Bahasa | English


WISATA BAHARI

Menikmati Surga Bahari di Atas Pinisi

25 March 2020, 09:07 WIB

Pesona tujuh layar kapal pinisi sulit diingkari. Sosoknya instagramable. Wisata berlayar dengan pinisi kini berkembang di Labuan Bajo, Raja Ampat, Bali, dan Pulau Seribu Jakarta.


 Menikmati Surga Bahari di Atas Pinisi Kapal-kapal pinisi yang dialihfunngsikan sebagai hotel berlabuh di pelabuhan Labuhan Bajo. Foto : Bismo Agung

Pinisi adalah karya tangan Suku Bugis dari Provinsi Sulawesi Selatan.  Orang-orang Bugis dikenal ahli membuat kapal dan melaut. Mereka disegani sebagai pelaut yang tangguh. Selama berabad-abad Pinisi mengarungi lautan hingga Malaka, Burma, Vietnam, dan Australia. Tujuh helai layar pada Pinisi menunjukkan makna bahwa nenek moyang Bangsa Indonesia mampu mengarungi tujuh samudera besar di dunia.

 

Berpesiar dengan Pinisi

Mengarungi keindahan alam laut, seraya memanjakan diri seperti di dalam ruang hotel berbintang, tidak berarti harus memllih kapal pesiar besar. Ada pilihan lain yang lebih simpel, memanjakan diri di dalam kapal pesiar pinisi di Perairan Labuan Bajo, Manggarai Barat, Flores, Nusa Tenggara Timur.

Sejumlah kapal pinisi, dengan hampir seluruh badannya terbuat dari kayu, kini ditawarkan sebagai perahu pesiar. Ukurannya tidak terlalu besar. Panjangnya anatara 28 – 40 meter dengan lebar lambung sekitar 7 meter.

Memang, tak ada paket pesta dansa, grand dinner, atau pertunjukan musik dan kabaret di perahu pinisi itu. Tapi, di situ ada opsi yang menarik. Para tamu dapat  duduk di geladak sambil menikmati gemericik suara laut. Bila cuaca mengizinkan, mereka bisa melakukan snorkling, diving, dan mancing. Kapal pinisi  biasanya melayani satu, dua, atau tiga (rombongan). Pelayaran pun terasa lebih pribadi.

Salah satu yang menawarkan paket wisata pinisi di Labuan Bajo ialah PT Pelita Indonesia Djaja, anak perusahaan PT Pelni, Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang menjalankan usaha layanan pelayaran nasional. Perusahaan ini mengoperasikan beberapa unit, satu di antaranya pinisi cantik Arunika yang selalu siap melayari Perairan Barat Flores.

Arunika baru diluncurkan pada Juli 2019. PT Pelita Indonesia Djaja sendiri menawarkan sejumlah paket wisata. Untuk paket perjalanan satu hari (one day trip) harganya Rp950.000 per orang. Wisatawan bisa berlayar menuju Pulau Komodo, Pulau Padar, Pantai Pink, dan snorkling. Untuk paket dua hari satu malam tarifnya Rp2.600.000 per orang. Dengan harga tersebut, wisatawan sudah bisa berlayar menuju Pulau Bidadari, Pulau Komodo, Pulau Kalong Rinca, dan snorkling.

Pada paket tiga hari dua malam, wisatawan dikenai tarif Rp4.100.000 per orang. Dengan biaya itu, para pelancong sudah dapat mengunjungi Pulau Kelor, Pulau Rinca, Pulau Kalong Rinca, Pulau Padar, Pulau Komodo, Pantai Pink, Gili Laba, Manta Poin, Pulau Sembilan, Pulau Kanawa, dan snorkling. Plus menikmati suasana malam di kapal pinisi. Harga tersebut sudah termasuk untuk makan, pemakaian semua fasilitas kapal, tiket masuk ke sejumlah destinasi di sepanjang jalur wisata yang dilewati pinisi dan tentu saja asuransi.

Seperti pinisi pada umumnya, Arunika memiliki dua tiang layar utama serta  tujuh buah layar, yaitu tiga di ujung depan, dua di depan, dan dua di belakang. Seluruh konstruksinya dari batang  kayu ubit dan kayu ulin. Untuk ukuran panjang 40 meter, kapal pinisi ini dapat membawa 40 orang wisatawan dan awak kapal.

