Bahasa | English


PARIWISATA

Pasar Karetan, Berburu Kuliner di Tengah Kebun Karet Kendal

27 August 2019, 04:39 WIB

Rindu dengan suasana pasar nan sejuk, serta jajanan tradisional tempo dulu? Jika ya, sempatkan mampir ke Pasar Karetan di akhir pekan. Dijamin kita seperti diajak naik mesin waktu mengunjungi masa lalu yang begitu teduh, sederhana dan ramah. Tak ketinggalan nostalgia rasa kuliner tentunya.


Pasar Karetan, Berburu Kuliner di Tengah Kebun Karet Kendal Pasar Karetan Kendal. Foto: ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra

Pasar Karetan, begitu nama destinasi wisata yang berlokasi di Dusun Segrumung, Desa Meteseh, Kecamatan Boja, Kabupaten Kendal. Untuk menjangkau lokasinya tidak terlalu sulit. Kalau bingung coba saja klik pada aplikasi petunjuk arah di ponsel. Dijamin langsung ada. Berdasarkan petunjuk arah, hanya membutuhkan waktu lebih kurang 15 menit dari Bandara Semarang.

Tapi jangan sampai salah waktu menyambanginya, sebab Pasar Karetan hanya buka setiap hari Minggu, dari pukul 06.00 pagi hingga 12.00 siang. Sesuai namanya, pasar yang sudah beroprasi selama dua tahun silam ini terletak di rerimbunan hutan karet. Penggagasnya adalah kaum muda, yakni masyarakat sekitar yang tergabung dalam Raja Pendapa dan Generasi Pesona Indonesia (GENPI) Jateng.

Keunikan dari pasar ini sangat banyak sehingga membuat pasar tak pernah sepi dari pengunjung, mulai anak-anak, remaja hingga orang tua. Beragam hiasan seperti payung warna-warni, panggung kayu mini, dan bangku kayu, begitu semarak menghiasi hutan karet yang rindang itu. Hal tersebut tentu membuat suasana menjadi sangat menarik dan instagramable. Tak heran kalau di setiap sudut pasar, kita akan menjumpai para pengunjung tengah asik berswa foto.

Di Pasar Karetan terdapat pula berbagai wahana permainan anak. Tapi bukan permainan modern yang identik dengan kecanggihan teknologi, tapi permainan zaman dahulu yang mengutamakan aktifitas fisik dan motorik. Sebut saja ayunan, hulahop bambu  dan egrang. Mengunjungi tempat ini bersama teman mungkin akan memanggil ingatan kita tentang kehidupan desa serta aktifitas pasar tempo dulu yang begitu sederhana.

Fasilitas Lengkap Ramah Lingkungan

Konon Pasar Karetan dikonsepkan untuk menyajikan khas suasana pedesaan, komplit dengan aneka kuliner, dolanan bocah dan seni tradisi khas pedesaan. Namun, konsep ini dikolaborasi dengan dekorasi kekinian yang ramah lingkungan, atau kembali ke alam. Sebab konsep tersebut membawa sekaligus mengedukasi para pengunjung untuk menyatu dan menghargai keindahan alam. Caranya boleh mengagumi namun tidak mencemarinya dengan limbah sampah fisik maupun udara.

Jadi jangan heran, bagi kita datang membawa kendaraan harus memarkirkannya di sebuah area yang telah di sediakan. Jaraknya sekitar 500 meter dari Pasar Karetan. Memang agak sedikit jauh, namun hal ini dilakukan agar mencegah polusi udara di area seluas enam hektare itu. Tapi jangan khawatir, kita akan dijemput kendaraan khas wisata desa, yakni odong-odong berbentuk kereta mini secara gratis. Ada juga fasilitas pendopo, mushola, toilet dan tentu saja pemandangan alam nan indah. Selain bisa jalan-jalan di hutan karet, kita juga bisa nosltalgia rasa dengan mencicipi berbagai jajanan tradisional tempo dulu.

Berburu Kuliner di Tengah Kebun Karet Kendal

Seperti pasar tradisional pada umumnya, di Pasar Karetan pun ada penjual yang menjajakan barang dagangan dan pembeli. Bedanya, di sini para pedagang hanya menjual jajan dan minuman tradisional. Yang pasti, banyak jajanan tempo doeloe yang lama tak kita jumpai, bisa ditemukan di Pasar Karetan ini. Antara lain gendar pecel, gethuk, tiwul, cenil, gemblong, sate klopo dan lain-lain. Harganya? Tentu saja ramah di kantong.

Sebelum berburu jajanan yang mengugah selera, kita harus menukarkan uang dengan alat pembayaran bernama girik. Sebab rupiah, dolar, poundsterling tidak laku di Pasar Karetan.  Segera sambangi money changer yang ada di lokasi untuk menukar uang dengan koin kayu khusus untuk pembayaran. Nilanya mulai dari Rp 2.500, 5.000, Rp 10.000. Tiap gerai kuliner wajib menggunakan wadah makanan yang ramah lingkungan seperti gelas nambah, mangkuk batok, piring rotan, daun, dan poci tanah liat. Hal ini untuk meminimalisasi penggunaan plastik, gelas kaca, sterefoam yang akan menjadi sampah sulit daur ulang.

