Bahasa | English


OLAHRAGA TRADISIONAL

Evolusi Sepak Raga

4 April 2019, 09:42 WIB

Sepak Raga merupakan Nenek Moyang dari nomor cabang olahraga yang saat ini kita kenal dengan Sepak Takraw.


Evolusi Sepak Raga Bentuk raga atau bola anyaman rotan. Sumber foto: Kemendikbud

Dalam Wikipedia disebutkan Sepak Raga merupakan salah satu permainan tradisional yang berkembang di wilayah Minangkabau, Sumatra Barat, Indonesia. Kalau orang minang menyebutnya “Sipak Rago”. Permainan ini dimainkan oleh 5 sampai 10 orang dengan cara membentuk suatu lingkaran di sebuah lapangan terbuka. Bola Raga dimainkan menggunakan bantuan kaki dengan teknik-teknik tertentu sehingga bola tersebut berpindah dari satu orang ke orang lain tanpa jatuh ke tanah.

Dahulu permainan Sepak Raga di lakukan oleh para pemuda minangkabau di kampung-kampung pada sore hari, untuk mengisi waktu luang sebagai sarana hiburan. Tepatnya dipinggiran kota Padang. Namun saat ini eksistensi Sepak Raga mulai menghilang.

Sepak Raga. Mulanya berasal dari zaman kesultanan melayu pada abad ke (634-713). Bola yang digunakan terbuat dari daun kelapa muda ataupun anyaman kulit rotan. Teknis permainannya yaitu para pemain berdiri membentuk sebuah lingkaran. Besar lingkarannya disesuaikan dengan banyaknya pemain. Permainan ini dianggap sebagai nenek moyang dari permainan yang saat ini kita kenal dengan sebutan Sepak Takraw.

Sepak Raga adalah permainan yang berkembang dan dimainkan oleh para elit kerajaan Malaka pada abad ke 15 Masehi. Di mana saat itu rakyat hanya sebagai penonton keluarga kerajaan yang tampil bertanding. Ketika rakyat menonton, permainan ini menarik perhatian mereka. Mereka mempelajari dan kemudian mulai memainkan Sepak Raga dengan versi mereka sendiri, yaitu dimainkan oleh 5 sampai 10 orang dengan memakai pakaian yang dilengkapi tutup kepala serta tidak beralas kaki.

Mereka melakukan permainan ini di tanah lapang dengan garis lingkaran sebagai area permainan. Namun, tujuan permainannya bukan untuk memasukan bola ke payung seperti yang keluarga kerajaan lakukan, tetapi lebih untuk mengasah kemampuan dan kelihaian para pemain dalam mempertahankan bola agar tidak jatuh ke tanah.

Seperti yang sudah tercatat dalam sejarah melayu. Saat itu, Ketika pemerintahan Sultan Mansur Shah Ibni Almarhum Sultan Muzzaffar Shah pada tahun (1459 - 1477). Salah seorang puteranya yang bernama Raja Ahmad telah dibuang negeri karena sudah membunuh anak bendahara akibat terlibat persengketaan ketika hendak bermain Sepak Raga. Kemudian Raja Ahmad diangkat menjadi Sultan di Pahang dan bergelar Sultan Muhammad Shah I Ibni Almarhum Sultan Mansur Shah.

Puncaknya pada tahun 1940-an hal ini memicu perubahan dalam pelaksanaan Sepak Raga. Diberlakukannya penggunaan jaring dan peraturan angka adalah salah satunya. Di Filipina permainan ini dikenal dengan Sipa, di Burma Chinlone, di Laos Maradong, dan di Thailand Takraw.

Perbedaan utama Sepak Raga dengan Sepak Takraw terletak pada penggunaan jaring (net) yang ditemui pada Sepak Takraw. Sedangkan pada Sepak Raga tidak dipakai. Sedangkan peraturan permainan Sepak Raga sendiri berasal dari campuran Sepak Bola dengan Bola Voly. Dengan perbedaan: Pertama; Pemain tidak boleh menyentuh bola menggunakan tangan. Kedua; Pemain atau tim hanya boleh menyentuh bola sebanyak 3 kali berturut-turut. Ketiga; Posisi pemain bertahan tidak diputar.

