Bahasa | English


SENI TRADISIONAL

Seni Liping, Diorama Kehidupan Dari Jawa Tengah

27 August 2019, 12:49 WIB

Kreatifitas tanpa batas selalu dilakukan para seniman untuk menciptakan hasil yang memiliki nilai seni tinggi. Salah satu seni tingkat tinggi yang dihasilkan para seniman adalah seni liping.


Seni Liping, Diorama Kehidupan Dari Jawa Tengah Proses pembuatan produk seni liping di Museum Benteng Vredeburg, Yogyakarta, Kamis (10/6/2019). Foto: ANTARA FOTO/Noveradika

Seni merupakan ungkapan ekspresi dari seseorang yang dituangkan dalam hasil. Dalam eksplorasi seni tentu jiwa sangat berpengaruh akan menentukan karakter seseorang. Seorang seniman akan meresapi semua itu, untuk dikreasikan dalam hasil karyanya. Selama ini kita mengenal patung yang bisa menceritakan dengan nilai seni tinggi, maka seni liping merupakan gambaran seni diorama yang menceritakan gambaran kehidupan.

Diorama adalah benda miniatur tiga dimensi menggambarkan suatu pemandangan atau suatu adegan. Asal-usul diorama sendiri adalah dekorasi teater yang ada di Eropa dan Amerika abad ke-19. Kini seni liping berkembang di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Salah satu yang unik, seni liping yang berkembang di Indonesia dari Jawa Tengah.

Seni liping asal Jawa Tengah, lebih menceritakan tentang kehidupan masyarakat Jawa keseharian. Seperti orang menumbuk padi, menimba air, petani membajak sawah, menggembala bebek, hingga kerokan cara orang Jawa tradisonal dalam mengobati masuk angin dan masih banyak lagi. Banyak hal yang bisa digambarkan dalam seni liping yang dilakukan para seniman di Jawa Tengah.

Kata liping sendiri berasal dari bahasa Inggris, living yang berarti menjalani kehidupan. Bahan dalam seni liping di Jawa Tengah menggunakan dasar kombinasi kayu pinus yang dipahat sesuai dengan karakter yang diinginkan yang direkatkan menggunakan campuran beras, tapioka dan lem. Untuk mempercantiknya ditambahkan aksesoris dan pakaian yang digunakan karakter sesuai kegiatan sehari-harinya. Pengrajin seni liping tidak menggunakan cetakan dalam membuat karakter sehingga hasilnya akan berbeda antara satu dengan lainnya.

Lama pembuatan dari karakter seni Liping ini biasanya memakan 1 jam untuk membentuk satu karakter dengan dimensi yang mungil yakni 7x7 cm dan tinggi sekitar 10 cm. Harga untuk satu karakternya berbeda-beda terantung dari tingkat kesulitan dan desain yang diinginkan. Harga paling murah dibanderol Rp 50.000 untuk karakter yang sederhana dan bisa mencapai Rp 5 juta untuk satu karakternya.

Bergulat Dalam Kehidupan

Hidup seseorang mengalir bak air dan tidak ada yang pernah tahu akan kemana muaranya. Adalah Bejo Wage Suu yang berasal dari Sukoharjo, sosok yang mempopulerkan seni liping dalam ritme kehidupan masyarakat Jawa. Pria satu ini berhasil menghidupkan kembali budaya yang mulai tergerus oleh perkembangan zaman.

Kehidupan keseharian masyarakat Jawa seperti menumbuk padi, menimba air dari sumur, dan kegiatan harian lainnya, mengandung filosofi tinggi, seperti keharusan bekerja keras, menerima keadaan, dan tidak patah semangat. Semua kegiatan itu dituangkan dalam miniatur kecil. Karya seni Bejo saat ini memang dikenal hingga ke tataran internasional. Dengan label seni liping Jopajapu IndonesiaLifestyle.

Butuh kreativitas yang tinggi untuk menuangkan ide pada karya pemilik nama asli Maryono, berupa sosok manusia mini khas masyarakat Jawa yang begitu natural berinteraksi. Sosok perempuan mengenakan kain sebatas dada dan berkain batik, sedangkan sosok laki-laki digambarkan bercelana hitam selutut, dilengkapi kain dan rompi. Kepala mereka memakai iket batik atau kain penutup kepala. Kekhasan inilah yang membuat seni liping ini menjadi unik dan menarik.

Atas kreasinya ini, Bejo Wage Suu menerima beberapa penghargaan antara lain dari Sayembara Suvenir Nasional tahun 2006 dari Departemen Kebudayaan dan Pariwisata. Masih di tahun yang sama, karya lipingnya yang berjudul “Pertunjukan Wayang Kulit” memenangi Sayembara Suvenir Nasional. Tiga tahun kemudian, seperangkat liping “Catur Baratayuda” memperoleh  Merit Prize untuk kategori kayu dalam Inacraft Award 2009.

Dari menjadi pekerja bengkel, tapi darah seninya begitu menggeliat sehingga ia berhasil membuat karya seni liping hanya berbentuk siluet sosok modern yang tengah beraktivitas, misalnya bermain gitar dan membatik. Bahannya pun lebih sederhana, karena hanya berupa sepotong kayu bekas stik es krim. Bentuk liping sempat berubah sebanyak tiga kali, sebelum akhirnya menemukan bentukyang sekarang tradisional.

