Bahasa | English


KULINER

Gemblong Santan, Kue Tradisional Jawa yang Mulai Langka

10 May 2019, 00:00 WIB

Dewasa ini industri makanan bertumbuh dengan sangat pesan. Mengingat kemajuan teknologi yang semakin canggih mengikuti kebutuhan manusia.


Gemblong Santan, Kue Tradisional Jawa yang Mulai Langka Gemblong Santan, Kue tradisional Jawa. Foto: IndonesiaGOID/Abdul Rasyid

Semua bahan-bahan dari alam bisa dengan mudah dikelola kemudian dijadikan sebagai makanan cepat saji. Bahkan rempah-rempah untuk membuat suatu resep makanan pun sekarang sangat mudah dijangkau.

Globalisasi turut meramaikan aneka makanan, kue, dan jajan yang ada di seluruh lapisan masyarakat daerah Indonesia. Sekarang ini kita bisa mencicipi makanan khas dari negara lain dengan mudah, tidak perlu langsung ke negaranya. Kita bisa langsung memesan dan makanan siap saji yang kita inginkan tersebut dalam hitungan tak lama akan segera datang. Bahkan ketika kita ingin membuat makanan khas dari negara manapun sekarang dengan mudah bisa kita temukan resepnya di internet, adapun bahan-bahan dan peralatan yang dibutuhkan cukup mudah untuk didapatkan.

Seiring dengan berjalannya waktu, masyarakat Indonesia kini semakin dimanjakan dengan teknologi yang serba canggih. Apapun inginnya cepat, termasuk dalam urusan makanan. Makanan tradisional kini semakin sulit untuk didapatkan, karena masyarakat Indonesia terutama anak-anak mudanya sudah mulai bergeser seleranya. Ada ungkapan bahwa “Jika tidak makan makanan seperti pizza, burger, dan spaghetti itu kuno alias kurang kekinian dan kurang gaul”. Selain itu alasan lamanya cara penyajian dan kebersihan juga memengaruhi minat anak-anak muda jaman sekarang untuk membeli jajan tradisional.

Padahal banyak sekali makanan atau jajanan khas dari daerah-daerah yang sangat enak dan dibuat dengan cara yang unik. Gemblong santan salah satu kue tradisional dari Jawa yang kini sulit untuk ditemui. Bahkan meskipun makanan ini khas Jawa, faktanya hari ini kalau kita berkunjung ke daerah di Jawa rasanya sangat sulit untuk mendapatkan kenikmatan dari gemblong santan.

Gemblong, jenis kue tradisional yang terbuat dari beras ketan putih yang bisa disajikan dalam berbagai cara, ada yang digoreng, dibakar, ditaburi serundeng atau parutan kelapa, dan ada pula yang diberi santan. Saat ini, gemblong santan sangat langka, bahkan di pasar tradisional saja keberadaannya sudah sangat jarang. Selain itu, untuk membuat gemblong sendiri dibutuhkan keterampilan yang khusus supaya yang dihasilkan empuk. Empuk yang dimaksud itu tidak terlalu lembek dan tidak terlalu lunak.

Untuk dapat menyajikan gemblong santan ada dua produk yang harus dibuat. Pertama adalah gemblong ketannya sendiri. Dan yang kedua adalah santan untuk dituangkan, atau dalam istilah lain santan itu merupakan saus dari gemblong ketan. Juga bisa ditambahkan dengan tambahan saus berupa gula jawa (aren) yang diencerkan atau lebih dikenal dengan istilah jawa kinco.

Gemblong ketan dibuat dengan menggunakan bahan-bahan seperti beras ketan putih, kelapa parut, santan, tepung kanji, garam, dan daun pandan. Sedangkan untuk bahan pelengkapnya yaitu santan dari buah kelapa, tepung berat, gula pasir, dan garam. Sedangkan untuk membuat santannya, dibutuhkan bahan-bahan berupa santan dari buah kelapa, garam, gula pasir, dan tepung beras. Tepung beras cukup sedikit saja, hanya untuk mengentalkan santan dan supaya rasa santan lebih manis. Kemudian untuk membuat kinco dibuat menggunakan gula jawa (aren) yang diencerkan.

