Bahasa | English


WISATA

Tur Jalan Kaki Bersukaria, Mengenal Sejarah Kota Semarang

19 June 2019, 00:00 WIB

Bagi sebagian masyarakat, belajar sejarah barangkali dianggap menjadi suatu hal yang kurang menarik dan membosankan. Terlebih jika mempelajarinya melalui text book yang hanya berisi penjelasan panjang dengan sedikit gambar/foto. Namun, apa jadinya kalau belajar sejarah sembari jalan-jalan dan melihat langsung benda atau bangunan peninggalannya yang masih tersisa?


Tur Jalan Kaki Bersukaria, Mengenal Sejarah Kota Semarang Foto pengibaran merah putih saat hari kemerdekaan Indonesia di Alun-alun Semarang. Foto: IndonesiaGOID/Intan Deviana Safitri

Adalah Bersukaria Walking Tour, sebuah organizer berbasis di Ibu Kota Jawa Tengah yang mengajak dan memberi kesempatan bagi masyarakat umum untuk mengenal lebih dekat tentang peradaban dan kisah masa lampau Kota Semarang. Tur dengan konsep berjalan kaki sejauh kurang lebih 3 kilometer menelusuri rute yang telah ditentukan ini menjadi rangkaian aktivitas belajar sejarah yang menyenangkan untuk segala usia.

Sejak pertama kali digelar pada 2016, Bersukaria menawarkan beberapa pilihan rute menarik yang bisa diikuti oleh peserta walking tour berdasarkan jadwal tur yang disediakan setiap minggunya. Hingga tiga tahun berjalan, rute tur yang tersedia meliputi rute kawasan Bodjong Weg, Candi Baru, Chinatown, Jatingaleh, Kampung Kota, Kauman, Mataram, Multikultural, Kota Lama, Radja Goela, Simpang Lima, dan Spoorweg Journey. Bahkan baru-baru ini, ada rute baru yang ditambahkan, yaitu rute Kampung Kali.

Agenda tur umumnya diadakan setiap hari Sabtu dan Minggu, pada pukul 08.30 atau 15.30, dengan durasi tur sekitar 2-3 jam. Namun, tidak menutup kemungkinan diadakan pada hari lain. Bersukaria akan selalu update jadwal tur setiap minggu pada akun Instagram-nya sehingga calon peserta bisa memilih rute dan waktu pelaksanaan tur.

Untuk mengikuti kegiatan tur, peserta diharuskan melakukan registrasi lebih dulu melalui nomor yang tersedia untuk memilih jadwal tur yang ingin diikuti. Storyteller, atau sebutan bagi pemandu wisata di Bersukaria, akan menghubungi peserta sehari sebelum jadwal tur diadakan. Nantinya peserta diharuskan berkumpul di meeting point yang telah ditentukan storyteller sebelum memulai rangkaian kegiatan tur.

Pada rute yang telah dipilih, storyteller akan mengajak peserta tur Bersukaria mengunjungi satu per satu tempat sembari bercerita tentang fakta sejarah yang melekat pada lokasi yang dikunjungi. Dalam rute-rute tertentu, peserta bahkan dibawa blusukan ke gang-gang sempit untuk menilik langsung bangunan dan benda-benda yang menyimpan histori.

Informasi dan referensi lokasi bersejarah yang masuk dalam rute tur didapat dari banyak sumber, seperti jurnal, mahasiswa yang mengambil studi sejarah, budayawan, pemerhati sejarah, hingga warga setempat. Semua fakta dan data sejarah diracik sehingga menghasilkan informasi yang akurat dan dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Sepanjang tur berjalan kaki tersebut, tak lupa storyteller akan menunjukkan foto-foto bangunan atau lokasi yang dikunjungi versi tempo dulu.

Menurut Icha, storyteller tur rute Kauman yang saya ikuti tanggal 1 Juni 2019 lalu, umumnya peserta tur kerap merasa excited dalam perjalanan bersama Bersukaria. Kebanyakan peserta mengaku sering mendengar atau bahkan melewati lokasi yang menjadi rute Bersukaria tapi tak pernah tahu ada cerita apa di baliknya. Dengan konsep walking tour untuk mengenal titik-titik bersejarah di kota Semarang ini, Bersukaria tidak hanya berhasil menggaet warga lokal dan peserta dari luar Semarang, namun juga beberapa kali berkesempatan mendapat peserta tur lintas negara.

Pencapaian Bersukaria dalam kegiatan walking tour memang patut mendapat acungan jempol. Pasalnya, selama tahun 2018 kemarin, peserta tur Bersukaria melonjak drastis dari 561 orang di tahun 2017 menjadi 2.365 orang di tahun 2018, dengan total walking tour sebanyak 57 tur pada tahun 2017 menjadi 208 tur pada tahun 2018.

Dari jumlah peserta tur yang melambung berkali-kali lipat tersebut, tercatat sudah ada 14 negara selain Indonesia yang berpartisipasi mengikuti rangkaian tur bersama Bersukaria, yaitu Malaysia, Filipina, Jepang, Korea Selatan, Sri Lanka, Belanda, Jerman, Norwegia, Rwanda, Swedia, Inggris, Suriname, Amerika Serikat, dan Australia. Jika dikalkulasi, tur berjalan kaki Bersukaria sepanjang tahun 2018 kemarin sudah menempuh jarak sejauh 600,17 kilometer atau hampir setara dengan jarak Semarang-Banyuwangi.

