Masih terjadi penularan di tengah masyarakat. Tidak terhitung lagi, berapa kali Kolonel dokter Achmad Yurianto, Juru Bicara Gugus Tugas Percepatan Penanggulangan Covid-19, mewanti-wanti atas bahaya pandemi virus ini. Gerak penularan itu harus diputus. Karenanya, dokter lulusan Universitas Airlangga (Unair), Surabaya, 1986, itu meminta supaya masyarakat ikut aktif melakukan pencegahan, dengan cara tetap tinggal di rumah, rajin cuci tangan dengan sabun, melakukan physical distancing, bekerja di rumah, beribadah di rumah, dan tidak mudik.
Sebagai dokter dan perwira TNI, pembawaannya tenang, lurus, tegas, dan serius, saat menyampaikan perkembangan pandemi itu, atau kebijakan terbaru terkait dengan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Dalam hal data harian, Yuri, begitu ia biasa disapa, membiarkannya mengalir tanpa tafsir-tafsir. Sosok yang sejak Maret silam, menjabat Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (Dirjen P2P) di Kementerian Kesehatan (Kemenkes), itu seperti tak ingin memantik kontroversi yang tak perlu. Ia hanya menyodorkan data faktual yang terbaru.
Dalam media biefing di Graha Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Jakarta, Jumat (15/5/2020), Yuri menyebutkan, ada penambahan 495 kasus Covid-19 baru. Pada sejumlah daerah, menurutnya, ada perkembangan bahwa penambahan kasus baru sudah cenderung mendatar, tidak eksponensial. Yuri tak memberi ulasan panjang di luar data standar. Lurus saja: kasus baru, pasien sembuh, meninggal, pasien dalam pengawasan (PDP), atau orang dalam pemantauan (ODP).
Belakangan, angka temuan pasien positif Covid-19 itu per harinya bertambah lebih besar. Sejak akhir April, misalnya, penambahan harian sering melejit di atas 400 orang. Seperti pada 1 Mei 2020 ada pertambahan 433 orang, lalu 484 orang di 5 Mei, 533 orang di 9 Mei, melonjak ke 689 dan 568 orang pada 13 dan 14 Mei, dan 490 orang di 15 Mei. Cukup menyentak.
Tak urung, muncul kegusaran di banyak kalangan. Yuri menjawab kalem dan hati-hati. Ia mengatakan, kini pemeriksaan atas PDP dilakukan oleh lebih banyak laboratorium. Ada 59 jaringan laboratorium yang terlibat dalam diagnosis molekuler PCR di berbagai kota. Ada pula 15 rumah sakit (RS) yang menjalankan pemeriksaan dengan tes molekuler, antara lain, di RS Darurat di Wisma Atlet Kemayoran dan RS Pertamina Jaya di Jakarta, bahkan di RSUD Serui di Kepulauan Yapen, Papua.
Dengan semakin banyaknya fasilitas tersebut, berarti kian banyak spesimen swab yang dapat diperiksa setiap harinya. Antrean spesimen PDP dipangkas. Karena populasi spesimen yang dicek lebih besar, tak heran bila ditemukan hasil positif Covid-19 lebih besar. Untuk menghindari kerumitan statistiknya, Yuri memilih penjelasan yang lebih sederhana. Bahwa, diagnosis Covid-19 sejak bulan Mei ini bisa dilakukan dengan piranti tes molekuler di kota-kota yang jauh dari pusat, seperti di Tarakan, Kupang, dan Serui.
Semula, pada, awal Maret lalu, saat Covid-19 mulai merebak, pemeriksaan diagnostik dipusatkan di Laboratorium Biomedik Kemenkes di Jakarta. Dengan cepat spesimen yang harus dites meningkat. Gugus Tugas Covid-19 mulai melibatkan laboratorium- laboratorium Kemenkes di daerah, laboratorium RS daerah, juga laboratorium kampus-kampus dan lembaga penelitian. Maka, kini 59 laboratorium telah beroperasional dan masih mungkin ditingkatkan menjadi 78 laboratorium.
Berikutnya, ada tambahan sarana diagnostik lagi. Piranti tes cepat molekuler (rapid test molecular) yang dioperasikan sejak 2015 pada sejumlah RS, termasuk di daerah, ternyata bisa digunakan untuk diagnosis Covid-19. Perkakas ini biasanya dipakai memeriksa kuman TBC atau Pneumonia, tapi oleh prinsipalnya, Cepheid dari Amerika Serikat, ternyata bisa di-upgrade untuk mendeteksi virus SARS COV-2. Cepheid hanya meng-install program baru dan memberikan catridge dengan reagen yang sesuai.
