Lokasi Kamu : (Showing) Jakarta Kota
Bahasa | English


MAKANAN RAKYAT

Warteg, Fenomena Urbanisasi (Bagian 1)

Tuesday, 13 November 2018

Fenomena warung Tegal dipandang sebagai salah satu bentuk usaha gastronomi berskala mikro yang berada di wilayah urban atau kota.


Warteg, Fenomena Urbanisasi (Bagian 1) Sumber foto: Istimewa

Kata 'warteg' dalam benak orang Indonesia pada saat ini mungkin sudah sangat lazim. 'Warteg' adalah singkatan dari dua kata yang digabung yakni 'warung' dan 'Tegal'.

Menurut KBBI, 'warung' biasanya merujuk pada suatu tempat yang tidak terlalu besar, tempat orang menjajakan sesuatu, bisa itu makanan, minuman, kelontong, dan sebagainya. Sedangkan, 'Tegal', dengan "T" besar jelas menunjuk pada nama suatu kota.

Sebagai satu fenomena, warteg tentu mengusik keingintahuan. Apa yang menarik dari warung ini? Mengapa ada Tegal di belakang kata warung? Apa bedanya Tegal dengan kota-kota yang lain? Bukankah para pendatang di ibu kota juga berasal dari kota-kota yang lain? Mengapa Tegal yang melekat?

Penelitian dari Rinda Asytuti yang dipublikasikan pada 2015 melihat fenomena warung Tegal sebagai salah satu bentuk usaha gastronomi berskala mikro yang berada di wilayah urban atau kota. Gastronomi adalah istilah untuk menjelaskan berbagai hal yang berkaitan dengan penyediaan atau penyajian makanan. 

Warung Tegal sejak awal kemunculannya selalu berkait erat dengan perkembangan kaum urban dan pemenuhan kebutuhan perutnya.

Urusan gastronomi ibu kota sebenarnya bukan hanya nama Tegal yang lekat dengan berbagai makanan yang ada di ibu kota. Orang Padang atau orang Minang juga sangat kental dalam hal kedaulatan perut orang ibu kota.

Istilah 'nasi Padang' mungkin sama populernya dengan “warteg” dalam benak orang Jakarta jaman sekarang.  Keduanya melekat pada satu subkultur urban yang lekat dengan identitas kedaerahan.

Urbanisasi adalah konteks yang melatari fenomena ini. Magnet besarnya adalah Kota Jakarta yang dulu bernama Batavia. Konon sejak Batavia berkembang pesat menjadi pusat perniagaan  dan pengembangan usaha banyak para perantau dari berbagai kota yang relatif dekat di Pulau Jawa dan Sumatra berdatangan ke kota, yang perlahan menjadi ibu kota.

Fenomena urbanisasi itu bahkan bisa ditarik ke belakang sejak jaman Hindia Belanda. Salah satu yang mencatat fenomena makan di warung adalah Stamford Raffles. Dalam History of Java,  Raffles mencatat kebiasaan makan orang Jawa di pagi hari yang disebut 'sarap'.

Orang Jawa biasa mendapatkan sajian 'sarap(-an)' berupa secangkir kopi beserta kudapan kue-kue yang dibuat dari beras dari tempat-tempat kecil di sudut dan pinggir kota yang dikenal sebagai 'warongs'.

Hingga saat ini, dalam kebiasaan orang Betawi, sarapan di pagi hari adalah seperti yang digambarkan Raffles.

Percampuran Budaya Antarbangsa

Raffles datang di Hindia Belanda, tepatnya di Batavia pada awal abad 19. Dia mendapati sebuah kota yang telah lama menjadi melting pot atau percampuran berbagai budaya antarbangsa.

Pada saat itu, Batavia adalah kota yang baru bisa bangkit kembali setelah tragedi setengah abad sebelumnya, yakni Geger Pecinan 1740. Peristiwa tragis itu dalam catatan Belanda ditulis sebagai pemberontakan. Sedangkan dari sisi warga pendatang di Batavia, peristiwa tersebut akan selalu dikenang sebagai pembantaian.

Peristiwa tragis itu tercatat sebagai hal besar yang  memporak-porandakan berbagai segi kehidupan di Batavia, terutama dalam bidang perekonomian dan penghidupan penduduknya.

