Bahasa | English


SENI LUKIS

Menjejak Kedigdayaan Sang Seniman Jujur

24 June 2019, 00:00 WIB

Jeihan pernah menulis, “Moyang etika dan estetika adalah kejujuran”. Prinsip ini jelas mengingatkan kita pada sosok perupa yang dikaguminya, Sudjojono. Seperti diketahui, Sudjojono dalam berkesenian memiliki kredo “Jiwa Ketok”. Bahwa, seni adalah jiwa si seniman yang terlihat. Jiwa ketok ialah wujud kejujuran di dalam karya.


Menjejak Kedigdayaan Sang Seniman Jujur Jeihan Sukmantoro. Foto: Dok. Jeihan Sukmantoro

Jika dilacak secara sejarah, menurut Miekke Susanto adalah Jeihan sosok maestro lukis yang menyulut ledakan harga lukisan di Indonesia. Tepat pada Agustus 1985, ketika lukisan maestro Affandi kala itu masih dibandrol kisaran Rp20 juta, Jeihan bahkan sudah berani menghargai lukisan-lukisannya jauh lebih tinggi. Menariknya, terbukti laku terjual.

Saat itu, dalam even pameran lukis bertajuk “Temunya 2 Ekspresionis Besar”, bertempat di Istana Ballroom Hotel Sari Pasifik, Jakarta, 4 — 11 Agustus 1985, pelukis yang bernama lengkap Jeihan Sukmantoro itu tercatat sejarah “duel” dengan pelukis S Sudjojono. Dihelat dalam rangka memperingati HUT Indonesia ke-40, event ini sengaja memamerkan karya dari dua pelukis papan atas Indonesia yang selama ini dianggap oleh banyak pengamat sebagai sama-sama menganut gaya ekspresionis.

Miekke Susanto dalam karyanya Jeihan: Maestro Ambang Nyata dan Maya (2017) menceritakan bagaimana kegilaan Jeihan dalam membuat bandrol harga karya-karyanya. Bagaimana tidak, Jeihan waktu itu menghargai lukisannya pada kisaran antara 5 juta hingga 50 juta. Selain dianggap di luar akal sehat untuk saat itu, bandrol harga itu juga jauh berada di atas bandrol lukisan-lukisan karya Sudjojono yang notabene lebih senior dan popular. Pelukis Sudjojono dikisahkan ketika itu skeptis melihat bagaimana Jeihan memberi harga.

Poster Pameran ''Temunya 2 Ekspresionis Besar'' Jeihan dan S. Sudjojono

Dengan latarbelakang Sudjojono ialah salah satu perupa yang dikagumi oleh Jeihan, maka bagi Jeihan sendiri even ini ibarat sebuah batu ujian. Bagi Jeihan, sekalipun pameran itu dinamai “pertemuan”, sejatinya ialah event “pertarungan”. Dia menyebutnya sebagai sebuah pertarungan antara pelukis muda dan pelukis tua di mata publik Indonesia. Bagaimana hasilnya?

Susanto merujuk pada catatan Agus Dermawan T mencatat, 6 lukisan Sudjojono pada event itu laku terjual dengan total perolehan sebesar Rp12 juta. Di sisi lain, 2 lukisan Jeihan laku terjual dengan harga Rp35 juta dan Rp50 juta. Merujuk dokumentasi Suara Indonesia, Susanto bahkan menulis saat itu Jeihan konon mengantongi uang hingga setengah miliar.

Mengutip kesaksian Jeihan, konon ketika Sudjojono menyaksikan fakta tersebut, ia pingsan berjam-jam. Dengan hasil penjualan tersebut, Jeihan merasa menang. Pameran di bulan Agustus 1985 itu menjadi miliknya dan bukan milik Sudjojono. Demikianlah, tulis Susanto.

Sekalipun lukisan Jeihan laku terjual hingga ke Eropa dan Amerika, dan lukisannya yang berjudul Bulan di atas Kabah oleh Muri (Museum Rekor Indonesia) pada 1999 ditetapkan sebagai lukisan termahal karena dibandrol 3 miliar, akan tetapi barangkali saja kini orang bisa berkata lain.

