Lokasi Kamu : (Showing) Jakarta Kota
Bahasa | English


OLAHRAGA TRADISIONAL

Evolusi Sepak Raga

Thursday, 4 April 2019

Sepak Raga merupakan Nenek Moyang dari nomor cabang olahraga yang saat ini kita kenal dengan Sepak Takraw.


Evolusi Sepak Raga Bentuk raga atau bola anyaman rotan. Sumber foto: Kemendikbud

Dalam Wikipedia disebutkan Sepak Raga merupakan salah satu permainan tradisional yang berkembang di wilayah Minangkabau, Sumatra Barat, Indonesia. Kalau orang minang menyebutnya “Sipak Rago”. Permainan ini dimainkan oleh 5 sampai 10 orang dengan cara membentuk suatu lingkaran di sebuah lapangan terbuka. Bola Raga dimainkan menggunakan bantuan kaki dengan teknik-teknik tertentu sehingga bola tersebut berpindah dari satu orang ke orang lain tanpa jatuh ke tanah.

Dahulu permainan Sepak Raga di lakukan oleh para pemuda minangkabau di kampung-kampung pada sore hari, untuk mengisi waktu luang sebagai sarana hiburan. Tepatnya dipinggiran kota Padang. Namun saat ini eksistensi Sepak Raga mulai menghilang.

Sepak Raga. Mulanya berasal dari zaman kesultanan melayu pada abad ke (634-713). Bola yang digunakan terbuat dari daun kelapa muda ataupun anyaman kulit rotan. Teknis permainannya yaitu para pemain berdiri membentuk sebuah lingkaran. Besar lingkarannya disesuaikan dengan banyaknya pemain. Permainan ini dianggap sebagai nenek moyang dari permainan yang saat ini kita kenal dengan sebutan Sepak Takraw.

Sepak Raga adalah permainan yang berkembang dan dimainkan oleh para elit kerajaan Malaka pada abad ke 15 Masehi. Di mana saat itu rakyat hanya sebagai penonton keluarga kerajaan yang tampil bertanding. Ketika rakyat menonton, permainan ini menarik perhatian mereka. Mereka mempelajari dan kemudian mulai memainkan Sepak Raga dengan versi mereka sendiri, yaitu dimainkan oleh 5 sampai 10 orang dengan memakai pakaian yang dilengkapi tutup kepala serta tidak beralas kaki.

Mereka melakukan permainan ini di tanah lapang dengan garis lingkaran sebagai area permainan. Namun, tujuan permainannya bukan untuk memasukan bola ke payung seperti yang keluarga kerajaan lakukan, tetapi lebih untuk mengasah kemampuan dan kelihaian para pemain dalam mempertahankan bola agar tidak jatuh ke tanah.

Seperti yang sudah tercatat dalam sejarah melayu. Saat itu, Ketika pemerintahan Sultan Mansur Shah Ibni Almarhum Sultan Muzzaffar Shah pada tahun (1459 - 1477). Salah seorang puteranya yang bernama Raja Ahmad telah dibuang negeri karena sudah membunuh anak bendahara akibat terlibat persengketaan ketika hendak bermain Sepak Raga. Kemudian Raja Ahmad diangkat menjadi Sultan di Pahang dan bergelar Sultan Muhammad Shah I Ibni Almarhum Sultan Mansur Shah.

Puncaknya pada tahun 1940-an hal ini memicu perubahan dalam pelaksanaan Sepak Raga. Diberlakukannya penggunaan jaring dan peraturan angka adalah salah satunya. Di Filipina permainan ini dikenal dengan Sipa, di Burma Chinlone, di Laos Maradong, dan di Thailand Takraw.

Perbedaan utama Sepak Raga dengan Sepak Takraw terletak pada penggunaan jaring (net) yang ditemui pada Sepak Takraw. Sedangkan pada Sepak Raga tidak dipakai. Sedangkan peraturan permainan Sepak Raga sendiri berasal dari campuran Sepak Bola dengan Bola Voly. Dengan perbedaan: Pertama; Pemain tidak boleh menyentuh bola menggunakan tangan. Kedua; Pemain atau tim hanya boleh menyentuh bola sebanyak 3 kali berturut-turut. Ketiga; Posisi pemain bertahan tidak diputar.

