Bahasa | English


DESTINASI

Wisata Religius ke Pulau Mansinam

6 September 2019, 05:57 WIB

Mengenang heroisme dan dedikasi total tugas kemanusiaan yang dilakukan kedua Rasul Papua itu, kini sebuah film tengah dibuat. Tak hanya memperlihatkan jati diri peradaban Tanah Papua sebagai Tanah Injil, film ini mengisahkan awal perjalanan Ottow and Geissler mengabarkan Injil.


Wisata Religius ke Pulau Mansinam Patung Yesus Kristus di Pulau Mansinam. Foto: Indonesia Karya

Menyimak atlas Pulau Papua, banyak orang mengasosiasikan bentuk pulau itu menyerupai bentuk burung cendrawasih, atau juga ada yang menganggapnya mirip dinosaurus raksasa. Secara administratif, Pulau Papua sendiri merupakan bagian dari wilayah teritorial Indonesia dan Papua Nugini.

Asosiasi pada burung cendrawasih tentu saja sangat relevan. Selain memang merupakan wilayah endemik bagi burung itu, pulau terbesar di Indonesia dan juga di dunia setelah Pulau Greenland di Jerman, pada sisi bagian utara pulau itu memang terlihat menyerupai bentuk kepala burung.

Bicara sisi depan kepala burung itu tercatat keberadaan Pulau Raja Ampat, sudah tentu pulau ini sudah cukup termasyhur di dunia. Sebuah biro travel papan atas di tingkat global yang telah eksis sejak 1972, Lonely Planet mengumumkan Pulau Raja Ampat sebagai salah satu dari Top 10 Islands for 2018, atau dalam bahasa Indonesia “10 Pulau Terbaik untuk Dikunjungi di Tahun 2018.”

Sedangkan di sisi belakang kepala burung juga terdapat pulau yang secara lokal di Papua sangatlah popular, meskipun di tingkat global dan domestik Indonesia sendiri barangkali belum sepopuler Raja Ampat. Jika Raja Ampat yang terkenal sebagai surga dunia ini letaknya nisbi dekat dengan Kabupaten Sorong, maka pulau yang bernama Mansinam ini letaknya lebih dekat ke Manokwari, Ibu Kota Provinsi Papua Barat. Dari batas pantai Pasir Putih yang terletak di Distrik Manokwari Timur terpaut jarak sekitar tak lebih dari 4 kilometer.

Ya, bahkan jikalau kita berdiri di dermaga atau pantai Pasir Putih itu, maka segera saja pulau ini begitu jelas terlihat. Bertetangga dengan Pulau Lemon, perjalanan menggunakan speedboat untuk mencapai lokasi pulau itu hanya dibutuhkan maksimal 10 - 15 menit. Pertanyaannya ialah, apa yang menarik dari Pulau Mansinam?

Bicara kekayaan bentang panorama wisata bahari, baik wisata pantai maupun bawah laut, jelas Manokwari tidaklah kalah dibandingkan dengan Raja Ampat. Potensi wisata di Distrik Manokwari Timur terdapat di Pulau Mansinam, Pulau Lemon, Pantai Pasir Putih, Pantai Abasi, dan Pantai Bakaro. 

Sedangkan bicara wisata alam bawah laut di sekitar “Teluk Doreri”, demikianlah nama sisi belakang kepala burung itu, selain air lautnya sangat jernih dengan ragam panorama terumbu karang yang sangat indah dan aneka rupa ikan penguninya, di sana juga terdapat pemandangan bangkai kapal. Jumlahnya diperkirakan mencapai sekitar 20-an unit kapal, namun yang bisa dilihat jelas hanya 6 unit kapal. Dari banyaknya jumlah bangkai kapal ini, lokasi laut ini bisa dikata merupakan salah satu situs terbaik pariwisata bawah laut untuk melihat bangkai kapal di perairan laut Indonesia.

