Lokasi Kamu : (Showing) Jakarta Kota
Bahasa | English


WISATA NUSANTARA

Negeri Asal Budaya Minangkabau Jadi Desa Terindah di Dunia

Thursday, 25 April 2019

Keindahan Desa Nagari Tuo di Indonesia berhasil menyabet gelar desa terindah di dunia versi Majalah Budget Travel dengan kategori World’s Most Picturesque Villages pada tanggal 23 Februari 2012.


Negeri Asal Budaya Minangkabau Jadi Desa Terindah di Dunia Rumah Gadang Minangkabau. Sumber foto: Pesona Indonesia

Majalah bergengsi dari New York Amerika Serikat ini, menyandingkan Nagari Tuo Pariangan Sumatera Barat dengan 15 desa lainnya. Diantaranya Desa Wengen di Swiss, Eze di Prancis, Niagara on the Lake di Kanada, dan Cesky Krumlov di Cekodengan.

Dalam Bahasa Indonesia kata “Nagari” berarti desa, dan kata “Tuo” berarti tua atau kuno. Nagari Tuo yang berada di Kecamatan Pariangan menjadi desa kuno dan dipercaya sebagai cikal lahirnya sistem pemerintahan khas masyarakat Minangkabau. Hal ini karena dilihat dari banyaknya peninggalan sejarah berupa prasasti, menhir, batu tigo luak, dan lainnya. Keasrian dan warisan leluhur yang masih terjaga dengan baik, menjadi kriteria penilaian desa ini menjadi desa terindah di dunia.

Secara administratif, Nagari Tuo Pariangan memiliki luas sekitar 17,92 kilometer persegi. Untuk menuju kesana, perlu menempuh jarak sekitar 14 kilometer dari Kota Batusangkar Kabupaten Tanah Datar, atau menempuh waktu sekitar 3 jam jika berangkat dari Kota Padang, Ibukota Provinsi Sumatera Barat.

Mengunjungi Nagari Tuo Pariangan akan melihat pemandangan yang memanjakan mata. Paling populer yakni Rumah Gadang, rumah tradisonal khas Minangkabau masih banyak dapat kita temukan di sini. Bahkan beberapa diantaranya tetap berdiri kokoh meskipun telah berusia ratusan tahun. Antara satu rumah dengan rumah yang lain, dihubungkan dengan Undakan. Undakan merupakan tangga bertingkat-tingkat penghubung antar rumah.

Bangunan yang paling menonjol lainnya yakni Masjid Tuo Minangkabau, dengan nama lain Masjid Al-Ishlah. Uniknya, masjid ini dibangun pada abad 19, menjadi tempat ibadah agama Islam pertama di tanah Minang. Bahkan menjadi sentral kegiatan masyarakat yang terkenal memegang teguh nilai agama.

Banyak sekali spot lainnya yang menarik dikunjungi sebagai objek wisata di Nagari Tuo Pariangan, seperti Kuburan Panjang Datuak tantejo Guhano, Balai Saruang, Air Terjun Najun, Lasuang Gadang, dan Prasasti dengan huruf Palawa dan bahasa Sanskerta yang bernama Batu Basurek.

Soal kuliner Nagari Tuo Pariangan tidak perlu diragukan. Sumatera Barat yang merupakan wilayah domisili etnis Minang punya masakan khasnya “Rendang Daging”, yang berhasil menempati posisi pertama sebagai World Best Foods Readers Choice versi CNN Travel.

Aktivitas khas masyarakat Nagari Tuo Pariangan sebagian besar hidup di bidang pertanian. Tak heran jika masih banyak perkebunan dan persawahan yang hijau, menambah ketenangan dalam menikmati pemandangan di Nagari Tuo Pariangan.

Tidak sedikit juga masyarakat desa ini berada pada perantauan, berkutat di bidang perniagaan. Karena Etnis Minang juga merupakan pewaris kerajaan Melayu dan kerajaan Sriwijaya yang gemar berdagang.

Warisan sejarah, budaya, kuliner, hingga tata letak pemukiman dihiasi persawahan Nagari Tuo Pariangan berhasil mengikat perhatian dunia. Semakin bangga jadi masyarakat Indonesia, negeri penuh kekayaan alam, berjuta sejarah dan budaya. (K-MP)

Wisata
Ragam Terpopuler
Bekantan, Bertahan dari Kepunahan
Di lokasi bernama Kawasan Konservasi Mangrove dan Bekantan (KKMB) Kota Tarakan yang sejak tahun 2006 wilayahnya diperluas menjadi 22 hektar, jumlah populasi bekantan tak lebih dari 30 ekor. ...
Batang Hari Sembilan, Ibu Suku dan Marga
Budaya Palembang berkembang di sepanjang Musi dan anak-anak sungainya, wilayah budaya yang disebut Batang Hari Sembilan. Budaya sungai itu melahirkan banyak suku dan marga. ...
Buddhisme, antara Sriwijaya dan Borobudur
Adanya korelasi kuat dan khusus antara Buddha di Sriwijaya dan Syailendra inilah, kata kunci di balik pembangunan Borobudur. Kekayaan gabungan antara Jawa dan Sumatra inilah menurut interpretasi Berna...
Sejarah Tari Sunda dan Riwayat Pak Kayat
Saat mengiringi tari pergaulan yang populer di kalangan "Menak" (priyayi), Abah Kayat diakui keahliannya oleh Dalem Bandung. ...
Hikmah Ritual Waisak
Dalam arti keberadaan "tuhan personal" atau "tuhan anthropomorfisme" sebagai "supreme being," ajaran Buddha tidak mengandaikan makna signifikansinya bagi proses pembebasa...
Perpaduan Senam Jepang dan Pencak Silat
Gerakan senam dimulai dengan jalan di tempat diiringi musik yang serupa dengan iringan musik upacara kenegaraan. Dominasi suara "Brass Section" atau keluarga terompet menjadi ciri pembuka ya...
Perbaikan Kualitas Demokrasi
Keragaman Indonesia jelas mensyaratkan secara sine qua non hadirnya demokrasi dan pluralisme serta toleransi dalam satu tarikan nafas. Tagline Bhinneka Tunggal Ika yang tertulis pada simbol Garuda Pan...
Kebijakan Pemindahan Ibukota, antara Ide dan Realisasi
Apakah rencana relokasi ibukota benar-benar bisa diwujudkan oleh Presiden Joko Widodo, mengingat ide ini sebenarnya telah didorong oleh beberapa presiden sebelumnya namun sebatas berakhir pada ide? Ma...
Tradisi Adu Kepala
Kita sudah tentu pernah melihat atau mengetahui yang namanya adu domba. Adu domba ini, atraksinya adalah dua domba yang saling mengadu kepalanya. Atraksi adu kepala domba ini bisa kita lihat di Kabupa...
Desa Budaya Pampang
Indonesia memiliki 34 Provinsi, dan lebih dari 500 Kabupaten Kota. Berdasarkan data, di Indonesia ada lebih dari 300 kelompok etnik atau 1.340 suku bangsa. Tentunya ini tidaklah sedikit. ...