawasan Baluran dijadikan sebagai hutan lindung. Di era kemerdekaan, Menteri Pertanian dan Agraria menetapkan kawasan itu sebagai suaka margasatwa, pada 11 Mei 1962.

Kawasan Baluran kemudian ditetapkan sebagai taman nasional dan penetapan itu sebagai bentuk kepedulian bangsa ini terhadap pelestarian dunia pada 6 Maret 1980. Di taman nasional itu terdapat tipe vegatasi sabana, hutan mangrove, hutan musim hujan, hutan pantai, hutan pegunungan bawah, hutan rawa, dan hutan sepanjang tahun (ever green).

Dalam perbincangan dengan Kepala Taman Nasional Baluran Bambang Sukendro, pada awal Desember 2019, dia menjelaskan bahwa luasan taman itu mencapai 25.000 hektare. Dari total luas itu, khusus kawasan lahan savana mencapai 10.000 hektare.

Situs hayati Taman Nasional Baluran sendiri juga telah ditetapkan sebagai cagar biosfer dunia. Penetapan itu dilakukan dalam sidang internasional Coordinating Council (ICC), Program MAB (Man and The Biospgere) Unesco ke-28 di Lima, Peru, pada 20 Maret 2016.

Demi menarik wisatawan, pengelola Balai Taman Nasional Baluran terus berbenah. Rencananya, pengelola menggandeng pihak swasta demi mengembangkan potensi taman nasional tersebut. Beberapa fasilitas infrastruktur yang akan dikerjasamakan adalah pondok wisata, yang bakal didirikan di dekat Pantai Bama.

“Kerja sama dengan swasta ini ini tujuannya adalah mengoptimalkan potensi infrastruktur yang ada sehingga lebih menarik wisatawan untuk menginap di taman ini. Seingga, diharapkan ada peningkatan pendapatan Taman Nasional Baluran,” tutur Bambang Sukendro, kepada Indonesia.go.id, dalam perbincangan santai di areal savana Taman Baluran, (1/12/2019). (F-1)

Destinasi
Taman Nasional Baluran
Wisata
Ragam Terpopuler
Denys Lombard dan Rekontruksi Sejarah Jawa
Sungguh tak ada satu pun tempat di dunia ini—kecuali mungkin Asia Tengah—yang, seperti halnya Nusantara, menjadi tempat kehadiran hampir semua kebudayaan besar dunia, berdampingan atau leb...
Bajau dalam Satu Tarikan Nafas
Guillaume yang berpakaian selam hasil teknologi maju seperti sesosok "alien" di antara dua pemuda yang menyelam hanya bercelana pendek tanpa baju. ...
Untung Surapati, antara Cinta dan Tragedi
Ada cinta sejati terpatri sangat kuat, juga kisah tragis mengharu biru. Selain heroisme, cinta, dan tragedi inilah tampaknya membuat kisah Untung Surapati melegenda dan sekaligus lekat di hati masyara...
Puas Nikmati Durian di Taman Botani Sukorambi
Bila kebetulan berada di Jawa Timur bagian Timur, mampirlah ke destinasi wisata favorit Taman Botani Sukorambi, Jember, Jawa Timur. Di sana selain bisa berekreasi dengan berbagai wahana edukasi, kita ...
Kawin Antarbangsa
Sekalipun seorang bumiputera yaitu Untung Surapati dijadikan sebagai pelaku utama dalam romannya, Dari Boedak Sampe Djadi Radja, sayangnya pilihan judul itu terkesan menyempitkan makna akan kisah Sura...
Rekayasa Air, Kunci Kejayaan Kahuripan
Begitu pembangunan infrastruktur fisik selesai, Airlangga melanjutkan dengan pembangunan infrastruktur kerohanian masyarakat Kahuripan. ...
Di Kaltim Ada Juga Akar Bajakah Penyembuh Kanker Payudara
Etnis Dayak di Pulau Kalimantan menyebut pohon ini dengan nama bajakah. Pohon bajakah tumbuh di seluruh hutan di Pulau Kalimantan (Kalteng, Kalbar, Kalsel, Kalut, dan Kaltim). Bajakah ternyata ju...
Kemanusiaan di dalam Gerak; Ketika Suprapto Telah Berhenti
Sepanjang karirnya yang membentang sejak paruh akhir 60-an, Suprapto menekuni jalan kemanusiaannya dengan menekuni apa yang dia suka. Seperti orang yang jatuh cinta dengan tubuhnya, Suprapto terus men...
Sejarah Rekayasa Air dalam Prasasti Tugu
Catatan paling tua dia dapatkan dalam inskripsi yang terdapat pada Prasasti Tugu. Prasasti ini menurut para arkeolog berasal dari sekitar abad ke-5 Masehi. ...
Sang Legenda Jawa
Kata ‘surapati’, baik dalam bahasa Jawa Kuno maupun Jawa Baru, memiliki makna ‘raja dewa’. Bermaksud mengabadikan nama legendaris ini, Taman Burgemeester Bisschopplein&nbs...