Bahasa | English


SEJARAH KOTA

Mengenang Indahnya Medan Masa Lalu

21 November 2019, 04:59 WIB

Dahulu, kota Medan berupa rawa-rawa seluas 4.000 Ha dan dikenal sebagai Tanah Deli. Lalu Belanda menguasainya dan mendirikan Gemeente (kotapraja) di bawah Hindia Belanda pada tahun 1909 setelah perlawanan dahsyat dari penduduk lokal. Mereka membangun infrastruktur dengan perencanaan matang dan modern.


Mengenang Indahnya Medan Masa Lalu Kesawan Tempo dulu. Foto: Arsip Nasional

Saat itu Medan masih terdiri dari 4 kampung yaitu Kampung Kesawan, Kampung Sugai Rengas, Kampung Petisah Hulu dan Kampung Petisah Hilir dan berada di dua aliran sungai yaitu Sungai Deli dan Sungai Babura. Total total penduduk saat itu sekitar 44 ribu jiwa yang terdiri dari penduduk lokal, Cina, Eropa dan Timur asing lainnya seperti India.

Sejak menguasai kota Medan, Pemerintah Hindia Belanda memposisikan kota itu sebagai pusat pemerintahan dan perdagangan (ekspor-impor) dan membangunnya sebagai representasi kota besar yang rapi. Rumah dan kantor yang umumnya luas, mereka rencanakan tata letaknya dengan cermat. Juga drainase besar, jaringan listrik, telepon, gas, dan pelabuhan yang memadai kala itu.

Belanda juga tak melupakan konsep kota hijau (the green city) dimana pohon mahoni, kecapi, dan pohon keras lainnya ditanam di jalanan tengah kota. Keteduhan mewarnai Medan masa lalu. Mahoni ditanam sepanjang jalan menuju ke Pelabuhan Belawan yang panjangnya 25 km dari pusat kota.

Alun-alun juga mereka lengkapi dengan pohon-pohon beringin di sekelilingnya dan bernama Esplanade, artinya lapangan yang luas. Ada stasiun kereta api (Deli Spoorweg Matchapij), hotel (Hotel De Boer), bank (The Javashce Bank) dan kantor pos (Post Kantoor).

Pembangunan infrastruktur itu tak lepas dari kebutuhan perusahaan-perusahaan milik Belanda termasuk perkebunan di sekitar Medan. Masa itu, Medan dan wilayah di sekelilingnya merupakan perkebunan. Di samping karet dan kelapa sawit, Belanda juga menanam tembakau Deli yang amat terkenal di Eropa.

Detail perencanaan dan pembangunan kota Medan tak lepas dari keinginan mereka agar kota ini dapat berfungsi baik dan efisien. Untuk itu Belanda juga membangun kompleks toko yang menyediakan kebutuhan masyarakat Medan masa itu yang mudah dijangkau oleh banyak pihak dalam blok-blok yang rapi. Di bawah jalan di tengah kota ditanam riol yang sangat besar, tempat pembuangan air limbah.

Jalur air juga dibangun karena kota Medan berada di dataran yang rendah (DAS Deli) yang menerima air dari tanah Karo yang merupakan daerah pegunungan. Mereka juga tidak lupa membangun Waterleiding (PAM) dimana airnya dapat diminum tanpa dimasak. Mereka bangun juga rumah sakit, pasar, pembangkit listrik dan air bersih dibangun secara terpisah dan berjarak, sehingga tidak terpusat pada satu titik yang bisa memicu kemacetan.

Medan Baru, Hilangnya Keindahan dan Keteduhan Kota

Setelah Indonesia merdeka muncul ide untuk menata kota seperti rancangan gemeente (kotapraja). Sekitar tahun 1950-an dikembangkan wilayah baru Medan yang kemudian dikenal sebagai Medan Baru. Daerah ini awalnya memang terlihat sebagai wilayah yang terinspirasi tata kelola Eropa tetapi seiring berjalannya waktu, daerah Medan Baru lebih sarat dengan visi bisnis. Perkembangan ekonomi daerah dan masyakatnya memang mempengaruhi harapan mereka terhadap kotanya sendiri.

Kini kota Medan yang punya luas 265,10 km2 memang telah berubah, mengikuti perkembangan zaman karena beban yang juga menggunung. Penduduk kota kini sekitar 2,3 juta dan bertambah pada siang hari.

Mayoritas penduduk kota Medan adalah penduduk lokal seperti suku Melayu, Batak, Mandailing, dan Karo. Juga suku Jawa sebagai pendatang terbanyak dan ditambah keturunan India dan Tionghoa. Khusus suku India dan keturunannya, mereka tinggal di sekitar Jl Zainul Arifin atau lebih dikenal sebagai Kampung Keling.

