Bahasa | English


PARIWISATA

Napak Tilas Situs Manusia Kerdil di Gua Liang Bua

30 December 2019, 03:50 WIB

Ada hobbit dari Flores! Itu yang sering terlontar bagi wisatawan lokal yang berkunjung ke Gua Liang Bua, Flores.


Napak Tilas Situs Manusia Kerdil di Gua Liang Bua Liang Bua Ruteng. Foto: Pesona Indonesia

Keindahan yang dimiliki oleh Nusa Tenggara Timur (NTT), memang tidak diragukan lagi. Melancong ke Nusa Tenggara Timur rasanya tak melulu harus datang ke destinasi yang sudah sering dikunjungi oleh wisatawan lokal atau mancanegara. Potensi pariwisata yang dimiliki NTT memang luar biasa dan digadang-gadang menjadi “The Next Bali”. Banyak juga yang memberi julukan “NTT adalah Surga Indonesia” atau “NTT Seperti Dunia Lain di Nusantara” . Tak heran bila majalah Focus dari Jerman menyebutkan bahwa Nusa Tenggara Timur sebagai pulai terindah di dunia.

Provinsi ini menyimpan begitu banyak keajaiban termasuk destinasi wisata yang eksotis di Pulau Timor serta bukit berwarna Khalebamadja di Sabu Raijua, apalagi transportasi ke NTT sudah tidak mengalami hambatan sama sekali. Salah satu pulau yang menyimpan banyak keindahan NTT adalah Pulau Flores. Banyak hal-hal menarik yang akan kita temukan dari pulau yang satu ini, begitu juga dengan Oleh-oleh khas nya seperti kopi Flores dan kain Tenun yang sudah dikenal oleh masyarakat luas.

Kopi khas pulau Flores ini memiliki cita rasa yang unik dan lezat sehingga kita tidak akan menemukannya di kopi-kopi pada umumnya sehingga kopi ini seringkali digunakan sebagai oleh-oleh, begitu juga dengan kain tenunnya. Selain itu, Pulau Flores juga terdapat situs purbakala yang sangat indah dan menarik untuk dikunjungi oleh wisatawan. Gua Liang Bua. yang berlokasi di Dusun Rampasasa, Desa Liangbua, Kecamatan Ruteng, Kabupaten Manggarai, Flores merupakan salah satu situs arkeologi penting dunia.

Tentu ini sangat menarik! Di gua inilah ditemukan fosil Homo Floresiensis. Yang membuatnya unik adalah, banyak penelitian menunjukkan manusia purba yang ditemukan berukuran kecil atau kerdil. Pada 2001 ditemukan fosil yang hanya memiliki tinggi 100 cm dengan berat yang diperkirakan hanya 25 kg. Informasi tersebut merupakan hasil penelitian yang dilakukan tahun 2001 yang merupakan kerjasama antara University of New England, Australia dengan Arkeolog Nasional. Manusia purba yang ada di gua ini memang mencuri perhatian dunia arkeologi karena dari berat dan tingginya mirip Hobbit.

Fosil ini ditemukan pada 2003 yang membuat nama Gua Liang Bua menjadi dikenal seluruh dunia. Nama Liang Bua sendiri diambil dari bahasa Manggarai berarti gua atau lubang sejuk.  Gua ini adalah gua karst yang terbentuk karena proses cuaca. Gua ini menjadi tempat tinggal bagi manusia Homo Floresiensis atau Hobbit dari Flores, ini terlihat dengan ditemukan potongan rangka, rahang bawah, perkakas bekas Homo Erectus, serta sisa-sisa tulang Stegodon (gajah purba) kerdil, biawak raksasa, serta tikus besar. Hampir semua lapisan yang mengandung temuan tersebut berusia antara 95.000-12.000 tahun silam. Tidak mengherankan arkeolog dari Belanda, Inggris, dan Indonesia menjadikan gua ini sebagai tempat penggalian dan penelitian sejak 1930-an.

Bila dari geologi, gua ini bentukan endokars yang berkembang pada batu gamping. Bentukan endokars itu berselingan dengan batu gamping pasiran. Batuan gamping itu diperkirakan berasal dari periode Miosen tengah atau sekitar 15 juta tahun yang lampau. Situasi di dalam gua yang memiliki ukuran tinggi atap bagian dalam 25 meter, lebar 40 meter, dan panjang 50 meter. Lokasinya berada di sekitar 200 meter dari pertemuan Sungai Wae Rancang dan Wae Mulu. Dari dua sungai inilah temuan batuan artefak dan arteak batu, seperti rijang, kalsedon dan tufa kersikan.

