Bahasa | English


SENI TARI

Sejarah Tari Sunda dan Riwayat Pak Kayat

23 May 2019, 00:00 WIB

Saat mengiringi tari pergaulan yang populer di kalangan "Menak" (priyayi), Abah Kayat diakui keahliannya oleh Dalem Bandung.


Sejarah Tari Sunda dan Riwayat Pak Kayat Rempak Gendang Sunda. Foto: Istimewa

Seni tari di tanah Sunda yang saat ini dikenal sebagai Jawa Barat, seperti halnya seni tari di belahan dunia yang lain, berakar dari sejarah yang panjang. Umurnya mungkin hampir sepanjang sejarah masyarakat itu sendiri.

Claire Holt dalam bukunya Art in Indonesia; Continuities and Change (1967), mencatat beberapa jenis kesenian yang ada dalam naskah kuno Kidung Sunda. Naskah ini diperkirakan berasal dari tahun 1550 M yang salinannya dipublikasikan peneliti Belanda, CC Berg, pada 1927.

Kidung Sunda mencatat berbagai rupa kesenian yang ada di zaman Majapahit. Sebagai bagian dari upacara ritus kematian "titiwanira", kerajaan menyajikan berbagai pertunjukan. Di antaranya, "men-men" (drama), "igel" (tarian indah), "babarisan" (tarian perang/beksa), "ronggeng" (tari pergaulan), "pawayangan" (wayang kulit), dan "patapelan" (topeng/kedok).

Jika dibandingkan dengan masa kini, hampir semua yang disebutkan dalam naskah kuno itu ada di tanah Sunda. Mulai dari Tarling, Jaipong, Rampak Silat, Tari Ronggeng, Wayang Kulit, hingga Tari Topeng. Semua itu bahkan bisa ditemukan di satu wilayah Kabupaten Indramayu saja. Ini adalah bagian dari warisan tradisi.

Tetapi dalam konteks keindonesiaan, seni tari Sunda sebagai sebuah produk kebudayaan yang bisa dipelajari oleh orang banyak, mengalami masa kebangkitannya sejak zaman politik etis. Henry Spiller, peneliti kebudayaan Sunda dari University of California, menulis tengtang riwayat Abah Kayat, seorang seniman tari dari Cimahi, yang menjadi peletak dasar pembelajaran seni tari Sunda.

Mengikuti arahan Sukarno, Presiden RI yang pertama, Abah Kayat bersama dengan Raden Rusdi Somantri alias Tjetje Somantri pada 50-an, bergabung dalam sebuah organisasi yang diberi nama Badan Kesenian Indonesia (BKI). Dua orang maestro inilah yang telah mengubah banyak hal yang telah mengangkat kesenian Sunda menjadi bagian warisan budaya dunia pada saat ini.

Perjalanan Abah Kayat

Abah Kayat berasal dari keluarga nayaga atau penabuh gamelan asal Bandung. Saat berusia dua belas tahun, dia terpesona dengan penampilan Dalang Topeng bernama Koncar yang berasal dari Cirebon. Saat rombongan "bebarang" topeng itu pulang, Kayat ikut ke Palimanan, tempat mereka berasal. Di sana dia belajar selama beberapa tahun.

Begitu kembali ke Bandung, Kayat dikenal sebagai pengendang Tayuban yang jago. Tari Tayuban  memerlukan keahlian improvisasi yang tinggi.  Saat mengiringi tari pergaulan yang populer di kalangan "Menak" (priyayi), Abah Kayat diakui keahliannya oleh Dalem Bandung.

Beberapa waktu kemudiaan, Abah Kayat pindah ke Cimindi, Cimahi. Dia bergabung dengan grup wayang orang yang dipimpin oleh dalang yang dia sebut sebagai "Ibu". Semasa kemerdekaan rombongan wayang orang ini harus "bebarang" agar bisa bertahan dari kampung ke kampung. Setelah kemerdekaan sebagian rombongan ini bergabung bersama Abah Kayat yang menetap di Babakan Tarogong.

Kolaborasi dengan Tjetje Somantri

Semasa di Tarogong ini, Abah Kayat bertemu dengan Raden Tjetje Somantri, putra wedana Purwakarta yang pernah juga belajar Topeng di Palimanan. Karena mengenyam pendidikan yang sama, mereka mudah untuk berkolaborasi. Tjetje Somantri bertindak sebagai koreografer, sedangkan Kayat berlaku sebagai pengiringnya.

Kolaborasi mereka berdua inilah yang kemudian diajarkan kepada penari-penari yang terlibat dalam misi muhibah Republik Indonesia ke berbagai negara. Dari kolaborasi inilah lahir nama besar seperti Irawati Durban hingga Endo Suwanda. (Y-1)

Seni
Ragam Terpopuler
Menjaga Kekhidmatan, Pesta Adat Erau dan TIFAF Digelar Terpisah
Pesta tradisional kesultanan Kutai ing Martadipura “Erau” dan Tenggarong Internasional Folk Art Festival digelar terpisah di bulan September. Keduanya dipisah untuk menjaga kekhidmatan tra...
Menikmati Budaya dan Burung Migrasi di Danau Limboto
Satu lagi agenda wisata di September 2019. Sebuah kegiatan festival akan diselenggarakan di Gorontalo. Kegiatan ini adalah Festival Pesona Danau Limboto 2019 yang rencananya diselenggarakan pada 21--2...
Menikmati Keindahan Alam Pantai dan Budaya Nias
Bila Anda masih bingung menentukan tempat mana untuk berlibur dan berwisata pada September nanti, Nias bisa jadikan sebagai pilihan utama. Pasalnya, pada 14 September akan ada puncak acara Sail N...
Hamzah Sang Aulia Lagi Mulia
Penemuan makam Tuan Hamzah dari Pancur jika diperbandingkan dengan catatan penjelajah Ibnu Battuta akan memperkuat beberapa hal. ...
Etika Kepemimpinan Jawa
Demikianlah, menjadi seorang raja dalam konstruksi etika kepemimpinan dalam budaya Jawa dituntut memiliki delapan laku, atau delapan sifat, atau delapan watak, yang bersifat keillahian dengan merujuk ...
Tuan Pancur di Tanah Suci
Jika salinan catatan dari nisan Hamzah Al Fansuri bisa dipastikan kebenarannya, maka bangsa Indonesia harus berterima kasih pada seseorang yang bernama Hassan Mohammed El Hawary. ...
Memilih Akhir Bersama Yang Terkasih
Konon para pengajar Mbah Moen inilah yang menjadi sosok-sosok terkasih yang dicintai Mbah Moen. Sampai-sampai setiap ada kesempatan di musim haji, Mbah Moen selalu pergi haji walaupun dalam kondisi ya...
Leluhur Nusantara di Tanah Tinggi
Siapa sangka pekuburan di tanah tinggi Mekah ternyata menyimpan sejarah ulama Nusantara, bahkan yang lebih lama. Seperti tokoh besar Hamzah Al Fansuri, yang diperkirakan hidup di abad 16, dan Mas'...
Mitos-mitos Dewi Laut di Nusantara
Sekalipun analisis sejarah Pram katakanlah “benar”, bahwa “perkawinan spiritual” Kanjeng Ratu Kidul dengan raja-raja Mataram ialah sekadar upaya membangun legitimasi kekuasaan ...
Festival Lembah Baliem sudah 30 Tahun
Usia Festival sudah termasuk tua, 30 tahun. Tapi Festival Lembah Baliem di Kabupaten Jaya Wijaya ini semakin memikat. ...