Lokasi Kamu : (Showing) Jakarta Kota
Bahasa | English


DESA WISATA

Udara Desa Penglipuran Terbersih di Dunia

14 January 2019, 18:00 WIB

700 meter di atas permukaan laut, terdapat desa yang begitu damai. Penglipuran menjadi salah satu desa terbersih dan terbaik sedunia.


Udara Desa Penglipuran Terbersih di Dunia Desa wisata Penglipuran. Sumber foto: Antara Foto

Bali terkenal dengan keindahan pantainya yang menjadi pusatnya turis asing untuk berlibur. Selain pantai, banyak turis asing yang ketagihan untuk datang ke Bali karena kearifan lokal dan budayanya yang masih sangat kental. Bali pun didapuk menjadi pulau kedua terbaik yang dipilih travelers setelah Kepulauan Galapangos di Ekuador versi TripAdvisor pada 2016.

Bukan hanya keindahan pantainya yang bisa dinikmati saat berkunjung ke Bali. Jika ada waktu cukup, cobalah datang dan menginap di desa wisata Penglipuran untuk menghirup udara segar di ketinggian 700 meter di atas permukaan laut. Desa ini terletak di jalur wisata Kintamani, sekitar 5 kilometer dari Kota Bangli, dan 45 kilometer dari Kota Denpasar. Damai dan bersih, itulah kesan pertama ketika menginjaki kaki di Penglipuran. Bahkan, saking bersihnya, pengunjung tidak diperkenankan memarkir kendaraan di dalam area desa.

Suasana desa yang bersih dan jauh dari modernisasi menjadikan Penglipuran menjadi desa terbersih ke-3 dunia versi majalah internasional Boombastic, setelah Mawlynnong di India dan Giethoorn di Belanda. Penghargaan tersebut membuat desa Penglipuran semakin dikenal luas, bukan hanya terkenal oleh masyarakat Indonesia, tetapi juga dikenal hingga ke mancanegara. Bahkan diawal penetapan Penglipuran sebagai desa wisata, turis asinglah yang berbondong-bondong memadati Desa Penglipuran. Antarafoto.com

Tahun 1995, Penglipuran menjadi contoh pertama kali bentuk desa wisata di Indonesia. Desa Penglipuran juga pernah mendapat penghargaan Kalpataru. Kalpataru sendiri merupakan sebuah penghargaan yang diberikan atas jasanya untuk melestarikan dan menjaga lingkungan sekitar di Indonesia.

Konon, Desa Penglipuran sudah ada sejak zaman Kerajaan Bangli. Di mana para leluhur penduduk Desa Penglipuran datang dari Desa Bayung Gede, lalu menetap hingga saat ini. Menurut mitologi, Penglipuran berasal dari kata Pengeling Pura yang artinya adalah ‘mengingat leluhur’. Sedangkan penafsiran lain kata Penglipuran berasal dari kata ‘pelipur lara’ dan ada pula yang mengatakan Penglipuran berasal dari kata ‘pangleng’ dan ‘pura’ yang berarti empat kuil yang berada di setiap titik dari kompas.

Arsitektur rumah-rumah yang ada di Penglipuran mirip satu sama lain, dengan ukuran yang sama persis, setiap rumah memiliki sebuah pintu gerbang yang disebut dengan ‘angkul-angkul’. Kurang lebih ada 985 jiwa dalam 234 kepala keluarga yang tersebar di desa wisata ini.

Keseluruhan luas desa wisata ini adalah 112 hektar yang sebagian besarnya merupakan hutan bambu, seluas 45 hektar. Hutan bambu tersebut dibiarkan tumbuh dan mengelilingi desa, menjadikannya sebagai kawasan resapan. Bambu yang dibiarkan tumbuh juga dinilai sebagai manifestasi masyarakat Penglipuran untuk terus menjaga keseimbangan antara manusia dan alam.

