Bahasa | English


KULINER

Memanjakan Perut di Wit Witan Banyuwangi

2 March 2020, 09:02 WIB

Pemerintah Banyuwangi terus berinovasi. Bukan hanya mengembangkan wisata alam, kuliner pun digeber.


Memanjakan Perut di Wit Witan Banyuwangi Pasar Witwitan yang berada di Desa Singojuruh, Kecamatan Singojuruh, Banyuwangi menyuguhkan wisata kuliner tradisional khas Banyuwangi. Pasar yang hanya buka tiap hari Minggu tersebut ramai dikunjungi wisatawan. Foto: Antara Foto/Budi Candra Setya

Puluhan gubuk dari bambu berjajar rapi. Ukurannya sekitar 2,5 sampai 3 meter. Gubuk itu berada di bawah pepohonan. Teduh dan rimbun. Penjaganya para perempuan berbaju hitam berkebaya batik. Pakaian khas daerah setempat.

Masyarakat sekitar menamai tempat itu pasar wit-witan. Wit-witan berasal dari bahasa Using Banyuwangi yang berarti pepohonan. Konsepnya memang pasar tradisional tapi sudah dengan sentuhan modern. Di pasar ini pengelola melarang penjual menggunakan plastik.

Pasar ini terletak di Desa Alasmalang, Singojuruh, atau 16 km dari Kota Banyuwangi. Dibuka sejak sekitar setahun lalu, pasar ini hanya buka setiap hari Minggu. Jam bukanya juga terbatas mulai pukul 06.30 hingga 09.30 WIB.

Di pasar ini segala macam panganan tradisional Banyuwangi disajikan. Dari makanan ringan (kudapan) hingga hidangan berat. Mayoritas memang masakan lokal.

Ada lupis, tiwul, gatot, pecel pitik (ayam) khas Banyuwangi, rawon, lanon (semacam lupis yang dibuat dari tepung beras warnanya hitam), botok (pepes) tawon, putu, es dawet, geseng bangong (itik jantan), dan segudang makanan lainnya.

Setiap Minggu pasar itu ramai dikunjungi orang. Tak hanya masyarakat sekitar, ada juga dari desa lain, luar daerah, bahkan juga ada turis mancanegara.

Seperti pada Minggu, 24 November 2019. Carine, bule asal Prancis ini terlihat ikut berbaur dengan para pengunjung pasar itu. Berada di kerumunan orang itu, Carine terlihat sangat menikmati. Beberapa panganan sempat ia beli.

Sambil duduk di bangku bambu, Carine tampak menikmati suguhan kesenian Kebo-keboan dan musik angklung. Tubuhnya terlihat bergoyang saat musik angklung dimainkan. "Panganannya sangat menarik, suasananya enak, " kata Carine.

Pengunjung asal Jember, Rindang yang berkunjung ke pasar itu awal Januari lalu mengaku sangat penasaran dengan keberadan pasar itu. Rindang yang pernah melewatkan masa kecilnya di Banyuwangi bahkan mengajak serta sejumlah kerabatnya.

Rindang berharap kerabatnya tertarik untuk mencicipi makanan yang pernah dinikmati semasa kecil. Di antaranya, kudapan lanon, rujak celup (rujak berkuah manis kecut dengan buah dicacah), lanon, dan juga botok tawon. Dan benar saja, saat melihat kudapan kenangan masa kecilnya ada di sana, Rindang dan saudaranya langsung menyerbu demi menumpahkan kerinduan dan keingintahuan. "Orang Banyuwangi itu taste-nya pas. Masakannya beragam dan enak-enak," katanya.

Pasar wit-witan itu tak hanya menjadi tempat transaksi, tapi juga bisa menjadi tempat refresing dan menikmati hawa baru. Sambil menyantap makanan yang telah dibeli, pengunjung bisa menikmati kesenian khas Banyuwangi. Suasana sekitar pasar yang masih dipenuhi sawah-sawah menambah kenyamanan pasar ini.

Camat Singojuruh, M Lutfi mengakui, pasar itu memang sudah diberikan sentuhan kekinian. Pengunjung bisa membeli makanan dan menyantapnya di tempat itu sambil menikmati sajian kesenian khas Banyuwangi. Di lokasi itu, memang tak hanya ada tempat berjualan. Panitia setempat juga memberi panggung dan spot-spot yang bagus untuk berfoto.