Sebagai sebuah kapal wisata, geladak pinisi umumnya setinggi tiga meter dari muka air laut. Palka di bawah dek dijadikan tempat penyimpanan logistik, termasuk air bersih, ruang generator listrik, dan mesin. Meski memiliki layar yang  fungsional, gerak pinisi ini juga didorong oleh baling-baling yang diputar oleh mesin diesel.

Di atas geladak ada kabin bersusun dua. Kabin bawah sebagian difungsikan sebagai kamar untuk kru, dan sebagian lagi untuk kamar wisatawan. Di atasnya ada kabin-kabin khusus untuk wisatawan. Atap kabin atas itu juga difungsikan sebagai balkon terbuka, untuk penumpang mengadakan acara bersama, bercengkerama, bersantap bersama, menyaksikan panorama laut, atau menikmati udara malam sambil memandang bintang-bintang .

Lantai dek di bagian depan juga difungsikan sebagai tempat kumpul-kumpul. Ada atap kain terpal yang melindungi penumpang ketika panas terik atau hujan. Bila hujan turun jamuan malam digelar  di situ. Acara karaoke atau organ tunggal biasa pula dilakukan di situ.

Untuk ukuran sekelas Kapal Arunika, kamarnya tak lebih dari 10 unit. Satu atau dua kamar utama dilengkapi dengan tempat tidur double berukuran lebar 160 cm. Kamar standar hanya berisi satu bed selebar 100 cm. Semua kamar dilengkapi mesin pendingin ruangan (AC) dan kamar mandi. Bahan kayu yang membangun kabin itu membuat situasi temperatur kabin sejuk meskipun AC tak dinyalakan.

Ada pula kapal yang hanya mengoperasikan dua atau tiga kamar tidur, dan selebihnya bangsal tidur rame-rame (sharing room) dengan enam hingga delapan bed dan dua kamar mandi bersama. Tipe ini cocok digunakan untuk rombongan. Perkara harga, sudah tentu unit kamar dengan satu tempat tidur akan lebih mahal dibandingkan sharing room.

Dalam perjalanannya, para wisatawan umumnya menghabiskan waktu lebih banyak di dek bagian depan. Di situ para wisatawan biasa berbagi cerita dengan kru  kapal. Ingin mancing ikan? Tinggal meminta kru, alat pancing disediakan. Ingin berenang, snorkling, diving? Siapkan perkakasnya dan kapten kapal akan membuang sauh di spot yang aman untuk tamunya menikmati laut Flores barat, yang selalu jernih dan biru itu.

Bagi yang tidak mahir berenang, kru pinisi sudah menyiapkan life jacket atau pelampung agar tamu tetap bisa menikmati sensasi berenang serta snorkeling di laut, tentunya di dekat pinisi bersandar. Para kru akan mendampingi dan mereka terlatih. Kru pinisi sudah menyiapkan tangga bertali agar wisatawan mudah naik ke atas dek. Bisa juga melalui buritan, karena di situ ada tangga permanen.

Kapal pinisi ini dikendalikan dari ruang nakhoda yang letaknya di kabin atas bagian depan. Di situ nakhoda dan mualim bekerja menghela kapal. Di ruang ini pula seluruh aktivitas pelayaran dihela.  Meski hanya kapal kayu, perlengkapan yang tergelar di ruang kendali ini terbilang canggih karena dilengkapi layar kecepatan kapal, radar cuaca, serta alat komunikasi dengan darat.   

Belakangan, wisata pinisi itu menjadi pilihan para pelancong di Labuan Bajo. Keindahan Sang Pinisi, kapal tradisional warga  Bugis, mudah membuat wisatawan jatuh hati. Di dermada menjelang naik kapal, mereka umumnya sudah swafoto. Mau naik tangga swafoto lagi, di geladak swafoto kian menjadi-jadi. Pinisi adalah wahana yang teramat instagramable.