Dalam konteks industri pariwisata, naga-naganya Pulau Mansinam hendak dijadikan ikon wisata bagi Kabupaten Manowari. Ya, Pulau Mansinam sengaja dijadikan ikon karena pulau ini memiliki nilai sejarah penting bagi masyarakat Papua, yaitu sebagai titik awal masuknya agama Kristen ke Tanah Papua. Tak salah jika pemerintah daerah bermaksud menjadikan Pulau Mansinam ini sebagai pulau pariwisata religi bagi umat Nasrani khususnya Kristen Protestan.

Awalnya adalah berkat peran dua orang pendeta muda Jerman, yaitu Carl Wilhelm Ottow dan Johann Gottloba Geissler. Keduanya adalah orang yang pertama kali memperkenalkan Injil kepada masyarakat Papua. Tercatat sejarah menginjakkan kakinya di Papua pada 5 Februari 1855, kedua tokoh ini adalah “Rasul Papua.”

Untuk menghormati jasa kedua zendeling itu, maka dibangunlah prasasti berbentuk salib dan di bagian bawah prasasti itu tertulis, “Soli deo Gloria De Eerste Zendelingen van Nederlandsch Nieuw Guinee CW Ottow En JG Geissler Zyn Hier Geland op 5-2-1855”. Yang bila diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia, artinya ialah: “Usaha penyebaran Agama Kristen pertama kali oleh CW Ottow dan JG Geissler pada 5 Februari tahun 1955”.

Ya, 5 Februari merupakan hari bersejarah bagi jutaan umat Kristiani di Tanah Papua. Demikian pentingnya momen pengabaran Injil tersebut, melalui Surat Keputusan Gubernur Provinsi Papua No 140 Tahun 2008, kini setiap tahun pada tanggal itu ditetapkan menjadi hari libur resmi dan cuti bersama bagi masyarakat Propinsi Papua dan Papua Barat untuk memperingati masuknya Injil di Tanah Papua. Selain itu, ribuan orang Papua juga berduyun-duyun datang ke pulau ini untuk mengadakan perayaan memperingati kedatangan Ottow dan Geissler.

Tak jauh dari prasasti itu, kurang lebih hanya berjarak 50 meter, berdiri kokoh gereja pertama di Papua. Bernama Gereja Pengharapan (Krek der Hopen), bangunan ini didirikan Geissler pada 1864. Pondasi gereja yang asli masih tersisa dan dapat dilihat pada bangunan tersebut.

Di samping gereja, juga masih terdapat sumur tua. Sumur ini dibuat oleh kedua zendeling itu ketika mereka menetap di Pulau Mansinam. Hingga hari ini sumur itu juga masih tetap digunakan warga sekitar untuk memenuhi kebutuhan air tawar mereka. Selain pondasi gereja dan sumur, juga terdapat situs sejarah lainnya yaitu tempat pembakaran roti yang terbuat dari semen.

Ada satu lagi obyek wisata yang sangat menarik untuk dikunjungi. Bila kita mau menelusuri jalan yang mengular ke arah bukit, di sana bakal ditemui Patung Yesus Kristus ukuran raksasa. Patung ini adalah buah gagasan pemerintah pusat sebagai bentuk penghargaan terhadap sejarah peradaban Papua. Patung ini sekilas mirip patung Yesus di Rio de Janeiro, Brazil, namun dalam ukuran lebih kecil. Memiliki tinggi 30 meter, Patung Kristus Raja ini, yang disangga oleh empat pilar berbentuk tifa dengan patung malaikat di setiap sisinya, dibangun pada 2014.

Bermaksud mengenang heroisme dan dedikasi total tugas kemanusiaan kedua Zendeling itu, kini sebuah film yang mengisahkan perjalanan Ottouw dan Geissler tengah dibuat. Penggarapan film ini melibatkan Mitra Kerja Partnership dan sineas South Hill Film dari Amerika. Selain menggambarkan jati diri peradaban Tanah Papua sebagai Tanah Injil, film ini akan mengisahkan perjalanan Ottow and Geissler ketika mengajarkan Injil pertama kali di Pulau Mansinam, Kwawi-Manokwari, hingga akhirnya meluas ke seluruh Papua.

