Lokasi Kamu : (Showing) Jakarta Kota
Bahasa | English


ALAT MUSIK TRADISIONAL

Canang Kayu, Warisan Tak Benda dari Aceh

Wednesday, 20 Febuary 2019

Canang kayu merupakan alat musik tradisional khas Aceh Singkil yang kerap digunakan sebagai pengiring pertunjukan tari tradisional di berbagai acara perayaan dan upacara adat. Pada 2016 Canang Kayu dinobatkan sebagai salah satu Warisan Tak Benda asal Aceh.


Canang Kayu, Warisan Tak Benda dari Aceh Alat musik tradisional, Canang Kayu. Sumber foto: Museum Aceh

Musik tradisional merupakan suatu seni suara yang ada dan berkembang di suatu daerah tertentu dan diwariskan turun-temurun. Selain tari-tarian, pakaian, dan adat istiadat lainnya, musik tradisional merupakan salah satu gambaran kebudayaan dari suatu daerah. Musik tradisional juga bisa sebagai pengenal ciri khas budaya dan adat dari daerah tertentu.

Indonesia memiliki begitu banyak musik tradisional yang mewakili daerahnya. Provinsi Aceh, tepatnya Kabupaten Aceh Singkil, memiliki canang kayu atau instrumen musik canang kayu sebagai musik tradisionalnya. Instrumen musik tradisional tersebut dimainkan dan dipopulerkan oleh masyarakat Aceh Singkil. Mulanya, canang kayu digunakan hanya digunakan sebagai alat musik penghibur bagi para petani. Lambat laun canang kayu digunakan saat mengiringi pertunjukan tari tradisional pada berbagai acara perayaan dan upacara adat, hingga menjadi alat tradisi bagi masyarakat Aceh Singkil.

Alat musik canang kayu terbuat dari kayu pilihan dari pohon cuping dan kayu tarok, atau masyarakat Aceh Singkil biasa menyebutnya sebagai kayu trep. Kayu yang memiliki diameter 2-3 meter kemudian dipotong kurang lebih 40 sentimeter. Lalu kayu tersebut dibelah menjadi dua bagian. Nantinya yang dimainkan ada 3-4 kayu dengan panjang yang sama. Tidak asal pilih, ternyata kayu-kayu yang dibuat menjadi alat musik tradisional dipilih dengan begitu teliti hingga melahirkan kayu dengan nada yang harmonis ketika dipukul.

Alat pemukul canang kayu dibuat dari batang kayu pohon jambu. Menariknya, para pemain canang kayu biasanya bermain alat musik tersebut sambil berselonjor di lantai, kemudian menabuh balok-balok kayu yang disusun di atas kedua kaki secara bergantian sehingga menciptakan suara khas kayu dan menciptakan alunan musik yang merdu serta harmonis. Irama musik tradisional canang kayu akan lebih ramai dan merdu jika diiringi dengan tabuhan alat musik tradisional lainnya, misalnya gendang dan talam.

Canang kayu juga dapat dimainkan dengan cara menyusunnya di atas kotak kayu dan ditabuh. Masyarakat Aceh percaya bahwa para leluhurnya dahulu memainkan dengan menaruh canang kayu di atas kedua kaki mereka.

Pelestarian Canang Kayu

Pada 2016, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia (RI) menobatkan canang kayu dan warisan budaya lainnya sebagai salah satu warisan budaya tak benda Aceh. Warisan budaya lainnya yaitu tradisi Mak Meugang, Seni tutur Nandong dari Simeulue, Tari Guel dari Bener Meriah, Tari Likok Pulo dari Aceh Besar, Tradisi Pacu Kude dari Aceh Tengah, Menatkahen Hinei dari Aceh Singkil, dan Meracu dari Aceh Selatan. disbudpar.acehprov.go.id

Di era modern, kini canang kayu telah banyak berganti material, yakni tembaga. Menurut Sahibuddin, seniman canang kayu, suara yang dihasilkan canang dari kayu dan tembaga berbeda. Bersama dua rekannya, Sahibuddin merupakan generasi tua yang masih memainkan canang dengan bahan kayu.

Hingga kini, Sahibuddin dan rekannya masih terus melestarikan alat musik tradisional canang kayu. Mereka mendirikan Kelompok Adat Aceh Singkil yang beranggotakan kurang lebih 30 orang pemain canang dan beberapa penari perempuan.

