Bahasa | English


KULINER

Pagit-pagit, Soto Khas Karo

29 June 2019, 10:36 WIB

Tidak semua orang Karo terampil memasak trites dengan cita rasa enak. Diperlukan keterampilan khusus untuk memasak "soto" unik ini. Jika tidak di tangan yang ahli, bisa-bisa trites yang dimasaknya malah berbau sangat menyengat dan pahit sekali.


Pagit-pagit, Soto Khas Karo Semangkok Pagit-pagit, makanan khas Karo. Foto: IndonesiaGOID/Dedy Hutajulu

Jika Toba terkenal dengan Naniura, Simalungun populer dengan Dayok Nabinatur. Karo juga punya kuliner khasnya, yaitu Trites atau Pagit-pagit. Makanan ini serupa soto. Bahan utamanya, rumput yang diambil dari isi perut besar sapi, kerbau, atau kambing.

Banyak orang yang beranggapan makanan ini berasal dari kotoran sapi. Tetapi anggapan itu keliru. Karena rumput yang diambil dari perut besar itu masih segar. Karena ketika kerbau, sapi atau kambing memakan rumput maka rumput yang baru dimamah itu disimpan di perut besar. Rumput itulah yang kemudian dimamah kembali, barulah rumput tersebut dicerna. Itu artinya, rumput tersebut belum dicerna. Memang rumput tersebut berbau, tetapi itu bukanlah kotoran. Rumput yang diambil dari hewan memamah biak itu dinamakan trites.

Untuk mengurangi bau dan rasa pahit dari rumput tersebut, biasanya juru masak menambahkan bumbu, seperti rimbang serta sayur-sayuran. Uniknya, makanan ini ampuh mengobati penyakit maag atau melancarkan sistem pencernaan.

Masakan yang satu ini biasanya dihidangkan pada acara-acara tertentu sepasti Merdang Merdem (syukuran panen raya) atau pesta kerja tahun, memasuki rumah baru dan memberangkatkan anak merantau. Syukuran pesta tahun dilangsungkan setelah panen selesai.

Masyarakat Karo meyakini, Tuhanlah yang memberkati usaha petani sehingga hasil pertanian mereka berhasil. Untuk melengkapi acara syukuran itu, masyarakat menghidangkan pagit-pagit dan chimpa. Meski sawah-sawah di Karo telah dialihkan menjadi ladang sayur dan tanaman buah, tradisi Merdang Merdem tetap dipertahankan dan dilestarikan.

Proses Pembuatan

Proses pengambilan trites tidaklah sembarangan. Ada triknya. Rumput yang terdapat pada perut besar sapi atau kambing atau kerbau, diambil dan diperas dengan menggunakan kain tipis. Air perasan rumput itulah yang dijadikan bahan utama untuk membuat makanan pagit-pagit. Air perasan dari rumput tersebut kemudian direbus selama 2-3 jam hingga menghasilkan kaldu. Kaldu yang dihasilkan dari perebusan masih berbau amis, jadi untuk menghilangkan bau amisnya, biasanya rebusan kaldu ditambahkan dengan kulit pohon sikkam dan susu segar.

Kaldu dari rumput itu kemudian dimasak dengan jeroan, tulang lembu (kerbau atau kambing), kikil dan babat. Lalu dimasukkan daun ubi dan rimbang untuk menambah nilai gizi dan cita rasa enak. Sedangkan untuk bumbu-bumbunya berupa cabai, bawang, serai, jahe, asam, rimbang, daun jeruk purut.

Tidak semua orang Karo terampil memasak trites dengan cita rasa enak. Diperlukan keterampilan khusus untuk memasak "soto" unik ini. Jika tidak di tangan yang ahli, bisa-bisa trites yang dimasaknya malah berbau amis sangat menyengat dan pahit sekali.