Merujuk beberapa sumber media papan atas, sedianya film ini akan diberi judul The Story of Ottow Geissler Mansinam. Sumber lain mengatakan, film ini bertajuk Mansinam: Man Is Man. Selain itu, juga ada tiga aktor Hollywood yang rencananya terlibat sebagai aktor film, yakni Denzel Washington, Jim Caviezel, dan Dennis Quaid.

Bujet pembuatan film juga tak tanggung-tanggung. Dengan rencana proses produksinya mencapai dua tahun, dengan lokasi syuting pembuatan film ini meliputi empat negara yaitu Australia, Jerman, Belanda, dan Indonesia, bujet pembuatan film ditaksir berkisar antara 750 miliar - 1 triliun. Kemungkinan besar film itu baru tayang pada 2020.

Terkait rencana itu, pada awal tahun 2019 Mitra Kerja Partnership dan South Hill Film sudah melakukan pemaparan di hadapan Gubernur Papua Barat Dominggus Mandacan. (W-1)

Wisata
Ragam Terpopuler
Timlo, Paduan Cita Rasa Soto dan Bakso Khas Solo
Saat menyeruput kuah hidangan ini di lidah terasa sekali cita rasa kaldu ayam dan yang mengingatkan memori kita rasa kuah bakso atau soto. Orang biasanya menyebutnya timlo. ...
Abdul Kahar Muzakkir, Dari Kiai Kasan Besari hingga Muhammadiyah
Kesederhanaan Abdul Kahar tecermin dalam sikap keluarganya yang menolak uluran dana dari Pemerintah Kota Yogyakarta yang ingin memberikan hibah untuk renovasi. Alasannya adalah tidak elok, nanti terja...
Museum Radya Pustaka Masih Menyimpan Hadiah dari Napoleon Bonaparte
Museum tertua di Jawa, Radya Pustaka, menyimpan informasi penting berupa artefak-artefak Jawa dari masa lalu. Kanjeng Adipati Sosroningrat IV pada 28 Oktober 1890 membangun Radya Pustaka, ya...
Dari New York Ke Batavia, Catatan Seorang
Bulan Mei 1948, adalah bulan ketika izin untuk berkunjung ke Hindia Belanda diberikan. Di akhir Mei, dilakukan persiapan menempuh perjalanan melintasi samudera.  ...
Trowulan adalah Ibu Kota Majapahit?
Bujangga Manik telah mengambil rute paling mudah dan juga mungkin paling lazim dilalui masyarakat saat itu sekiranya hendak ziarah ke Gunung Pawitra. Rute termudah ini mengisyaratkan lokasi Trowulan m...
Istilah Radikal Harus Diganti?
Istilah radikal sebenarnya bermakna netral. Bisa bermakna positif atau negatif. Meskipun terdapat potensi kerancuan atau bias pemaknaan terkait pemakaian istilah ini, saripati pesan pemerintah sebenar...
Jembatan Youtefa, Bukti Sumpah Membangun Papua
Jembatan Youtefa di Kota Jayapura diresmikan akhir Oktober 2019. Berbiaya Rp1,8 triliun, jembatan ini menjadi ikon baru Papua.   ...
Para Penjaga Maria di Pelosok Kapuas Hulu
Tahun 1905, Ordo Capusin memulai penjajakan untuk melakukan misi di pedalaman Kapuas Hulu. Itu juga disebut sebagai titik balik dalam perkembangan umat Katolik di Kalimantan Barat. ...
Orangutan, Taman Nasional, dan Daerah Penyangga
Selama tiga tahun riset dilakukan di sana untuk mengetahui pola migrasi orangutan dan pola buah yang jadi makanannya. ...
Pasar Karetan, Berburu Kuliner di Tengah Kebun Karet Kendal
Rindu dengan suasana pasar nan sejuk, serta jajanan tradisional tempo dulu? Jika ya, sempatkan mampir ke Pasar Karetan di akhir pekan. Dijamin kita seperti diajak naik mesin waktu mengu...