Bahasa | English


MUSIK TRADISIONAL

Dentingan Sape’ Meremukkan Tulang Belulang

4 April 2019, 09:15 WIB

Sape’ digunakan masyarakat Dayak sebagai alat musik untuk menyatakan sebuah perasaan; baik riang ataupun sedih.


Dentingan Sape’ Meremukkan Tulang Belulang Alat musik tradisional sape'. Sumber foto: Pesona Indonesia

Indahnya dentingan melodi tak hanya terdengar melalui alat musik yang kata orang modern sekarang bernama Gitar. Petikan demi petikan dimainkan menghasilkan alunan nada yang memukau setiap sudut penyimaknya. Sebut saja Sape', alat musik khas dayak yang satu ini tidak hanya bentuknya tetapi memainkannya melalui petikan layaknya sebuah gitar.

Sesuai dengan cara memainkannya, Sape’ dalam bahasa lokal Suku Dayak berarti “memetik dengan jari”. Nama Sape' sendiri merupakan penyebutan dari Dayak Kenayan dan juga Dayak Kenyah. Sementara bagian suku dayak lain ada yang menyebutnya Sampe', Sempe, Kecapai.

Seperti yang sudah diketahui Suku Dayak adalah penghuni asli pedalaman Borneo yang mendiami Pulau Kalimantan. Menurut mereka Sape’ merupakan alat musik yang berfungsi untuk menyatakan sebuah perasaan; riang gembira, rasa sayang, kerinduan, bahkan rasa duka nestapa. Dahulu,  ternyata memainkan alat musik Sape’ memiliki makna yang berbeda. Pada siang hari; menghasilkan irama yang menyatakan perasaan gembira dan suka-ria. Sedangkan pada malam hari; akan menghasilkan irama yang bernada sendu, syahdu, atau sedih.

Dalam kehidupan sehari-hari Suku Dayak, Sape’ juga digunakan sebagai sarana untuk menyampaikan maksud-maksud serta puja-puji kepada yang berkuasa; baik itu roh-roh maupun manusia biasa yang berkuasa. Selain itu, Sape’ juga digunakan untuk mengiringi berbagai macam tarian Suku Dayak.

Melihat tradisi masyarakat dayak, khususnya Dayak Kenyaan dan Dayak Kenyah. Terdapat sastra lisan yang diturunkan dari generasi ke generasi, yaitu “Tekuak Lawe”. Di dalamnya terdapat ungkapan mengenai Sape’. “sape benutah tulaang to'awah” begitulah bunyinya. Secara harfiah dapat diartikan bahwa Sape’ itu mampu meremukkan tulang-belulang hantu yang bergentayangan.

Ungkapan tersebut menggambarkan; alat musik Sape’ mampu membuat orang yang mendengarnya merinding hingga menyentuh tulang atau perasaan. Bagi para tetua adat Dayak terdahulu, keyakinan akan kesakralan Sape’ memang betul bisa dirasakan. Suasana pedesaan dan nuansa adatyang pada saat itu masih sangat kental menjadi alasannya.

Sape’ sendiri sebagai Alat musik yang dimiliki oleh Suku Dayak terdiri atas dua jenis, yang pertama yaitu Sape’ Kayaan (ditemukan oleh orang kayaan). Sape’ jenis ini memiliki 4 tangga nada dengan ciri berbadan lebar, bertangkai kecil, panjangnya sekitar 1 meter, memiliki 2 senar/tali dari bahan pelastik. Sedangkan yang kedua yaitu Sape’ Kenyah (ditemukan oleh orang kenyah). Sape’ jenis ini; berbadan kecil memanjang, pada bagian ujungnya berbentuk kecil dengan panjang sekitar 1,5 meter, memiliki tangga nada 11-12 dan talinya berasal dari senar gitar atau dawai yang halus tiga sampai 5 untai.

