Bahasa | English


SENI TRADISIONAL

Kopiah Bangsawan Aceh

4 April 2019, 09:27 WIB

Riman, merupakan kopiah Aceh khas Pidie sejak zaman Sultan Iskandar Muda, tepatnya jauh sebelum Bung Karno dikenal sebagai bapak kopiah Indonesia. 


Kopiah Bangsawan Aceh Kopiah Riman Peninggalan Zaman Sultan Iskandar Muda. Sumber foto: Kemendikbud

Mengenal sebuah Kopiah. Adalah satu dari beberapa alat yang berfungsi sebagai penutup kepala. Tidak hanya sebagai penutup kepala, Kopiah disebut sebagai symbol dari kepribadian bangsa Indonesia yang tidak dimiliki oleh bangsa lain.

Mendengar nama Soekarno, jelas sudah tak asing lagi bagi masyarakat Indonesia, sebagai eks Presiden Pertama Republik Indonesia; beliau (bapak peci nasional) dikenal sebagai tokoh yang mempopulerkan peci Indonesia atau yang biasa disebut dengan “Kopiah” . Saat itu, dalam banyak kegiatan kenegaraan, beliau dikenal tidak pernah melepaskan Kopiah yang dikenakannya, baik itu di dalam negeri maupun di kancah internasional.

Bahkan pada masa penjajahan, Soekarno mengenakan Kopiah sebagai symbol pergerakan dan perlawanan terhadap penjajah. Bung Karno, sapaannya (Soekarno), bercerita dalam buku otobiografinya yang ditulis Cindy Adams, disitu diceritakan bagaimana ia bertekad menjadikan Kopiah sebagai lambang pergerakan dan perlawanan negara.

Seperti yang terdapat dalam buku Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia, Cindy Adams juga mengutip perkataan Bung Karno "Kita memerlukan sebuah simbol dari kepribadian Indonesia”.

Menelaah lebih lanjut soal Kopiah, ternyata sudah ada jauh sebelum Bung Karno dilahirkan ke dunia. Saat itu, bertempat di Aceh terdapat Kopiah yang bernama “Riman”. Adalah kerajinan tradisional masyarakat Aceh khas Pidie yang terbuat dari serat pohon aren.

Kopiah Riman dulunya hanya dipakai oleh kaum bangsawan laki-laki Aceh pada masa kepemimpinan Sultan Iskandar Muda pada abad ke-17 Masehi, tepatnya (1607-1636 M). Sekaligus disebut sebagai Kopiah peninggalan zaman Sultan Iskandar Muda.

Bentuk Kopiah

Terdapat dua bentuk Kopiah Riman; yaitu bulat dan lonjong. Sementara untuk memperindahnya kopiah diberi berbagai macam corak khas Aceh. Ada sekitar 20 motif yang dikembangkan dalam membuat Kopiah Riman. Adanya motif-motif ini dinilai sebagai karya seni yang memiliki nilai estetika. Hal inilah yang membuat nilai jual Kopiah asal Aceh ini menjadi tinggi. Dan hanya dipakai oleh kaum lelaki kalangan menengah ke atas saja.

Pembuatan Kopiah Riman

Bentuknya yang sederhana bukan berarti bisa dibuat begitu saja. Diperlukan keahlian khusus dan ketelatenan serta kesabaran dalam membuatnya. Karena proses pembuatan kopiah ini memakan waktu yang cukup lama, sekitar 1 bulan. Bahan baku pembuatan Kopiah Riman ini adalah serat pohon aren. Kebetulan terdapat banyak pohon aren di daerah ini.

Dikatakan, kaum lelaki  bertugas mencari batang pohon aren yang tumbuh di sekitar desa. Batang aren kemudian dirajam hingga berbentuk serat. Sementara proses selanjutnya dikerjakan oleh kaum wanita. Di mulai dari para gadis hingga ibu rumah tangga, semua melakukan pemilihan serat sebelum diolah.

Selanjutnya serat yang sudah diolah direndam dalam larutan lumpur dan daun pewarna yang sudah ditumbuk, kemudian dicuci lalu dijemur. Serat yang sudah kering kemudian digunakan sebagai bahan pembuatan Kopiah Riman.

Pembuatan Kopiah Riman dimulai dari pembuatan benangnya terlebih dulu. Benang-benang dari serat batang pohon aren memerlukan proses waktu paling lama seminggu. Mulai dari pengambilan batang pohon aren yang sudah dipilih, kemudian proses pewarnaan, hingga menjadi gulungan benang (hitam dan kuning emas).

Proses Pembuatan Benang

Seperti dikutip acehtourism.info dulunya bahan serat benang terbuat dari pelepah daun riman, namun karena pohon tersebut semakin sulit ditemukan sehingga diganti dengan pelepah pohon aren. Pelepah pohon aren yang di ambil kemudian dipukul-pukulkan dalam posisi berdiri hingga ampas serat terbuang. Setelah itu serat-serat yang ada pada pelepah pohon aren dikeluarkan satu persatu menggunakan jarum.

