Bahasa | English


KALI KRUKUT

Lurus di Bawah Berkelok-Kelok di Atas

26 January 2019, 12:39 WIB

Di DAS Kali Krukut, 75 persen hujan akan terbuang sebagai air limpasan. Kapasitas sungai tinggal sepertiga akibat badan sungai dijepit bangunan. Di hilir, pemerintah kolonial telah menata Krukut secara canggih.


Lurus di Bawah Berkelok-Kelok di Atas Kali Besar di Kota tua, Hilir Kali Krukut. Sumber foto: Wordpress

Curah hujan yang  di bawah normal sejak November lalu membuat wilayah Jakarta sepi dari berita banjir. Baru setelah hujan turun lebih intens sejak pertengahan Januari 2019, cerita tentang banjir, luapan kali, dan genangan, kembali memviral. Salah satunya dari  Kali Krukut yang kembali meluap dan merendam beberapa kawasan RT di Cilandak Timur Senin (22/1/2019).

Kali Krukut hanyalah sungai kecil dan kumuh yang berhulu di Situ Citayam, tak jauh dari Kota Depok. Namun, kali yang berkelak-kelok di  tengah padatnya permukiman warga itu berperan penting bagi tata kelola air ibukota. Badan sungai inilah  yang mengalirkan limpasan air hujan dari lembah subur Depok-Jakarta Selatan yang basah dan bercurah hujan tinggi ke muaranya di Kali Kanal Banjir Barat.

Sebut saja kawasan yang dipengaruhi langsung oleh fluktuasi aliran Kali Krukut itu, mulai dari Depok Barat, Ciganjur, Cinere, Lebakbulus, Cilandak, Cipete, Kemang, hingga Bangka, yang kini dijejali oleh cluster-cluster rumah mentereng itu. Sampai ke Ciganjur, Kali Krukut masih belum menjadi bahaya laten, tapi semakin ke hilir makin besar potensinya untuk meluap dan menimbulkan genangan.

Bukan saja luapannya yang perlu dicatat. Kali Krukut juga menjadi sumber utama bagi IPA (Instalasi Pengolahan Air) PAM Jaya yang berlokasi di Cilandak Timur, Jakarta Selatan. Dalam kondisi normal, produksinya 400 liter per detik.

Porsinya hanya dua persen dari seluruh produksi air bersih PAM (Perusahaan Air Minum) Jaya. Tapi, IPA Cilandak yang dibangun awal 1970-an telah melayani puluhan ribu pelanggan yang tersebar dari Cilandak, Cipete, Gandaria, Kebayoran Lama, Ragunan, Pasarminggu, Kalibata, Pejaten, Mampang, bahkan sampai ke Tebet.

Manfaat yang besar itu ternyata tidak membuat Kali Krukut terjaga keandalannya. Dari hulu sungai ini sudah tercemar oleh limbah rumah tangga yang cair maupun padat. Seringkali, IPA PAM Jaya di Cilandak sering kewalahan harus mengolah air baku dengan cemaran amunium yang tinggi. Namun, secara fisik Kali Krukut ini benar-benar mengalami tekanan dan menyempit sejak dari Ciganjur.

Bukan hanya bantaran sungai yang dianeksasi warga, badan sungai pun dilalapnya. Maka, ke arah hilir bukannya melebar dan makin dalam, justru menyempit dan dangkal karena sedimentasi dan sampah. Ruas sungai yang kritis ini panjangnya 7,5 km, dari Cinere, Lebakbulus, sampai ke Kemang dan Bangka. Lepas dari Bangka, Kali Krukut sudah dinormalisasi hingga ujungnya di Pejompongan tempat kali bermuara ke Kanal Banjir Barat di Jakarta Pusat.