Dari uji laboratorium sampel sediman di pojok selatan Gua Liang Bua terbentuk dari 190.000 tahun silam. Gua ini terbentuk dari bebatuan yang terbawa arus sungai hingga terbentuk gundukan bukit. Dari dalam gua anda juga dapat melihat stalaktit yang menawan menjuntai di langit-langit gua. Pemandangan ini dapat dinikmati dengan mudah karena gua ini dijadikan tempat wisata dan tempat penelitian kelas internasional.

Sulit dan Menantang

Bila ingin pergi ke lokasi ini, pengunjung bisa melalui Kota Kupang, NTT, lalu dilanjutkan naik pesawat dengan waktu tempuh 90 menit menuju Kota Ende, Pulau Flores. Perjalanan dilanjutkan menuju Kota Ruteng menggunakan angkutan umum, seperti minibus selama 4 jam. Setiba di Ruteng, anda dapat melanjutkan kembali menuju Rampasasa dengan jarak 13 kilometer dengan menggunakan angkutan umum.

Jalan menuju ke lokasi bisa dikatakan sempit dan hanya muat satu mobil. Selain itu, jalurnya juga ekstrem karena banyak belokan dan bukit-bukit. Namun, kesulitan itu akan terbayar dengan pemandangan cantik Gua Liang Bua. Disarankan untuk mengunjungi gua unik ini, lebih baik berjalan kaki bila memang sudah tiba di dekat lokasi. Saat menampaki gua, kamu seakan diajak masuk kelingkungan manusia purba, membayangkan kehidupan mereka berpuluh ribu tahun lalu. Kamu bisa melihat gua besar dengan batu stalagmit, mebayangkan gajah purba, komodo, dan manusia pendek (Homo floresiensis) pernah tinggal. Dekat Liang Bua, ada gua-gua lain seperti Gua Galang dan Gua Tanah. Kamu juuga bisa lo bertualang ke gua tersebut. (K-GR)

Warisan Budaya
Wisata
Ragam Terpopuler
Denys Lombard dan Rekontruksi Sejarah Jawa
Sungguh tak ada satu pun tempat di dunia ini—kecuali mungkin Asia Tengah—yang, seperti halnya Nusantara, menjadi tempat kehadiran hampir semua kebudayaan besar dunia, berdampingan atau leb...
Bajau dalam Satu Tarikan Nafas
Guillaume yang berpakaian selam hasil teknologi maju seperti sesosok "alien" di antara dua pemuda yang menyelam hanya bercelana pendek tanpa baju. ...
Untung Surapati, antara Cinta dan Tragedi
Ada cinta sejati terpatri sangat kuat, juga kisah tragis mengharu biru. Selain heroisme, cinta, dan tragedi inilah tampaknya membuat kisah Untung Surapati melegenda dan sekaligus lekat di hati masyara...
Puas Nikmati Durian di Taman Botani Sukorambi
Bila kebetulan berada di Jawa Timur bagian Timur, mampirlah ke destinasi wisata favorit Taman Botani Sukorambi, Jember, Jawa Timur. Di sana selain bisa berekreasi dengan berbagai wahana edukasi, kita ...
Kawin Antarbangsa
Sekalipun seorang bumiputera yaitu Untung Surapati dijadikan sebagai pelaku utama dalam romannya, Dari Boedak Sampe Djadi Radja, sayangnya pilihan judul itu terkesan menyempitkan makna akan kisah Sura...
Rekayasa Air, Kunci Kejayaan Kahuripan
Begitu pembangunan infrastruktur fisik selesai, Airlangga melanjutkan dengan pembangunan infrastruktur kerohanian masyarakat Kahuripan. ...
Di Kaltim Ada Juga Akar Bajakah Penyembuh Kanker Payudara
Etnis Dayak di Pulau Kalimantan menyebut pohon ini dengan nama bajakah. Pohon bajakah tumbuh di seluruh hutan di Pulau Kalimantan (Kalteng, Kalbar, Kalsel, Kalut, dan Kaltim). Bajakah ternyata ju...
Kemanusiaan di dalam Gerak; Ketika Suprapto Telah Berhenti
Sepanjang karirnya yang membentang sejak paruh akhir 60-an, Suprapto menekuni jalan kemanusiaannya dengan menekuni apa yang dia suka. Seperti orang yang jatuh cinta dengan tubuhnya, Suprapto terus men...
Sejarah Rekayasa Air dalam Prasasti Tugu
Catatan paling tua dia dapatkan dalam inskripsi yang terdapat pada Prasasti Tugu. Prasasti ini menurut para arkeolog berasal dari sekitar abad ke-5 Masehi. ...
Sang Legenda Jawa
Kata ‘surapati’, baik dalam bahasa Jawa Kuno maupun Jawa Baru, memiliki makna ‘raja dewa’. Bermaksud mengabadikan nama legendaris ini, Taman Burgemeester Bisschopplein&nbs...