Bisa dibilang hutan bambu yang terdapat di Penglipuran merupakan jantung dari desa tersebut. Hutan bambu tersebut menjadi pemasok air bersih dan produsen oksigen untuk desa Penglipuran dan sekitarnya. Berbagai bangunan di desa wisata tersebut juga dibuat dari bahan bambu, misalnya, atap angkul-angkul dan pintu masuk rumah.

Layaknya desa pada umumnya, Penglipuran juga memiliki suatu sistem yang mengatur penduduk, yaitu terdiri dari rukun tetangga (RT) dan rukun warga (RW), dan sistem menurut adat. Penglipuran memiliki aturan yang selaras dengan undang-undang yang dimiliki pemerintah, mereka menyebutnya ‘awig-awig’. Aturan adat tersebut merupakan perwujudan dari landasan masyarakat desa yang disebut Tri Hita Karana. Terdiri dari Prahyangan yang merupakan hubungan manusia dengan Tuhan, Pawongan yang merupakan hubungan manusia dengan manusia, dan hubungan manusia dengan lingkungan. Masyarakat Penglipuran begitu menghargai keseimbangan, sehingga mereka terus menjaga hubungan ke Tuhan, manusia, dan alam.

Desa Penglipuran memiliki tata letak yang diadaptasi dari Tiga Mandalas atau Trimandala yang secara harfiah diartikan sebagai tiga zona dengan tingkat fungsi dan tingkat kesucian yang berbeda. Trimandala tersebut yaitu Utama Mandala atau daerah suci, Madya Mandala atau daerah pemukiman, dan Nista Mandala yang merupakan tempat paling buruk di desa dan terdiri dari kuburan.

Menariknya, desa ini memiliki aturan bahwa penduduknya dilarang poligami. Adat tersebut mereka lakukan demi menjaga para wanita di Desa Penglipuran. Jika ada yang tetap melakukan poligami, maka akan mendapatkan sanksi tegas, yaitu pelaku poligami akan ditempatkan di Nista Mandala dan dilarang untuk berjalan ke area utara atau wilayah suci Penglipuran. Selain itu, penduduk desa dilarang untuk menikahi tetangga sebelah kanan dan kiri serta depan dari rumah mereka. Itu karena mereka masih menganggap tetangga tersebut sebagai keluarganya sendiri.

Masyarakat Desa Penglipuran sangat diperbolehkan untuk menikah dengan orang di luar desa tersebut. Biasanya jika calon pengantin perempuan yang berasal dari daerah lain, dia harus masuk menjadi bagian dari penduduk adat Penglipuran. Uniknya, jika calon pengantin laki-laki yang berasal dari desa lain, maka laki-laki tersebut bisa masuk ke menjadi penduduk desa Penglipuran dengan konsekuensi laki-laki tersebut akan dianggap perempuan oleh warga lainnya. Anggapan perempuan tersebut maksudnya adalah tugas-tugas untuk para perempuan akan dilimpahkan kepada laki-laki dari luar desa tersebut.

Sama seperti daerah lainnya yang ada di Bali, masyarakat Penglipuran juga kerap mengadakan upacara adat yang disebut dengan Ngaben. Ngaben adalah suatu upacara adat kematian dalam rangka mengembalikan arwah orang meninggal yang tersesat, kemudian dikembalikan ke pura kediaman si arwah tersebut. Jika pada umumnya dalam Ngaben dilakukan pembakaran mayat, Ngaben di Desa Penglipuran dilakukan dengan menguburkan mayat tersebut. Hal itu karena Desa Penglipuran jauh dari laut, padahal abu mayat yang telah terbakar harus dibuang ke laut. Di Bali, menyimpan abu mayat atau jenazah merupakan suatu pantangan, jadi solusi terbaik menurut masyarakat Penglipuran adalah dikuburkan dalam tanah. Disparbud.banglikab.go.id

 

Masyarakat di Desa Penglipuran memiliki tingkat kasta yang setara, mereka menyebutnya Kasta Sudra. Seseorang yang diangkat untuk memimpin mereka yaitu ketua adat yang dipilih setiap lima tahun sekali. Penglipuran menyuguhkan kehidupan dan keseharain penduduk setempat yang begitu damai. Pengunjung dapat berpartisipasi aktif mempelajari kebudayaan Bali tempo dulu, kursus tarian khas Bali, kepercayaan, dan masih banyak lagi kegiatan yang dapat dilakukan pengunjung.

