Lokasi Kamu : (Showing) Jakarta Kota
Bahasa | English


INDEKS MANAJER PEMBELIAN

Sektor Manufaktur Indonesia Tetap Ekspansif

18 March 2019, 17:36 WIB

Pada tahun ini, Kementerian Perindustrian memproyeksi pertumbuhan industri manufaktur sebesar 5,4%.


Sektor Manufaktur Indonesia Tetap Ekspansif Presiden Jokowi Lepas Ekspor Manufaktur 4.300 TEUS. Sumber foto: Antara Foto

Indonesia kembali patut berbangga, tren industri manufaktur negara ini telah berada di jalur yang benar. Tren yang positif itu diungkapkan Purchasing Managers Index (PMI) yang mengungkapkan indeks manufaktur negara ini kini berada di level 50,1.

Angka tersebut naik dari bulan sebelumnya yang berada di level 49,9. Indikator itu menunjukkan sektor manufatur Indonesia tengah ekspansif berdasarkan respons dari para manajer pembelian dari 300 perusahaan manufaktur dari pelbagai sektor di dunia.

Indeks manufaktur ini dirilis setiap bulan untuk memberikan gambaran tentang kinerja industri pengolahan pada suatu negara, yang berasal dari pertanyaan seputar jumlah produksi, permintaan baru, ketenagakerjaan, inventori, dan waktu pengiriman.

Dari hasil survei, apabila data indeks di atas 50 menunjukkan peningkatan di semua variabel survei. Survei PMI manufaktur menggunakan data respons para manajer di bidang pembelian yang berasal dari 300 perusahaan manufaktur berbagai sektor.

Sektor itu antara lain industri logam dasar, kimia dan plastik, tekstil dan pakaian, serta makanan dan minuman.  PMI manufaktur Indonesia pada Januari 2019 sempat mengalami sedikit penurunan dibanding dengan Desember 2018. Fluktuasi indeks merupakan sesuatu hal yang wajar.

“Ini kabar gembira bagi sektor industri. Adanya pertumbuhan yang bisa membuat kita terus optimis. Kalau kita lihat PMI manufaktur mengalami kenaikan, kemudian investasi juga terus tumbuh," kata Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto di Jakarta, Selasa (5/3/2019).

Dia mengakui, indeks PMI itu turun sedikit dibandingkan dengan Januari. “Namun, kami yakin ini akan naik lagi. Jadi ini sesuatu yang biasa saja. Tahun-tahun sebelumnya juga semuanya indeks di atas 50 kecuali Januari,” ujarnya.

Penurunan kinerja ekspor industri pengolahan yang dibarengi merosotnya nilai impor bahan baku/penolong dinilai tidak mencerminkan kegiatan sektor manufaktur yang melemah.

Menurut data BPS, ekspor industri pengolahan tercatat senilai USD9,41 miliar atau turun 8,06% dari periode yang sama tahun lalu senilai USD10,24 miliar pada Februari 2019. Secara kumulatif, ekspor sektor ini turun 5,96% menjadi USD19,61 miliar.

Sementara itu, impor bahan baku/golongan di saat yang sama turun 7,60% dari USD22,10 miliar menjadi USD20,42 miliar secara kumulatif. Menurut Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto, kondisi tersebut tidak mengarah ke pelemahan kinerja sektor industri pengolahan.

Dia menjelaskan penurunan ekspor industri pengolahan dipengaruhi oleh produk minyak kelapa sawit. "Secara produksi bagus, volumenya meningkat, tetapi secara nilai turun karena harganya turun," ujarnya di Jakarta, Jumat (15/3/2019)

Jangka Panjang

Seperti disampaikan Airlangga, aktivitas industri manufaktur mesti dilihat dalam jangka waktu lebih panjang. Stagnasi aktivitas dalam hitungan sebulan tak serta-merta menjadi kesimpulan. Pada tahun ini, Kementerian Perindustrian memproyeksi pertumbuhan industri manufaktur sebesar 5,4%.

Subsektor yang diperkirakan tumbuh tinggi, antara lain, industri makanan dan minuman, industri permesinan, industri tekstil dan pakaian jadi, industri kulit, barang dari kulit, dan alas kaki, serta industri barang logam, komputer dan barang elektronika. 

"Kemenperin berkoordinasi dengan kementerian dan lembaga lainnya untuk terus mendorong industri berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi, stabilitas sosial dan pengembangan sektor swasta yang dinamis," tutur Airlangga.

Bila mengacu dari PMI Indonesia Februari lalu, posisi Indonesia terlihat lebih baik dibanding dengan kawasan Asia Tenggara yang turun ke posisi 49,6 dari bulan sebelumnya 49,7 atau terendah sejak Juli 2017.

Dalam tataran global, pelambatan ini diduga menggambarkan produksi manufaktur dunia yang stagnan di tengah perang dagang Cina versus Amerika Serikat. Secara umum, Nikkei yang merilis PMI (purchasing manufacture index) mencatat, para responden tetap cukup antusias terhadap perkiraan bisnis tahun mendatang. Responden berharap, aktivitas manufaktur akan membaik seiring dengan variasi produk yang lebih banyak, investasi kapital dan ekspansi bisnis yang terencana.