Dari kedua jenis Sape’ ini, Sape’ Kenyah adalah yang paling populer. Hal ini dikarenakan irama dan bunyi lantunannya dapat membawa pendengar serasa di awang-awang. Dahulu ketika malam tiba, perlahan anak muda mulai memainkannya. Jalan ataupun rumah betang (rumah komunal masyarakat dayak) yang membuat pemilik rumah tertidur pulas menikmatinya.

Alat musik yang selama ini diakui berasal dari masyarakat Kayaan sekitar daerah aliran Sungai Mendalam, Kapuas Hulu, Kalimantan Barat. Konon, katanya berasal dari sekelompok masyarakat kecil Kayaan di sekitar daerah  aliran  sungai  Mendalam  yang  berdialog Pagung, Desa Datah Dian (Andri WP, 2014:2).

Sekilas Sejarah Sape’

“Konon menurut mitologi Dayak Kayaan, Sape’ Kenyah diciptakan oleh seorang yang terdampar di karangan (pulau kecil di tengah sungai). Saat itu sampannya karam (Tenggelam) di  terjang  riam (ombak).  Orang yang sampai kini belum diketahui identitasnya itu bersama  dengan rekannya  menyusuri  sungai, lalu mengalami karam.  Mereka mengalami karam karena tidak mampu menyelamatkan sampan dari riam. Satu dari mereka berhasil  menyelamatkan  diri  ke  karangan. Sementara  sisanya  meninggal  karena tengelam dan dibawa arus.

Ketika  tertidur,  antara  sadar  dan  tidak, dia yang selamat mendengar  suara  alunan  musik  petik  yang begitu  indah  dari  dasar  sungai.  Semakin  lama dia  mendengar  suara  tersebut,  semakin  dekat pula  rasanya  jarak  sumber  suara  musik  yang membuatnya penasaran itu. Hal ini dia alami Seolah sedang mendapatkan ilham dari leluhur nenek moyangnya. Sekembalinya ke rumah, dia mencoba membuat sebuah alat musik dan memainkannya sesuai dengan lirik lagu yang didengarnya saat di karangan. Mulai saat itu Sape’ Kenyah mulai dimainkan dan dijadikan musik  tradisi  oleh  suku  Dayak  Kenyah,  hingga ke group Dayak Kenyah lainnya.”

Memainkan Sebuah Sape’

Serupa tapi tak sama. Walaupun Bentuk dan cara memainkannya mirip dengan gitar, ternyata Sape' memiliki perbedaan yang cukup mencolok dengan gitar. Perbedaan itu terdapat pada posisi grip dan tidak adanya lubang untuk menggaungkan bunyi petikan senar, sehingga sumber bunyinya hanya berasal dari senar.

Sape’ biasanya dimainkan mengikuti perasaan pemain atau pemetiknya. Tradisi  dan lingkungan masyarakat Dayak  yang  dekat  dengan  alam, membuat alunan Sape’ mengikuti suasana alam di sekitarnya. Indah  atau  tidaknya  permainan Sape’ juga dipengaruhi perasaan pemainnya.

Caranya; mula-mula dengan menyelaraskan senar-senar Sape’ dengan perasaan pemetiknya. Hal ini dilakukan karena Sape’ adalah alat musik yang berfungsi untuk menyatakan perasaan. Oleh karenanya, hasil stem dari senar-senar Sape’ tersebut berbeda-beda untuk setiap orang. Bunyi senar yang dihasilkan masih berupa nada-nada dasar. Untuk menyelaraskan nada-nada lainnya dilakukan dengan memindah-mindahkan ndon. Dengan cara ini, Sape’ pun bisa dimainkan sesuai dengan nada lagu yang diinginkan.

Jika memainkan lagu lain, maka ndon sape juga perlu diselaraskan kembali sesuai dengan yang diinginkan pemainnya. Cara memetiknya yaitu dengan menggunakan kedua jemari tangan, baiktangan kanan ataupun tangan kiri. Petikan yang dilakukan akan menghasilkan bunyi accord. Dimana lagu yang dimainkan hanya mengikuti perasaan si pemetik, sehingga bunyi yang dihasilkan pun akan mengena dan mengikuti sesuai dengan isi perasaan si pemetik.