Pasar ini memang telah menjadi berkah bagi masyarakat Desa Alasmalang. Dengan adanya pasar ini, menurut Lutfi, ekonomi masyarakat bergerak. Pasar ini memang telah memberi berkah bagi masyarakat setempat.

Lamhatin, salah satu pedagang pasar itu mengamini Lutfi. Lamhatin yang membuka makanan geseng bangsong (itik jantan) mengakui sejak ada pasar itu pendapatannya meningkat. "Kalau jualan di rumah saya hanya menjual 6 sampai 7 ekor itik, tapi saat ada pasar ini saya bisa berjualan hingga 24 ekor," kata warga asli Alasmalang ini.

Makanan itik jantan ini, kata dia, menjadi favorit Bupati Banyuwangi Azwar Anas. Pernah saat berkunjung ke pasar itu Anas memesan makanan ini. "Nikmat sekali rasanya. Pedas campur asam dari daun wadung. Nikmat sekali rasanya," kata Anas yang berkunjung ke pasar itu pada Minggu, 3 November 2019.

Anas mengapresiasi keberadaan pasar ini. Kelihatannya sederhana namun keberadaan pasar ini jelas mampu menggerakkan perekonomian masyarakat. "Ini yang terus kami dorong agar setiap kecamatan punya satu pasar tradisional yang bisa menampilkan potensi kuliner dan kesenian daerah setempat," kata Anas.

Anda penasaran? Segera siapkan jadwal untuk berkunjung bersama keluarga atau kerabat ke Banyuwangi.

 

Penulis: Fajar WH
Editor: Firman Hidranto/Ratna Nuraini

Azwaranas
Banyuwangi
Pasar Tradisional
Ragam Terpopuler
Cartridge-nya Isi Ulang, Diagnosisnya Lima Menit
Dengan Abbott ID Now diagnosis Covid-19 dapat dilakukan dalam lima menit. Yang diidentifikasi DNA virusnya. Ratusan unit X-pert TM di Indonesia bisa dimodifikasi jadi piranti diagonis molekuler. Lebih...
Masker Kedap Air Tak Tembus oleh Virus
Sebanyak 30 perusahaan garmen bersiap memproduksi massal masker nonmedis dan masker medis. Bahannya tak tembus oleh virus. Impor bahan baku dibebaskan dari bea masuk. ...
Bisikan Eyang Sujiatmi di Hati Presiden Jokowi
Eyang Sujiatmi telah pergi. Kerja keras, kedisiplinan, dan kesederhanaannya akan selalu dikenang anak-anaknya. ...
Menikmati Surga Bahari di Atas Pinisi
Pesona tujuh layar kapal pinisi sulit diingkari. Sosoknya instagramable. Wisata berlayar dengan pinisi kini berkembang di Labuan Bajo, Raja Ampat, Bali, dan Pulau Seribu Jakarta. ...
Berubah Gara-gara Corona
Corona mengubah hampir segalanya, termasuk gaya orang berjabat tangan. Penelitian menyebutkan, tangan merupakan wadah bakteri paling banyak. ...
Melepas Penat di Gunung Gumitir
Namanya Gumitir. Kawasan yang ada di perbatasan Jember-Banyuwangi itu menawarkan banyak sajian. Dari kafe hingga wisata kebun kopi. ...
Sulianti Saroso, Dokter yang Tak Pernah Menyuntik Orang
Tugas dokter tak hanya mengobati pasien. Kesehatan masyarakat harus berbasis gerakan dan didukung  kebijakan serta program pemerintah. Kepakarannya diakui WHO. ...
Sampar Diadang di Pulau Galang
Pemerintah beradu cepat dengan virus penyebab Covid-19. Tak ingin korban kian berjatuhan, dalam sebulan rumah sakit khusus penyakit menular siap ...
Bermula dari Karantina di Serambi Batavia
Dengan kemampuan observasi biomolekulernya, RSPI Sulianti Saroso menjadi rumah sakit rujukan nasional untuk penyakit infeksi. Ada benang merahnya dengan Klinik Karantina Pulau Onrust. ...
Tak Hanya Komodo di Labuan Bajo
Labuan Bajo disiapkan pemerintah sebagai destinasi super prioritas Indonesia. ...