Di ruas yang bermasalah itu, Kali Krukut benar-benar menderita: dijepit tembok bangunan, ditekan fondasi rumah, ditindih jalan tol, dan dikangkangi carport. Dari yang semula lebarnya di hulu 10-15 meter, di tempat-tempat tersebut Kali Krukut dicekik hingga tinggal 4-5 meter. Sialnya, tak mudah untuk menormalisasikannya. Para warga yang menganeksasi badan kali itu dilindungi dengan SHM, sertipikat hak milik. Ada IMB (ijin mendirikan bangunan) pula.

Kondisi daerah  aliran sungai (DAS) Krukut juga makin menyedihkan. Tidak banyak lagi area terbuka hijau. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat, bahwa koefisien limpasan di DAS ini sudah mencapai 75%. Artinya, untuk setiap 100 liter air hujan hanya 25 liter yang terserap tanah atau teruapkan lagi ke udara. Yang 75 liter jadi air limpasan. Padahal, kapasitas Krukut mengalirkan arus sudah menyusut  66% dibandingkan 40 tahun lalu: dari 150 m3 per detik menjadi 50 m3/detik saja.

Bayangkan, kalau  hujan deras 100 mm turun serentak di Jakarta Selatan hingga Depok dan Citayam dalam setengah hari. Tak pelak lagi, jutaan meter kubik air akan berebut menghilir lewat Kali Krukut dan akan meluap ke kiri dan kanan. Genangan banjir tak terelakkan.

Normalisasi sungai adalah solusinya. Langkah normalisasi ini tak hanya melempangkan sungai saja, melainkan bisa juga menjadi momentum untuk meluruskan hukum.

Kondisi Kali Krukut di kawasan Kemang. Sumber foto: Istimewa

Sungai Krukut Bawah

Sejak Banjir Kanal Barat dioperasikan 1922, ruas Kali Krukut bagian hilir praktis lenyap. Air yang dari Citayam, Depok, Ciganjur, Cinere, dan wilayah Jakarta Selatan, semuanya tumpah ke Banjir Kanal di Penjernihan, Pejompongan. Di seberang, kawasan Kebon Pala, Kali Krukut berubah menjadi selokan besar yang mengalir ke Pasar Tanahabang.

Tak berarti seluruhnya jadi kali mati, sebab sejak dari  Tanahabang hingga ke muaranya di Pelabuhan Sunda Kelapa, Kali Krukut menjadi kanal kota yang lebar dan lurus. Yang unik,  di ruas ini sebutannya pun berubah-ubah. Ada segmen yang disebut Kali Cideng, selanjutnya Kali Krukut, dan yang mengalir di Kota Tua (di sebelah Barat Museum Fatahillah) disebut Kali Besar (atau Kali Besar Timur).

Dari peta Carte des Environs de Batavia terbitan 1750 terlihat, bahwa Kali Krukut ketika itu sudah dinormalisasi. Hasilnya, sebuah kanal selebar 20-40 meter membujur ke arah Utara-Selatan. Dulu, perahu-perahu antarpulau bisa bersandar dan bongkar muat di sana. Bahkan di satu sisi kanal itu ada industri galangan kapal. Kini, kanal itu disebut Kali Besar Timur.

Kali  Besar Timur itu mengalir ke utara dan bercabang. Kanal utamanya lurus ke Utara dan bertemu  dengan aliran Kali Ciliwung di sebuah kolam besar sebelum bersama-sama menghilir ke Pelabuhan Sunda Kelapa. Sementara itu, cabang Krukut yang  bergerak ke arah Barat Laut lewat kanal buatan, bermuara  ke Waduk Pluit yang dulunya adalah pantai berawa. Jejaknya sebagai kali buatan di Pluit ini tampak dari namanya yang disebut Kali Muara Baru.

Tapi, mengapa kanal itu disebut Kali Baru Timur? Rupanya, sekitar 1,5 ke hulu, sebelum masuk ke kawasan Kota Tua itu, Kali Krukut yang sudah lempang itu telah disudet. Ada cabang kanal lain ke Barat lalu berbelok ke Utara dan berakhir di kanal Muara Baru itu pula. Ruas kanal yang  kedua ini yang di sebut Kali Baru Timur.

