IRIGASI
  Proyek pembangunan bendungan Tiu Suntuk di Sumbawa Barat, NTB. Mendukung gerakan lumbung pangan di kawasan itu. PUPR

Menuju NTB Lumbung Pangan Nasional, Pemerintah Bangun Bendungan lagi

  •   Jumat, 16 September 2022 | 13:15 WIB
  •   Oleh : Administrator

Demi mendukung NTB menjadi salah satu lumbung pangan nasional, bendungan Tiu Suntuk dibangun. Bendungan itu merupakan satu dari enam bendungan yang ada di NTB.

Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), melalui Direktorat Jenderal Sumber Daya Air, terus membangun sejumlah bendungan di Nusa Tenggara Barat (NTB) dalam rangka mendukung produksi pertanian yang berkelanjutan, khususnya di NTB sebagai salah satu lumbung pangan nasional. Salah satu bendungan yang dibangun yaitu Bendungan Tiu Suntuk yang berlokasi di Kabupaten Sumbawa Barat, NTB.

“Kunci pembangunan di NTB adalah ketersediaan air. Dengan adanya suplai air yang kontinyu dari bendungan, petani yang sebelumnya hanya satu kali tanam setahun, bisa bertambah menjadi dua hingga tiga kali tanam,” kata Menteri PUPR Basuki Hadimuljono. 

Bendungan Tiu Suntuk merupakan salah satu dari enam bendungan Proyek Strategis Nasional (PSN) yang dibangun di NTB. Di samping Bendungan Tiu Suntuk, ada lima bendungan lainnya, yakni Bendungan Tanju, Bendungan Mila, Bendungan Meninting, Bendungan Bintang Bano, dan Bendungan Beringin Sila.

Dengan kapasitas tampungan 55,90 juta m3 dan luas genangan 312,09 Ha, Bendungan Tiu Suntuk nantinya akan mampu menyuplai air baku sebesar 68 liter/detik dan menyuplai air bagi daerah irigasi seluas 1.900 Ha (existing 1.370 Ha dan exstensifikasi 530 Ha) yang mencakup kawasan Kecamatan Taliwang dan Kecamatan Brang Ene. Diketahui, kedua kecamatan itu memang dinilai memiliki lahan/areal pertanian yang cukup luas. Hanya saja, sebagian besar lahannya sudah mengalami penurunan kinerja karena kekurangan suplai air.

Bendungan itu juga memiliki potensi Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTM) sebesar 0,81 MW, reduksi banjir sebesar 390 m3/detik, khususnya di Kecamatan Taliwang yang merupakan daerah rawan banjir, serta potensi sebagai tempat konservasi, tempat pariwisata, dan perikanan darat. Pembangunan Bendungan Tiu Suntuk dilakukan sejak Februari 2020, dengan biaya pembangunan sebesar Rp1,41 triliun, dengan masa pelaksanaan selama 1.415 hari kalender, dan ditargetkan rampung pada Desember 2023.

Pembangunan dilakukan dalam dua paket, yakni Paket I yang dilaksanakan PT Nindya Karya dan PT Bahagia Bangun Nusa (KSO), sedangkan Paket II oleh PT PP-Marfri (KSO). Bendungan Tiu Suntuk dibangun untuk menambah tampungan air sehingga kontinuitas suplai air irigasi ke sawah terjaga. Pembangunan Bendungan Tiu Suntuk sendiri dilaksanakan Balai Wilayah Sungai (BWS) Nusa Tenggara I, Ditjen Sumber Daya Air Kementerian PUPR.

Tak hanya itu, Bendungan Tiu Suntuk juga bisa menambah pasokan air pada sistem irigasi Bendung Kalimantong I yang berada di wilayah hilir. Daerah irigasi Bendung Kalimantong I memiliki luas total 1.368 hektare, di mana 46 hektare nantinya berasal dari Bendungan Tiu Suntuk.

Adapun tipe bendungan tersebut berupa urugan random batu dengan elevasi puncak sekitar 97 meter. Selain untuk irigasi, manfaat lain Bendungan Tiu Suntuk adalah sebagai infrastruktur pengendali banjir untuk wilayah yang dilintasi Daerah Aliran Sungai (DAS) Rea, khususnya Kecamatan Taliwang yang merupakan Ibu Kota Kabupaten Sumbawa Barat.

Tampungan air dari bendungan ini dirancang dapat mereduksi banjir sebesar 426 meter kubik per detik. Selain itu juga dapat memberikan manfaat untuk penyediaan air baku sebesar 68 liter per detik untuk Kabupaten Sumbawa Barat dan potensi sebagai sumber tenaga listrik sebesar 0,81 MW.

 

Infrastruktur Pertanian

Perlu diketahui, Presiden Joko Widodo menargetkan, pemerintah bisa membangun 61 bendungan hingga 2024. Hal tersebut disampaikan kembali saat menerima penghargaan ketahanan pangan dari International Rice Research Institute (IRRI) pada Minggu, 14 Agustus 2022 di Istana Negara, Jakarta.

"Kita telah membangun banyak bendungan, embung, jaringan irigasi. Seingat saya, sampai hari ini telah diresmikan 29 bendungan besar dan tahun ini akan selesai lagi totalnya 38 bendungan. Sampai 2024, kurang lebih sudah dibangun 61 bendungan," kata Presiden Jokowi.

Presiden Jokowi juga menyatakan, pembangunan bendungan menjadi salah satu bagian dari infrastruktur di bidang pertanian sejak 2015. Selain bendungan, pemerintah juga menargetkan membangun embung hingga 2024, total sebanyak 4.500. Kemudian, Presiden Jokowi mengungkapkan, hingga 2022, sebanyak 1,1 juta jaringan irigasi telah dibangun pemerintah.

Pembangunan-pembangunan infrastruktur itu dilakukan dalam rangka meningkatkan produksi ketahanan pangan di Indonesia. Dijelaskan mantan Gubernur DKI Jakarta itu, produksi beras di Indonesia sejak 2019 hingga 2021 konsisten di angka 31,3 juta ton. Angka tersebut juga meningkat dari tahun-tahun sebelumnya.

 

 

Penulis: Eri Sutrisno
Redaktur: Ratna Nuraini/Elvira Inda Sari