Paket wisata pinisi ini memang makin mengokohkan industri wisata Indonesia sebagai kawasan bahari. Pelayaran wisata pinisi mulai tumbuh di Nusa Penida Bali, kawasan Raja Ampat di Papua Barat,  serta di  Kepulauan Seribu DKI Jakarta. Banyak operator pinisi yang menawarkan sensasi berlayar dengan perahu kayu buatan rakyat di Bulukumba, Sulawesi Selatan ini.

Dengan harga yang jauh di bawah tarif berwisata dengan kapal pesiar, yang bisa mencapai belasan bahkan puluhan juta rupiah, sensasi pinisi sudah tentu akan sangat berbeda. Tapi Anda harus memesan paketnya sejak jauh hari, karena selain keterbatasan kapasitas penumpang di kapalnya, operator pinisi umumnya sudah memiliki jadwal berlayar yang padat.

Tapi tak perlu khawatir. Jika tak ingin mengikuti jadwal yang disiapkan operator, Anda pun bisa menyewa pinisinya secara khusus, misalnya hanya untuk rombongan atau keluarga. Bayangkan jika anda melakukan hal yang sama dengan kapal pesiar. Berapa banyak dana yang harus disiapkan untuk menyewa satu kapal pesiar hanya untuk dipergunakan oleh Anda.

 Kini sudah banyak turis mancanegara yang merasakan sensasi berwisata dengan pinisi, kapal kayu Indonesia yang merupakan Warisan Budaya Dunia Takbenda dari UNESCO, lalu kapan giliran Anda? 

 

Penulis: Anton Setiawan
Editor: Putut Tri Husodo/Ratna Nuraini/Elvira

Berenang
Kapal Pesiar
Kapal Pinisi
Laut
Wisata
Wisata Laut
Ragam Terpopuler
Revitalisasi Pasar Berbasis Kearifan Lokal
Empat pasar rakyat di empat kabupaten dibangun ulang oleh pemerintah sesuai dengan keselarasan lingkungan yang mempertahankan nilai-nilai kearifan lokal di masing-masing daerah. Satu di anta...
Cuaca Ekstrim di Sekitar Dedaunan
Hamparan embun es yang instagramable kembali hadir di Dieng. Misteri suhu ekstrim dekat permukaan tanah belum terjelaskan. Namun ada bukti bahwa bakteri es bisa mensimulasi terjadinya kristal es (fros...
Si Klepon Naik Daun
Saat ini, jajanan pasar ini tidak kalah populer dengan kue dan roti modern berjejaring dari Prancis, Jepang, atau Korea Selatan. ...
Mengawal Keuangan Negara di Tengah Covid-19
Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) memaksimalkan penggunaan teknologi informasi untuk mengatasi kendala pemeriksaan. Bahkan untuk cek fisik, mereka memakai drone dan google maps live. ...
Memompa Semangat Juang di Ruang Publik
Penanganan Covid-19 memasuki babak baru. Solusi kesehatan dan ekonomi dikedepankan secara simultan. Strategi komunikasi sepertinya mengarah ke aksi best practice di tengah musibah. ...
Menanti Produksi Massal CoronaVac di Tanah Air
Secercah harapan kembali menyeruak di tengah serangan pandemi Covid-19. Vaksin yang dikembangkan SinoVac akan diuji klinis fase III di tanah air pada Agustus 2020. ...
Ketika Indeks e-Government Indonesia Naik 19 Peringkat
Komitmen pimpinan pada instansi pemerintah merupakan hal penting dalam melakukan perbaikan yang kontinu untuk mewujudkan peningkatan SPBE secara menyeluruh. ...
Mystery Shopper untuk Layanan Kependudukan Lebih Baik
Direktorat Jenderal (Ditjen) Kependudukan dan Catatan Sipil (Dukcapil) Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) membentuk tim penyamar untuk mengecek pelayanan publik layanan kependudukan di 34 provinsi....
Uji Klinis Berhasil, Akankah jadi Oase di Tengah Gurun?
Dari balik tembok perusahaan bioteknologi di Massachusetts, AS, kabar baik dihembuskan. Uji coba vaksin Covid-19 dinyatakan manjur dan tidak berefek samping serius. ...
Titik Rawan Tangsi Tentara
Dua kluster Covid-19 muncul dari tangsi militer. Gubernur Ridwan Kamil meyakini, tradisi disiplin yang tinggi membuat kluster itu tak meluas. ...