Rekayasa sungai ini tak berhenti di situ. Dari Kali Baru Barat itu dibangun pula saluran sudetan ke arah Barat yang ujungnya bermuara ke Kali Angke. Dengan begitu, ada konektivitas aliran air Kali Krukut dengan Kali Angke lewat kanal yang dilengkapi dengan pintu-pintu air itu. Tujuannya untuk mengontrol debit air sungai. Bila arus Krukut terlalu deras, sebagian air dialirkan ke Kali Angke dan Pluit (lewat Kali Muara Baru). Batavia aman dari genangan banjir. Canggih.

Dari babakan sejarah Kali Krukut  bagian bawah (hilir) ini ada pesan kuat tentang bagaimana warga  kota berurusan dengan sebuah sungai. Kalaupun bentang alamnya tak bisa dipertahankan seperti sedia kala, tindakan rekayasa sah-sah saja. Normalisasi, kanal sudetan, interkoneksi antarsungai, mengapa tidak. Yang penting, sebagai “infrastruktur” lingkungan, kali tersebut bisa memberikan manfaat yang besar bagi masyarakat dan ekosistem kota. (P-1)

Wisata
Ragam Terpopuler
Menjaga Kekhidmatan, Pesta Adat Erau dan TIFAF Digelar Terpisah
Pesta tradisional kesultanan Kutai ing Martadipura “Erau” dan Tenggarong Internasional Folk Art Festival digelar terpisah di bulan September. Keduanya dipisah untuk menjaga kekhidmatan tra...
Menikmati Budaya dan Burung Migrasi di Danau Limboto
Satu lagi agenda wisata di September 2019. Sebuah kegiatan festival akan diselenggarakan di Gorontalo. Kegiatan ini adalah Festival Pesona Danau Limboto 2019 yang rencananya diselenggarakan pada 21--2...
Menikmati Keindahan Alam Pantai dan Budaya Nias
Bila Anda masih bingung menentukan tempat mana untuk berlibur dan berwisata pada September nanti, Nias bisa jadikan sebagai pilihan utama. Pasalnya, pada 14 September akan ada puncak acara Sail N...
Hamzah Sang Aulia Lagi Mulia
Penemuan makam Tuan Hamzah dari Pancur jika diperbandingkan dengan catatan penjelajah Ibnu Battuta akan memperkuat beberapa hal. ...
Etika Kepemimpinan Jawa
Demikianlah, menjadi seorang raja dalam konstruksi etika kepemimpinan dalam budaya Jawa dituntut memiliki delapan laku, atau delapan sifat, atau delapan watak, yang bersifat keillahian dengan merujuk ...
Tuan Pancur di Tanah Suci
Jika salinan catatan dari nisan Hamzah Al Fansuri bisa dipastikan kebenarannya, maka bangsa Indonesia harus berterima kasih pada seseorang yang bernama Hassan Mohammed El Hawary. ...
Memilih Akhir Bersama Yang Terkasih
Konon para pengajar Mbah Moen inilah yang menjadi sosok-sosok terkasih yang dicintai Mbah Moen. Sampai-sampai setiap ada kesempatan di musim haji, Mbah Moen selalu pergi haji walaupun dalam kondisi ya...
Leluhur Nusantara di Tanah Tinggi
Siapa sangka pekuburan di tanah tinggi Mekah ternyata menyimpan sejarah ulama Nusantara, bahkan yang lebih lama. Seperti tokoh besar Hamzah Al Fansuri, yang diperkirakan hidup di abad 16, dan Mas'...
Mitos-mitos Dewi Laut di Nusantara
Sekalipun analisis sejarah Pram katakanlah “benar”, bahwa “perkawinan spiritual” Kanjeng Ratu Kidul dengan raja-raja Mataram ialah sekadar upaya membangun legitimasi kekuasaan ...
Festival Lembah Baliem sudah 30 Tahun
Usia Festival sudah termasuk tua, 30 tahun. Tapi Festival Lembah Baliem di Kabupaten Jaya Wijaya ini semakin memikat. ...