Cara penyajiannya cukup mudah yaitu dengan memotong-motong lebih dulu gemblong ketan menjadi kecil-kecil seukuran sendok makan. Letakan potongan tersebut di atas daun pisang yang sudah dipincuk (lipatan daun pisang khas Jawa) dengan tujuan kita bisa menikmati gemblong santan tersebut dengan cara tradisional dan alami.

Jangan khawatir, harga makanan khas Jawa apapun jenisnya masih sangat terjangkau oleh kantong kita, termasuk gemblong santan. Tentu harapannya kue tradisonal ini tidak hilang begitu saja dan tergantikan oleh makanan-makanan khas dari negara lain. Pentingnya bagi anak-anak muda untuk peduli dan mencintai jajanan-janan khas daerah yang mulai langka ini.

Cara membuatnya yang tidak mudah ini, ternyata tidak semua orang bisa dengan mudah membuat gemblong santan. Proses regenerasi atau turun-temurun mewarisi teknik pembuatan gemblong santan ini perlu untuk dilakukan agar kedepan anak-anak mudanya pun bisa membuat gemblong santan sendiri. Juga pemerintah daerah perlu untuk mendukung jajanan khas daerah ini tetap terjaga bahkan dikenal oleh daerah lainnya atau negara lain, mungkin dengan mengadakan festival jajanan daerah. (K-AR)

Kuliner
Wisata
Ragam Terpopuler
Menjaga Kekhidmatan, Pesta Adat Erau dan TIFAF Digelar Terpisah
Pesta tradisional kesultanan Kutai ing Martadipura “Erau” dan Tenggarong Internasional Folk Art Festival digelar terpisah di bulan September. Keduanya dipisah untuk menjaga kekhidmatan tra...
Hamzah Sang Aulia Lagi Mulia
Penemuan makam Tuan Hamzah dari Pancur jika diperbandingkan dengan catatan penjelajah Ibnu Battuta akan memperkuat beberapa hal. ...
Etika Kepemimpinan Jawa
Demikianlah, menjadi seorang raja dalam konstruksi etika kepemimpinan dalam budaya Jawa dituntut memiliki delapan laku, atau delapan sifat, atau delapan watak, yang bersifat keillahian dengan merujuk ...
Tuan Pancur di Tanah Suci
Jika salinan catatan dari nisan Hamzah Al Fansuri bisa dipastikan kebenarannya, maka bangsa Indonesia harus berterima kasih pada seseorang yang bernama Hassan Mohammed El Hawary. ...
Memilih Akhir Bersama Yang Terkasih
Konon para pengajar Mbah Moen inilah yang menjadi sosok-sosok terkasih yang dicintai Mbah Moen. Sampai-sampai setiap ada kesempatan di musim haji, Mbah Moen selalu pergi haji walaupun dalam kondisi ya...
Leluhur Nusantara di Tanah Tinggi
Siapa sangka pekuburan di tanah tinggi Mekah ternyata menyimpan sejarah ulama Nusantara, bahkan yang lebih lama. Seperti tokoh besar Hamzah Al Fansuri, yang diperkirakan hidup di abad 16, dan Mas'...
Mitos-mitos Dewi Laut di Nusantara
Sekalipun analisis sejarah Pram katakanlah “benar”, bahwa “perkawinan spiritual” Kanjeng Ratu Kidul dengan raja-raja Mataram ialah sekadar upaya membangun legitimasi kekuasaan ...
Festival Lembah Baliem sudah 30 Tahun
Usia Festival sudah termasuk tua, 30 tahun. Tapi Festival Lembah Baliem di Kabupaten Jaya Wijaya ini semakin memikat. ...
Kanjeng Ratu Kidul
Menurut kitab Wedhapradangga, pencipta Bedhaya Ketawang adalah Sultan Agung. Meskipun demikian kepercayaan tradisional meyakini, tarian ini diciptakan oleh Kanjeng Ratu Kidul sendiri. Menariknya, Suna...
Jadi Pengikut atau Pelopor, Dilema Mobil Listrik Nasional
Para pemain lama sudah sangat gemuk dengan kompleksnya teknologi perakitan dan teknologi purnajual berbasis mesin bakar. Sedangkan bagi Cina yang sudah lebih lama mengembangkan teknologi penyimpanan l...