Bahasa | English


PUSAKA WARISAN DUNIA

Keragaman Wayang Indonesia

27 June 2019, 12:00 WIB

Panjangnya periode waktu keberadaan wayang di Indonesia tampak dari keragaman model wayang, aneka lakon, maupun cara serta bahasa pementasan. Dunia wayang telah mandarah daging dalam jatung kebudayaan masyarakat. Mungkin itu pulalah yang mendasari UNESCO menetapkan wayang sebagai asli Indonesia.


Keragaman Wayang Indonesia Festival Dalang Cilik di Kampus Universitas Negeri Yogyakarta, Sleman, DI Yogyakarta, Rabu (19/6/2019). Foto: ANTARA FOTO/Hendra Nurdiyansyah

Wayang adalah satu dari berbagai warisan kebudayaan masa lampau di Indonesia. Wayang merupakan salah satu karya seni budaya yang menonjol di antara banyak karya budaya lainnya. Pertunjukan wayang meliputi seni peran, suara, musik, tutur, sastra, lukis, pahat, dan juga seni perlambang.

Menyimak sejarah, budaya wayang terlihat terus berkembang dari zaman ke zaman. Kemudian berkembang hingga digunakan sebagai media komunikasi sosial yang dapat bermanfaat bagi perkembangan masyarakat pendukungnya. Dunia wayang memperlihatkan perubahan fungsinya, dari sebagai media ritus pemujaan atas leluhur, dakwah, penerangan, hingga pendidikan moral dan etik, juga pemahaman filsafat, serta hingga sebagai media hiburan belaka.

Menariknya, seni teater wayang tercatat sanggup bertahan melampaui kurun waktu berabad-abad. Sekalipun kini bisa dikata keberadaannya mulai telah terdesak oleh berbagai tawaran bentuk-bentuk hiburan modern lain, hingga kini wayang masih mendapat tempat di hati masyarakat Indonesia, khususnya di Jawa dan Bali.

Fenomena ini setidaknya tecermin dari masih seringnya teater wayang ini digelar dalam acara-acara formal maupun informal, baik oleh masyarakat maupun pejabat pemerintah. Selain itu, juga tercermin dari masih berlangsungnya proses regenerasi terhadap profesi dalang, yaitu aktor utama dalam seni pertunjukan tersebut.

Benar, jikalau bicara sejarah asal usul wayang kulit, setidaknya ditemukan empat teori besar. Adanya perbedaan teori atau tafsiran ini, selain disebabkan sedikitnya data dari sumber artefak masa lalu, juga seringkali muncul karena perbedaan disiplin ilmu yang digunakan oleh para ahli untuk mendekati masalah tersebut.

Empat teori atau tafsiran itu, pertama, asal usul wayang adalah Jawa (Indonesia). Para peneliti yang meyakini hipotesa itu ialah JLA Brandes, GAJ Hazeu, J Kats, Anker Rentse, dan lain sebagainya. Kedua, wayang berasal dari India. Mereka yang berkesimpulan teater wayang berasal dari India yaitu R Pichel, Poensen, Goslings, dan Rassers.

Ketiga, asal usul wayang ialah perpanduan antara Jawa dan India. Sebutlah J Krom dan WH Rassers, misalnya, tiba pada kesimpulan hipotetif tersebut. Dan terakhir atau keempat, wayang berasal dari Cina. Peneliti yang tiba pada kesimpulan itu ialah G Schlegel.

Tulisan ini tidak bermaksud mendedah kebenaran sejarah asal usul wayang di Indonesia. Selain karena perdebatan teoritis itu bersumber dari ketidakpastian historis—atau sebuatlah itu sebagai aspek “debatable”—merupakan fenomena lumrah dalam setiap kajian ilmu-ilmu sosial humaniora, lebih dari itu aspek “debatable” toh senyatanya tak mengurangi makna posisi wayang bagi masyarakat Indonesia.