Hasil akhir “duel harga” antara Jeihan dan Sudjojono, sejatinya tetap dimenangkan oleh sang pelukis tua. Mengingat setelah kematian pelukis Kawan-kawan Revolusi itu, ternyata lukisan Sudjojono di balai lelang internasional terdongkrak hingga puluhan miliar rupiah dan sekaligus mencatatkan namanya sebagai salah satu pelukis dengan harga termahal di Indonesia.

Jelas, membandingkan dalam arti “pertarungan” antara karya lukisan satu seniman dengan seniman lainnya, sekalipun satu genre, jelas merupakan logika yang salah. Pasalnya karya seni tidaklah bisa diperbandingkan satu dengan lainnya. Masing-masing karya seni jelas memiliki karakteristik dan corak keunikannya tersendiri. Terlebih, masing-masing pelukis itu juga sudah dianggap oleh publik Indonesia sebagai layak menyandang atribut seorang maestro.

Mudah diduga, apa yang dikisahkan oleh Miekke ialah sekadar kelakar eksistensialis Jeihan selaku seniman lukis dari generasi muda saat berkesempatan mengadakan pameran bersama dengan Sudjojono sebagai representasi generasi tua, namum sekaligus merupakan sosok yang dikaguminya.

Mata Bolong

Kini di usianya yang menginjak 82 tahun, pria kelahiran 26 September 1938 dari pasangan Widiatmo dan Mari ini, terlihat bukan saja masih produktif tetapi juga sekaligus multi talenta. Merujuk catatan Miekke (2017), pria yang lahir di Desa Ampel atau Ngampel yang terletak di kaki Gunung Merbabu Boyolali Jawa Tengah ini, telah melukis lebih dari 150 karya terseleksi.

Selain lukisan, juga tak sesekali membuat patung, keramik, menulis artikel dan puisi. Masih seturut Miekke, bahkan kini Jeihan juga tengah menyiapkan penulisan babad, sebuah penulisan historiografi ala Jawa.

Jeihan sohor karena lukisan-lukisan figur manusianya. Menariknya, karakteristik dan nilai utama dari karya-karyanya itu justru ditandai oleh perupaan figur manusia dengan mata hitam atau mata bolong.

Sebelum penemuan mata hitam yang menjadi ciri kuat dari lukisannya, masih bisa disimak bagaimana Jeihan melukis figur manusia dengan menggunakan mata, laiknya lukisan para seniman lain. Sebutlah karyanya Perempuan Tua dan Unknown Woman, misalnya, selain bisa dilihat figur perempuan memiliki mata lengkap, lukisan yang dibuat di tahun 1953 tersebut juga masih lekat mengemban corak realisme kerakyatan sebagai buah belajarnya merupa di HBS (Himpunan Budaya Surakarta).

Katalog Pameran Jeihan. Foto: Dok. Jeihan Sukmantoro

Namun demikian Jeihan merasa selalu gagal melukiskan mata dengan ketepatan ekspresi sebagaimana tuntutan jiwanya. Sekitar tahun 1963, mulailah Jeihan memunculkan ungkapan baru dalam seni lukis. Ia selalu menghitamkan obyek mata dalam setiap figur manusia yang dilukisnya. Merujuk Herliyana Rosalinda dan Dhanang Respati Puguh dalam artikelnya Membaca Zaman: Refleksi Pemikiran Jeihan dalam Lukisannya, 1953 2012, Jeihan pernah mengatakan, “Biarlah setiap mata lukisanku hanya lubang hitam gelap. Namun rasanya dapat melihat, dan itu pas, persis, cocok sekali dengan mata tuntutan rohku.”

Rosalinda dan Puguh juga mencatat perkataan Jeihan lainya tentang alasannya membuat mata hitam, yang implisit mengisyaratkan hasrat dan aspirasi spiritualnya, “Pada akhirnya walaupun manusia mempunyai mata yang bagus, toh tak mengetahui dengan persis hakikat dirinya sendiri.”

Tak sedikit ia dicela sebagai pelukis perempuan bermata hantu yang mengapung di negeri antah-berantah. Tapi, Jeihan tetap saja konsisten melukis sosok-sosok figuratif manusia dengan mata hitam. Pada perjalanannya kemudian, ia juga melukis para tokoh sejarah pejuang bangsa, dari era klasik Jawa hingga era modern. Seperti tokoh Maha Raja Sanjaya, Maha Patih Gajah Mada, tokoh HOS Tjokroaminoto, Bung Tomo hingga Bung Karno. Bahkan tak terkecuali, Jeihan juga melukiskan para figur yang dimitoskan dalam dunia Jawa, seperti Nyai Roro Kidul, Ibu Laut Nusantara, hingga Satria Piningit.