Kalau bosan dengan hiruk pikuk kota dan ingin lepas dari riuhnya modernitas, tidak ada salahnya untuk datang ke Penglipuran. Pasalnya, di desa inilah kita bisa menemukan kedamaian hati dan pikiran. Jadi, kapan mau datang ke Penglipuran, menikmati kesejukan dan berbaur dengan masyarakat setempat? (T-1)

Wisata
Ragam Terpopuler
Poros Sriwijaya-Nalanda, Globalisasi Perdagangan Asia Tenggara
Di pelabuhan-pelabuhan persilangan penting seperti Aden, Oman,  Basrah, Siraf, Gujarat, Coromandel, Pegu, Ayyuthya, Campa, Pasai, Malaka, hingga Palembang sangat mudah dijumpai berbagai suku bang...
Komoditas Rempah Nusantara dan Kompetisi Perdagangan Global
Paruh kedua abad 17, kompetisi internasional untuk menguasai komoditas-komoditas berharga dari Asia Tenggara hanya tinggal menyisakan beberapa pemain saja. ...
Tajhin Ressem, Kerukunan dalam Keberagaman Ala Madura-Pontianak
Selain melestarikan tradisi selamatan, Tajhin Ressem dengan berbagai macam komposisi di dalamnya membawa pesan penting. Saat hasil darat berpadu dengan hasil laut. Semua melebur menjadi satu dalam bel...
Histori Rujak Simpang Jodoh
Bisnis rujak Simpang Jodoh merupakan usaha turun-temurun yang seluruhnya dilakoni oleh kaum perempuan. Dan saat ini, penjual rujak di sana kebanyakan sudah generasi kedua dan ketiga. ...
Pepaosan, Tradisi Membaca Naskah yang Hampir Punah
Masyarakat Sasak mempunyai tradisi membaca naskah pusaka yang dilakukan dalam kesempatan-kesempatan tertentu. Pembacaan naskah itu dilakukan untuk memperingati atau menyambut peristiwa-peristiwa penti...
Sigale-gale Carnival Bukti Kekayaan Budaya Batak
Sigale-gale pun diamanahkan sebagai kado bagi perempuan yang meninggal tanpa mewariskan anak laki-laki. ...
Kepertapaan dan Jati Diri Bangsa Religius
Sikap religiusitas bukanlah suatu sikap statis dan menutup diri dalam kacamata dogmatisme, melainkan justru ditandai oleh unsur dinamisme dan keterbukaan. Mari kita ciptakan lagi perpaduan antara Faus...
Melestarikan Budaya Islam di Lombok melalui Festival Khazanah Ramadan
Masyarakat di Pulau Lombok, Mataram, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) senantiasa berpegang teguh pada nilai-nilai keislaman. Meskipun, Bumi Seribu Masjid ini sudah go internasional karena wisata ala...
Barisan Gunung yang Membentuk Empat Lembah
Keunikan empat lembah itu membentuk identitas sosio-kultural yang relatif berbeda-beda. Sejarah historis empat lembah inilah yang selalu dibayangkan sebagai satu kesatuan "ranah minang". ...
Arsik Ikan Mas, Kuliner Batak yang Melegenda
Arsik ikan mas, salah satu kuliner yang telah melegenda di tanah Batak. Tak hanya karena cita rasanya dan kaya gizi, arsik juga berkaitan erat dengan ritual adat kebatakan dan acara-acara keluarga. ...