Berkaitan dengan daya saing Indonesia di tingkat global, Airlangga menuturkan, pemerintah terus berupaya memacu pengembangan industri manufaktur nasional agar lebih berdaya saing global, seiring pelaksanaan peta jalan Making Indonesia 4.0.

"Selain itu mengoptimalkan produktivitas, terutama industri yang berorientasi ekspor. Saat ini, kebijakan makro tetap dijaga dengan komitmen pemerintah melaksanakan paket kebijakan ekonomi yang telah diluncurkan," ucapnya.

Sebagai gambaran optimisme itu, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2018 berada di 5,17% paling tinggi dalam empat tahun terakhir. Ini menunjukkan angin sedang bertiup ke Indonesia.

Artinya, industri Indonesia semakin percaya diri di kancah global dan masih memiliki peluang ekspansi. Pada 2018, beberapa sektor industri tumbuh hampir dua kali lipat atau di atas pertumbuhan ekonomi. Misalnya, permesinan dan logam tumbuh hampir 9,5%.

Industri manufaktur di Indonesia masih menunjukkan geliat yang positif untuk terus meningkatkan investasi dan ekspansi. Program hilirisasi yang semakin serius dan gencar telah mendongkrak pertumbuhan ekonomi cukup siginifikan.

Indikator itu bisa terlihat dari laporan BPS yang mencatat industri pengolahan memberikan kontribusi terbesar terhadap struktur produk domestik bruto (PDB) nasional hingga 19,86% sepanjang 2018.

Dari sisi investasi, di sektor industri manufaktur juga terus tumbuh signifikan. Pada 2014, penanaman modal masuk sebesar Rp195,74 triliun, kemudian naik mencapai Rp222,3 triliun di 2018.

Investasi itu turut mendongkrak penyerapan tenaga kerja hingga 18,25 juta orang pada 2018. Jumlah tersebut berkontribusi sebesar 14,72% terhadap total tenaga kerja nasional.

Menurut hemat saya, sejumlah program ini telah memberikan efek berantai yang luas bagi perekonomian nasional mulai dari peningkatan pada nilai tambah bahan baku dalam negeri, penyerapan tenaga kerja lokal, hingga penerimaan devisa dari ekspor.

Tidak itu saja, dalam rangka mendukung gairah usaha ini, pemerintah berkomitmen menciptakan iklim bisnis yang kondusif dengan memberikan fasilitas fiskal dan kemudahan perizinan.

Kita patut  memberikan apresiasi kepada pemerintah yang terus menjaga tren industri manufaktur yang sudah berjalan dengan benar di awal tahun ini. Harapannya tentu terus berlanjut hingga akhir tahun. (F-1)

 

Ekonomi
Investasi
Narasi Terpopuler
Mengejar ketertinggalan dari Negeri Tetangga
Nilai ekspor Indonesia kalah dibandingkan dengan negara tetangga. Ke depan ekspor tak lagi bertumpu pada sumber daya alam. Tapi harus memperkuat ekspor produk industri manufaktur. ...
Minyak Alami Defisit, Potensi Panas Bumi Melimpah
Potensi energi baru terbarukan di Indonesia sangat tinggi. Indonesia memiliki potensi panas bumi mencapai 11 giga watt (GW) dengan realisasi baru 1,9 GW atau 0,44 persen. Di energi dari air, Indonesia...
Situasi Lesu, Komoditas Indonesia Butuh Pasar Baru
Pemerintah butuh strategi yang matang melalui pemilihan pasar nontradisional untuk dongkrak ekspor. ...
Busana Fungsional Menuju Pasar Global
Industri tekstil Indonesia menggeliat bangkit. Tumbuh 19% di kuartal I 2019, bahkan 29% untuk pakaian jadinya. Ada peluang mengisi pasar AS di masa Perang Dagang ini. Perlu insentif khusus. ...
Mobile Payment Kian Ngetren
Volume transaksi mobile payment di Indonesia diperkirakan bisa mencapai USD16,4 miliar pada 2019. ...
Kinclong Berkat Kantong Para Pelancong
Di tengah ketidakpastian global, pariwisata diharapkan jadi penopang ekonomi nasional. Destinasinya beragam, wisatasport berkembang dan destinasi wisata halal pun nomor satu. Perlu jaminan kemudahan i...
Angin Segar dari Pertemuan G20 Fukuoka
Digital ekonomi Indonesia menjadi yang terbesar di Asia Tenggara dengan nilai diprediksi mencapai USD100 miliar pada 2025 dari sebelumnya USD27 miliar pada 2018. ...
Mengoptimalkan Aspal Buton Mengurangi Ketergantungan Impor
Aspal Buton merupakan satu-satunya aspal di Indonesia yang terbaik dan terbesar di dunia. Sejak 2015, pemerintah RI juga mengarahkan untuk mengoptimalkan penggunaan aspal Buton untuk pembangunan jalan...
Peluang Investasi di Indonesia semakin Menarik
Indonesia kini memiliki peringkat kredit BBB/Outlook stable, meningkat dibandingkan periode sebelumnya di posisi BBB-/Outlook stable. ...
Menunggu Investasi Setelah Naik Kelas
Berbagai Lembaga survei menempatkan ekonomi Indonesia dalam kacamata positif. Kini waktunya Indonesia lebih giat menebarkan jalan untuk menarik investasi langsung ke dalam negeri. ...