Bahasa | English


RADIOAKTIF

Prosedur Pengumpulan Limbah

27 Febuary 2020, 11:53 WIB

Bahaya dari radionuklida bergantung pada toksisitas terhadap manusia, bentuk fisika dan kimia, dan kemampuannya untuk mencemari lingkungan.


Prosedur Pengumpulan Limbah Peneliti di Batan, Yogyakarta menguji kesiapan Thorium hasil pengolahan limbah penambangan timah sebagai sumber energi alternatif. Foto: Antara Foto/ Hendra Nurdiyansah

Pengelolaan limbah radioaktif dapat dilakukan seluruhnya oleh setiap pemanfaat zat radioaktif atau dikirimkan oleh pemanfaat ke instalasi khusus untuk mengolah dan mengelola limbah radioaktif untuk diolah dan dibuang atau disimpan.

Instalasi khusus itu harus mempunyai fasilitas untuk menyimpan dalam jangka lama atau mengubur limbah padat, mempunyai tangki penampung limbah cair yang berkadar rendah dan tangki khusus untuk limbah cair berkadar tinggi. Perlu diingat bahwa bahaya dari radionuklida bergantung pada toksisitas terhadap manusia, bentuk fisika dan kimia, dan kemampuannya untuk mencemarkan lingkungan. Berikut ini adalah tahapannya:

1. Semua tempat penampungan limbah radioaktif harus diberi tanda yang jelas. Pada umumnya penggolongan limbah radioaktif disesuaikan dengan cara pembuangan atau penyimpanan, dan disediakan wadah yang tersendiri untuk setiap cara yang akan digunakan. Bergantung kepada persyaratan instalasi, satu atau lebih kategori tersebut di bawah ini dapat berguna untuk mengklasifikasikan limbah berdasarkan:

a. fasa, yaitu padat, cair dan gas

b. tinggi rendahnya tingkat radiasi gamma

c. tinggi rendahnya aktivitas

d. panjang pendeknya waktu-paro

e. sifat dapat ditakar atau tidak

2. wadah yang memakai penahan radiasi bila perlu digunakan.

3. kuantitas limbah radioaktif yang dibuang ke sistem pembuangan saluran, atau yang dikubur harus dicatat dan catatan tersebut harus disimpan.

 

Pengumpulan dan Pemisahan Limbah Cair

1. Limbah cair harus dikelompokkan sesuai dengan tingkat dan jenis aktivitasnya, cara pembuangannya ditentukan oleh faktor-faktor tersebut.

2. Wadah khusus yang cukup besar untuk menampung volume limbah yang diduga akan terjadi, harus disediakan dan siap untuk dipakai di tempat yang telah ditentukan. Wadah untuk limbah cair harus ditempatkan dalam baki atau lebih baik dibungkus dengan pembungkus luar yang dilapis dengan bahan penyerap yang cukup banyak, misalnya vermiculite untuk mencegah menyebarnya kontaminasi bila terjadi kecelakaan yang menyebabkan pecahnya wadah.

3. Limbah radioaktif cair konsentrasi tinggi yang berasal dari laboratorium pada umumnya terdiri atas larutan zat radioaktif dengan volume terbatas dan hasil akhir suatu eksperimen yang tidak digunakan. Limbah ini harus disimpan dalam wadah yang dipilih sesuai dengan sifat larutan limbah tersebut. Pada umumnya digunakan wadah dari plastik untuk keperluan ini, tetapi bila larutan mengandung pelarut organik harus digunakan wadah dari stainless steel. Zat radioaktif yang terdapat dalam larutan asam nitrat atau larutan pengoksidasi lainnya yang mungkin juga mengandung zat-zat organik yang tidak stabil terhadap panas, dan larutan-larutan yang mengandung aktivitas alfa lebih dari 5 mCi atau aktivitas beta lebih dari 50 mCi harus selalu disimpan dalam tabung yang mempunyai tutup berlubang.

