Mobilitas erat kaitannya dengan adanya transaksi. Semakin tinggi mobilitas masyarakat, lazimnya juga akan mengerek frekuensi transaksi.
Masyarakat Indonesia baru saja usai melaksanakan libur Lebaran 2022. Mudik di masa libur lebaran kali ini bisa disebut mudik akbar. Pasalnya, jumlah pemudik relatif besar, lebih dari 87 juta orang.
Tahun ini juga merupakan mudik pertama setelah sejak dua tahun berselang menjalani puasa mudik, akibat Covid-19 yang mewabah di tanah air. Tak heran, mudik kali ini disambut dengan penuh semangat dan suka-cita.
Berkah dari mudik sangat dirasakan daerah. Uang menyebar ke daerah. Pusat perbelanjaan dan objek wisata di sejumlah daerah baik di Sumatra, Jawa, maupun Bali padat pengunjung. Demikian pula dengan bisnis penunjang sektor pariwisata seperti jasa penyewaan kendaraan maupun pusat kuliner yang turut meraup untung besar dari aktivitas mudik akbar.
Laporan dari Lembaga Penyelidikan dan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia menyebutkan, dampak aktivitas mudik terhadap perekonomian cukup besar. Beberapa faktor yang menyebabkan itu adalah pertama, adanya larangan mudik pada dua tahun sebelumnya. Kedua, daya beli masyarakat sudah membaik yang tecermin dari beberapa indikator ekonomi seperti inflasi dan mobilitas, yang berada di titik paling baik selama pandemi Covid-19.
Tak dipungkiri, penyebab itu juga tidak terlepas dari peningkatan konsumsi masyarakat pada periode lebaran yang didorong oleh peningkatan mobilitas masyarakat seiring dengan kasus Covid-19 yang terkendali. Pasalnya, adanya pemberian tunjangan hari raya juga menjadi salah satu yang mendongkrak konsumsi masyarakat yang cenderung meningkat pada kuartal I-2022.
Badan Pusat Statistik (BPS) dalam laporannya belum lama ini menyebutkan konsumsi masyarakat terutama belanja kebutuhan sehari-hari naik 27,46 persen dibandingkan kondisi normal. Konsumsi yang sama juga diprediksi terjadi pada kuartal II-2022.
Bagaimana dengan posisi uang beredar selama periode Lebaran? Peredaran uang di masyarakat pada Lebaran kali ini diperkirakan cukup tinggi. Data Bank Indonesia menyebutkan jumlah uang beredar dalam arti luas alias M2 pada Maret 2022 atau menjelang lebaran mencapai Rp7.810,9 triliun.
Realisasi itu tumbuh 13,3% year on year (yoy). Hingga kini, Bank Indonesia belum merilis data terbaru uang beredar M2. Terlepas dari semua itu, tak dipungkiri nuansa mudik akbar Lebaran 2022 sangat berbeda dibandingkan periode sebelumnya.
Keputusan pemerintah ‘melegalkan’ mudik, pulang kampung, atau apapun padanannya, memang disambut antusiasme oleh masyarakat. Hasil survei Kementerian Perhubungan menunjukkan bahwa tak kurang dari 23 juta mobil dan 17 juta sepeda motor menjadi moda transportasi mudik tahun ini.
Adapun, mereka yang menggunakan jalur udara diperkirakan mencapai 8,7 juta pemudik. Demikian pula dengan moda transportasi lain yang juga terjadi lonjakan jumlah penumpang.
Data di atas adalah gambaran betapa tingginya mobilitas masyarakat pada perayaan lebaran kali ini, baik mudik maupun arus balik. Dari perspektif ekonomi, tentu hal itu berarti positif.
Mobilitas erat kaitannya dengan adanya transaksi. Semakin tinggi mobilitas masyarakat, lazimnya juga akan mengerek frekuensi transaksi. Yang jelas, aktivitas itu tentu memberikan efek lanjutan, bahkan jadi pemantik geliat ekonomi, baik daerah maupun nasional. Apalagi, kini angin segar tengah menyelimuti perekonomian Indonesia. Ekonomi berangsur pulih kendati pandemi masih membayangi.
Bahkan, sejumlah lembaga internasional menilai progres pemulihan ekonomi Indonesia tergolong baik. International Monetary Fund (IMF) misalnya, menilai Pemerintah Indonesia mampu mengendalikan ekonomi dan sistem keuangan dengan baik di tengah tekanan global.
Demikian pula dengan lembaga pemeringkat internasional Standard and Poor’s (S&P) yang mengerek prospek rating utang Indonesia dari negatif menjadi stabil, dan mempertahankan peringkat BBB (investment grade).
Hal itu mengacu pada keberhasilan Pemerintah Indonesia dalam menstabilkan ekonomi setelah diterpa gelombang pandemi Covid-19, serta upaya positif konsolidasi fiskal pada 2023. Tentu saja ‘pujian’ itu tak boleh membuat bangsa ini menjadi lupa diri.
Ada berbagai risiko global yang mengintai. Konflik Rusia-Ukraina merembet pada kenaikan harga energi dunia serta mengganggu rantai pasok. Demikian pula dengan kenaikan inflasi di sejumlah negara serta normalisasi kebijakan moneter oleh Bank Sentral Amerika Serikat, The Fed.
Kewaspadaan penting agar bangsa ini dapat mengukur diri dan menyiapkan antisipasi yang tepat. Kewaspadaan tentu saja juga harus tertuju pada penanganan pandemi Covid-19. Patut diingat bahwa hingga kini kita masih berjuang mengenyahkan virus dan penularan Covid-19 di tanah air.
Tentu sangat berisiko jika bangsa ini menjadi lupa diri, bereforia telah bebas dari wabah pandemi. Bila bangsa ini kemudian melupakan prokes dan kemudian merasa bebas, tentu akan sangat berbahaya dan berpotensi terjadi kenaikan wabah Covid-19. Dampaknya baik dari sisi kesehatan maupun ekonomi akan signifikan.
Berkaca dari data di atas, skenario pencegahan penyebaran Covid-19 tetap harus dilakukan, baik pemerintah maupun masyarakat. Partisipasi aktif masyarakat dengan terus menjaga protokol kesehatan dan menaati aturan yang berlaku tentu sangat diharapkan.
Hal itu diharapkan dapat menekan kasus baru Covid-19. Kendati demikian, pemerintah diyakini tetap telah menyiapkan skenario terburuk seandainya gelombang baru pandemi Covid-19 terjadi.
Infrastruktur dan pelayanan kesehatan harus sudah siap menangani. Pemerintah tentu sudah banyak belajar dari kasus pada tahun-tahun sebelumnya.
Dari hasil laporan sementara memang kita harus merasa bersyukur hingga kini belum ada kasus yang dilaporkan serius berkaitan dengan wabah pandemi pascamudik akbar 2022 tersebut. Semboyan mudik aman dan sehat benar-benar bisa kita jaga bersama dan momentum ini bisa menjadi pendorong pemulihan ekonomi bangsa lebih cepat lagi.
Penulis: Firman Hidranto
Redaktur: Ratna Nuraini/Elvira Inda Sari