Bahasa | English


TARIAN TRADISIONAL

Menengok Kehidupan Petani Teh Dalam Tari Panarat

23 October 2019, 03:10 WIB

Raut kegembiraan para pemetik teh dikala pagi menjelang, begitu terasa. Wajah mereka memancarkan keceriaan. Tubuh mereka bergerak mengesankan adanya semangat kerja untuk menghidupi keluarga. Itulah tari panarat, tariannya para pemetik teh di kebun teh saat matahari pagi mulai merekah.


Menengok Kehidupan Petani Teh Dalam Tari Panarat Pemetik teh dalam Tarian Panarat. Foto: Indonesia Karya

Sebagai salah satu tarian tradisional yang populer di Jawa Barat, tari panarat kian banyak peminatnya dan semakin sering digelar di berbagai acara dan pertunjukan. Sehingga, kini tari panarat tidak cuma ditarikan di kebun-kebun teh, tetapi sudah dipentaskan dalam acara-acara sakral, seperti penyambutan tamu besar, pernikahan dan juga acara-acara lainnya. 

Tari panarat terinspirasi dari kegiatan memetik teh yang sangat akrab di beberapa bagian daerah di Provinsi Jawa Barat, seperti –salah satunya-- di kawasan kebun teh Cisarua, Kabupaten Bogor.  Seperti kita ketahui, mayoritas warga Cisarua berprofesi sebagai petani dan buruh pemetik teh. Cisarua juga khas hamparan kebun teh yang masih terjaga keberadaannya.

Dalam pertunjukan untuk menyambut kedatangan tamu besar atau di acara sakral pernikahan, tarian panarat ini terasa istimewa, karena para penari mengenakan pakaian khas yang biasa dikenakan para pemetik di kebun teh. Juga dikenakan segala atribut pelengkap seperti bakul yang digunakan sebagai wadah untuk menyimpan hasil petikan teh. Dan, tidak lupa topi caping yang mereka gunakan untuk menghidari terik matahari.

Tari panarat biasanya ditarikan oleh 9 (sembilan) orang penari yang keseluruhannya perempuan. Tarian diawali dengan 4 (empat) penari keluar dari dalam bakul. Dengan gerakan perlahan para penari tersebut beranjak dari bakul kemudian mengenakan topi caping seakan-akan dengan penuh suka cita menyambut pagi.

Ekspresi dan gerakan-gerakan yang dilakukan para penari panarat juga terkesan seakan-akan bersiap untuk berangkat ke kebun teh. Dengan memakai bakul di bagian pundak dan topi caping, para penari seperti menggambarkan sebuah keceriaan ibu-ibu yang sedang berangkat menuju kebun teh dan tengah bersiap menjaiani pekerjaan memetik daun teh. 

Satu hal yang menarik dalam tari panarat adalah ketika menari para penari memakai topi caping sampai menutupi sebagian wajahnya, seperti pemandangan yang selayaknya kita lihat di perkebunan teh.

Gerakan para penari panarat seperti memetik sampai menunduk meletakan hasil petikan, terilihat sangat jelas dalam setiap gerakan tarian. Sesekali para penari melepas topi caping sambil berputar-putar seperti menggambarkan sebuah rasa kegembiraan setelah memetik teh selesai. Sementara untuk membuat pertunjukan tari panarat semakin hidup, tarian ini biasanya diiringi dengan alat musik tradisional Jawa Barat seperti kendang dan gamelan Sunda.

Kini seiring dengan perkembangan zaman, tari panarat dapat kita temukan dalam beberapa acara seperti acara penyambutan tamu dan festival budaya. Hal tersebut dilakukan sebagai upaya dalam melestarikan dan memperkenalkan kepada masyarakat luas akan kesenian Tari panarat ini. (K-YN)

Seni
Ragam Terpopuler
Trowulan adalah Ibu Kota Majapahit?
Bujangga Manik telah mengambil rute paling mudah dan juga mungkin paling lazim dilalui masyarakat saat itu sekiranya hendak ziarah ke Gunung Pawitra. Rute termudah ini mengisyaratkan lokasi Trowulan m...
Istilah Radikal Harus Diganti?
Istilah radikal sebenarnya bermakna netral. Bisa bermakna positif atau negatif. Meskipun terdapat potensi kerancuan atau bias pemaknaan terkait pemakaian istilah ini, saripati pesan pemerintah sebenar...
Jembatan Youtefa, Bukti Sumpah Membangun Papua
Jembatan Youtefa di Kota Jayapura diresmikan akhir Oktober 2019. Berbiaya Rp1,8 triliun, jembatan ini menjadi ikon baru Papua.   ...
Para Penjaga Maria di Pelosok Kapuas Hulu
Tahun 1905, Ordo Capusin memulai penjajakan untuk melakukan misi di pedalaman Kapuas Hulu. Itu juga disebut sebagai titik balik dalam perkembangan umat Katolik di Kalimantan Barat. ...
Orangutan, Taman Nasional, dan Daerah Penyangga
Selama tiga tahun riset dilakukan di sana untuk mengetahui pola migrasi orangutan dan pola buah yang jadi makanannya. ...
Pasar Karetan, Berburu Kuliner di Tengah Kebun Karet Kendal
Rindu dengan suasana pasar nan sejuk, serta jajanan tradisional tempo dulu? Jika ya, sempatkan mampir ke Pasar Karetan di akhir pekan. Dijamin kita seperti diajak naik mesin waktu mengu...
Sekolah Selam di Ujung Timur Indonesia
Sejak Februari 2019, di Kampung Tablasupa, Distrik Depapre, Kabupaten Jayapura, dibuka sekolah menyelam yang digawangi tiga pengajar bersertifikasi Scuba School Internasional. Kini, sekolah itu telah ...
Raego Paduan Suara Tertua di Nusantara
Indonesia kaya akan budaya. Tidak  hanya bela diri, karapan sapi, tarian, ritual keagamaan, benda bersejarah, hingga paduan suara. Salah satu tarian yang diiringi alunan suara tertua di Nusa...
Cabai Jawa, Harta Karun Tanaman Obat Indonesia
Yuk Tarni, tukang jamu bersepeda yang suka berkeliling kampung di kawasan Kelurahan Utan Kayu Utara bersuka cita menawarkan jamu buatannya kepada masyarakat di sana. ...
Cakalang Fufu Rica Rica, Edodoe Pe Sedap Sekali
Aroma ikan ini memang khas dan tidak bisa dibandingkan dengan olahan ikan asap lainnya. Mungkin karena pengolahannya menggunakan kayu bakar pilihan. Namun yang membuat rasa ikan ini semakin menon...