Sahibuddin masih berupaya menarik para pemuda untuk belajar bermain alat tradisional canang kayu demi menjaga kelestariannya. Ia juga menjelaskan bahwa selain menghibur, canang kayu juga berguna untuk mengobati rematik dengan cara meletakkan canang di atas kedua kaki. Menurutnya, kaki akan terasa seperti diurut. acehkita.com

Selain itu, ada Grup musik Destanada II yang anggotanya merupakan anak-anak muda asli Aceh Singkil merupakan kelompok musik yang gencar mengenalkan instrumen musik canang kayu. Mereka kerap tampil dengan diiringi rebana, dan alat musik modern lain seperti drum dan gitar.

Setelah menjadi juara I di Pekan Kebudayaan Aceh ketujuh dalam kategori garapan musik tradisi, grup Destanada II tampil dan berhasil membuat penonton berdecak kagum pada Asian Games 2018 yang diadakan di Indonesia.

Semula, canang kayu hanya memiliki tiga nada dasar. Tapi, grup musik etnik Destanada II kemudian memodifikasi alat tradisional tersebut hingga memiliki delapan nada dasar. Proses modifikasi tersebut telah mendapatkan izin dari tetua Aceh Singkil.

Grup musik etnik tersebut kini telah membuat mini album yang berisi enam lagu di dalamnya. Lagu-lagu tersebut menggunakan bahasa khas Aceh Singkil. Dengan pelestarian yang dilakukan grup tersebut, mereka berharap agar masyarakat Aceh Singkil bangga akan budayanya sendiri. Selain itu, mereka juga berharap budaya khas yang mereka miliki dikenal masyarakat luas.

Memang sudah seharusnya generasi muda masa kini ikut bangga dan melestarikan kebudayaan yang dimiliki Bumi Pertiwi yang kaya ini. Sebab, nenek moyang kita telah susah payah menjaga berbagai budaya dan adat istiadat yang dimiliki Indonesia. (T-1)

Seni
Ragam Terpopuler
Membangun Bersama Masyarakat Adat
Otonomi Khusus Provinsi Papua dan Papua Barat memberikan semangat serta optimisme bagi percepatan pembangunan di bumi Cenderawasih. Kabupaten Jayapura melaksanakannya dengan pelibatan masyarakat adat ...
Tren Positif Film Indonesia
Industri perfilman Indonesia semakin berkembang. Tren positip dan konsisten baik dari jumlah penonton maupun jumlah judul yang terdata sejak  tahun 2016-2018. ...
The Mandalika yang Mendunia
Bermaksud menggeber popularitas dan branding Mandalika sebagai destinasi tingkat dunia, Indonesia mengajukan diri sebagai fasilitator event MotoGP di 2021. Upaya mewujudkan langkah strategis itu digel...
Melihat Burung Cenderawasih dari Jarak Dekat
Di Bird Watching Isyo Hills ini, kita bisa melihat 8 jenis burung Cenderawasih dari 28 jenis Cenderawasih yang ada di Papua. Lokasinya pun tak jauh dari jalan utama Distrik Nimbokrang, Kabupaten ...
Kopi Wonogiri, Potensi Kopi Lokal Berkualitas
Yang mengejutkan, ditemukan ratusan pohon kopi jenis Liberica berusia tua yang berada di area hutan pinus Dusun Ngroto, Desa Sukoharjo, Kecamatan Tirtomoyo pada pertengahan Februari 2019. ...
Cerita Di Balik Digitalisasi Naskah Keraton Yogyakarta
Kini projek digitalisasi naskah merupakan upaya pengembangan kekayaan naskah yang tidak ternilai harganya. Kemudahan akses teknologi digital pun membuat pengembangan lebih menjadi kian memungkinkan. ...
Makna Ritual Nyepi
“Melalui ritual catur bratha penyepian masyarakat Bali telah turut aktif dalam upaya mengurangi dampak global warming. Bagaimana tidak, sebuah kota internasional melakukan 24 jam tanpa listrik m...
Siwa-Budha, sebuah Praktik Filsafat Perenialisme
Bagaimanapun, keberhasilan strategi kebudayaan ala filsafat perenialisme yang terejawantahkan dalam mazhab Siwa-Budha, juga mengejawantah pada praktik kehidupan agama yang toleran, damai, dan harmoni ...
Keindahan Wisata Jayapura
Kabupaten Jayapura dianugerahi keindahan alam yang menakjubkan. Deretan perbukitan berpadu harmonis dengan keelokan Danau Sentani. Kicauan dan kepak burung Cenderawasih nan eksotik, dipadu kecant...
KEK Pariwisata Morotai dan Rempah-Rempah Maluku
Kebijakan menetapkan Pulau Morotai sebagai KEK Pariwisata diharapkan membuat kepulauan ini kembali masyhur, laiknya rempah-rempah, pala, dan cengkih yang telah membuat berbagai bangsa di dunia berdata...