Indonesia.go.id - Indonesia Ajak Dunia Jaga Lingkungan

Indonesia Ajak Dunia Jaga Lingkungan

  • Administrator
  • Rabu, 29 November 2023 | 16:02 WIB
  • 0
COP ke-28
  Pertemuan COP ke-28 akan digelar di Dubai Expo City mulai 30 November 2023 hingga 12 Desember 2023. Indonesia sendiri akan menjadikan COP ke-28 sebagai sarana untuk memaparkan kerja-kerja yang telah dilakukan selama setahun terakhir dalam ikut menjaga bumi dari ancaman perubahan iklim. GULFNEWS
Pemerintah Norwegia akan mendeklarasikan kontribusi RBP kepada Indonesia sebesar USD156 juta (Rp2,41 triliun) sebagai apresiasi terhadap upaya penurunan emisi karbon dan efek gas rumah kaca (GRK).

Dubai, satu di antara tujuh keamiran di negara Uni Emirat Arab (UEA) sedang menghelat sebuah pertemuan terbesar di dunia untuk membicarakan perubahan iklim. Namanya Konferensi Perubahan Iklim Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNFCCC). Konferensi tersebut dikenal pula sebagai Conference of Parties (COP) dan untuk 2023 ini memasuki pelaksanaan ke-28 kalinya sejak pertama kali digelar pada 1995 di Berlin, Jerman.

Sejumlah isu terkait lingkungan seperti penyebab, akibat, mitigasi, dan adaptasi dibahas setiap tahunnya. Selama dua pekan penyelenggaraan COP, beragam isu terkait lingkungan dalam kacamata ekonomi, sosial budaya, politik, dan komunikasi dibahas dan dicari jalan keluarnya. Dalam setiap pertemuan selalu dihasilkan rencana aksi dan komunike bersama yang disepakati untuk dijalankan oleh seluruh negara.

Pertemuan COP ke-28 digelar di Dubai Expo City mulai 30 November 2023 hingga 12 Desember 2023. Duta Besar UEA di Jakarta, Abdulla Salem Al-Dhaheri dalam keterangannya 2 November 2023 lalu mengutarakan, negaranya telah mendapatkan kepastian bahwa sebanyak 140 pemimpin dan kepala pemerintahan bakal hadir termasuk Presiden RI Joko Widodo (Jokowi).

UAE sendiri telah menyiapkan usulan lima rencana aksi yang akan dibahas meliputi mempercepat transisi yang terorganisir, bertanggung jawab, dan berkeadilan di sektor energi. Kedua, mengembangkan mekanisme pendanaan perubahan iklim. Ketiga, fokus pada kehidupan dan mata pencaharian. Keempat, melindungi dan memulihkan ekosistem dan kelima, inklusivitas penuh dan melibatkan seluruh pemangku kepentingan.

Indonesia sendiri akan menjadikan COP ke-28 sebagai sarana untuk memaparkan kerja-kerja yang telah dilakukan selama setahun terakhir dalam ikut menjaga bumi dari ancaman perubahan iklim. Menurut Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya Abubakar di Dubai, Rabu (29/11/2023), Indonesia tetap konsisten mengajak dunia mencintai lingkungan melalui contoh-contoh konkret.

Misalnya ketika COP ke-26 di Glasgow, Skotlandia pada 2021 dengan agenda Forestry and Other Land Uses (FOLU) Net Sink 2030 yang dijadikan referensi global. Pada COP ke-28 ini, Indonesia akan mengusulkan agenda penurunan emisi gas rumah kaca (GRK) dari sektor energi dengan dekarbonisasi. Satu lagi adalah inisiatif Just Energy Transition Partnership (JETP), buah dari Presidensi G-20 Indonesia pada 2022 lalu.

"Hasil lain dari Presidensi G-20 Indonesia adalah diinisiasinya World Mangrove Centre Grand Park di Bali. Pengembangannya, Indonesia bersama Jepang mendirikan Mangrove Information Center. Sedangkan dengan UEA, kita membuat Mangrove Research Center. Jerman pun tertarik, dan mengajak Indonesia mengembangkan Mangrove Hub. Semua berkedudukan di Bali," terang Menteri KLHK.

Untuk rehabilitasi hutan dan lahan, Indonesia telah membangun enam unit persemaian skala besar di Mentawir berkapasitas 15-16 juta bibit pohon per tahun. Kemudian di Rumpin, Jawa Barat (5-6 juta bibit pohon), Bali (5-6 juta bibit mangrove) serta di daerah Toba (Sumatra Utara), Likupang (Sulawesi Utara), dan Labuan Bajo (Nusa Tenggara Timur). Segera menyusul di Kalimantan Selatan, Sumatra Selatan, dan Mandalika (Nusa Tenggara Barat).

Pada 2022, Indonesia mampu mengatasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta penurunan deforestari hingga 104 ribu hektare. Selain itu, sebagai wujud transisi energi menuju nol emisi bersih pada 2060 melalui Enhanced NDC (ENDC), Indonesia telah memulai beroperasinya pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) Cirata berkapasitas 192 megawatt peak (MWp) dan dikembangkan hingga 500 MWp dalam lima tahun ke depan. Ini adalah PLTS terapung terbesar di Asia Tenggara.

Sementara itu, untuk target penurunan emisi GRK dengan kemampuan sendiri telah meningkat dari semula 29 persen menjadi 31,89 persen. Sedangkan target dengan dukungan internasional yang semula 41 persen naik menjadi 43,20 persen. Data emisi karbon Indonesia yang telah terverifikasi pada 2019 tercatat sebesar 1,84 gigaton setara CO2 (CO2eq). Kemudian 2020 sebesar 1,05 gigaton CO2eq dan 2021 sebesar 1,14 gigaton CO2eq.

Untuk 2022 sebesar 1,20 gigaton CO2eq atau sudah terjadi penurunan hingga 42 persen meski gambaran data menunjukkan bahwa emisi dari sektor energi masih terbilang tinggi, yaitu sebesar 715 jutaton CO2eq. Sedangkan dari sektor FOLU hanya 221 jutaton CO2eq. Indonesia sedang kerja keras mengatasi dari sektor energi dan akan terus memantapkan sektor FOLU. Meski demikian, upaya Indonesia tersebut tetap diapresiasi oleh dunia.

"Pencapaian ini menunjukkan respons Indonesia yang dinilai cukup mengesankan terhadap ancaman perubahan iklim, sekaligus menjadi wujud meningkatnya kepercayaan dalam negeri dan dunia internasional. Pada saat ini komitmen pembayaran Result-Based Payment (RBP) telah mencapai USD339 juta (Rp5,23 triliun) yang berasal dari Green Climate Fund, Bank Dunia dan Pemerintah Norwegia," kata Menteri Siti.

Dalam pertemuan bilateral Indonesia-Norwegia di sela-sela pelaksanaan COP ke-28, rencananya Presiden Norwegia Guðni Th. Jóhannesson akan melaporkan sekaligus mendeklarasikan kontribusi baru negaranya kepada Indonesia ketika bertemu Presiden Jokowi. Kontribusi Norwegia terhadap Result-Based Payment yang akan mencapai USD156 juta (Rp2,41 triliun) berupa gabungan dari kontribusi tahap pertama dan kedua.         

 

Penulis: Anton Setiawan
Redaktur: Elvira Inda Sari