Bahasa | English


SEJARAH KOTA

Surabaya Bertransformasi dari ‘Kota Neraka’ Jadi Kota Wisata

26 November 2019, 08:58 WIB

Pasukan Inggris menjuluki Surabaya sebagai ‘kota neraka’ karena pertempuran Sekutu melawan Indonesia sepanjang bulan November 1945. Tak banyak yang menyangka, Surabaya yang awalnya tak punya wisata unggulan kini menduduki peringkat teratas kota pariwisata terbaik Indonesia versi Yokatta Wonderful Indonesia Tourisme Award tahun 2018 mengalahkan Denpasar. 


Surabaya Bertransformasi dari ‘Kota Neraka’ Jadi Kota Wisata Peristiwa 10 November 1945. Foto: Arsip Nasional

Sebagai kota besar kedua di Indonesia setelah Jakarta, Surabaya tak ubahnya seperti kota-kota lain yang punya pelabuhan yang sibuk, pabrik dan pasar yang tidak berhenti berdenyut, sekolah dan universitas terbaik di provinsi JawaTimur dan segudang kegiatan lainnya. Dapat dikatakan Surabaya waktu itu adalah kota bisnis dan tak punya modal untuk menjadi destinasi wisata yang menarik perhatian pengunjung.

Dua puluh tahun lalu Surabaya digambarkan sebagai kota panas, sibuk dan tak menarik. Punya Pantai Kenjeran yang tak lebih dari pantai kumuh dan punya konotasi negatif, karena sering dipakai sebagai kegiatan mesum. Kini gambaan itu sirna. Kota ini tak hanya menjadi kota bisnis yang sibuk tapi juga kota yang layak dikunjungi oleh wisatawan domestik dan mancanegara.

Kota ini punya Indeks Pariwisata Indonesia (IPI) terbaik bersama Bali. Jika kita berjalan mengelilingi Surabaya dan dimulai dari pelabuhan, kita akan tercenung. Terminal Gapura Surya Nusantara alias pelabuhan Tanjung Perak yang dikelola PT Pelindo III menyulap lantai dua dan lantai tiga kantor pelabuhan ini menjadi tempat wisata umum yang bernama Surabaya North Quay. Nama yang mirip Clark Quay di pinggir sungai Singapura.

Di tempat ini orang bisa menikmati live music, atraksi seni, pameran produk komunitas sampai kuliner khas Surabaya, sambil melihat kegiatan kapal pesiar yang bersandar di Surabaya. Atau sekadar menikmati matahari tenggelam di kawasan itu. Jauh dari kesan 20 tahun lalu dimana pelabuhan adalah tempat sesak dan pikuk ketika kapal sedang sandar.

Jika beranjak ke arah lebih timur, kita akan mendapati jembatan Suramadu yang menghubungkan kota Surabaya dengan Pulau Madura, lalu Kenjeran yang sudah tertata dengan baik. Ada Kenjeran lama yang dikelola oleh Pemkot Surabaya dan Kenjeran baru yang dikelola oleh pihak swasta. Pemkot Surabaya menata Kenjeran lama menjadi daerah pantai yang bersih dengan perkampungan nelayan tertata rapi. Ada kapal-kapal nelayan yang bisa membawa kita berkeliling pantai itu.

Lalu kita akan mendapati Kenjeran Baru (Kenjeran Park) yang berkonsep wisata kekinian dan diproyeksikan bakal bisa menyamai Universal Studio. Di sini tersedia hiburan untuk keluarga, antara lain ada Waterpark, Sky Dome yang punya tinggi 57 meter yang merupakan duplikasi dari Temple of Heaven di Beijing. Ada juga Klenteng Sanggar Agung, patung Budha Catur Muka, Kincir Angin, patung Dewi Kwan Im dan wahana bermain Atlantis Land. Juga Taman Air Mancur Menari yang bisa kita nikmati menuju kampung nelayan atau dikenal sebagai Sentra Ikan Bulak. Kenjeran kini jauh dari kesan kumuh dan mesum.

