Bahasa | English


KOLEKSI PUSTAKA

Museum Radya Pustaka Masih Menyimpan Hadiah dari Napoleon Bonaparte

15 November 2019, 01:09 WIB

Museum tertua di Jawa, Radya Pustaka, menyimpan informasi penting berupa artefak-artefak Jawa dari masa lalu. Kanjeng Adipati Sosroningrat IV pada 28 Oktober 1890 membangun Radya Pustaka, yang dengan kesadarannya menyimpan peninggalan para leluhur sehingga dapat membantu kita untuk mengerti kondisi sosial budaya masyarakat Jawa hari ini.


Museum Radya Pustaka Masih Menyimpan Hadiah dari Napoleon Bonaparte Museum Radya Pustaka. Foto: Indonesia Karya

Bangunan museum kuno ini terletak di jalan Slamet Riyadi, jalan utama yang membelah kota Solo dari timur ke barat. Di masa lalu jalan ini sebagai batasan wilayah hukum dua kerajaan peninggalan Mataram yaitu Kraton Kasunanan dan Kraton Mangkunegaran. Radya Pustaka menyimpan koleksi - koleksi Kraton Kasunanan dan terletak di samping Taman Sriwedari yang pernah menjadi pusat hiburan warga Solo tempo dulu.

Koleksi Radya Pustaka sebelum ditempatkan di bangunan sekarang, pernah disimpan di dalam rumah Kanjeng Adipati Sosroningrat IV yang pernah menjabat patih atau orang nomor dua dari Raja Pakubuwono ke-9 dan 10. Belakangan semua koleksi dipindah ke Loji (rumah) Adipolo bekas rumah seorang warga Belanda bernama Johannes Busselaar sejak 1 Januari 1913 hingga sekarang.

Saksi Sejarah Kerajaan Mataram

Di Museum Radya Pustaka kita dapat belajar tentang sejarah Kerajaan Mataram kuno dan Islam. Dua masa dari dua dinasti kerajaan yang menguasai wilayah pulau Jawa. Menurut sejarah di pulau Jawa pernah dikuasai dinasti kerajaan besar salah satunya adalah Kerajaan Mataram yang meninggalkan dinastinya di wilayah Yogyakarta dan Surakarta.

Koleksi benda-benda bersejarah seperti arca, manuskrip, buku-buku, pusaka adat, wayang kulit kuno masa Mataram juga dapat dilihat di museum ini. Ikon utama Radya Pustaka adalah patung Raden Ronggowarsito, seorang Pujangga Kraton Surakarta dari abad 19 yang terletak di pintu masuk halaman museum. Bisa jadi inisiator pengumpul artefak-artefak di museum ini adalah Ronggowarsito karena predikatnya sebagai orang pintar (pujangga) di zamannya.

Koleksi-koleksi Penting

1. Buku Kuno

Wulang Reh karangan Pakubuwono IV yang isinya antara lain mengenai petunjuk pemerintahan. Serat Rama karangan Pujangga Keraton Surakarta bernama Yasadipura I yang menceritakan tentang Ramayana. Babad Tanah Jawi Pararaton, Kawruh Empu (buku tentang keris), Jawa Carik, dan lain-lain.

2. Manuskrip

Terdapat berbagai naskah kuno yang ditulis pada media kayu dengan huruf Jawa Kuno, Sansekerta dan Bali. Koleksi ini sekarang bisa dinikmati lewat perangkat digital setelah pihak pengelola melakukan digitalisasi terhadap manuskrip dan buku koleksinya.

3. Pusaka Adat

Rajamala, sebuah patung kepala raksasa yang terbuat dari kayu, hasil karya Pakubuwono V ketika dia masih seorang putra mahkota. Patung tersebut jumlah sebenarnya adalah dua: yang satu lainnya disimpan di Keraton Surakarta. Patung ini ialah hiasan depan sebuah perahu yang dipakai untuk mengambil permaisuri Pakubuwono IV yang berasal dari Madura. Selain itu ada juga koleksi berbagai senjata tradisional dari beberapa daerah dan keris senjata khas Jawa. Juga beberapa senjata bermesiu seperti meriam dan senapan kuno.