Secara visual, tampilan trites saat disajikan tidaklah terlalu menarik. Warna kaldunya yang agak kecokelatan ditambah aromanya, kerap membuat orang enggan untuk mencicipinya. Namun, jika sekali sudah mencobanya, biasanya orang akan ketagihan karena cita rasanya yang lezat serta kandungan gizinya. Selain itu, kuliner satu ini mengandung zat tanin yang berkhasiat menyembuhkan maag serta melancarkan sistem pencernaan.

Sungguh makanan ini tidak mudah untuk didapatkan. Di Medan, hanya secuil rumah makan Khas Karo yang menyajikan trites sebagai bagian dari menunya. Sehingga, kuliner ini termasuk makanan yang langka. Namun di Tanah Karo kuliner ini mudah didapatkan.

Sebagai salah satu warisan leluhur Karo, trites atau pagit-pagit layak untuk dipopulerkan dan dilestarikan. Siapa yang tahu, di masa depan, kuliner satu ini bakal mengikuti jejak dayok nabinatur, yang ditetapkan sebagai warisan budaya tak benda. (K-DH)

Kuliner
Ragam Terpopuler
Cap Go Meh Cita Rasa Nusantara
Perayaan Cap Go Meh di Kota Bogor berlangsung meriah. Nuansa Cap Go Meh tak melulu pentas atraksi etnis Tionghoa, tapi sudah berbaur dengan atraksi kesenian nusantara. ...
100 Calendar of Events 2020
Ada ribuan acara budaya dan wisata yang akan terjadi di Indonesia. Namun pemerintah hanya menetapkan 100 acara sebagai acara nasional. ...
Teka-teki Tagaril
Di tengah teka-teki tentang nama tokoh sejarah yang banyak disepakati sebagai pencanang Bandar Sunda Kelapa, ada satu petunjuk menarik tentang riwayat kelahirannya. ...
Mengejar Wisatawan Premium di 2020
Pemerintah tak lagi mengejar volume jumlah wisatawan. Tapi kini menitikberatkan pada kualitas wisatawan yang berkunjung. Sehingga, jumlah devisa diharapkan mampu melampaui pendapatan tahun-tahun sebel...
Sebuah Filsafat Perenialisme Tertua
Mpu Tantular sangat jauh melampaui zamannya. Jauh sebelum para filsuf Eropa membangun Masyarakat Teosofi di akhir abad ke-19 dan merumuskan Filsafat Perenial bagi publik Eropa di abad ke-20, Mpu Tantu...
Bangunan Bersejarah di Kompleks Kedutaan Besar Amerika
Sebuah bangunan tua tetap kokoh berdiri di kompleks kedutaan Amerika di Jakarta. Gedung ini dipugar oleh Kedubes AS dan dijadikan museum peninggalan sejarah kemerdekaan Indonesia. Sebuah destinasi bar...
Labuan Bajo, Go International
Labuan Bajo memiliki seluruh potensi kekayaan ekowisata. Tidak salah sekiranya kota pelabuhan ini ke depan diproyeksikan untuk dikembangkan menjadi destinasi wisata premium berskala internasional. ...
Bunga Teratai Raksasa di Tengah Danau
Bangunan raksasa itu jelas sengaja didirikan untuk melukiskan bunga teratai sebagai penghormatan terhadap Budha Maitreya. Borobudur ialah bangunan bunga teratai raksasa dari jutaan kubik batu and...
Kratom, Daun Dolar yang Masih Kontroversi
Tanaman Kratom menjadi tanaman unggulan petani di sejumlah wilayah di Kalimantan. Bahkan telah menjadi komoditi ekspor untuk wilayah tersebut. Namun pihak BNN akan mengeluarkan pelarangan. ...
Denys Lombard dan Rekontruksi Sejarah Jawa
Sungguh tak ada satu pun tempat di dunia ini—kecuali mungkin Asia Tengah—yang, seperti halnya Nusantara, menjadi tempat kehadiran hampir semua kebudayaan besar dunia, berdampingan atau leb...