"Uni" Lukisan Karya Jeihan Sukmantoro. Foto: Dok. Jeihan Sukmantoro

Jeihan pun menampilkan pula ketertarikannya pada relief-relief Candi Hindu dan Budha. Lukisannya yang berjudul “Roro Jonggrang” menggambarkan patung wanita dengan delapan tangan dan berlatar kosong yang gelap. Lukisan “Budha, Borobudur” menggambarkan sosok Budha berdiri sendirian dengan kedua tangan di dada menandai sifat mengayomi.

Sedangkan dari khasanah Islam di Jawa, lahirlah lukisan “Potret Sunan Kalijaga”, “Potret Syeh Siti Jenar”, dan “Walisongo: Pertemuan Terakhir”.

Menariknya, tentu saja semua tokoh itu baik historis maupun mitologis dilukiskan oleh Jeihan dengan mata bolong. Alasan Jeihan melukis figur manusia dengan mata bolong, tampaknya selain memberikan kesan mistis yang kuat, juga bermakna simbolisasi spiritualisme bagi Jeihan.

Melalui mata hitam atau mata bolong dalam lukisan-lukisannya Jeihan mengingatkan agar manusia selalu melihat ke dalam sukmanya, melalui mata hitamnya masing-masing. Melalui kedua mata yang bolong, orang laksana diajak memasuki lorong menuju ke kedalaman tanpa batas. Melalui mata hitam, Jeihan sengaja menawarkan refleksi untuk mengetahui hakikat diri sendiri sebagai manusia.

Lukisan Karya Jeihan Sukmantoro. Foto: Dok. Jeihan Sukmantoro

Menurut beberapa kritikus seni, Jeihan memadukan alam mistik timur dengan alam analitis barat. Karyanya menceritakan aura meditatif. Tidak sedikit yang menafsirkan, mata sepenuhnya dicat hitam pada lukisan Jeihan ini melambangkan kegelapan misteri di jalan manusia. Dan menyingkap kegelapan misteri di jalan manusia, barangkali saja ialah obesesi hidup Jeihan.

Candra Malik, seorang pengiat kebudyaan di Lembaga Seni Budaya Muslim Indonesia (Lesbumi) PBNU, dalam artikelnya yang berjudul Ziarah Selagi Hidup (2016) pernah menulis, Jeihan menikmati rutinitas hidup di “tiga rumah”.  Tiga rumah itu dibangun di atas lahan dua hektar di Cicaheum: rumah masa lalu, rumah masa kini, dan rumah masa depan.

Rumah masa kini adalah museum, tempat di mana ia kini berkarya. Rumah masa lalu Jeihan ialah rumahnya ketika masih melarat. Sedangkan rumah masa depannya adalah kuburan. Ya, Jeihan sudah menyiapkan kuburan untuk dirinya sendiri. Menurut Malik, Jeihan setiap hari menziarahi kuburnya sendiri meski belum wafat. Dari rumah, lalu ke museum, lalu ke masjid, lalu ke makamnya sendiri.

Menurut Jeihan, jika kelahiran dan pernikahan disambut bahagia, maka demikian pula seharusnya kematian. "Harus dirayakan!" serunya. Di rumah makam itu, demikian ia menyebutnya, Jeihan menulis sebuah puisi, tulis Malik. Demikianlah puisinya:

Hati tenang,

bunga kembang, 

burung terbang, 

jalan terang,

aku pulang.

Ya, sosok Jeihan memang seorang spiritualis yang memeluk cita-cita Islam sufisme dalam hidupnya. Aspirasi spiritual dalam bingkai Islam sufisme ini setidaknya tergambar kuat dalam tulisan puisi-puisinya. Selain itu, juga tergambar jelas dari pameran tunggal Jeihan di tahun 2017. Berlokasi di Bandung, pameran tunggal itu bertajuk “Suwung atau Sufi”.