4. Limbah radioaktif cair konsentrasi rendah berasal dari sisa larutan zat radioaktif yang telah diencerkan, air cucian alat-alat laboratorium (misalnya gelas beker, botol), limbah yang berasal dari hasil samping suatu ekperimen (misalnya ekskreta dari binatang), air cucian pakaian terkontaminasi atau air bekas pembersih daerah terkontaminasi.

5. Limbah radioaktif cair konsentrasi rendah volumenya mungkin dapat berbeda cukup besar bergantung pada sifat dan penggunaan zat radioaktif, beberapa pekerjaan menghasilkan limbah cair kurang dari 20 liter per minggu, sedang pekerjaan yang lain dapat menghasilkan sampai beberapa meter kubik per minggu. Apabila jumlah volume relatif kecil yaitu kurang dari 50 liter per hari, mungkin cairan tersebut cukup dikumpulkan dalam wadah khusus.

6. Plastik dan stainless steel adalah bahan yang cocok untuk wadah sebab tidak mudah pecah, walaupun demikian untuk wadah kecil dapat digunakan gelas dan keramik asal digunakan dengan hati-hati.

7. Sistem tangki penampung diperlukan bila volume limbah radioaktif cair konsentrasi rendah cukup besar atau dihasilkan secara terus-menerus dan memerlukan pemonitoran sebelum pembuangan lebih lanjut. Bak pencuci khusus dihubungkan langsung ke tangki penampung yang berada di luar daerah kerja. Tangki biasanya dibuat dari baja atau stainless steel, bergantung pada tingkat korosi dari cairan limbah.

8. Saluran limbah cair dari beberapa laboratorium dapat dihubungkan ke sebuah tangki. Pipa plastik atau stainless steel, besi tuang atau baja memenuhi syarat untuk digunakan sebagai alat penghubung dari bak cuci dengan tangki penampung, bergantung pada sifat kimia atau tangki korosi dari limbah cair. Tangki harus dilengkapi dengan alat pengaduk, sehingga memungkinkan diperoleh contoh yang memenuhi syarat untuk dianalisa. Tangki diberi keran untuk memungkinkan pembuangan ke saluran (apabila konsentrasinya berada di bawah Nilai Batas Yang Diizinkan) atau memungkinkan untuk dipompa ke mobil tangki guna diangkut ke instalasi  pengolahan limbah.

 

Pengumpulan dan Pengelompokkan Limbah Padat

1. Limbah padat perlu dikelompokkan pada waktu pengumpulan sesuai dengan proses pengolahan dan penanganan selanjutnya. Kantong yang digunakan untuk mengumpulkan limbah padat harus ditempatkan dalam wadah untuk mencegah robek dan penyebaran kontaminasi, misalnya pada waktu pembersihan lantai.

2. Limbah padat yang dapat dibakar dalam insinerator.

Bahan yang dapat dibakar seperti kain dan kertas dikumpulkan dalam wadah yang kedap air atau kantong plastik yang tebal. Dalam wadah tersebut tidak boleh dimasukkan sejumlah besar bahan yang mengandung polivinil klorida yang akan menimbulkan gas yang bersifat asam yang merupakan penyebab utama timbulnya korosi pada komponen insinerator yang dibuat dari baja.

3. Limbah padat yang dapat dimampatkan.

Limbah padat yang akan dimanfaatkan dapat dikumpulkan dalam kantong kertas kedap air atau kantong plastik. Bahan-bahan yang mengandung banyak air harus dipisahkan.

4. Limbah padat yang dapat busuk.

Limbah padat yang dapat busuk dikumpulkan dalam kantong polietilin. Bila gudang yang diperlengkapi dengan sistem pendingin tidak ada, di dalam kantong perlu diisi bahan-bahan seperti vermiculite atau tanah diatomaseous untuk menyerap cairan yang terjadi. Dapat juga dengan cara memberi larutan formaldehide, kapur atau hipoklorida.

 

5. Limbah padat lain.

Kelompok limbah padat seperti alat gelas yang pecah, potongan logam, dan endapan dari percobaan kimia disarankan agar ditangani secara khusus. Limbah padat, seperti peralatan laboratorium dan linoleum yang terkontaminasi dapat dikelompokkan untuk disimpan atau diangkut.