Biarkanlah, ada ragam tafsiran dan perdebatan teori tentang asal usul wayang di Indonesia. Pasalnya keragaman diskursus atau teori sejarah ini justru akan memperkaya khazanah publik, dan selain itu juga selalu memberikan tantangan tersendiri bagi para akademisi untuk melakukan pemutakhiran riset perihal sejarah wayang sekiranya di lapangan sejarah dan budaya ditemukan fakta-fakta baru.

Hipotesa UNESCO

Namun demikian di sini ada hal menarik untuk disimak. Sejak 7 November 2003, UNESCO telah mengakui pertunjukan wayang kulit sebagai Masterpiece of Oral and Intangible Heritage of Humanity. Dalam sinopsisnya tersebut, sekalipun tidak memberikan justifikasi teoritis dan historis didasarkan pada tokoh tertentu, UNESCO jelas mengakui seni mendongeng kuno ini berasal dari Indonesia.

Usia seni pertunjukan ini, merujuk UNESCO, disebut telah berkembang selama sepuluh abad di istana kerajaan Jawa dan Bali, dan kini telah menyebar ke pulau-pulau lain seperti Lombok, Madura, Sumatra, dan Kalimantan. Menyimak angka “sepuluh abad” sebagai pilihan UNESCO melihat sejarah perkembangan tradisi wayang, mudah diduga, asumsi tersebut didasarkan pada Prasasti Balitung dari abad ke-10 (903 M).

Dalam prasasti ini tertulis inskripsi “Si Galigi Mawayang Buat Hyang Macarita Bimma Ya Kumara”. Kalimat ini berarti “Galigi mengadakan pertunjukan Hyang dengan mengambil cerita Bhimma muda…”

Benar, bahwa acuan pada Prasasti Balitung ini mendapatkan justifikasi dari sumber tulisan kemudian. Indiria Maharsi (2018) dalam karyanya berjudul Wayang Beber merujuk pada Kitab Centini. Kitab ini ditulis di sepertiga awal abad ke-19. Menurut Maharsi, kitab ini mencatat wayang sebagai diciptakan oleh Raja Jayabaya dari Kerajaan Kediri. Konon, Raja Jayabaya berusaha menciptakan gambaran ruh dari leluhurnya dan dilukiskannya di daun lontar.

Artinya, menyimak klaim UNESCO--bahwa wayang sebagai tradisi mendongeng kuno ialah berasal dari Indonesia--bisa jadi justifikasi UNESCO bukanlah soal fakta dan kepastian historis, melainkan justru lebih didasarkan pada fakta keragaman manifestasi seni pertunjukan tradisional tersebut di Indonesia. Pasalnya keragaman wujud wayang itu sendiri, selain mencerminkan panjangnya proses evolusinya di Indonesia selama ini, juga sekaligus memperlihatkan adanya signifikansi makna yang mendalam dalam alam pikiran masyarakat khususnya Jawa.

Ya, panjangnya periode waktu keberadaan wayang di Indonesia ini tecermin kuat dari adanya keragaman jenis atau model wayang, aneka cerita atau lakon, dan cara pementasan dan bahasa. Adanya keragaman manifestasi seni wayang ini terang memperlihatkan dunia wayang sejatinya telah mandarah daging sebegitu rupa dalam kebudayaan masyarakat, dan barangkali saja itulah dasar dari kesimpulan UNESCO mencatat wayang sebagai asli Indonesia.

Ragam Wayang di Nusantara

Merujuk tulisan Pandam Guritno (1988) dalam karyanya Wayang, Kebudayaan Indonesia dan Pancasila disebutkan, di Indonesia khususnya di Jawa, Bali, Lombok, Kalimantan, dan Sumatra terdapat puluhan model atau jenis wayang.

