Lokasi Kamu : (Showing) Jakarta Kota
Bahasa | English


Di Laut Kita Kaya

Wednesday, 1 August 2018

Menurut Presiden Jokowi Widodo, potensi ekonomi kelautan kita mencapai angka Rp15.000 triliun per tahun. Angka ini lebih dari enam kali besaran APBN kita sekarang.

 


Di Laut Kita Kaya Presiden Joko Widodo. Sumber foto: Istimewa

Dengan ekonomi potensi kelautan yang mencapai Rp15.000 triliun per tahun, maka jika saja itu dimaksimalkan hasilnya Indonesia hanya akan tinggal tunggu waktu memasuki deretan negara-negara kaya.

Jika dibandingkan sumbangan sektor kelautan sejumlah negara, seperti Jepang, Korea Selatan, dan Tiongkok mencapai 48,5% bagi PDB nasionalnya. Negara anggota Asean seperti Vietnam, sektor kelautannya mampu menyumbang 57,63% terhadap total PDB. Bahkan, sejumlah negara di Eropa memiliki kontribusi sektor kelautan hampir 60% dari PDB.

Sementara itu, kini sektor kelautan kita hanya menyumbang di bawah 30% dan sektor perikanan hanya menyumbang sekitar 3% dari PDB nasional. Angka ini relatif kecil dibandingkan dengan potensi yang berada di sepanjang garis pantai Indonesia. Artinya, terbuka kesempatan sangat lebar untuk meningkatkan potensi laut Indonesia sebagai basis perekonomian nasional.

Bahkan laporan yang disusun para ahli dari Inggris menjelaskan, pada 2030 ada pertumbuhan yang luar biasa dari ekonomi di sekitar laut. Laporan yang disusun untuk pemerintah Inggris itu menunjukkan angka USD3 triliun.

Tentu saja sebagai negara dengan luas laut yang sangat besar, Indonesia harus mendapatkan porsi yang besar dari pertumbuhan ekonomi kelautan tersebut.

Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia dengan garis pantai yang sangat panjang, luas wilayah Indonesia sebagian besarnya adalah lautan. Kebijakan yang paling tepat adalah dengan memberikan penekanan pada pengembangan ekonomi kelautan sebagai salah satu pilar penunjang.

Laut adalah keunggulan komparatif yang akan ditransformasi menjadi keunggulan kompetitif, yang pada akhirnya menjadi sumber pertumbuhan ekonomi baru baru Indonesia.

Perairan
Narasi Terpopuler
Pengembangan Blok Masela yang Lama Terjeda
Isu pengembangan blok Masela sudah lama tak terdengar. Berbagai kendala menghadap laju proyek ini. Investor pun diingatkan untuk memperbarui komitmennya, jika tak ingin dibatalkan. ...
Infrastruktur Mulus Dukung Mudik Lancar
Animo masyarakat melakukan mudik lebaran kali ini lebih besar dari pada tahun sebelumnya. Infrastruktur yang memadai memungkinkan mudik melalui jalur darat kian menjadi primadona. ...
Indeks Pembangunan Manusia Terus Meningkat
IPM Indonesia 2018 di atas 70 tersebut mengindikasikan bahwa pembangunan manusia Indonesia masuk kategori tinggi. ...
Mobilitas Pemudik Kembali ke Asal
Pemerintah sudah mengantisipasi ritual mudik tahunan ini sejak jauh-jauh hari. ...
Tiga Kades di Ajang Internasional
Tiga kepala desa (kades) mewakili pemerintah tampil di forum internasional. Standing aplaus pun diberikan oleh peserta yang hadir seusai presentasi. Mereka bercerita soal manfaat dana desa dan pengelo...
Penggunaan Panas Bumi Terus Digenjot
Bangsa ini patut berbangga karena negara ini tercatat sebagai pengguna listrik panas bumi terbesar ke-2 di dunia, setelah Amerika Serikat. ...
Rajawali Bandung Terbang Mendunia
Dalam versi militernya, CN-235-220 dan NC-212i andal sebagai penjaga pantai, ngarai, dan  medan bergunung-gunung. Mampu beroperasi siang atau malam dalam segala cuaca. Reputasinya diakui dunia in...
Calon Ibu Kota itu di Gunung Mas atau di Bukit Soeharto
Calon ibu kota negara sudah mengerucut ke dua pilihan, yakni Gunung Mas (Kalimantan Tengah) dan Bukit Soeharto (Kalimantan Timur). Namun sinyal kuat sudah menunjuk ke Gunung Mas. ...
Penggunaan Biodiesel Semakin Meluas
B100 itu merupakan biodiesel dengan kandungan 100% bahan bakar nabati. ...
Indonesia Tak Lagi Ekspor Coklat Mentah
Indonesia telah menjadi penyuplai bahan baku kakao terbesar ketiga di dunia.  Dan Indonesia adalah negara unggulan eksportir barang jadi produk untuk kakao. ...