WISATA LOMBOK
  Desa Sade, desa wisata yang menjadi rumah para penenun di Lombok, Nusa Tenggara Barat. KEMENPAREKRAF

Pesona Keunikan Desa Sade Lombok

  •   Senin, 11 April 2022 | 15:35 WIB
  •   Oleh : Administrator

Ada satu rumah yang tidak boleh dimasuki wisatawan, yaitu rumah tempat penyimpanan pusaka Suku Sasak.

Destinasi wisata Desa Sade, kampung asli Suku Sasak di Nusa Tenggara Barat, menjadi salah satu daya tarik pariwisata Pulau Lombok. Keunikan adat istiadat, keramahan, dan keanekaragaman produk budaya Sasak membawa kesan tersendiri bagi pelancong.

Desa Sade adalah salah satu dusun yang ada di Desa Rembitan, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah. Terletak di antara jalan raya Praya ke Kuta, sekitar 30 km dari Kota Mataram. Jarak tempuh dari Bandara Internasional Zainuddin Abdul Madjid sekitar 15 menit dan lima menit dari kawasan The Mandalika, lokasi Pertamina Mandalika International Street Circuit.

Ketika tim Indonesia.go.id menyambangi Desa Sade, akhir Maret lalu, penduduk sudah menyambut dengan senyum ramah mulai dari gapura desa. Seorang pemandu wisata telah siap mengantar masuk ke dalam kawasan desa.

Para pengunjung terlebih dahulu mengisi daftar tamu. Para turis tidak ditarik tarif masuk. Oleh pemandu, kami disarankan memberikan uang seikhlasnya ke dalam untuk membantu operasional wisata Desa Sade.

Kawasan desa adat Sasak ini memiliki sejarah panjang. Eksis sejak 1.500 tahun lalu. Ketika kami memasuki halaman parkir, sudah terlihat atap rumah adat yang terbuat dari anyaman bambu berdiri kokoh, di antara bangunan modern berdinding tembok.

Nuansa tradisional terlihat dari atap genting antik yang terbuat dari pelepah daun rumbai (ijuk). Bale Tani digunakan sebagai tempat tinggal penduduk suku Sasak. Sedangkan Bale Lumbung sebagai tempat penyimpanan hasil bumi. Suasana pedesaan Lombok masa lalu sangat terasa.

Di masa new normal, aktivitas di Desa Sade tetap menerapkan protokol kesehatan (prokes) ketat, bagi pengunjung maupun pemandu wisata wajib menggunakan masker dan tetap menjaga jarak. Erwin, salah satu pramuwisata Dasa Sade, mengatakan bahwa di dalam Desa Sade itu ada 152 keluarga. Luas kawasan tersebut sekitar tiga hektare.

Di Dusun Sade ini terdapat tradisi kawin culik, para jejaka harus berani menculik pujaan hatinya untuk mengahiri masa lajang. Sedangkan para gadis di Dusun Sade diwajibkan untuk bisa menenun. Jika gadis di Dusun Sade belum bisa menenun, maka tidak diperbolehkan untuk menikah.

Selain itu, bagi para pelancong biasanya digelarkan atraksi peresean atau tari perang yang dilakukan para pria Sasak Desa Sade. Dua pria saling berhadapan sambil membawa rotan sebagai penjalin (pemukul) dan tameng berbentuk segi empat atau ende yang terbuat dari kulit kerbau. Tarian yang sebenarnya dilakukan untuk meminta hujan pada musim kemarau itu tak akan melukai lawan atau menumpahkan darah.

Wisatawan yang datang ke Desa Sade harus mentaati aturan yang telah dibuat oleh pengelola. Ada hal-hal yang tidak boleh dilakukan wisatawan. Di antaranya, tidak boleh memakai celana pendek. Ketika ada wisatawan yang memakai celana pendek, maka akan dipinjamkan kain tenun untuk menutupi lututnya. Pengunjung juga dilarang teriak-teriak dan menyakiti sesama.

Penting diperhatikan para pelancong. Ada satu rumah yang tidak boleh dimasuki wisatawan, yaitu rumah tempat penyimpanan pusaka Suku Sasak. "Selain satu rumah penyimpanan pusaka, seluruh rumah yang ada di Desa Sade boleh dimasuki wisatawan untuk melihat keunikannya," ujar Erwin.

Ada yang unik dari penduduk Sade, mereka memiliki kebiasaan melumuri lantai rumah dengan kotoran ternak. Meski terbilang menjijikkan, penduduk Sasak Sade percaya, lantai yang dilumuri kotoran sapi membuat rumah mereka suci. Namun, untuk tempat ibadah seperti Masjid, penduduk tidak menggunakan kotoran kerbau untuk membersihkan lantainya.

Di dalam Desa Sade dijual juga berbagai suvenir ciri khas Suku Sasak, seperti kain tenun khas motif Lombok dan berbagai jenis pakaian khas Lombok. Tersedia juga gelang, cincin, mutiara, hiasan dinding, topi, minuman kopi, dan banyak lagi jenis kuliner. Produk kriya desa ini hampir semuanya berbasis tenun.

Keunikan lain di dusun adalah pohon cinta. Tanaman pohon cinta di Desa Sade merupakan pohon nangka yang kini sudah lapuk dimakan usia. Menurut Erwin, hikayat pohon ini menjadi titik pertemuan sepasang kekasih baik yang akan memadu cinta maupun yang akan melangsungkan pernikahan. Dari sinilah para lelaki akan membawa ‘kabur’ calon istrinya. Pohon cinta tumbuh di tengah-tengah pemukiman desa.

Selain itu juga ada menara yang terbuat dari kayu jati bertujuan untuk melihat pemandangan seluruh desa dari atas. Menara setinggi 10 meter dibuat tahun lalu. "Diharapkan pengunjung akan lebih banyak lagi yang akan datang ke desa Sade sehingga dapat meningkatkan perekonomian masyarakat. Semoga dengan berkunjung ke desa ini ada pemodal dan investor mau bekerja sama dengan pelaku usaha di Desa Sade," tukas Erwin.

Gebyar MotoGP Mandalika 2022 pada 18-20 Maret lalu turut mengangkat sentra UMKM dan wisata lokal sekitar Lombok Tengah. Pengunjung Desa Sade per hari nya melebihi 800 orang.

Salah satu pedagang suvenir di Desa Adat Sade bernama Inaq Aris mengaku, saat ajang World Superbike (WSBK) 2021, keuntungannya mencapai rata-rata Rp800.000 per hari. Sementara saat gelaran MotoGP Mandalika keuntungannya bisa mencapai Rp2 jutaan. Kemeriahan MotoGP Mandalika 2022 membawa berkah bagi masyarakat adat Sasak.

 

Penulis: Kristantyo Wisnubroto
Redaktur: Ratna Nuraini/Elvira Inda Sari