Hidup untuk seni dan seni untuk hidup. Itulah prinsip Jeihan selama menjalani profesinya sebagai pelukis. Lebih tegasnya Jeihan menjelaskan, hidup seorang seniman diabdikan untuk seni tetapi seorang seniman pun harus bisa hidup dari hasil seninya. Dan Jeihan, setidaknya berbeda dari seniornya Sudjojono, ialah salah satu seniman lukis Indonesia yang berhasil menikmati kesuksesan ekonomi di masa hidupnya.

"Mimin" Lukisan Karya Jeihan Sukmantoro. Foto: Dok. Jeihan Sukmantoro

Namun demikian kesenimanan seorang seniman haruslah didasarkan pada kejujuran ketika bekerja. Merujuk kembali Miekke, Jeihan pernah menulis, “Moyang etika dan estetika adalah kejujuran”. Prinsip estetika Jeihan ini jelas mengingatkan kita pada sosok perupa yang dikaguminya, Sudjojono. Seperti diketahui, Sudjojono dalam berkesenian memiliki kredo Jiwa Ketok. Bahwa, seni adalah jiwa si seniman yang terlihat. Jiwa ketok ialah wujud kejujuran di dalam karya.

Ya, Jiehan memang dinilai oleh banyak kalangan sebagai memiliki kegilaan tersendiri. Kegilaan ala seniman yang bukan dibuat-buat, alias otentik. Otentisitas hidup diri dan karyanya inilah kata kunci di balik kesuksesan dirinya sebagai seniman multi talenta, khususnya pada profesinya sebagai seorang pelukis. (W-1)

Budaya
Seni
Sosial
Ragam Terpopuler
Islam, Sumbangsih Terbesar Etnis Tionghoa
Hadiah terbesar bangsa Cina ke Indonesia adalah agama Islam. Demikian ujar Presiden ke-3 BJ Habibie dalam sebuah orasi di Masjid Lautze pada Agustus 2013. ...
Ziarah Kubur, Ibadah Haji Orang Jawa di Masa Lalu
Bagi kaum abangan, ziarah kubur ke makam raja-raja di Imogiri bermakna sebagai pengganti ibadah haji. ...
Membaca Kembali Sriwijaya yang Jaya itu
Petunjuk lain yang menguatkan keberadaan kerajaan Sriwijaya adalah prasasti yang ditemukan di Semenanjung Melayu, tepatnya di sebelah selatan teluk Bandon, saat ini Thailand bagian selatan. ...
Pacung dan Sambiran, Ternyata Dugaan Lombard Benar
Temuan-temuan ini menguatkan tesis bahwa pada abad ke-9 terjadi kontak yang sangat intensif antara Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara, dan India. ...
Teh Slawi, Sebuah Ikon Minuman Tradisional Kabupaten Tegal
Konon, ada makna filosofis di balik cara penyajian teh itu. Kehidupan memang selalu pahit di awalnya. Namun jika kita sanggup bersabar diri, kehidupan yang awalnya terasa pahit itu maka lambat laun pa...
Solidaritas Sosial dalam Sunat Poci dan Mantu Poci
Demikianlah potret lekatnya tradisi minum teh mengejawantah pada hajatan sunat poci dan mantu poci. Sayangnya, ritus sosial yang mencerminkan kuatnya solidaritas sosial dan hubungan timbal balik antar...
Harum Manis Carica Gunung Dieng
Pepaya gunung hanya dibudidayakan di Dieng, Wonosobo. Manisan atau selai carica gunung itu menjadi jajanan eksklusif yang hanya diproduksi di Wonosobo. Selain segar, carica juga punya kisah. ...
Rumah Pohon Korowai dan Tayangan Televisi Global
Booming-nya pemberitaan tentang rumah Korowai yang eksotis selama dua puluh tahun terakhir adalah bagian dari fenomena budaya global yang menginginkan tampilan bergaya "primitif" sebagai ses...
Agama, Sekolah, Bahasa Jembatan Keragaman Etnis Papua
Selain agama dan pendidikan, maka bahasa Melayu (baca: Bahasa Indonesia) juga bisa disebut memiliki dampak transformatif bagi warga Papua. Sebab, berhasil memberikan aspek keseragaman pada realitas fr...
Orang Laut Nusantara; Laut untuk Hidup, Hidup untuk Laut
Banyak sekali peristiwa dalam sejarah yang terjadi di wilayah laut Nusantara, tetapi cenderung diabaikan oleh peneliti sejarah konvensional. ...