4. Arca-arca

Berbagai arca ukuran besar dan mini peninggalan Mataram Kuno banyak ditemukan di Radya Pustaka. Mulai dari halaman depan sampai teras museum kita dapat menemukan Arca Ganesha, Siwa Mahadewa, Durga Mahisasuramardini (dewi bertangan delapan), dan Kartikeya (relief dewa yang mengendarai Mayura/burung merak). Menurut keterangan yang ditempel di badan arca, artefak ini peninggalan abad 7-10 Masehi.

Di dalam museum di ruang pamer arca juga banyak ditemukan arca-arca mini antara lain: Dewi Sri, Kasyapa, Dewi Tara, Avalokitesvara, Dewi Saraswati, Bodhisatwa, Dewi Cunda, Siwa Mahadewa.

5. Rupa-rupa Benda Kuno

Di museum ini kita juga dapat melihat koleksi keramik kuno antara lain piring, gelas, guci. Juga beberapa jenis furniture seperti kursi, meja dari batu marmer, aksesoris pakaian kuno seperti topi dan aneka blangkon dan wayang kulit. Satu koleksi yang menarik, Radya Pustaka masih menyimpan kotak musik buatan Perancis berhiaskan bunga-bunga dimana di bagian atasnya menancap burung kecil. Konon hadiah pemberian dari Raja Perancis Napoleon Bonaparte kepada Raja Pakubuwono ke-4. (K-SB)

Wisata
Ragam Terpopuler
Kominfo-Gojek Perluas Akses PeduliLindungi
Aplikasi Gojek menargetkan mampu menyumbang satu juta unduhan PeduliLindungi hingga enam bulan ke depan. ...
Aksesoris Tutul Menembus Pasar Dunia
Dinobatkan menjadi salah satu desa produktif di Indonesia, hasil karya tangan-tangan warga Desa Tutul Kabupaten Jember mampu hasilkan ratusan juta rupiah dalam sebulan. ...
Anak Pekerja Migran Berbagi Sayang di Tanah Lapang
Anak-anak buruh migran bisa berekspresi, orang tua juga bisa berkreasi. Tanoker menjadi wadah keceriaan dan kebahagiaan. ...
Perjuangan Gordon Ramsay Memasak Rendang
Juru masak kelas dunia, Gordon Ramsay sukses mengeksplorasi kekayaan kuliner, budaya, dan keindahan alam Minangkabau. Ia pun memasak rendang yang lamak bana. ...
BLC, Senjata Pemerintah Melawan Corona
Aplikasi BLC tak hanya berguna untuk pemerintah dan masyarakat, melainkan juga untuk petugas kesehatan. ...
Mengenali Likupang untuk Kemudian Jatuh Cinta
Destinasi wisata di Provinsi Sulawesi Utara tak hanya Bunaken. Sejumlah pantai berpasir putih dan berair jernih ada di kawasan Likupang. ...
Akasia Berduri, Dulu Didatangkan, Kini Jadi Ancaman
Akasia berduri bukanlah tanaman asli Taman Nasional (TN) Baluran, Kabupaten Situbondo, Jawa Timur. Ia didatangkan dari Kebun Raya Bogor untuk keperluan sekat bakar. Tapi sekarang, flora itu malah berk...
Ventilator Karya Anak Bangsa Siap Diproduksi Massal
Pandemi corona membuat otak-otak kreatif bekerja. Hanya dalam waktu tiga bulan, anak-anak bangsa bisa menghasilkan produk inovasi yang bermanfaat. ...
Kepak Sayap Garuda Menjaga Janji Damai di Negeri Bertikai
Peperangan bisa saja meletus dengan segera, bila saja para pria berseragam pasukan perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) itu tidak dengan gagah berani menghadang laju tank yang siap memuntahkan ...
Tenun Sesek, Syarat Menikah Perempuan Sasak
Di dalam adat masyarakat Sasak Provinsi Nusa Tenggara Barat, menenun kain Sesek hanya diajarkan kepada anak perempuan.  Bahkan di sana, seorang perempuan belum boleh menikah jika belum mampu memb...