Bahasa | English


SEJARAH

Wisata Sejarah Kampung Kauman Jogja, Kampung Muhammadiyah

7 May 2019, 00:00 WIB

Dari dulu hingga sekarang Kauman adalah Kauman. Sebuah kampung yang terletak tepat di barat alun-alun utara Kraton Yogyakarta.


Wisata Sejarah Kampung Kauman Jogja, Kampung Muhammadiyah Wisata Sejarah Kauman Jogja. Foto: IndonesiaGOID/Abdul Rasyid

Kalau kita melihat sejarah panjang di belakangnya, maka Kauman erat dengan sejarah organisasi Islam terbesar di Indonesia yakni Muhammadiyah. Kauman menjadi tempat yang penting bagi Muhammadiyah. Di kampung inilah Muhammadiyah didirikan, tumbuh, dan berkembang sampai ke pelosok tanah air. Kauman menjadi saksi perjuangan awal Muhammadiyah yang waktu itu ditentang oleh banyak kalangan.

Sebenarnya tidak ada penobatan, julukan, atau penyebutan khusus Kampung Kauman adalah Kampung Muhammadiyah. Lahirnya, kiprahnya, besarnya Muhammadiyah berawal dari kampung ini, sehingga Kauman lekat dengan Muhammadiyah. Muhammadiyah telah memberikan pengabdian terbaik dari sisi ekonomi dan sosial kepada masyarakat Kauman, bahkan masyarakat Yogyakarta pada umumnya.

Selain itu hal yang memperkuat Kauman disebut sebagai Kampung Muhammadiyah adalah hampir sebagian besar Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah lahir di Kauman, seperti KHA Dahlan, Ki Bagus Hadikusumo, KH Fachruddin, KH Ahmad Badawi, KH Yunus Anis, KH Ibrahim,  dan KH Hisyam. Pada dekade awal Muhammadiyah, selain menjadikan Kauman sebagai tempat belajar yang bercorak Islam-modernis, KHA Dahlan juga menjadikan Kauman sebagai tempat penempaan kader-kader terbaik Muhammadiyah yang disiapkan untuk melangsungkan estafet kepemimpinan Muhammadiyah. Hal itu terbukti dengan deretan pemegang tampuk pimpinan Muhammadiyah yang berasal dari Kauman.

Bagi wisatawan yang berkunjung ke Yogyakarta jangan sampai melewatkan untuk ke Kauman. Di sini wisatawan akan disuguhkan dengan bangunan Masjid Gedhe Kauman yang masih nampak kokoh dan indah. Keunikan Masjid Gedhe ini adalah masih konsisten dengan arah kiblat yang ditentukan oleh KHA Dahlan. Tentu bukan hal yang mudah pada waktu itu merubah arah kiblat, apalagi yang diubah Masjid Gedhe. Teknologi belum secanggih hari ini, namun dengan kecerdasan dan keberanian KHA Dahlan akhirnya arah kiblat masjid sesuai, menghadap kiblat bukan bukan menghadap barat.  Wisatawan juga bisa berkeliling ke sekitar Masjid Gedhe Kauman yang mana wisatawan masih bisa menyaksikan rumah-rumah model jaman dahulu dan nuansa tempo dulu.

Selain itu wisatawan bisa napak tilas melihat atau bahkan bertanya-tanya kepada masyarakat sekitar tentang sejarah berdirinya Muhammadiyah dan bagaimana perjuangan KHA Dahlan yang tampil sebagai sosok Sang Pencerah. Terdapat bangunan yang menjadi saksi perjuangan KHA Dahlan dalam berdakwah di lingkungan Kauman yakni Langgar Kidoel Hadji Ahmad Dahlan.

Langgar Kidoel tepat terletak di depan rumah KHA Dahlan. Di Langgar itulah KHA Dahlan melakukan banyak aktivitas keseharian terutama berinteraksi langsung atau mengajar dengan murid-muridnya. Langgar Kidoel didirikan sekitar tahun 1800an setelah KHA Dahlan menikah. Langgar tersebut pernah dirobohkan karena pada waktu itu masih banyak masyarakat Kauman yang belum bisa menerima ajaran beliau dan dan dibangun kembali berkat didukung oleh saudara-saudaranya yang memang menghendaki KHA Dahlan tetap tinggal di Kauman dan terus mensyiarkan agama Islam.