Setelahnya, sebelum melakukan pewarnaan serat pelepah pohon aren yang berwarna krem dipisahkan terlebih dahulu antara yang halus dan kasar. Fungsinya; serat yang halus digunakan dibagian luar kupiah, sedangkan yang kasar digunakan bagian dalam kupiah. Kemudian baru diberi warna.

Dalam prosesnya, perwarnaan dilakukan dengan cara, serat-serat pelepah pohon aren direbus ke dalam belanga yang di dalamnya telah dilapisi daun keladi. Setelahnya serat-serat tadi dimasukan ke dalam belanga berisi air yang dicampur dengan daun peuno, daun bunga tanjung, dan putik kelapa. Kemudian direbus sekitar 10 jam.

Setelah direbus, serat benang dari pelepah pohon aren dilumpurkan  selama dua hari.  Setelah itu diangkat dan dianginkan. Kemudian dicuci dengan air remasan daun peuno. Proses ini (menanam serat ke dalam lumpur) dilakukan selama tiga kali. Setelah itu baru serat-serat tersebut dirajut menjadi Kopiah Riman.

Mulanya kerajinan ini hanya untuk memenuhi kebutuhan pribadi, kemudian dihidupkan kembali sejak tahun 1985. Karena peminatnya yang semakin banyak, seiring dengan berjalannya waktu kopiah ini menjadi mata pencaharian sampingan masyarakat desa.

Sekarang sentra pembuatan Kopiah Riman terdapat di Kabupaten Pidie, tepatnya di Desa Dayah Adat, Nanggroe Aceh Darussalam. Desa yang berjarak 3 jam dari Banda Aceh ini, berisikan masyarakat yang memiliki keahlian membuat Kopiah Riman. Dikatakan hampir setiap keluarga yang tinggal di desa ini memiliki keahlian tersebut. (K-AD)

Seni
Ragam Terpopuler
Menjaga Kekhidmatan, Pesta Adat Erau dan TIFAF Digelar Terpisah
Pesta tradisional kesultanan Kutai ing Martadipura “Erau” dan Tenggarong Internasional Folk Art Festival digelar terpisah di bulan September. Keduanya dipisah untuk menjaga kekhidmatan tra...
Menikmati Budaya dan Burung Migrasi di Danau Limboto
Satu lagi agenda wisata di September 2019. Sebuah kegiatan festival akan diselenggarakan di Gorontalo. Kegiatan ini adalah Festival Pesona Danau Limboto 2019 yang rencananya diselenggarakan pada 21--2...
Menikmati Keindahan Alam Pantai dan Budaya Nias
Bila Anda masih bingung menentukan tempat mana untuk berlibur dan berwisata pada September nanti, Nias bisa jadikan sebagai pilihan utama. Pasalnya, pada 14 September akan ada puncak acara Sail N...
Hamzah Sang Aulia Lagi Mulia
Penemuan makam Tuan Hamzah dari Pancur jika diperbandingkan dengan catatan penjelajah Ibnu Battuta akan memperkuat beberapa hal. ...
Etika Kepemimpinan Jawa
Demikianlah, menjadi seorang raja dalam konstruksi etika kepemimpinan dalam budaya Jawa dituntut memiliki delapan laku, atau delapan sifat, atau delapan watak, yang bersifat keillahian dengan merujuk ...
Tuan Pancur di Tanah Suci
Jika salinan catatan dari nisan Hamzah Al Fansuri bisa dipastikan kebenarannya, maka bangsa Indonesia harus berterima kasih pada seseorang yang bernama Hassan Mohammed El Hawary. ...
Memilih Akhir Bersama Yang Terkasih
Konon para pengajar Mbah Moen inilah yang menjadi sosok-sosok terkasih yang dicintai Mbah Moen. Sampai-sampai setiap ada kesempatan di musim haji, Mbah Moen selalu pergi haji walaupun dalam kondisi ya...
Leluhur Nusantara di Tanah Tinggi
Siapa sangka pekuburan di tanah tinggi Mekah ternyata menyimpan sejarah ulama Nusantara, bahkan yang lebih lama. Seperti tokoh besar Hamzah Al Fansuri, yang diperkirakan hidup di abad 16, dan Mas'...
Mitos-mitos Dewi Laut di Nusantara
Sekalipun analisis sejarah Pram katakanlah “benar”, bahwa “perkawinan spiritual” Kanjeng Ratu Kidul dengan raja-raja Mataram ialah sekadar upaya membangun legitimasi kekuasaan ...
Festival Lembah Baliem sudah 30 Tahun
Usia Festival sudah termasuk tua, 30 tahun. Tapi Festival Lembah Baliem di Kabupaten Jaya Wijaya ini semakin memikat. ...