Lokasi Kamu : (Showing) Jakarta Kota
Bahasa | English


TATA KELOLA TANAH

Tanah Untuk Rakyat

Monday, 20 August 2018

Jutaan sertifikat diterbitkan. Sekitar 12,7 juta ha hutan negara dibuka untuk perhutanan sosial. 4,5 juta ha tanah dialokasi dalam rangka reforma agraria. Semuanya untuk rakyat.


Tanah Untuk Rakyat

Meningkatkan produktivitas, daya  saing, dan kualitas hidup masyarakat Indonesia adalah butir-butir penting dalam Nacacita, intisari Program Pemerintahan Jokowi-JK. Target prioritasnya adalah 40 persen lapisan masyarakat terbawah, yang sebagian mereka masih tergantung pada penguasaan tanah untuk penghidupannya. 

Seraya mengimplementasikan konsep membangun dari pinggiran, sebagai butir lainnya dalam Nawacita, Presiden Jokowi gencar melakukan penataan masalah tanah untuk kepentingan rakyat. Salah satu program yang digenjot oleh pemerintah adalah percepatan penerbitan sertifikat tanah, sebagai program untuk memberikan perlindungan hukum kepada rakyat atas haknya. 

Topik  sertifikasi tanah ini termasuk dalam salah satu isu yang disampaikan Presiden dalam sidang Tahunan MPR-RI 2018 di Gedung Nusantara I Kompleks Senayan, Jakarta, pada 16 Agustus lalu. Disampaikan Presiden Jokowi, target pemerintah untuk menyerahkan 5 juta dokumen sertifikat kepada rakyat telah tercapai. ‘’Untuk 2018 dan 2019, target yang ingin dicapai akan terus meningkat," ujar Presiden. 

Program percepatan sertifikat ini masuk dalam rencana kerja Jokowi-JK karena hingga 2015 masih ada 79 juta bidang tanah belum bersertifikat, dan pada era sebelumnya hanya terbit 800 ribu--1 juta sertifikat per tahun. ’’Dengan sertifikat ini  rakyat memiliki kepastian hukum atas kepemilikan asetnya, sehingga dapat mereka manfaatkan untuk kegiatan ekonomi produktif serta peningkatan kesejahteraan keluarga," sambung Jokowi.

Pemerintahan Jokowi-JK memang menunjukkan komitmennya yang tinggi dalam urusan tanah untuk rakyat. Setidaknya saat ini pemerintah melaksanakan tiga program berkenaan dengan isu tanah tersebut. Yang pertama adalah percepatan sertifikasi tanah yang secara resmi masuk dalam program Pendaftaran Tanah Sistimatis Lengkap (PTSL) yang dijalankan Kementerian Agraria dan Tata Ruang (ATR)/Badan Pertanahan Nasional (BPN). 

Kementerian ATR/BPN itu juga terlibat aktif pada program kedua, yakni Reforma Agraria dan yang ketiga yaitu Perhutanan Sosial. Dalam pelaksanaannya, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) dan Kementerian Desa terlibat dalam program-program tersebut.

Pendaftaran Tanah Sistimatis Lengkap

Pada awal 2017 tercatat ada 126 juta bidang tanah di Indonesia, dan baru 51 juta yang bersertifikat. Sebanyak 79 juta lainnya belum terdaftar secara resmi, dan karena itu menjadi target percepatan Pendaftaran Tanah Sistimatis Lengkap (PTSL). 

Namun, percepatan itu bukan urusan sepele. Masalah pertanahan nasional itu seperti berada dalam titian labirin yang dikepung oleh 21 undang-undang, 49 peraturan presiden (Perpres), 22 keputusan presiden (Keppres), 4 instruksi presiden (Inpres), dan 469 peraturan, keputusan, surat edaran, serta instruksi menteri. Tidak semuanya sinkron.

Persiapan khusus pun dilakukan oleh  Kementerian ATR/BPN, mulai dari menetapkan  prosedur legalnya, metode, tenaga dan pembiayaannya. Langkah persiapan yang dilakukan sejak 2016 itu meliputi penyediaan petugas penyuluhan, petugas pendataan, tukang ukur yang cakap,  tenaga yang kompeten untuk duduk dalam sidang-sidang penetapan hak atas tanah tersebut, selain tentunya pembiayaannya.