Seiring dengan berjalanannya waktu permainan ini digantikan oleh generasinya yang lebih modern, yaitu “Sepak Takraw” yang dipertandingkan dan bahkan masuk sebagai nomor cabang olahraga di beberapa kejuaraan internasional.

Pada tanggal 16 Maret 1970 didirikan organisasi Persatuan Sepak Raga Seluruh Indonesia (PERSERASI) dengan Ketua Umum Drs. Moh. Yunus Akbar, dan pada tangal 6-8 Oktober diadakan kongres I semacam munas yang dihadiri 24 PEMDA dan pada tahun 1987 salah satu putusan Kongres I 1986 ialah pemilihan pengurus besar yang baru yaitu Ir. H. Marjoeni. Dengan hasil keputusan antara lain adalah dirubahnya sebutan “Sepak raga” menjadi “Sepak Takraw”.

Terakhir Sepak Takraw menjadi salah satu penyumbang medali emas bagi Indonesia pada ajang ASIAN GAMES 2018 yang diselenggarakan di Indonesia. Meski dinilai telat panas di pertengahan gim pertama, tim Indonesia tidak lagi mengulangi kesalahan yang sama. Mereka segera bangkit dan mengubah keadaan, sampai akhirnya berhasil meraih emas pada nomor cabang Sepak Takraw di ajang ASIAN GAMES 2018. (K-AD)

Seni
Ragam Terpopuler
3 Pesona Kekayaan Alam Pulau Bangka yang Tiada Duanya
Kekayaan alam di Pulau Bangka yang terletak di pesisir timur Pulau Sumatera ternyata menyimpan berjuta keindahan. Kombinasi pantai dan pegunungan dari pulau penghasil timah ini selalu sukses membuat p...
Negeri Asal Budaya Minangkabau Jadi Desa Terindah di Dunia
Keindahan Desa Nagari Tuo di Indonesia berhasil menyabet gelar desa terindah di dunia versi Majalah Budget Travel dengan kategori World’s Most Picturesque Villages pada tanggal 23 Februari 2012....
Brekecek Pathak Jahan, Sajian Khas dari Cilacap
Sensasi menyedot dan menyeruput bagian pathak ikan jahan itulah yang menjadi seni menyantap kuliner brekecek pathak jahan ini. ...
Daya Pikat Hotspring Tanah Karo
Kolam air panas, bentang alam, udara dingin, suasana perladangan yang kaya tanaman dan dinding gunung menjadi satu potensi alam yang memiliki nilai jual. ...
Bhumi Merapi: Konsep Wisata Berwawasan Lingkungan
Indonesia memiliki kekayaan alam yang luar biasa. Terbentang pemandangan dan keanekaragaman hayati dari ujung Sabang sampai Merauke. Tentunya melalui kekayaan alamnya ini diharapkan dapat dinikmati se...
Eksotisnya Desa Sentani di Jayapura dengan Berjuta Keunikannya
Ternyata destinasi wisata di Jayapura bukan hanya Raja Ampat. Masih banyak wilayah lokasi wisata lainnya yang tak kalah eksotis, salah satunya Desa Sentani. ...
Ketika Ciliwung Punya Pahlawan Baru
Sebuah harapan besar pun tercanang bahwa akan semakin banyak masyarakat yang hidup di sekitar sungai Ciliwung yang semakin peduli terhadap kebersihan lingkungan di mana mereka tinggal. ...
Sangiran dan Manusia Jawa
Terinspirasi oleh hipotesa Alfred Russel Wallace, Dubois meyakini asal usul manusia modern terletak di Asia Tenggara, dan mengukuhkan hipotesa itu melalui fosil temuannya di Trinil. ...
Ada Lopes dan Kopi Khas Situbondo di Pasar Panji
Kalau kita sedang melintas dengan jalur darat dari Surabaya ke Bali, kita akan melewati Situbondo ini. Dan tak ada salahnya mampir ke pasar panji. Ada Lopes dan Kopi Khas.  ...
Ke Banyuwangi, Bisa Cicipi Super Ayam Pedas Hingga Nasi Bungkus Khas Banyuwangi
Siapa bilang Banyuwangi tidak punya kuliner Khas? Kabupaten di ujung timur Pulau Jawa ini ternyata menyimpan makanan khas dan ada yang hanya tersedia di Banyuwangi ini saja. ...