Seiring dengan berjalanannya waktu permainan ini digantikan oleh generasinya yang lebih modern, yaitu “Sepak Takraw” yang dipertandingkan dan bahkan masuk sebagai nomor cabang olahraga di beberapa kejuaraan internasional.

Pada tanggal 16 Maret 1970 didirikan organisasi Persatuan Sepak Raga Seluruh Indonesia (PERSERASI) dengan Ketua Umum Drs. Moh. Yunus Akbar, dan pada tangal 6-8 Oktober diadakan kongres I semacam munas yang dihadiri 24 PEMDA dan pada tahun 1987 salah satu putusan Kongres I 1986 ialah pemilihan pengurus besar yang baru yaitu Ir. H. Marjoeni. Dengan hasil keputusan antara lain adalah dirubahnya sebutan “Sepak raga” menjadi “Sepak Takraw”.

Terakhir Sepak Takraw menjadi salah satu penyumbang medali emas bagi Indonesia pada ajang ASIAN GAMES 2018 yang diselenggarakan di Indonesia. Meski dinilai telat panas di pertengahan gim pertama, tim Indonesia tidak lagi mengulangi kesalahan yang sama. Mereka segera bangkit dan mengubah keadaan, sampai akhirnya berhasil meraih emas pada nomor cabang Sepak Takraw di ajang ASIAN GAMES 2018. (K-AD)

Seni
Ragam Terpopuler
Menjaga Kekhidmatan, Pesta Adat Erau dan TIFAF Digelar Terpisah
Pesta tradisional kesultanan Kutai ing Martadipura “Erau” dan Tenggarong Internasional Folk Art Festival digelar terpisah di bulan September. Keduanya dipisah untuk menjaga kekhidmatan tra...
Menikmati Budaya dan Burung Migrasi di Danau Limboto
Satu lagi agenda wisata di September 2019. Sebuah kegiatan festival akan diselenggarakan di Gorontalo. Kegiatan ini adalah Festival Pesona Danau Limboto 2019 yang rencananya diselenggarakan pada 21--2...
Menikmati Keindahan Alam Pantai dan Budaya Nias
Bila Anda masih bingung menentukan tempat mana untuk berlibur dan berwisata pada September nanti, Nias bisa jadikan sebagai pilihan utama. Pasalnya, pada 14 September akan ada puncak acara Sail N...
Hamzah Sang Aulia Lagi Mulia
Penemuan makam Tuan Hamzah dari Pancur jika diperbandingkan dengan catatan penjelajah Ibnu Battuta akan memperkuat beberapa hal. ...
Etika Kepemimpinan Jawa
Demikianlah, menjadi seorang raja dalam konstruksi etika kepemimpinan dalam budaya Jawa dituntut memiliki delapan laku, atau delapan sifat, atau delapan watak, yang bersifat keillahian dengan merujuk ...
Tuan Pancur di Tanah Suci
Jika salinan catatan dari nisan Hamzah Al Fansuri bisa dipastikan kebenarannya, maka bangsa Indonesia harus berterima kasih pada seseorang yang bernama Hassan Mohammed El Hawary. ...
Memilih Akhir Bersama Yang Terkasih
Konon para pengajar Mbah Moen inilah yang menjadi sosok-sosok terkasih yang dicintai Mbah Moen. Sampai-sampai setiap ada kesempatan di musim haji, Mbah Moen selalu pergi haji walaupun dalam kondisi ya...
Leluhur Nusantara di Tanah Tinggi
Siapa sangka pekuburan di tanah tinggi Mekah ternyata menyimpan sejarah ulama Nusantara, bahkan yang lebih lama. Seperti tokoh besar Hamzah Al Fansuri, yang diperkirakan hidup di abad 16, dan Mas'...
Mitos-mitos Dewi Laut di Nusantara
Sekalipun analisis sejarah Pram katakanlah “benar”, bahwa “perkawinan spiritual” Kanjeng Ratu Kidul dengan raja-raja Mataram ialah sekadar upaya membangun legitimasi kekuasaan ...
Festival Lembah Baliem sudah 30 Tahun
Usia Festival sudah termasuk tua, 30 tahun. Tapi Festival Lembah Baliem di Kabupaten Jaya Wijaya ini semakin memikat. ...