 

Limbah Udara

1. Lemari asap khusus dan sistem pembuangan udara harus digunakan pada pekerjaan yang menimbulkan kontaminasi udara cukup berarti. Pemanfaatan zat radioaktif pada umumnya tidak memerlukan pembuangan udara yang dimurnikan.

2. Cara yang digunakan untuk menampung limbah gas, termasuk penggunaan filter karbon, absorber kimia dan perangkap gas akan ditentukan kemudian.

3. Dalam hal kebakaran risiko terlepasnya zat radioaktif dari filter selalu ada. Oleh karena itu perlu dipilih jenis filter yang tepat dan pengawasan terhadap pekerjaan yang dilakukan dalam lemari asap.

4. Alat pembersih udara harus diperiksa secara teratur. Untuk mencegah terlepasnya zat radioaktif dari filter, maka filter tersebut harus diperlakukan dan dibungkus secara hati-hati misalnya dibungkus dengan plastik poliethilen. Filter yang sangat aktif harus dipisahkan dan dimampatkan hanya di bawah kondisi yang terkontrol.

 

Penulis: Anton Setiawan
Editor: Eri Sutrisno/Ratna Nuraini

Bapeten
Ekskreta
formaldehyde
hipoklorida
Insenerasi
insinerator
Instalasi
Limbah Nuklir
Limbah Radioaktif
Limbah Udara
Prosedur Pengumpulan Limbah Radioaktif
vermiculite
Zat Radioaktif
Layanan Terpopuler
Token Listrik Gratis bagi Masyarakat
PLN memberikan diskon pembayaran separuh harga selama tiga bulan kepada 24 juta pelanggan listrik bersubsidi 450 VA dan 7 juta 900 VA. Berikut syarat dan caranya mendapatkannya. ...
Tata Cara Mengajukan Keringanan Cicilan
Sejumlah bank dan finance telah melakukan restruksturisasi atau keringanan pinjaman bagi mereka yang terdampak Covid-19. Bagaimana cara pengajuannya? ...
Kartu Sembako dan Cara Mendapatkannya
Corona tak hanya berakibat pada kesehatan tapi juga ekonomi. Pemerintah menggulirkan paket jaring pengaman sosial agar masyarakat bawah terlindungi. ...
Tak Sekadar Pemakaman Biasa
Sejumlah warga kebingungan memperlakukan jenazah orang yang berstatus PDP dan positif Covid-19. MUI dan Dirjen Bimas Katolik turun tangan mengeluarkan pedoman. ...
Kenali Stunting, Cegah Sekarang Juga
Stunting pada anak dapat dicegah jika orang tua mengambil langkah-langkah penting dalam dua tahun pertama kehidupan seorang anak. Prioritas pencegahan dimulai saat ibu hamil, dengan menjaga kecukupan ...
Mengenali dan Mencegah Demam Berdarah Dengue
Musim hujan adalah saat rawan wabah demam berdarah dengue (DBD). Kenali gejala dan tanda-tanda awal DBD agar tak salah membedakan dengan demam biasa. ...
Menjaga Rahasia Pasien
Data pasien positif  corona mutan, baik kasus 1 dan 2, sempat beredar luas. Ada sejumlah aturan perlindungan hak privasi pasien. ...
Manfaat dan Ketentuan Izin Panel Surya Atap
Pemanfaatan energi surya untuk kelistrikan mandiri telah menjadi alternatif bagi masyarakat. Pemerintah memberikan keleluasaan kepada masyarakat untuk memasang Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) A...
Cara Mengurus Izin Mendirikan Bangunan
Izin Mendirikan Bangunan (IMB) diperlukan sebagai keabsahan sebuah bangunan terhadap lingkungan sekitar. Bangunan yang tidak dilengkapi IMB terancam dibongkar oleh pemerintah setempat. ...
Pedoman Kesehatan Hadapi Covid-19
Apa yang harus dilakukan masyarakat terkait kesehatan dalam upaya menghadapi Covid-19? ...