BENCANA
  Presiden Joko Widodo meninjau langsung tanggul Sungai Citarum yang terletak di Kecamatan Pebayuran, Kabupaten Bekasi, Provinsi Jawa Barat, pada Rabu, 24 Februari 2021. Setpres

Tanggul Jebol Akibat Beban Ekstra dari Jonggol

  •   Sabtu, 27 Februari 2021 | 21:01 WIB
  •   Oleh : Administrator

Tanggul Citarum jebol. Presiden Jokowi mendesak Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) menyelesaikan perbaikan tanggul itu dalam dua hari.

Citarum itu sungai yang amat perkasa dengan energi yang berlebih. Bisa di hulu atau di hilir, sekali mengamuk kerusakan besar tak terhindarkan. Insiden itulah yang terjadi Minggu (21/2/2021) dinihari. Merasa kewalahan harus menanggung muatan air terlalu besar, massa air itu dibenturkannya ke dinding tanggul kali di Desa Sumber Urip, Kecamatan Pebayuran, Kabupaten Bekasi.    

Benturan keras dan berulang-ulang itu membuat tanggul jebol sepanjang 50 meter. Massa air pun menerjang ke arah Desa Sumber Urip. Lima rumah pertama di depannya hancur dan hanyut, tak bersisa. Ada sekitar 25 lainnya yang rusak parah. Dari celah tanggul yang hancur itu, air pun membanjiri empat desa dan ratusan hektar hamparan sawah di sekitarnya.

Bergerak sekitar lima kilometer arah hulu, air Citarum tampak pula meluap melewati tanggul kali dan menggenangi desa-desa sekitar Rengasdengklok. Ternyata, limpasan terjadi  di  hampir sepanjang Sungai Citarum, sejak turun dari Waduk Jatiluhur (nama resminya Bendungan Ir H Juanda) di Purwakarta. Tak kurang dari 34 desa di 15 kecamatan di Kabupaten Karawang terdampak genangan, termasuk sebagian Kota Karawang.

Pada Senin (22/2/2021) pagi, Menko Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) Muhadir Effendy, didampingi Menteri PUPR Basuki Hadimuljono dan Kepala BNPB Doni Monardo, melakukan peninjauan ke lapangan dengan helikopter. “Genangannya cukup luas,” kata Menteri PUPR Basuki, seperti terlihat di video yang diunggah BNPB di Youtube.

Menteri Basuki  merasa harus memeriksa apa yang terjadi sehingga Citarum hilir meluap. Padahal debit airnya sudah dikendalikan dari Waduk Jatiluhur. Hari itu, bendungan dalam posisi penuh, dan air hanya digunakan secara terbatas untuk menggerakkan turbin listrik, maka volume air yang dialirkan ke Citarum masih cukup besar, yakni sekitar 900 m3/detik.

Kapasitas badan sungai Citarum hilir ini, menurut Menteri Basuki, adalah 1.100 m3/detik. Masih cukup aman, masih ada selisih 200 m3/detik untuk mengakomodir limpasan air ke sungai dari daerah aliran air (DAS) di hilir. Namun, air limpasan dari DAS hilir itu rupanya cukup besar dan air dari sungai pun berbalik melimpas di bagian tanggul yang rendah.

Makin ke arah hilir, tekanan makin besar. “Itu gara-gara ada aliran air dalam jumlah besar dari Kali Cibeet,” kata Menteri Basuki. Kali Cibeet adalah anak Sungai Citarum yang berhulu di daerah perbukitan Jonggol-Cibarusah, Bogor Timur. Kali Cibeet itu bermuara di Citarum beberapa kilometer di utara Karawang.

Debit Kali Cibeet sebetulnya sudah banyak dipangkas di sekitar Karawang Barat, karena sebagian airnya digelontorkan  ke Jakarta melalui Kalimalang, melewati Bekasi. Namun, limpasan air dari arah Jonggol-Cibarusah begitu besar, hingga air Kali Cibeet ini memberi beban ekstra bagi Kali Citarum di utara Kota Karawang.  

Maka, paras air Sungai Citarum makin tinggi dan meluapkannya ke kanan kiri, terutama di  Kecamatan Rengasdengklok, Karawang. Debit air Kali Citarum di situ, kata Menteri Basuki, sudah mencapai 1.300 m3/detik. “Airnya meluap ke daerah sekitarnya,” ujarnya. Di Desa Sumber Urip bahkan air menjebol tanggul dan menimbulkan genangan yang luas.

Menteri Basuki segera meminta jajarannya cepat menambal tanggul yang jebol itu dengan tumpukan  karung-karung dari serat geotekstil berisi tanah. Maka, ketika ia mendampingi Presiden Joko Widodo mengunjungi Desa Sumber Urip, Rabu (24/2/2021), tumpukan kantung geotekstil itu sudah setinggi hampir dua meter.

Khawatir adanya cuaca ekstrim yang mendatangkan hujan dengan intensitas tinggi, yang akan membuat Citarum kembali mengamuk, Presiden Jokowi mendesak  Menteri Basuki menyelesaikan perbaikan tanggul itu dalam dua hari. “Agar banjir ini tidak berulang,” ujar Presiden Jokowi.

Hari berikutnya, enam eskavator pun berada di lokasi tanggul jebol. Ribuan karung berisi tanah kembali diatur bertumpuk dan ditimbun dengan tanah sehingga terbentuk dinding tanggul baru.