Guritno merujuk pada Prof Dr L Serrurier, Direktur Museum Etnografi di Leiden, yang pada akhir abad ke 19 melakukan survei tentang jenis-jenis wayang di Pulau Jawa. Hasil penelitiannya diterbitkan dengan judul De Wajang Poerwa pada 1896. Menurut Serrurier, jenis-jenis wayang yang dikenal di Pulau Jawa ketika itu, ialah: yaitu wayang beber, wayang gedog, wayang golek, wayang jemblung, wayang kalithik (klithik), wayang karucil (krucil), wayang langendria, wayang lilingong, wayang lumping, wayang madya, wayang pegon, wayang purwa, wayang puwara, wayang sasak, wayang topeng, dan wayang wong atau wayang orang.

Pada deretan nama-nama wayang di atas, Guritno menambahkan beberapa jenis atau model wayang lain, seperti wayang gambuh, wayang parwa, dan wayang ramayana di Bali; wayang sasak di Lombok; wayang banjar di Kalimantan; wayang palembang di Sumatra; juga wayang jemblung di Banyumas; tak terkecuali pun bisa disebutkan wayang kancil, wayang pancasila atau wayang suluh; wayang wahyu; dan lain sebagainya.

Sedangkan berdasarkan aktor utamanya, maka jenis atau tipe-tipe wayang bisa digolongkan menjadi lima kelompok, yaitu, pertama, wayang kulit, pemain di panggung ialah boneka dua dimensi, terbuat dari kulit atau tulang. Kedua, wayang golek, pemain di panggung ialah boneka-boneka tiga dimensi yang terbuat dari kayu. Ketiga, wayang wong atau orang, pemain di panggung ialah orang. Keempat, wayang beber, pemain hanya dilukiskan di atas kertas lebar yang digulung dan direntang (dibeber) saat pertunjukan. Kelima atau terakhir, wayang klithik, pemain di panggung ialah boneka-boneka terbuat dari kayu pipih.

Termasuk wayang kulit ialah wayang gedog dan wayang purwa di Jawa; wayang parwa di Bali; wayang sasak di Lombok; dan wayang banjar di Kalimantan; serta wayang palembang di Palembang. Termasuk wayang golek ialah wayang golek Sunda dengan cerita-cerita Ramayana dan Mahabarata; pun termasuk di sini ialah wayang golek Menak Jawa dengan cerita-cerita kepahlawanan Islam; tak kecuali wayang Cepak Cirebon dengan cerita- cerita tentang babad Cirebon dan penyebaran agama Islam di Jawa Barat.

Sedangkan wayang wong atau wayang orang lazimnya menampilkan lakon-lakon asal Ramayana dan Mahabarata. Namun wayang langendria yang juga menggunakan orang sebagai pemainnya lazimnya mementaskan lakon-lakon tentang sejarah Majapahit, seperti cerita sekitar Damarwulan dan lawannya Menakjingga.

Selain itu, kita juga dapat pula menggolongkannya berdasar cerita atau lakon yang dipentaskan dan bahasa yang dipakai. Di sini ada yang menarik untuk dicatat, yaitu sistem klasifikasi masyarakat perihal wayang. Meskipun katakanlah sama-sama termasuk wayang kulit, misalnya, tetapi jikalau lakon atau kisah yang dipentaskan ialah Panji, maka wayang itu bukanlah termasuk tipe wayang purwa, melainkan termasuk tipe wayang gedog. Tak kecuali, walaupun sama-sama menggunakan wayang golek, misalnya, lakon yang dipentaskan di Parahyangan bersumber dari epos Ramayana-Mahabarata; sedangkan di Jawa mengambil kisah kepahlawanan Amir Hamzah.

Prinsip detailing pengelompokan kategori wayang semacam ini jelas memperlihatkan bagaimana dunia wayang telah mencapai sebuah fase budaya yang sophisticated dalam ruang sejarah masyarakat. Kasus ini mengingatkan orang pada kasus penamaan model (dhapur) keris, di mana sekiranya terdapat unsur sekecil apapun yang berbeda maka niscaya akan memiliki nama dan jenis pengelompokan yang berbeda.