Seiring perkambangan zaman, terjadilah perubahan pola pemukiman kelompok-kelompok etnis di kota Medan. Etnis Melayu yang merupakan penduduk asli kota, kini banyak yang tinggal di pinggir kota. Etnis Tionghoa dan Minangkabau banyak yang tinggal di sekitar pusat-pusat perbelanjaan.

Orang Mandailing memilih tinggal di pinggiran kota yang lebih nyaman, sehingga mereka menjual rumah dan tanah mereka di tengah kota, seperti di Kampung Mesjid, dan Sungai Mati. Bandar Udara Kualanamu yang mengganti fungsi Bandar Udara Polonia yang dibangun jauh dari pusat kota Medan, mewarnai perkembangan kota ini.

Esplanade sebagai paru-paru kota dan tempat jeda bagi sebagian penduduknya melepas penat, sebagian kini sudah berubah menjadi cafe, toko buku bekas dan kantor polisi. Beberapa bangunan baru bermunculan seiring dengan kebutuhan penduduknya. Kini yang terlihat adalah gedung-gedung perkantoran baru yang menjulang, mal, dan hotel yang menyeruak di sela-sela bangunan masa lalu nan indah.

Jadi, jika kita meninggalkan kota Medan dalam beberapa puluh tahun yang lalu, kemudian kini kita kembali ke Medan maka mungkin kita akan kehilangan sesuatu, utamanya kehilangan keindahan dan keteduhan kota terbesar ketiga di Indonesia ini.

Kita hanya bisa bisa menangkap sedikit aura keindahan dan keteduhan Medan di masa lalu, berupa beberapa pohon tua yang tersisa, gedung balai kota lama, kantor pos Medan, menara air dan titi gantung serta gedung London Sumatera (Lonsum). Juga Istana Maimun, Mesjid Raya Medan dan juga rumah Tjong A Fie di kawasan Jl Jenderal Ahmad Yani, Kesawan. Inilah Medan kini. (K-CD)

Sejarah
Wisata
Ragam Terpopuler
Kota Bunga Tomohon dan Serba Tujuhnya
Banyak orang sepakat bahwa Tomohon adalah salah satu destinasi wisata yang memikat. Wisatawan datang ke sana tidak hanya karena indahnya bunga dan alamnya, tapi juga keragaman budaya dan tolerans...
Martabat Tujuh dan Konstitusi Kasultanan Buton
Seturut konstitusi Martabat Tujuh, bicara penegakan hukum (law enforcement) saat itu bisa dikatakan tidaklah tebang pilih. Siapapun yang terbukti bersalah bakalan diganjar sesuai dengan aturan hukum y...
Ratu Kalinyamat, Membangkitkan Kembali Politik Maritim Nusantara
Sampai di sini, legenda Nyai Lara Kidul yang berkembang di Pamantingan jika dikaitkan dengan sejarah kebesaran Ratu Kalinyamat alias Ratu Arya Japara yang menyebal menjadi Ratu Pajajaran menjadi sanga...
Restorasi yang Urung di Situs Kawitan
Dulu pernah ada keinginan warga sekitar untuk “merestorasi” situs Kawitan yang ditemukan pada kurun 1965-1967. Namun hal itu tidak terealisasi karena jiwa yang malinggih di situs tersebut ...
Keselarasan Keanekaragaman di Satu Kawasan
Di atas tanah seluas 25 ribu hektar, berdiri miniatur hutan Indonesia. Beraneka ragam tanaman hutan bisa ditemui di sana. ...
Menikmati Sensasi The Little Africa of Java
Dulu, mungkin tak pernah terpikirkan untuk merancang liburan di Banyuwangi. Sebuah kota kecil di ujung Pulau Jawa. Tapi kini, magnet wisata di Banyuwangi cukup kuat dan beragam jenisnya. ...
Wisata Heritage Berbasis Masyarakat ala Surabaya
Surabaya memiliki destinasi wisata heritage kedua, Peneleh City Tour, Lawang Seketeng, di kawasan Peneleh. Sebelumnya, Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya berhasil mengelola wisata haritage pertama...
Kampung Batik Laweyan, Saksi Bisu Industri Batik Zaman ke Zaman
Berkunjung ke kota Solo kurang lengkap bila tak mendatangi Kampung Batik Laweyan (KBL). Sebuah sentra industri batik legendaris yang telah berdiri sejak 500 tahun lalu. Batik sudah menyatu dengan...
Mengintip Baileo, Rumah Adat Suku Huaulu
Banyak pesona pada rumah adat Baileo, milik suku Huaulu penduduk asli Pulau Seram, Ambon. Baileo memiliki arti penting dalam eksistensi suku Huaulu. Hal itu bukan saja karena Baileo berfungsi seb...
Basale, Ritual Permohonan Kesembuhan Suku Anak Dalam
Ritual memohon kesembuhan kepada Dewata, banyak kita jumpai di berbagai etnis di Nusantara. Sebut saja upacara Badawe yang dilaksanakan Suku Dayak kemudian ada rutal Balia yang dipraktikkan oleh ...