Bahasa | English


PELAYAR DUNIA

Pengeliling Bumi Pertama adalah Orang Indonesia

9 April 2019, 14:43 WIB

Ferdinand Magellan dinobatkan sebegai pengeliling bumi pertama di dunia oleh bangsa Eropa. Namun ternyata pengakuan tersebut terbantahkan secara ilmiah. Pengeliling bumi pertama itu ternyata orang Indonesia.


Pengeliling Bumi Pertama adalah Orang Indonesia Lukisan Kapal Laut. Sumber: Istimewa

Ferdinand Magellan seorang penjelajah Portugis dianggap sebagai pengeliling dunia pertama kali oleh bangsa Eropa. Pria dengan nama Portugis Ferrao de Magelhaes itu melakukan perjalanan ekspedisinya keliling dunia pada tahun 1519. Namun penghargaan sebagai pengeliling dunia pertama kali dibantah oleh beberapa fakta sejarah. Beberapa fakta tersebut mengatakan bahwa seorang pria berasal dari bangsa Indonesia, yaitu Enrique de Malacca.

Setelah berlayar ke beberapa samudra, Magellan beserta awak mengarungi samudra pasifik atau Mar Pacifico. Kemudian pada tanggal 16 Maret 1521 Magellan dan awaknya tiba di Filipina. Namun pada tanggal 27 Maret, Magellan terlibat perang dengan penduduk setempat sampai ia akhirnya tewas dibantai.

Juan Sebastian Elcano menggantikan Magellan memimpin ekspedisi pelayaran keliling bumi. Elcano beserta awaknya meninggalkan Filipina pada tanggal 21 Juni 1521 menuju Brunei. Pada pelayaran tersebut Elcano dan awaknya diarahkan ke “Kepulauan Rempah-Rempah”. Mereka tiba di Tidore pada tanggal 6 November 1521. Dari situlah mereka melakukan transaksi perdagangan rempah-rempah bersama dengan Sultan Tidore.

Pada perjalanan pulang, mereka mengalami banyak masalah dan tantangan. Seperti badai dan juga perang di laut. Sehingga beberapa kapal tidak bisa melanjutkan perjalanan dan terpaksa ditinggal dan terbengkalai. Sampai akhirnya tersisa kapal Victoria yang sampai dan kembali ke Spanyol. Tiba di Spanyol pada tanggal 6 Septemper 1522 sudah tanpa Magellan. Namun beberapa bangsa Eropa tetap menobatkan Magellan sebagai pengeliling dunia pertama kali.

Pada kenyataannya Megellan meninggal di perjalanan dan tidak kembali pulang ke Spanyol. Beberapa fakta sejarah menyebutkan bahwa pengeliling bumi pertama lebih pantas dinobatkan kepada seorang pria berasal dari Indonesia bernama Enrique de Malacca. Enrique adalah seorang budak yang ditemukan Magellan ketika menaklukkan Malaka oleh Portugis pada tahun 1511. Kemudian budak tersebut dijadikan asisten kepercayaan oleh Magellan.

Dalam bukunya Helmy Yahya dan Reihard R Tawas yang berjudul Pengeliling Bumi Pertama adalah Orang Indonesia - Enrrique Maluku. Buku tersebut menjadi salah satu bukti ilmiah yang menceritakan kisah perjalanan Enrique yang mengelilingi bumi. Selain menguasai bahasa melayu, Enrique juga menguasai beberapa bahasa seperti Inggris, Spanyol, Portugis dan beberapa bahasa internasional lainnya, sehingga ia dijadikan sebagai penerjemah.

Dalam ekspedisi pelayaran Magellan, Enrique dipercaya sebagai penerjemah Bahasa Melayu yang menjadi cikal bakal Bahasa Indonesia. Bahasa Melayu memang merupakan alat komunikasi Magellan dan awaknya dengan masyarakat di Asia Tenggara, dimana menjadi tujuan pelayaran tersebut adalah “Kepulauan Rempah-Rempah”.

Pada wasiat sebelum Magellan meninggal, ia menuliskan bahwa Enrique harus di merdekakan dari statusnya yang budak. Namum para petinggi perwira Spanyol tidak mau memerdekakannya. Sehingga Enrique kecewa dan melarikan diri. Ia mendapat perlindungan dari Raja Homabon di Cebu, Filipina.

Meskipun menuai banyak kontroversi sejarah, kita haruslah bangga Indonesia pernah memiliki putra terbaik asal Maluku yang menjadi inspirasi bagi kita. Meskipun begitu, negara tetangga yakni Malaysiajuga mengklaim kalau Enrique adalah orang asli Malaysia, naamun tidak ada referensi ilmiah yang dapat membuktikan hal tersebut. (K-IK)

Wisata
Ragam Terpopuler
Menjaga Kekhidmatan, Pesta Adat Erau dan TIFAF Digelar Terpisah
Pesta tradisional kesultanan Kutai ing Martadipura “Erau” dan Tenggarong Internasional Folk Art Festival digelar terpisah di bulan September. Keduanya dipisah untuk menjaga kekhidmatan tra...
Menikmati Budaya dan Burung Migrasi di Danau Limboto
Satu lagi agenda wisata di September 2019. Sebuah kegiatan festival akan diselenggarakan di Gorontalo. Kegiatan ini adalah Festival Pesona Danau Limboto 2019 yang rencananya diselenggarakan pada 21--2...
Menikmati Keindahan Alam Pantai dan Budaya Nias
Bila Anda masih bingung menentukan tempat mana untuk berlibur dan berwisata pada September nanti, Nias bisa jadikan sebagai pilihan utama. Pasalnya, pada 14 September akan ada puncak acara Sail N...
Hamzah Sang Aulia Lagi Mulia
Penemuan makam Tuan Hamzah dari Pancur jika diperbandingkan dengan catatan penjelajah Ibnu Battuta akan memperkuat beberapa hal. ...
Etika Kepemimpinan Jawa
Demikianlah, menjadi seorang raja dalam konstruksi etika kepemimpinan dalam budaya Jawa dituntut memiliki delapan laku, atau delapan sifat, atau delapan watak, yang bersifat keillahian dengan merujuk ...
Tuan Pancur di Tanah Suci
Jika salinan catatan dari nisan Hamzah Al Fansuri bisa dipastikan kebenarannya, maka bangsa Indonesia harus berterima kasih pada seseorang yang bernama Hassan Mohammed El Hawary. ...
Memilih Akhir Bersama Yang Terkasih
Konon para pengajar Mbah Moen inilah yang menjadi sosok-sosok terkasih yang dicintai Mbah Moen. Sampai-sampai setiap ada kesempatan di musim haji, Mbah Moen selalu pergi haji walaupun dalam kondisi ya...
Leluhur Nusantara di Tanah Tinggi
Siapa sangka pekuburan di tanah tinggi Mekah ternyata menyimpan sejarah ulama Nusantara, bahkan yang lebih lama. Seperti tokoh besar Hamzah Al Fansuri, yang diperkirakan hidup di abad 16, dan Mas'...
Mitos-mitos Dewi Laut di Nusantara
Sekalipun analisis sejarah Pram katakanlah “benar”, bahwa “perkawinan spiritual” Kanjeng Ratu Kidul dengan raja-raja Mataram ialah sekadar upaya membangun legitimasi kekuasaan ...
Festival Lembah Baliem sudah 30 Tahun
Usia Festival sudah termasuk tua, 30 tahun. Tapi Festival Lembah Baliem di Kabupaten Jaya Wijaya ini semakin memikat. ...