Hingga saat kini, kepercayaan akan tuah sape ini masih diyakini oleh para sesepuh masyarakat Dayak, seperti saat Sape' dimainkan dalam suatu upacara adat. Saat bunyi petikan Sape' terdengar, saat itu seluruh orang akan terdiam, kemudian akan terdengar sayup-sayup lantunan doa atau mantra yang dibacakan bersama. Dalam suasana seperti ini, tidak jarang di antara mereka ada yang kerasukan roh halus atau roh leluhur. Sape'  juga dimainkan pada saat acara pesta rakyat atau acara gawai padai. Sape' dimainkan untuk mengiringi tari-tarian yang lemah gemulai.

Seiring dengan berjalannya waktu, tepatnya pada era modern, Sape’ bukan lagi hanya dimainkan seorang diri, namun juga bisa di padukan dengan musik modern seperti orgen, gitar dan drum. Jika dulu dawai Sape’ menggunakan tali dari serat pohon enau, maka kini sudah memakai kawat kecil sebagai dawainya. Sehingga fungsi Sape’ tidak hanya untuk menyatakan perasaan, tetapi juga sebagai pendamping musik modern. (K-AD)

Seni
Ragam Terpopuler
Menjaga Kekhidmatan, Pesta Adat Erau dan TIFAF Digelar Terpisah
Pesta tradisional kesultanan Kutai ing Martadipura “Erau” dan Tenggarong Internasional Folk Art Festival digelar terpisah di bulan September. Keduanya dipisah untuk menjaga kekhidmatan tra...
Menikmati Budaya dan Burung Migrasi di Danau Limboto
Satu lagi agenda wisata di September 2019. Sebuah kegiatan festival akan diselenggarakan di Gorontalo. Kegiatan ini adalah Festival Pesona Danau Limboto 2019 yang rencananya diselenggarakan pada 21--2...
Menikmati Keindahan Alam Pantai dan Budaya Nias
Bila Anda masih bingung menentukan tempat mana untuk berlibur dan berwisata pada September nanti, Nias bisa jadikan sebagai pilihan utama. Pasalnya, pada 14 September akan ada puncak acara Sail N...
Hamzah Sang Aulia Lagi Mulia
Penemuan makam Tuan Hamzah dari Pancur jika diperbandingkan dengan catatan penjelajah Ibnu Battuta akan memperkuat beberapa hal. ...
Etika Kepemimpinan Jawa
Demikianlah, menjadi seorang raja dalam konstruksi etika kepemimpinan dalam budaya Jawa dituntut memiliki delapan laku, atau delapan sifat, atau delapan watak, yang bersifat keillahian dengan merujuk ...
Tuan Pancur di Tanah Suci
Jika salinan catatan dari nisan Hamzah Al Fansuri bisa dipastikan kebenarannya, maka bangsa Indonesia harus berterima kasih pada seseorang yang bernama Hassan Mohammed El Hawary. ...
Memilih Akhir Bersama Yang Terkasih
Konon para pengajar Mbah Moen inilah yang menjadi sosok-sosok terkasih yang dicintai Mbah Moen. Sampai-sampai setiap ada kesempatan di musim haji, Mbah Moen selalu pergi haji walaupun dalam kondisi ya...
Leluhur Nusantara di Tanah Tinggi
Siapa sangka pekuburan di tanah tinggi Mekah ternyata menyimpan sejarah ulama Nusantara, bahkan yang lebih lama. Seperti tokoh besar Hamzah Al Fansuri, yang diperkirakan hidup di abad 16, dan Mas'...
Mitos-mitos Dewi Laut di Nusantara
Sekalipun analisis sejarah Pram katakanlah “benar”, bahwa “perkawinan spiritual” Kanjeng Ratu Kidul dengan raja-raja Mataram ialah sekadar upaya membangun legitimasi kekuasaan ...
Festival Lembah Baliem sudah 30 Tahun
Usia Festival sudah termasuk tua, 30 tahun. Tapi Festival Lembah Baliem di Kabupaten Jaya Wijaya ini semakin memikat. ...