Kapasitas diagnosis Covid-19 pun terus meningkat. Jika pada awal Maret baru sekitar 1.000 spesimen per hari, di pertengahan Mei telah mendekati 6.500 spesimen per hari. Kesempatan untuk mencapai 10.000 spesimen per hari masih terbuka mengingat masih ada potensi mesin PCR dan piranti tes cepat molekuler yang sedang dipersiapkan.
Penularan Menyusut
Ada dinamika yang menarik di balik angka-angka pandemi itu. Bila ditarik garis batas per 1 Mei, maka pada periode 1 Maret - 30 April tercatat rata-rata dilakukan 1.576 tes molekuler per hari. Ada pun per 1 hingga 10 Mei rata-rata dijalankan 6.367 tes per hari. Ada peningkatan empat kali lipat.
Pada periode 1 Maret - 30 April, tes molekuler menemukan adanya hasil positif Covid-19 sebanyak 10,70% dari seluruh spesimen. Sedangkan pada kurun 1 - 10 Mei 2010 itu, spesimen swab yang positif ada di level 8,86%. Susut 1,84%. Penularan melemah? Masih terlalu pagi disimpulkan.
Yang perlu dicermati ialah angka kematian. Meski jumlah kematian terus bertambah dari hari ke hari dan mencapai 1.076 per 15 Mei, selama sebulan terakhir tak menunjukkan lonjakan yang luar biasa. Angka kematian terbesar terjadi pada 14 April dengan 60 kasus dan 19 April dengan 47 kasus. Setelah itu tingkat kematian cenderung menyusut rata-rata di bawah 20 orang per hari.
Yang belum menggembirakan justru angka kesembuhan. Bila diasumsikan bahwa angka kematian 6,5 persen, dengan masa perawatan satu bulan bagi pasien positif Covid-19, mestinya angka kesembuhan ada di atas 300 orang per hari. Secara faktual angka kesembuhan itu, yang dikonfirmasi dengan hasil negatif dua kali tes molekuler, masih jauh dari harapan. Secara rata-rata antara 1-15 Mei hanya ada 152 kasus sembuh per hari.
Boleh jadi, hasil negatif tak serta muncul ketika pasien secara simtomatik telah bebas dari penyakit Covid-19. Perlu waktu lebih panjang untuk memastikan koloni virus itu bersih dari tubuh pasien.
Data kumulatif ODP dalam paparan Gugus Tugas Covid-19, memang terus meningkat. Pada posisi 15 Mei mencapai hampir 263 ribu. Namun, seperti sering kali disampaikan Achmad Yurianto, data ODP adalah catatan akumulatif bagi orang-orang, yang menurut hasil tracing berpotensi terpapar Covid-19.
Secara faktual ODP sudah jauh berkurang, tinggal tersisa sekitar 30 ribu saja. Ada dari mereka yang jadi PDP, terkonfirmasi positif, bahkan meninggal dunia. ‘’Namun, sebagian besar mereka menjalani isolasi mandiri dan tidak terjadi apa-apa atas mereka,’’ kata Achmad Yurianto dalam beberapa kesempatan.
Yang perlu terus dicermati adalah angka PDP. Mereka adalah pasien yang secara faktual menunggu dan mengantre guna mendapatkan kesempatan menjalani pemeriksaan PCR atau tes cepat molekuler. Pada posisi 15 Mei, angka PDP masih meningkat, yang berarti ada antrean yang lebih panjang. Kapasitas tes molekuler yang kini mencapai 6.500 per hari belum cukup untuk menekan angka PDP.
Ada kesempatan untuk mengaktifkan laboratorium- laboratorium kampus lainnya di daerah dan mesin tes cepat molekuler di sejumlah rumah sakit di daerah. Namun, masih ada keterbatasan kiriman reagen dan cartridge dari luar negeri. Perlu waktu dan kesabaran.
Secara statistik, ada pesan terbuka bahwa sekitar 9% dari populasi PDP itu akan jadi positif Covid-19. Mengacu kepada catatan selama hampir 11 pekan ini, ada kematian sebesar 6,5% dari pasien Covid-19. Cerita-cerita sedih itu masih akan terus berulang, di tengah kisah pilu lainnya sebagai dampak pandemi global yang menikam warga dalam kehidupan sosial, ekonomi, maupun spiritualnya.
Tidak heran bila hari-hari ini, di atas mimbar aula Graha BNPB, Kolonel dokter Achmad Yurianto nyaris tak bisa tersenyum.
Penulis: Putut Trihusodo
Editor: Elvira Inda Sari
Redaktur Bahasa: Ratna Nuraini