FOOD ESTATE
  Petani menarik bibit padi jenis Inpari 42 untuk di tanam di areal 'Food Estate' Dadahup di Desa Bentuk Jaya, Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah, Rabu (21/4/2021). ANTARA/ Makna Zaesar

Perkembangan Food Estate Kalteng Menggembirakan

  •   Jumat, 30 April 2021 | 15:53 WIB
  •   Oleh : Administrator

Lahan pengembangan food estate direncanakan seluas 167.000 hektare. Lahan yang telah dikelola Kementerian Pertanian (Kementan) seluas 30.000 hektare (ha) dan yang sudah realisasi untuk panen seluas 15.862 ha hingga 31 Maret 2021.

Beberapa waktu lalu Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves) Luhut Binsar Pandjaitan meninjau kawasan food estate di blok A5 Desa Bentuk Jaya, Kecamatan Dadahup, Kabupaten Kapuas, Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng), Selasa (6/4/2021). Kunjungan kali itu didampingi Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo, Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono, dan Kepala Kantor Staf Pesiden (KSP) Moeldoko, untuk melakukan pengecekan progres pengembangan food estate di Kalteng.

"Jadi kami, sesuai perintah Presiden Jokowi, dengan Menteri Pertanian, Menteri PUPR, dan Kepala Staf Presiden, meninjau lahan pengembangan food estate yang direncanakan seluas 167.000 hektare. Tapi di sini sebagai tahap awal seluas 20.000 ha. Saya kira prosesnya bagus," ujar Menko Luhut saat diwawancarai usai meninjau lahan food estate.

Menko Luhut secara tegas mengatakan, kawasan food estate di Kalteng berfokus di wilayah pengembangan lahan gambut. Sehingga, sambung dia, sinergi peran Kementerian Pertanian (Kementan), PUPR, dan Kementerian Desa menjadi sangat penting. "Juga kolaborasi antara tim riset, yakni profesor ahli food estate dengan universitas di Palangkaraya didorong agar nanti semua kita ini terbuka jadi kita membuka diri untuk saling mengoreksi saling memperbaiki. Sehingga sinergi itu bisa menjadi pencapaian yang terbaik," katanya.

Luhut juga meminta agar rekayasa tata kelola air, pengolahan naik turunnya air, disikapi secara serius karena ketersediaan air sangat penting untuk keberhasilan lahan pertanian. Tidak hanya itu, sistem air harus terus dijaga baik itu pada musim hujan maupun musim kemarau. "Nanti airnya itu bisa diatur demikian rupa sehingga tidak menjadi banjir dan itu bisa nanti air digunakan menjadi untuk menghindari kebakaran seperti 2015," kata Luhut. Dan, lanjutnya, semua yang dilakukan harus dengan artificial intelligence (AI) sehingga penggunaan pupuk, penyebaran pupuk, dan sebagainya dapat diatur.

Sedangkan Mentan Syahrul memaparkan pengembangan food estate 2020 yang dikelola Kementerian Pertanian (Kementan) tersebar seluas 20.000 hektare (ha) di Kabupaten Kapuas dan 10.000 ha di Kabupaten Pulang Pisau. Hingga saat ini, penanaman telah mencapai 96,7 persen atau seluas 29.032 ha dan sudah realisasi untuk panen seluas 15.862 ha hingga 31 Maret 2021. "Lokasi blok A5 di Desa Bentuk Jaya ini merupakan bagian terakhir yang akan segera ditanami dari total target 30.000 hektare,"ujar Mentan.

Sementara itu, untuk kegiatan tahun anggaran 2021 akan dilaksanakan kegiatan pengembangan food estate seluas 37.633 ha yang terdiri dari kegiatan ekstensifikasi lahan seluas 22.992 ha, di antaranya, di Kabupaten Kapuas 19.899 ha dan Pulang Pisau 3.094 ha. Kemudian dari kegiatan intensifikasi lahan seluas 14.641 ha terbagi di Kabupaten Kapuas 13.461 ha dan Pulang Pisau 1.180 ha.

Mentan mengatakan, pada lokasi pengembangan kawasan food estate di Kecamatan Dadahup ditargetkan akan ditanam seluas 2.000 ha yang tersebar di lima desa. Terdapat beberapa kendala yang dihadapi dalam pengelolaan lahan terkait dengan kendala teknis, infrastruktur dan juga sumber daya manusia.

Menteri Syahrul menegaskan, kegiatan pengembangan food estate ini merupakan kerja keras seluruh kementerian dan instansi terkait dalam mengamankan pangan untuk 267 juta rakyat Indonesia. Pengembangan food estate ini berbasis korporasi petani yang mengintegrasikan usaha di on farm dan off farm. "Maka kita harus bersama-sama beriringan dalam mewujudkannya. Dengan upaya keras, petani kita dapat menghasilkan produksi yang terbaik dari hasil pengembangan food estate ini," tutup Mentan Syahrul.

Menteri Syahrul sebelumnya menjelaskan, fokus terhadap pemenuhan pangan bagi 270 juta penduduk diimplementasikan melalui program ketersediaan, akses, dan konsumsi pangan berkualitas. Salah satunya melalui peningkatan produksi padi, jagung, dan kedelai serta pangan lokal termasuk mendukung food estate.

Target volume kegiatan food estate meliputi peningkatan produksi padi seluas 2 juta ha, jagung 1 juta ha, kedelai 200 ribu ha, dan pangan lokal 26.100 ha. "Peningkatan produksi juga dilakukan untuk komoditas pangan penting lainnya, seperti cabai, bawang merah, daging, dan gula," ujarnya dalam raker dengan Komisi IV DPR Februari lalu.

Perlu diketahui, pemerintah sedang fokus membangun food estate di Kalimantan Tengah, yakni Kabupaten Kapuas dan Pulang Pisau, serta Sumatra Utara di Kabupaten Humbang Hasundutan. Adapun pembangunan food estate di Kalimantan Tengah yang akan difokuskan terlebih dahulu yaitu seluas 30 ribu hektare (Ha) untuk tahun ini. Pembagiannya yakni di Kabupaten Pulang Pisau seluas 10 ribu Ha dan Kabupaten Kapuas seluas 20 ribu Ha.

Pengembangan food estate, disampaikan Kepala Negara, dilakukan secara bertahap mulai 2020. Jika ditotal secara keseluruhan luas lahan food estate di Kalimantan Tengah mencapai 168 ribu Ha. Selain itu, fokus pengembangan juga dilakukan Sumatra Utara, tepatnya Kabupaten Humbang Hasundutan dengan luas 10 ribu Ha. Setelah pembangunan di dua provinsi selesai, Jokowi berencana untuk memperluas pembangunan food estate hingga ke Sumatra Selatan, Nusa Tenggara Timur, dan Papua.

Jenis komoditas yang akan dikembangkan di food estate bukan hanya padi. Melainkan juga beberapa komoditas lain, seperti jeruk, bawang merah, dan kelapa. Pemerintah juga akan melakukan budi daya hewan seperti ikan dan itik.

Proses pengembangan food estate disebut menggunakan teknologi modern, seperti drone dan traktor apung, mengingat lahan yang bisa digarap terbilang luas. Beberapa teknologi yang diaplikasikan secara luas di antaranya adalah teknologi pengelolaan air, perbaikan kualitas air dan pemanfaatan air di lahan pasang surut, hortikultura baik sayuran dan buah-buahan, maupun budi daya ikan serta perkebunan.

 

 

Penulis: Eri Sutrisno
Redaktur: Ratna Nuraini/Elvira Inda Sari