Yang menarik, walking tour yang diadakan oleh Bersukaria ini mengenakan sistem pay as you want alias bayar suka-suka. Artinya, peserta diharapkan memberi tip kepada storyteller setelah rangkaian kegiatan tur selesai dilakukan dengan nominal yang ditentukan oleh peserta sendiri. Kebijakan ini diterapkan sebagai upaya memberi kesadaran bagi peserta untuk ‘menghargai’ profesi seorang storyteller yang telah memandu perjalanan mengenal tempat-tempat bersejarah di rute tur Bersukaria.

Namun, di sisi lain, Bersukaria juga menyediakan paket private walking tour yang memasang tarif tertentu dan dapat diikuti di luar jadwal regular walking tour. Dalam private walking tour, rangkaian kegiatannya sama persis dengan tur reguler. Hanya saja peserta dapat memilih sendiri rute dan jadwal tur sesuai keinginan peserta. Tarif private walking tour ini bervariasi, mulai dari Rp100.000 sampai Rp450.000 per grup, tergantung banyak sedikitnya peserta dan bahasa penyampaian yang digunakan storyteller.

Baik regular maupun private, di akhir tur storyteller akan meminta seluruh peserta untuk memberi feedback dan masukan melalui sebuah form di Google Docs. Feedback ini nantinya berguna untuk perbaikan Bersukaria dalam acara tur-tur berikutnya dan menentukan storyteller terbaik setiap bulannya. Peserta juga akan mendapat suvenir kecil berupa stiker Bersukaria.

Bersukaria Walking Tour, yang namanya diambil dari lagu ciptaan Ir H Soekarno berjudul Bersuka Ria, menjadi salah satu pionir tur wisata sejarah yang dikemas dengan gaya menyenangkan. Dengan cara tersebut, diharapkan akan semakin banyak organizer serupa di kota lain yang mengangkat wisata sejarah daerah setempat untuk diperkenalkan kepada masyarakat. (K-ID)

Sosial
Wisata
Ragam Terpopuler
Islam, Sumbangsih Terbesar Etnis Tionghoa
Hadiah terbesar bangsa Cina ke Indonesia adalah agama Islam. Demikian ujar Presiden ke-3 BJ Habibie dalam sebuah orasi di Masjid Lautze pada Agustus 2013. ...
Ziarah Kubur, Ibadah Haji Orang Jawa di Masa Lalu
Bagi kaum abangan, ziarah kubur ke makam raja-raja di Imogiri bermakna sebagai pengganti ibadah haji. ...
Membaca Kembali Sriwijaya yang Jaya itu
Petunjuk lain yang menguatkan keberadaan kerajaan Sriwijaya adalah prasasti yang ditemukan di Semenanjung Melayu, tepatnya di sebelah selatan teluk Bandon, saat ini Thailand bagian selatan. ...
Pacung dan Sambiran, Ternyata Dugaan Lombard Benar
Temuan-temuan ini menguatkan tesis bahwa pada abad ke-9 terjadi kontak yang sangat intensif antara Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara, dan India. ...
Teh Slawi, Sebuah Ikon Minuman Tradisional Kabupaten Tegal
Konon, ada makna filosofis di balik cara penyajian teh itu. Kehidupan memang selalu pahit di awalnya. Namun jika kita sanggup bersabar diri, kehidupan yang awalnya terasa pahit itu maka lambat laun pa...
Solidaritas Sosial dalam Sunat Poci dan Mantu Poci
Demikianlah potret lekatnya tradisi minum teh mengejawantah pada hajatan sunat poci dan mantu poci. Sayangnya, ritus sosial yang mencerminkan kuatnya solidaritas sosial dan hubungan timbal balik antar...
Harum Manis Carica Gunung Dieng
Pepaya gunung hanya dibudidayakan di Dieng, Wonosobo. Manisan atau selai carica gunung itu menjadi jajanan eksklusif yang hanya diproduksi di Wonosobo. Selain segar, carica juga punya kisah. ...
Rumah Pohon Korowai dan Tayangan Televisi Global
Booming-nya pemberitaan tentang rumah Korowai yang eksotis selama dua puluh tahun terakhir adalah bagian dari fenomena budaya global yang menginginkan tampilan bergaya "primitif" sebagai ses...
Agama, Sekolah, Bahasa Jembatan Keragaman Etnis Papua
Selain agama dan pendidikan, maka bahasa Melayu (baca: Bahasa Indonesia) juga bisa disebut memiliki dampak transformatif bagi warga Papua. Sebab, berhasil memberikan aspek keseragaman pada realitas fr...
Orang Laut Nusantara; Laut untuk Hidup, Hidup untuk Laut
Banyak sekali peristiwa dalam sejarah yang terjadi di wilayah laut Nusantara, tetapi cenderung diabaikan oleh peneliti sejarah konvensional. ...