TV DIGITAL
  Pengetahuan masyarakat soal ASO dalam dua tahun terakhir terus meningkat. ANTARA FOTO/ Muhammad Bagus

Survei Menunjukkan Publik Makin Paham TV Digital

  •   Sabtu, 9 Juli 2022 | 11:23 WIB
  •   Oleh : Administrator

Sosialisasi program ASO tak hanya menyasar kelompok miskin, tapi juga 22 juta rumah tangga mampu yang masih memiliki TV analog.

Pemerintah mendorong semua pihak untuk mendukung migrasi TV analog ke digital atau analog switch off (ASO) terlaksana secara nasional, pada November 2022. Dukungan tersebut tidak hanya dari lembaga penyiaran publik/swasta tapi juga masyarakat serta kalangan industri penyiaran, seperti periklanan dan rumah produksi.

Salah satu hal yang menggembirakan adalah pengetahuan masyarakat soal ASO dalam dua tahun terakhir terus meningkat. Hasil survei Multi Utama Risetindo dan Litbang Kompas menunjukkan, pengetahuan masyarakat mengenai siaran TV digital menjelang penghentian siaran analog atau ASO oleh pemerintah semakin meningkat.

Direktur PT Multi Utama Risetindo Murdan Alfa Satyawan mengatakan, pihaknya telah melakukan tiga kali survei yakni pada Juni-Juli 2021, Oktober 2021, dan Maret 2022. “Temuan pertama yang bisa kita sampaikan adalah terjadi peningkatan pengetahuan mengenai siaran TV digital yang sedang kita perkenalkan, yaitu siaran TV digital yang tidak berbayar,” kata Murdan dalam webinar "Survei Kesiapan Masyarakat dalam Mendukung Era Baru Siaran TV Digital" di Sentul, Bogor, Jawa Barat, Rabu (6/7/2022).

Acara webinar yang digelar secara hibrida ini dihadiri Direktur Jenderal Informasi dan Komunikasi Publik Kementerian Komunikasi dan Informatika (Dirjen IKP Kominfo) Usman Kansong, Staf Khusus Menteri Kominfo Rosarita Niken Widiastuti, dan Wakil Ketua Komisi I DPR RI Abdul Kharis Almasyahri (daring), Direktur Penyiaran Kominfo Geryantika Kurnia.

Turut hadir narasumber lainnya, yakni Executive Director PT Nielsen Audience Measurement Hellen Katherina, Peneliti Utama Litbang Kompas BE. Satrio (daring), Direktur PT Mukti Utama Risetindo Murdan Alfa Satyawan, serta kalangan periklanan. Pada kesempatan itu, Murdan memaparkan bahwa pada survei pertama, pengetahuan masyarakat masih rendah yakni 22,02 persen. Angka tersebut naik menjadi 46,1 persen pada Oktober 2021 dan menjadi 51,94 persen pada Maret 2022. Namun demikian, Murdan mengatakan, peningkatan pengetahuan tentang siaran TV digital tersebut tidak diikuti oleh peningkatan pengetahuan tentang kapan pemerintah akan menghentikan siaran TV analog.

Dari responden survei Juni-Juli 2021 yang mengaku tahu tentang siaran TV digital, hanya 13,66 persen yang mengetahui jadwal ASO. Sedangkan pada survei Oktober 2021 ada 27,55 persen dan survei Maret 2022 hanya 25,31 persen.

Di satu sisi, minat masyarakat untuk beralih ke siaran TV digital tidak berbayar meningkat. Pada survei Juni-Juli 2021, masyarakat yang tertarik beralih ke TV digital sebanyak 62,74 persen, sedangkan pada Oktober 2021 sebanyak 63,51 persen, dan pada Maret 2022 sebanyak 72,26 persen.

Sementara itu, Peneliti Utama Litbang Kompas BE. Satrio mengatakan, pihaknya melakukan dua kali survei, yakni pada 2020 yang bekerja sama dengan Kementerian Kominfo dan pada 2021 yang merupakan survei secara independen. Dia memaparkan, pada 2020, sebanyak 80 persen atau 79,8 persen masyarakat masih menggunakan TV dengan antena biasa. Kemudian, 76 persen mengatakan tidak tahu atau belum tahu bahwa siaran TV analog akan berubah menjadi siaran TV digital. Gambaran ini membutuhkan sosialisasi yang lebih gencar lagi kepada publik.

Sedangkan pada survei 2021, Satrio mengatakan, pengetahuan masyarakat tentang siaran TV digital bervariasi berdasarkan daerahnya. Masyarakat di Sumatra, Jawa, Sulawesi, memiliki tingkat pengetahuan yang lebih tinggi dibandingkan daerah lain, dengan masing-masing skor 65,5 persen, 49,6 persen, dan 70,2 persen.

Berdasarkan hasil survei tersebut, Murdan memberikan rekomendasi kepada lembaga penyiaran atau penyelenggara multipleksing untuk memperbanyak tayangan sosialisasi khususnya terkait berhentinya siaran analog pada waktu yang sudah ditentukan pemerintah, yakni 2 November 2022.

Disarankan juga agar para produsen STB atau asosiasi penyedia STB untuk melakukan juga sosialisasi sampai ke tingkat toko untuk mengajak masyarakat beralih ke TV digital dan kelebihan-kelebihan lainnya.

Kementerian Kominfo dalam menyukseskan ASO, saat ini juga tidak hanya fokus dengan penyaluran perangkat set top box (STB) bagi 6,7 juta rumah tangga miskin, melainkan juga sosialisasi untuk 22 juta rumah tangga mampu. “Jumlah masyarakat mampu yang terkena dampak ASO jumlahnya 22 juta rumah tangga yang perlu didorong menyiapkan perangkat secara mandiri. Masyarakat ini memiliki TV analog tetapi belum ada rencana mengganti TV baru, sehingga perlu memasang STB,” ujar Dirjen IKP Kementerian Kominfo Usman Kansong.

Dirjen IKP menjelaskan, proses migrasi siaran TV digital hingga ke titik pelaksanaan ASO tahap pertama (April-Agustus 2022) tidak dilakukan dalam waktu singkat. Proses ini bahkan sudah berlangsung selama 10 tahun. Dalam kurun waktu tersebut, negara tetangga seperti Vietnam, Malaysia, dan Singapura telah mendahului Indonesia dalam menerapkan ASO lebih awal.

“Banyak biaya dan hal dilakukan, baik pemerintah dan swasta, untuk mempersiapkan ASO, mulai dari pembangunan infrastruktur hinga ekosistem TV Digital,” tutur Usman Kansong.

Persiapan itu juga termasuk pasokan perangkat STB yang bisa dibeli rumah tangga mampu yang belum memiliki TV digital di toko elektronik di berbagai daerah, baik secara langsung dan online. “Saat ini ada 36 merek STB yang telah disertifikasi Kementerian Kominfo dengan berbagai model dan harga yang sudah tersedia di toko elektronik,” katanya.

Kementerian Kominfo memastikan, masyarakat yang belum memiliki TV digital dan belum memasang STB, tetap akan bisa mengakses siaran TV digital melalui berbagai sarana, yakni TV parabola free to air, TV berlangganan, hingga akses konten media melalui layanan internet.

 

Penulis: Kristantyo Wisnubroto
Redaktur: Ratna Nuraini/Elvira Inda Sari