Demikianlah, daftar jenis wayang dapat dikenal berdasarkan tiga kriteria. Yakni, pelaku, sumber cerita, dan bahasanya. Lebih jauh, Guritno membuat klasifikasi wayang Indonesia sebagai berikut:

Melanjutkan riset Guritno, Agus Ahmadi, staf pengajar di Institut Seni Indonesia Surakarta, dalam artikelnya yang berjudul “Keberagaman Kreasi Kriya Wayang Kulit”, mencatat bahwa setidaknya sementara ini terdapat 55 wayang, di mana yang terbanyak ialah wayang dari bahan kulit perkamen. Di antara semua jenis wayang tersebut, lanjut Agus wayang, wayang yang paling terkenal dan berkembang luas di Indonesia ialah wayang kulit purwa. Jenis wayang ini dalam percakapan sehari-hari sering disebut wayang saja atau wayang kulit. Karena saking populernya, jika seseorang menyebutkan kata wayang, maka orang akan menganggap yang dimaksudkan bukan lain ialah Wayang Kulit Purwa. (W-1)

Seni
Ragam Terpopuler
Islam, Sumbangsih Terbesar Etnis Tionghoa
Hadiah terbesar bangsa Cina ke Indonesia adalah agama Islam. Demikian ujar Presiden ke-3 BJ Habibie dalam sebuah orasi di Masjid Lautze pada Agustus 2013. ...
Ziarah Kubur, Ibadah Haji Orang Jawa di Masa Lalu
Bagi kaum abangan, ziarah kubur ke makam raja-raja di Imogiri bermakna sebagai pengganti ibadah haji. ...
Membaca Kembali Sriwijaya yang Jaya itu
Petunjuk lain yang menguatkan keberadaan kerajaan Sriwijaya adalah prasasti yang ditemukan di Semenanjung Melayu, tepatnya di sebelah selatan teluk Bandon, saat ini Thailand bagian selatan. ...
Pacung dan Sambiran, Ternyata Dugaan Lombard Benar
Temuan-temuan ini menguatkan tesis bahwa pada abad ke-9 terjadi kontak yang sangat intensif antara Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara, dan India. ...
Teh Slawi, Sebuah Ikon Minuman Tradisional Kabupaten Tegal
Konon, ada makna filosofis di balik cara penyajian teh itu. Kehidupan memang selalu pahit di awalnya. Namun jika kita sanggup bersabar diri, kehidupan yang awalnya terasa pahit itu maka lambat laun pa...
Solidaritas Sosial dalam Sunat Poci dan Mantu Poci
Demikianlah potret lekatnya tradisi minum teh mengejawantah pada hajatan sunat poci dan mantu poci. Sayangnya, ritus sosial yang mencerminkan kuatnya solidaritas sosial dan hubungan timbal balik antar...
Harum Manis Carica Gunung Dieng
Pepaya gunung hanya dibudidayakan di Dieng, Wonosobo. Manisan atau selai carica gunung itu menjadi jajanan eksklusif yang hanya diproduksi di Wonosobo. Selain segar, carica juga punya kisah. ...
Rumah Pohon Korowai dan Tayangan Televisi Global
Booming-nya pemberitaan tentang rumah Korowai yang eksotis selama dua puluh tahun terakhir adalah bagian dari fenomena budaya global yang menginginkan tampilan bergaya "primitif" sebagai ses...
Agama, Sekolah, Bahasa Jembatan Keragaman Etnis Papua
Selain agama dan pendidikan, maka bahasa Melayu (baca: Bahasa Indonesia) juga bisa disebut memiliki dampak transformatif bagi warga Papua. Sebab, berhasil memberikan aspek keseragaman pada realitas fr...
Orang Laut Nusantara; Laut untuk Hidup, Hidup untuk Laut
Banyak sekali peristiwa dalam sejarah yang terjadi di wilayah laut Nusantara, tetapi cenderung diabaikan oleh peneliti sejarah konvensional. ...