Masih tidak jauh dari laut, ada sebuah ekowisata yaitu Wisata Mangrove Wonorejo yang menempati lahan seluas 800 hektar dan dibangun pada tahun 2010. Hutan mangrove ini dibangun oleh warga sekitar untuk menghindari abrasi yang sering terjadi di pantai timur Surabaya. Selain menikmati alamnya, kita bisa melihat beberapa satwa yang dilindungi seperti kera ekor panjang atau burung raja udang (kingfisher) yang berwarna biru cantik. Tersedia perahu yang membawa wisatawan untuk masuk dalam hutan mangrove tersebut.

Sedangkan Surabaya selatan dan Surabaya pusat, transformasi juga dilakukan antara lain dengan dominannya jalan yang lebar dan banyaknya taman kota, juga pedestrian yang teduh dan nyaman. Taman Bungkul yang terletak di jantung kota Surabaya merupakan taman favorit bagi warga Surabaya melepas lelah pada hari minggu pagi. Taman minimalis nan modern ini pernah dinobatkan PBB menjadi taman terbaik se Asia pada tahun 2013.

Ada juga Taman Pelangi, Taman Kebun bibit di daerah Bratang, Taman Ekspresi yang mewadahi ekspresi karya seni dari masyarakatnya, dan Taman Mundu yang terletak di daerah Tambaksari. Tugu Pahlawan, Museum Sepuluh November dan Monumen Bambu Runcing juga dipercantik. Transformasi ini juga terjadi di Surabaya barat yang dahulu gelap dan terkesan angker. Kini bagian kota ini penuh dengan bangunan beton, tapi terkesan teduh, dimana pusat kuliner dipadu dengan pusat perbelanjaan, mirip Singapura.

Kini wisata belanja bawah tanah sedang dibangun di sekitar Balai Pemuda jl Pemuda, jl Yos Sudarso, jl Panglima Sudirman dan jl Gubernur Suryo. Wisata ini akan menampilkan berbagai karya seni, stan kuliner dan produk UMKM warga Surabaya.

Berbagai upaya yang dilakukan Pemkot Surabaya memberi kesan Surabaya lebih ramah dan teduh, terutama dengan banyaknya pohon dan taman, juga jalan yang cukup lebar. Kesan ini sangat berbeda dengan 20-30 tahun lalu. Percaya atau tidak berbagai usaha serius ini mampu mendongkrak jumlah wisatawan di Surabaya dari 15 juta pada tahun 2015 menjadi 27 juta pada tahun 2018.

Ciptakan Pahlawan Ekonomi

Transformasi juga dilakukan di bidang ekonomi dan Sumber Daya Manusia (SDM). Mereka memiliki program Ibu, Pahlawan Ekonomi dan Pejuang Muda yang fokus pada pemberdayaan ibu rumah tangga dan pemuda dari keluarga miskin untuk mengembangan bisnis skala Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM).

Mereka diberi pelatihan teknis, dan pendampingan komprehensif (pengolahan, disain kemasan, managemen dan pemasaran) untuk usahanya itu. Pada tahun 2010 hanya ada 92 orang yang mengikuti program ini. Pada tahun 2017 jumlahnya mencapai 8565 dan tahun 2018 mencapai sekitar 9100 UMKM yang sudah mengikuti program ini. Hasilnya nyata. Roda ekonomi masyarakat berputar dengan baik dan angka kemiskinan dapat ditekan dari rerata 7 % kini menjadi 5 % penduduk miskin per tahun 2018.