Program PTSL ini terus dikebut. Untuk 2018 ini, Kemeterian ATR/BPN menargetkan pengukuran 8,394 juta bidang tanah secara nasional. Toh, dengan mengantisipasi berbagai masalah yang timbul di lapangan, Kementerian ATR/BPN memperkirakan jumlah yang dapat diterbitkan sertifikatnya sekitar 7,843 juta bidang tanah.

Dalam pelaksanaan program PTSL tersebut, Kementerian ATR/BPN melibatkan pula Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) dan Kementerian Desa (Kemendes). Di daerah tentu ada pelibatan pemerintahan kabupaten (pemkab) serta pemerintah kota (pemkot). Karenanya, tidak seluruhnya bisa gratis. 

Peserta Program PTSL itu dikenai biaya persiapan yang besarannya ditetapkan melalui SKB Tiga Menteri (Menteri ATR/BPN, Mendagri dan Mendes). Besarannya bisa berbeda dari sat uke daerah yang lain. Untuk Kabupaten Painan, Sumatra Barat, misalnya, peserta Program PTSL dikenai biaya Rp250.000. Tak ada lagi biaya plus-plus. Dengan ongkos Rp250.000 itulah 4.650 peserta Program PTSL menerima sertifikatnya di Kantor BPN Painan Maret lalu. 

Sedangkan di Kabupaten Pamekasan, Madura, tarifnya hanya Rp150 ribu yang dikuatkan melalui SD Bupati. Biaya itu digunakan untuk pengadaan patok tanah, materai dan pemberkasan. Kisah sertifikasi dengan biaya berjuta-juta pun tak terdengar lagi.
 

Ekonomi
Investasi
Narasi Terpopuler
Keberpihakan dan Pembiayaan yang Kian Deras
Rendahnya kredit macet UMKM menunjukkan bahwa sektor itu sangat disiplin dalam membayar kewajiban angsuran mereka. ...
Akhiri Polemik, Bersatu Padu Sambut Pasar Halal
Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin menepis anggapan bahwa lahirnya UU Jaminan Produk Halal melucuti peran MUI terkait sertifikasi halal sebuah produk. ...
Memacu Pertumbuhan Sekaligus Menjaga Keseimbangan
Menjawab kekhawatiran calon investor terhadap fokus kebijakan fiskal, Sri Mulyani menegaskan resepnya adalah menemukan titik kebahagiaan yang optimal. ...
Harlah NU, Semangat Moderat yang Makin Relevan
NU berhasil menciptakan sebuah kearifan yang menyatukan dengan indah antara semangat keislaman dan semangat keindonesiaan. ...
Pelaku Ekonomi Mikro Kecil Didorong Naik Kelas
Pertumbuhan dan perkembangan usaha kecil milik masyarakat diyakini dapat berkontribusi signifikan bagi pertumbuhan perekonomian nasional. ...
Api Nan Tak Boleh Padam
Di tengah revolusi perkakas digital, pers Indonesia terus bertekad menghasilkan karya yang valid dan kredibel di atas platform apa pun. Tabloid dan koran boleh surut, tapi komitmen keindonesiaan takka...
Menciptakan Nilai Ekonomi Baru bagi Sampah Plastik
Intinya mengubah cara pandang terhadap plastik kemasan bekas pakai, tidak sebagai sampah, tapi sebagai sebuah komoditas yang berpotensi untuk dikembangkan ...
Gerbong INKA Mengalir Hingga Bangladesh
PT INKA bahkan diproyeksi akan menjadi salah satu pemain besar dalam industri perkeretaapian dunia. ...
Jurus Ampuh Meredam Gejolak Rupiah
Nilai tukar rupiah awal 2019 bahkan diprediksi cenderung menguat karena beberapa faktor, yakni aliran modal masuk, melambatnya laju kenaikan bunga The Fed, serta konsistensi kebijakan ekonomi yang dik...
Mesin Biosolar Tancap Gas Mengejar Devisa
Kilang-kilang Pertamina kini dikerahkan mem-blending biosolar. Pemakaian biodisel lokal meningkat dan impor solar menyusut dan harga sawit diharapkan terkerek. Target 2019: hemat devisa Rp42 triliun. ...