Rekayasa dari Hulu

Dengan panjang 300 km, luas DAS mencapai 11.300 km2, dan berada di daerah dengan curah hujan tinggi, Sungai Citarum adalah sebuah potensi besar. Untuk pengendalian banjir dan pemanfaat airnya, Presiden Soekarno membangun Bendungan Jatiluhur di ruas sungai di Purwakarta. Konstruksinya dikerjakan sejak 1956 dan selesai 1965.

Daya tampung Bendungan Jatiluhur ini mencapai 2,5 miliar m3, dan bisa mengalirkan 12,9 miliar m3 air baku per tahun. Lebih dari 50 persen kebutuhan air baku Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) DKI Jakarta hingga saat ini dipasok dari Jatilihur.

Untuk pertanian, Waduk Jatiluhur memasok air irigasi untuk areal sawah seluas lebih dari 300 ribu hektar sawah, tersebar di Kabupaten Bekasi, Karawang, Subang, dan Indramayu. Sebelum dialirkan ke saluran irigasi, air waduk digunakan untuk memutar beberapa turbin dan menghasilkan listrik dengan daya total 107 Megawatt (MW).

Air Citarum masih berlebih. Pada bagian hulu dari Jatiluhur, Presiden Soeharto membangun Bendungan Saguling (1981-1982) dan Cirata (1982-1986). Seperti halnya Jatiluhur, keduanya pun memberikan air irigasi, air baku untuk PDAM, dan listrik. Dengan daya tampung air 875 m3 air, Saguling dapat menggerakkan sejumlah turbin dan menghasilkan daya listrik sampai 797 MW. Cirata lebih besar lagi, yakni 1.008 MW.

Trio waduk Saguling-Cirata-Jatilihur pun memberikan peluang baru, yakni budi daya ikan air tawar dalam keramba. Ribuan pelaku usaha terlibat di dalamnya. Ketiga waduk itu kini menjadi sentra produksi ikan budi daya air tawar yang terbesar di Indonesia.

Pengendalian Hulu

Presiden Joko Widodo mengambil peran untuk pengelolaan wilayah hulu. Melalui program Citarum Harum sejak 2015, pemerintah melakukan penertiban pembuangan limbah industri  ke Kali Citarum, terutama di segmen Kabupaten Bandung. Atas nama program ini pula, Sungai Ditarum dinormalisasi, bersama sejumlah anak sungainya, terutama di  bagian hulu di Kabupaten Bandung dan Kabupaten Bandung Barat.

Dukungan dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat, dan kabupaten/kota di DAS Citarum sangat antusias. Gubernur Ridwan Kamil berhasil merangkul pegiat lingkungan Jawa Barat sehingga Citarum Harum tak hanya program pemerintah, melainkan gerakan masyarakat. Badan Kali Citarum pun menjadi jauh lebih bersih dalam beberapa tahun terakhir.

Namun, sebagian kawasan Baleendah, Bojongsoang, dan Dayeuhkolot di Bandung Selatan, masih terus tergenang oleh luapan Citarum. Gara-garanya ada penyempitan badan sungai  di Curug Jompong. Akibatnya, terjadi efek bottle neck, dan muka air naik ketika air sungai deras, dan menimbulkan arus balik ke hulu. Sejumlah  RT di Baleendah, Bojong Soang dan Dayeuh Kolot pun terendam, berikut jalan-jalan raya dan sarana umum lainnya.

Banyak yang keberatan bila Curug Jompong itu dibongkar dan diperlebar, karena ia situs geologis yang penting, yang terbentuk di era Danau Bandung Purba 100 ribu tahun silam. Solusinya, Presiden Jokowi pun memerintahkan pembuatan terowongan kembar, masing-masing sepanjang 230 meter dengan garis tengah 8 meter. Kapasitasnya 2 x 80 m3/detik.

Terowongan kembar itu diresmikan Presiden Jokowi Januari 2020, dan disematkan nama resmi Terowongan Nanjung. Berkat terowongan ini, arus Kali Citarum bisa menghilir lebih cepat. Hasilnya, menurut Gubernur Ridwan Kamil, dari 490 ha kawasan yang secara laten tergenang di musim hujan, bisa menyusut menjadi 80-90 ha saja.

Rekayasa aliran sungai Ciratum berlanjut. Gubernur Ridwan Kamil pun terus mengawal Cisangkuy Floodway. Kanal selebar 40 meter dan panjang 1,7 km itu akan memindahkan beban puncak Kali Cisangkuy, yang bermuara di Citarum di Baleendah, ke Kali Ciranjang. Dengan begitu beban air dipindah ke arah hilir karena Kali Ciranjang bermuara di Sungai Citarum yang lebih dekat ke Terowongan Nanjung. Baleendah lebih aman.

Toh, itu pun belum cukup. Gubernur Ridwan Kamil membangun sejumlah kolam retensi guna menahan air limpasan hujan untuk tak cepat masuk ke Kali Citarum. Yang juga terus diupayakan pemerintah pusat dan daerah ialah menata kembali pemanfaatan lahan di hulu DAS Citarum, dan anak-anak sungainya, yang tersebar di sejumlah kabupaten. Pekerjaan itu boleh jadi menjadi bagian paling sulit.

 

 

 

Penulis: Putut Trihusodo         
Redaktur: Ratna Nuraini/Elvira Inda Sari