Tidak ingin pemandangan ritme kehidupan masyarakat Jawa hilang dan tidak dikenal oleh generasi sekarang, ia lalu menuangkan seni liping dalam kegiatan tradisional, seperti menumbuk padi dan menanak nasi dengan dandang. Idenya lahir tahun 2002, ketika Bejo masih di jalanan Solo, menjajakan tulisan ukir di trotoar. Pengalaman belajar ukir secara otodidak membuatnya tidak ragu untuk mencoba hal baru.

Awalnya, kayu dari kotak telur digunakan sebagai material dasar tapi kemudian ia menemukan kayu pinus sebagai material yang pas. Kayu pinus digunakan karena lebih murah, ringan dan seratnya yang bagus. Seni Liping untuk pertama kali ikut pameran pada Festival Keraton Nusantara.

Banyak seniman, terutama pematung, telah melahirkan karya seperti itu dengan materi yang berbeda-beda, mulai lilin, tembaga, hingga kayu. Namun liping  kreasi Bejo  menjadi istimewa, karena dalam ukurannya yang kecil tetap mampu memunculkan detil warna, ekspresi dan karakter tokoh orang Jawa.

Itu yang membuat karya seni liping ini terkesan hidup dan bercerita. Bahkan liping telah memiliki pasar tetap di Hawai, Belanda, Jepang, dan Meksiko. Dalam perkembangannya, liping memang tak melulu bercerita tentang kehidupan masyarakat tradisional tapi juga persoalan politik, misalnya “Catur Baratayuda” yang menggambarkan kegundahannya terhadap “perang saudara” antara penguasa dan rakyat jelata,  yang seringkali terjadi di negeri ini dalam setiap penggusuran. Dalam karya ini, Bejo menyajikan miniatur secara lengkap, mulai dalang, waranggana serta para penabuh gamelan, seperti gong, bonang, pemain rebab, suling dan gambang. Menariknya, setiap karya Bejo ini tidak ada duplikatnya dan tidak diproduksi massal. (K-GR)

Seni
Ragam Terpopuler
Teh Slawi, Sebuah Ikon Minuman Tradisional Kabupaten Tegal
Konon, ada makna filosofis di balik cara penyajian teh itu. Kehidupan memang selalu pahit di awalnya. Namun jika kita sanggup bersabar diri, kehidupan yang awalnya terasa pahit itu maka lambat laun pa...
Harum Manis Carica Gunung Dieng
Pepaya gunung hanya dibudidayakan di Dieng, Wonosobo. Manisan atau selai carica gunung itu menjadi jajanan eksklusif yang hanya diproduksi di Wonosobo. Selain segar, carica juga punya kisah. ...
Rumah Pohon Korowai dan Tayangan Televisi Global
Booming-nya pemberitaan tentang rumah Korowai yang eksotis selama dua puluh tahun terakhir adalah bagian dari fenomena budaya global yang menginginkan tampilan bergaya "primitif" sebagai ses...
Agama, Sekolah, Bahasa Jembatan Keragaman Etnis Papua
Selain agama dan pendidikan, maka bahasa Melayu (baca: Bahasa Indonesia) juga bisa disebut memiliki dampak transformatif bagi warga Papua. Sebab, berhasil memberikan aspek keseragaman pada realitas fr...
Orang Laut Nusantara; Laut untuk Hidup, Hidup untuk Laut
Banyak sekali peristiwa dalam sejarah yang terjadi di wilayah laut Nusantara, tetapi cenderung diabaikan oleh peneliti sejarah konvensional. ...
Mengintip Wisata di Sekitar Kawasan Calon Ibu Kota Baru
Presiden Joko Widodo  baru saja memutuskan wilayah yang akan dijadikan ibu kota baru Tanah Air. Wilayah tersebut yakni sebagian wilayah Kabupaten Kutai Kartanegara dan sebagian daerah Penajam Pas...
Wisata Religius ke Pulau Mansinam
Mengenang heroisme dan dedikasi total tugas kemanusiaan yang dilakukan kedua Rasul Papua itu, kini sebuah film tengah dibuat. Tak hanya memperlihatkan jati diri peradaban Tanah Papua sebagai Tanah Inj...
9 dari 10 Bahasa Indonesia adalah Asing
"Dalam Bahasa Indonesia bukan saja tercermin kebudayaan imigran, tapi juga manifestasi bahasa Indo. Atau, dengan kata lain, Bahasa Indonesia ialah produk budaya hibrida, sehingga bukan tak mungki...
Dari Odisha hingga Jepara, Keturunan Kalingga di Nusantara
Hanya kekuatan armada laut yang besar yang bisa menjelaskan kemampuan Kerajaan Kalingga menduduki pesisir utara Pulau Jawa. ...
Jalan Hidup Anak-Anak Rohani Pram
Sekalipun Pram baru meninggal 2006, sesungguhnya ia telah meninggal saat karya-karyanya telah selesai ditulis dan diterbitkan. Ya sebagai anak rohani, karya-karya sastra Pram mempunya jalan hidupnya s...