Selain itu kota ini punya Broadband Learning Center (BLC) sebagai tempat warga meningkatkan kapasitas digitalnya. Mereka tak saja diajari piawai menggunakan komputer dan internet tapi juga memanfaatkannya secara maksimal, seperti membuat disain, pemasaran melalui sosial media dll. Persertanya adalah warga Surabaya yang mau belajar digital, dari profesi pekerja informasl seperti sopir angkot, ibu rumah tangga, sampai pelajar. Uniknya, sebagian BLC tidak membangun tempat khusus, namun memanfaatkan bangunan dekat taman-taman kota, kantor kecamatan, dan sekolah, bahkan ada BLC yang berada di rumah susun.

Surabaya si ‘kota neraka’ ini memang sudah berubah. Perubahannya tidak saja pada hal yang menyangkut fisik seperti bangunan yang menjulang dan tak ada lagi banjir, tapi juga mindset warganya untuk selalu produktif dalam berkarya. Bagi pemerintah daerah, rahasia transformasi Surabaya ini adalah penerapan program SDGs (Sustainable Development Goals) di setiap aspeknya. (K-CD)

Sejarah
Wisata
Ragam Terpopuler
Kota Bunga Tomohon dan Serba Tujuhnya
Banyak orang sepakat bahwa Tomohon adalah salah satu destinasi wisata yang memikat. Wisatawan datang ke sana tidak hanya karena indahnya bunga dan alamnya, tapi juga keragaman budaya dan tolerans...
Martabat Tujuh dan Konstitusi Kasultanan Buton
Seturut konstitusi Martabat Tujuh, bicara penegakan hukum (law enforcement) saat itu bisa dikatakan tidaklah tebang pilih. Siapapun yang terbukti bersalah bakalan diganjar sesuai dengan aturan hukum y...
Ratu Kalinyamat, Membangkitkan Kembali Politik Maritim Nusantara
Sampai di sini, legenda Nyai Lara Kidul yang berkembang di Pamantingan jika dikaitkan dengan sejarah kebesaran Ratu Kalinyamat alias Ratu Arya Japara yang menyebal menjadi Ratu Pajajaran menjadi sanga...
Restorasi yang Urung di Situs Kawitan
Dulu pernah ada keinginan warga sekitar untuk “merestorasi” situs Kawitan yang ditemukan pada kurun 1965-1967. Namun hal itu tidak terealisasi karena jiwa yang malinggih di situs tersebut ...
Keselarasan Keanekaragaman di Satu Kawasan
Di atas tanah seluas 25 ribu hektar, berdiri miniatur hutan Indonesia. Beraneka ragam tanaman hutan bisa ditemui di sana. ...
Menikmati Sensasi The Little Africa of Java
Dulu, mungkin tak pernah terpikirkan untuk merancang liburan di Banyuwangi. Sebuah kota kecil di ujung Pulau Jawa. Tapi kini, magnet wisata di Banyuwangi cukup kuat dan beragam jenisnya. ...
Wisata Heritage Berbasis Masyarakat ala Surabaya
Surabaya memiliki destinasi wisata heritage kedua, Peneleh City Tour, Lawang Seketeng, di kawasan Peneleh. Sebelumnya, Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya berhasil mengelola wisata haritage pertama...
Kampung Batik Laweyan, Saksi Bisu Industri Batik Zaman ke Zaman
Berkunjung ke kota Solo kurang lengkap bila tak mendatangi Kampung Batik Laweyan (KBL). Sebuah sentra industri batik legendaris yang telah berdiri sejak 500 tahun lalu. Batik sudah menyatu dengan...
Mengintip Baileo, Rumah Adat Suku Huaulu
Banyak pesona pada rumah adat Baileo, milik suku Huaulu penduduk asli Pulau Seram, Ambon. Baileo memiliki arti penting dalam eksistensi suku Huaulu. Hal itu bukan saja karena Baileo berfungsi seb...
Basale, Ritual Permohonan Kesembuhan Suku Anak Dalam
Ritual memohon kesembuhan kepada Dewata, banyak kita jumpai di berbagai etnis di Nusantara. Sebut saja upacara Badawe yang dilaksanakan Suku Dayak kemudian ada rutal Balia yang dipraktikkan oleh ...