Setelah mendapatkan girik untuk alat pembayaran, perburuan kuliner segera dimulai. Berdasarkan hasil tanya sana-sini, pecel jadi jajanan yang paling sering disebut dan menjadi primadona. Di sebuah pendopo tradisional kita dapat menikmati gendar pecel yang dijajakan. Disitu ada perempuan muda yang menggenakan kebaya warna biru toska menyapa ramah, sembari menanyakan kepada kita mau pesan gendar pecel yang pedas atau yang sedang-sedang saja.

Sayuran yang menjadi isian utama di gendar pecel sangat beragam. Ada selada air atau jembak, kenikir, kecambah, kecipir, bayam, bunga turi, kol, daun adas yang kemudian disiram bumbu kacang. Selain sayur-mayur, potongan lontong dan kerupuk gendar tentunya ikut melengkapi. Porsinya agak menggunung, terbilang banyak.  Rasa gurih serta manis dari bumbu kacang seakan menari begitu suapan pertama masuk di mulut ini. Disusul bunyi krenyes sayur-mayur yang di olah dengan tingkat kematangan yang pas. Lontongnya pun terasa legit digigit. Jangan tanya perihal kerupuk gendarnya, terasa renyah sejak gigitan pertama.

Secara keseluruhan gendar pecel Pasar Karetan memang uenak dan mengenyangkan. Yang membuat terkejut adalah harganya yang ramah, seporsinya tidak sampai sepuluh ribu rupiah, welahdalah! Meski agak kenyang tetapi belum puas jajan, perburuan makanan dilanjutkan. Sebuah gerai yang memajang beragam jajanan pasar nampak menarik perhatian. Grontol jagung, getuk, cenil, gemblong, sate klopo,klepon, getuk adalah sebagian makanan yang begitu mengugah selera.

Di sebelah gerai terebut ada stand yang menawarkan minuman tradisional. Terus terang saja aromanya yang berlarian bersama semilir angin, begitu menggoda.  Kita tak akan tahan memesan minuman hangat yang menebar aroma wangi itu, segelas wedang jahe yang tentunya cocok dinimati dengan klepon dan gemblong. Sungguh suasana yang asri serta penganan tradisional ini, membuat penjelajahan dan perburuan kuliner di pasar Karetan begitu menyenagkan. Tidak mengherankan bila lokasi ini selalu ramai di akhir pekan. Terlebih  Pasar Karetan selalu mengganti tema setiap seminggu sekali. Nah, bagi Anda yang rindu akan suasana pedesaan dan jajanan pasar tradisional, Pasar Karetan patut dijadikan rujukan. (K-GR)

Wisata
Ragam Terpopuler
Teh Slawi, Sebuah Ikon Minuman Tradisional Kabupaten Tegal
Konon, ada makna filosofis di balik cara penyajian teh itu. Kehidupan memang selalu pahit di awalnya. Namun jika kita sanggup bersabar diri, kehidupan yang awalnya terasa pahit itu maka lambat laun pa...
Harum Manis Carica Gunung Dieng
Pepaya gunung hanya dibudidayakan di Dieng, Wonosobo. Manisan atau selai carica gunung itu menjadi jajanan eksklusif yang hanya diproduksi di Wonosobo. Selain segar, carica juga punya kisah. ...
Rumah Pohon Korowai dan Tayangan Televisi Global
Booming-nya pemberitaan tentang rumah Korowai yang eksotis selama dua puluh tahun terakhir adalah bagian dari fenomena budaya global yang menginginkan tampilan bergaya "primitif" sebagai ses...
Agama, Sekolah, Bahasa Jembatan Keragaman Etnis Papua
Selain agama dan pendidikan, maka bahasa Melayu (baca: Bahasa Indonesia) juga bisa disebut memiliki dampak transformatif bagi warga Papua. Sebab, berhasil memberikan aspek keseragaman pada realitas fr...
Orang Laut Nusantara; Laut untuk Hidup, Hidup untuk Laut
Banyak sekali peristiwa dalam sejarah yang terjadi di wilayah laut Nusantara, tetapi cenderung diabaikan oleh peneliti sejarah konvensional. ...
Mengintip Wisata di Sekitar Kawasan Calon Ibu Kota Baru
Presiden Joko Widodo  baru saja memutuskan wilayah yang akan dijadikan ibu kota baru Tanah Air. Wilayah tersebut yakni sebagian wilayah Kabupaten Kutai Kartanegara dan sebagian daerah Penajam Pas...
Wisata Religius ke Pulau Mansinam
Mengenang heroisme dan dedikasi total tugas kemanusiaan yang dilakukan kedua Rasul Papua itu, kini sebuah film tengah dibuat. Tak hanya memperlihatkan jati diri peradaban Tanah Papua sebagai Tanah Inj...
9 dari 10 Bahasa Indonesia adalah Asing
"Dalam Bahasa Indonesia bukan saja tercermin kebudayaan imigran, tapi juga manifestasi bahasa Indo. Atau, dengan kata lain, Bahasa Indonesia ialah produk budaya hibrida, sehingga bukan tak mungki...
Dari Odisha hingga Jepara, Keturunan Kalingga di Nusantara
Hanya kekuatan armada laut yang besar yang bisa menjelaskan kemampuan Kerajaan Kalingga menduduki pesisir utara Pulau Jawa. ...
Jalan Hidup Anak-Anak Rohani Pram
Sekalipun Pram baru meninggal 2006, sesungguhnya ia telah meninggal saat karya-karyanya telah selesai ditulis dan diterbitkan. Ya sebagai anak rohani, karya-karya sastra Pram mempunya jalan hidupnya s...