Langgar Kidul KHA Dahlan ini sebenarnya diaktifkan oleh murid-muridnya sendiri. Kemudian, saat Nyai Ahmad Dahlan (Siti Walidah) Istrinya sudah mulai bisa mengajar, Langgar tersebut digunakan sebagai tempat belajar anak-anak perempuan. Awal mulanya didirikan langgar adalah dalam rangka untuk sholat kaum perempuan dan anak-anaknya. Kampung Kauman ini kurang lebih memiliki 10 langgar. Langgar di Kauman tidak mengumandangkan adzan karena pada dasarnya adzan di Kauman terpusat pada Masjid Besar Keraton Yogyakarta.

Di Kauman juga terdapat Makam Kauman, yang letaknya berada di dalam komplek Masjid Gedhe Kauman. Tepatnya berada di belakang masjid di sisi barat. Di Makam Kauman ini banyak tokoh Muhammadiyah dikebumikan. Salah satu tokoh Muhammadiyah yang dikebumikan di makam itu adalah Nyai Siti Walidah atau yang lebih dikenal dengan nama Nyai Ahmad Dahlan. Beliau merupakan pahlawan perempuan pertama dan satu-satunya dalam bidang agama. Jasa beliau pada bangsa dan agama amatlah besar. Dari perjuangan beliau, lahirlah Aisyiyah, salah satu organisasi perempuan pertama di Indonesia. Padahal pada zaman itu organisasi perempuan masih dianggap tabu. (K-AR)

Budaya
Seni
Wisata
Ragam Terpopuler
Bibit Pesepakbola Indonesia itu dari Lembah Cycloop
Kabupaten Jayapura boleh berbangga, dari lima pesepak bola mudanya yang masuk Timnas U-15 di Portugal. Dan salah satu dari lima pemain itu jadi top scorer dalam ajang bergengsi dunia,  IBER Cup 2...
Desa Adat Trunyan, antara Kubur Angin dan Kubur Tanah
Masyarakat Trunyan tak hanya mengenal satu upacara dan satu model penguburan. Selain kubur angin (exposure), mereka juga mengenal kubur tanah (inhumation). Bicara upacara kematian, selain Ngutang Mayi...
Kubur Batu Bagi Marapu
Tidak semua orang bisa menjadi Marapu setelah mati. Itu sangat bergantung pada apa yang telah dia lakukan selama hidupnya dan apa yang dilakukan oleh para keturunannya untuk membuatkan upacara pengubu...
Pluralitas Hindu di Bali
Ratu Sakti Pancering Jagat oleh masyarakat Trunyan ditempatkan pada posisi tertinggi sekaligus dianggap manifestasi Sang Hyang Widhi. Dalam konteks inilah, keberadaan dewa-dewa utama dari Hindu yaitu ...
Munggah Kaji, Perjalanan Mencapai Keutamaan
Mekah dalam imajinasi orang Jawa hanyalah salah satu kota yang berada di tempat yang sangat jauh. Kota para leluhur dalam sejarah manusia. ...
Lokalisasi Hindu-Bali menjadi Hindu-Trunyan
Di Trunyan terdapat sebuah patung batu raksasa, peninggalan zaman Megalitikum. Konon, patung ini bukanlah karya manusia, melainkan piturun, yang artinya diturunkan dari langit oleh Dewa. Dan menarikny...
Jalan Dagang Orang Bugis dan Terjadinya Singapura
Monopoli Belanda di Riau kepulauan adalah salah satu yang membuat Raffles memutuskan untuk membangun pangkalan di Tumasik. Raffles tentu tidak mau kehilangan perdagangan yang saling menguntungkan deng...
Teka-Teki Keraton Majapahit
Penjelasan Prapanca mulai dari halaman-halaman yang ada di dalam keraton, nama-nama tempat penting, jalan-jalan penghubung, makam-makam pembesar dan pemuka agama, barak dan alun-alun, hingga gerbang-g...
Sopi, Sake ala Indonesia dan Masa Depan Tuak
Sopi sebagai minuman khas Nusa Tenggara Timur, kini resmi dilegalkan. Pelegalan ini disambut baik oleh sebagian besar masyarakat NTT. Salah satu alasannya, karena minuman keras ini bersangkut paut den...
Bisbul, Buah Lemak Berbulu yang Penuh Manfaat
Buah beludru atau yang lebih sering dikenal dengan buah bisbul (Diospyros discolor) merupakan salah satu buah khas yang identik dengan Kota Bogor, Indonesia. ...