Perlu waktu yang cukup lama bagi Batavia, terutama bagi warganya yang sebagian besar berasal dari kaum pendatang, untuk menata kembali kota yang denyut kehidupannya bergantung pada kepadatan penduduknya.

Batavia sebelum tragedi Pecinan adalah sebuah kota Benteng. Batavia dirancang oleh VOC sebagai bandar perdagangan lengkap dengan tembok-tembok perlindungannya. Bentangannya melebar seluas 10 hingga 15 km. 

Wilayah Kota Tua di Jakarta pada saat ini adalah peninggalan yang tersisa dari wajah Batavia jaman dulu.  Kota-kota di pesisir Jawa seperti Cirebon, Tegal, Pekalongan, Semarang, Lasem, dan Surabaya adalah model-model yang dibangun mengikuti rancangan ini.

Wilayah di luar benteng, pada masa sebelum kedatangan Raffles, adalah wilayah yang tidak diperhatikan pembangunannya. Wilayah luar benteng dikenal juga dengan sebutan Ommenlanden (wilayah sekitar).

Di wilayah itu, pendatang dari Cina yang dikenal sebagai Cina peranakan kelas pekerja menetap dan berbaur dengan kuli dan pekerja yang datang dari berbagai wilayah pedalaman di luar Batavia. 

Bondan Kanumoyoso mencatat, para pendatang di wilayah Ommenlanden ini bahkan datang dari wilayah Cirebon hingga Tegal yang umumnya merantau untuk menjadi 'bujang', sebutan bagi kuli pengangkut tebu. 

Budaya
Ragam Terpopuler
Budhisme, antara Sriwijaya dan Borobudur
Adanya korelasi kuat dan khusus antara Buddha di Sriwijaya dan Syailendra inilah, kata kunci di balik pembangunan Borobudur. Kekayaan gabungan antara Jawa dan Sumatra inilah menurut interpretasi Berna...
Sejarah Tari Sunda dan Riwayat Pak Kayat
Saat mengiringi tari pergaulan yang populer di kalangan "Menak" (priyayi), Abah Kayat diakui keahliannya oleh Dalem Bandung. ...
Hikmah Ritual Waisak
Dalam arti keberadaan "tuhan personal" atau "tuhan anthropomorfisme" sebagai "supreme being," ajaran Buddha tidak mengandaikan makna signifikansinya bagi proses pembebasa...
Perpaduan Senam Jepang dan Pencak Silat
Gerakan senam dimulai dengan jalan di tempat diiringi musik yang serupa dengan iringan musik upacara kenegaraan. Dominasi suara "Brass Section" atau keluarga terompet menjadi ciri pembuka ya...
Perbaikan Kualitas Demokrasi
Keragaman Indonesia jelas mensyaratkan secara sine qua non hadirnya demokrasi dan pluralisme serta toleransi dalam satu tarikan nafas. Tagline Bhinneka Tunggal Ika yang tertulis pada simbol Garuda Pan...
Kebijakan Pemindahan Ibukota, antara Ide dan Realisasi
Apakah rencana relokasi ibukota benar-benar bisa diwujudkan oleh Presiden Joko Widodo, mengingat ide ini sebenarnya telah didorong oleh beberapa presiden sebelumnya namun sebatas berakhir pada ide? Ma...
Tradisi Adu Kepala
Kita sudah tentu pernah melihat atau mengetahui yang namanya adu domba. Adu domba ini, atraksinya adalah dua domba yang saling mengadu kepalanya. Atraksi adu kepala domba ini bisa kita lihat di Kabupa...
Desa Budaya Pampang
Indonesia memiliki 34 Provinsi, dan lebih dari 500 Kabupaten Kota. Berdasarkan data, di Indonesia ada lebih dari 300 kelompok etnik atau 1.340 suku bangsa. Tentunya ini tidaklah sedikit. ...
Upacara Pelebon
Kita sudah tahu pasti, Pulau Bali merupakan salah satu destinasi wisata yang sudah tersohor di seantero dunia. Jutaan wisatawan mendatangi Bali setiap tahunnya. Pesohor atau selebriti kelas dunia kera...
Mangupa Upa, Ungkapan Doa dan Syukur dari Tanah Batak
Salah satu kekayaan tradisi yang masih amat dijaga oleh masyarakat Sumatera Utara adalah Mangupa Upa. ...